WAHDATUL WUJUD (IBNU ARABI) DAN WAHDATUS SYUHUD (AHMAD SIRHINDI)

 


ANALISIS PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA WAHDATUL WUJUD (IBNU ARABI) DAN WAHDATUS SYUHUD (AHMAD SIRHINDI) MENURUT AL-QUR'AN, AL-HADITS, DAN ILMU TASAWUF
Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini
A. PENDAHULUAN
Dalam sejarah pemikiran tasawuf, perdebatan tentang hakikat hubungan antara Tuhan dan makhluk telah melahirkan dua aliran besar: Wahdatul Wujud (kesatuan wujud) dan Wahdatus Syuhud (kesatuan kesaksian). Kedua paham ini sama-sama berupaya menjelaskan pengalaman spiritual para sufi dalam menyaksikan keesaan Tuhan, namun memiliki perbedaan fundamental dalam tataran ontologis maupun epistemologis.
Wahdatul Wujud sering dikaitkan dengan nama besar Ibn ‘Arabi (w. 1240 M), yang pemikirannya tentang kesatuan eksistensi menjadi salah satu doktrin paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam tasawuf. Sementara Wahdatus Syuhud diformulasikan oleh Ahmad Sirhindi (w. 1624 M) sebagai koreksi atas apa yang dipandangnya sebagai penyimpangan dalam pemahaman Wahdatul Wujud.
Tulisan ini bertujuan menganalisis secara komparatif kedua konsep tersebut dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang dijadikan landasan, serta menelaah persamaan dan perbedaannya menurut ilmu tasawuf.
B. PENGERTIAN WAHDATUL WUJUD
Secara etimologis, Wahdatul Wujud terdiri dari dua kata: wahdah (kesatuan, ketunggalan) dan wujud (eksistensi, keberadaan). Secara terminologis, Wahdatul Wujud adalah paham yang mengajarkan bahwa tiada wujud hakiki selain wujud Allah. Seluruh realitas di luar Allah—termasuk alam semesta dan manusia—hanya memiliki wujud yang bergantung (mumkin) dan merupakan manifestasi atau tajalli dari wujud Allah.
Ibn ‘Arabi menegaskan bahwa Allah adalah Realitas Mutlak yang meliputi segala sesuatu. Alam semesta diibaratkan sebagai cermin yang di dalamnya terdapat bayangan Tuhan. Menurut paham ini, antara Tuhan, alam, dan manusia pada hakikatnya merupakan satu kesatuan wujud. Namun penting dicatat bahwa Ibn ‘Arabi tidak pernah menyamakan Tuhan secara harfiah dengan makhluk; yang beliau maksudkan adalah bahwa wujud makhluk tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung sepenuhnya kepada Wujud Mutlak Allah. Tokoh-tokoh di Nusantara yang menganut paham ini antara lain Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani.
C. PENGERTIAN WAHDATUS SYUHUD
Wahdatus Syuhud secara etimologis berarti “kesatuan kesaksian”, dari kata syuhud yang berarti melihat atau menyaksikan. Paham ini menegaskan bahwa pengalaman spiritual para sufi bukanlah penyatuan eksistensi antara hamba dan Tuhan, melainkan penyatuan dalam penyaksian (musyahadah).
Menurut Ahmad Sirhindi, tidak mungkin terjadi penyatuan eksistensi antara makhluk dan Khalik karena keduanya secara ontologis berbeda. Yang dialami oleh para sufi ketika mencapai puncak spiritual adalah tersingkapnya tabir-tabir (mukasyafah) sehingga mereka menyaksikan keesaan Tuhan dengan mata batin, namun tanpa kehilangan identitas kemanusiaan mereka. Sirhindi menegaskan bahwa tauhid dalam pengertian penyatuan dengan Tuhan hanyalah salah satu tahapan (maqam) dalam perjalanan spiritual, sedangkan tahap tertinggi adalah ubudiyah (penghambaan) di mana perbedaan antara Tuhan dan hamba tetap diakui. Paham ini kemudian berkembang di Nusantara melalui tokoh-tokoh seperti Nuruddin ar-Raniri, Abdurrauf as-Singkel, dan Syekh Yusuf al-Makasari.
D. DALIL YANG DIJADIKAN LANDASAN WAHDATUL WUJUD
Para penganut Wahdatul Wujud kerap merujuk pada ayat-ayat yang menggambarkan keesaan dan kehadiran Allah yang meliputi segala sesuatu. Di antaranya:
1. Surah Al-Hadid ayat 3
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid [57]: 3)
Ayat ini sering dijadikan dalil bahwa Allah adalah Realitas yang meliputi segala sesuatu—sebagai Yang Zahir (manifest) dan Yang Batin (immanent). Keberadaan Allah tidak terbatas pada satu arah atau dimensi, melainkan mencakup seluruh realitas.
2. Surah Al-Baqarah ayat 115
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan milik Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 115)
Ayat ini dipahami oleh para sufi penganut Wahdatul Wujud sebagai isyarat bahwa kehadiran Allah tidak terbatas pada arah tertentu, melainkan meliputi seluruh penjuru.
3. Surah An-Nisa ayat 126
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا
“Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” (QS. An-Nisa [4]: 126)
4. Surah Al-Mujadilah ayat 7
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya; dan tidak ada antara lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya; dan tidak ada yang lebih sedikit dari itu dan tidak ada yang lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada...” (QS. Al-Mujadilah [58]: 7)
Ayat ini menunjukkan kehadiran Allah yang menyertai makhluk-Nya di mana pun, yang oleh penganut Wahdatul Wujud ditafsirkan sebagai indikasi bahwa tidak ada realitas yang terpisah dari-Nya.
5. Surah Ash-Shad ayat 72
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS. Ash-Shad [38]: 72)
Ayat tentang penciptaan Adam ini dipahami sebagai isyarat bahwa ruh yang ditiupkan Allah kepada manusia memiliki kaitan erat dengan zat Ilahi.
E. DALIL YANG DIJADIKAN LANDASAN WAHDATUS SYUHUD
Penganut Wahdatus Syuhud tidak menolak ayat-ayat di atas, namun menafsirkannya secara berbeda. Mereka menekankan pemisahan yang jelas antara Khalik dan makhluk serta menolak interpretasi yang mengarah pada panteisme. Beberapa dalil yang sering dikemukakan:
1. Surah Al-Ikhlas ayat 1-4
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾
“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4)
Surah ini menegaskan keesaan dan ketiadaan kesetaraan antara Allah dan apa pun, yang menjadi landasan kuat bagi paham Wahdatus Syuhud untuk menolak penyatuan eksistensi.
2. Surah Asy-Syura ayat 11
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah sama sekali tidak dapat diserupakan dengan makhluk-Nya.
3. Surah Al-An’am ayat 103
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat mencapai segala penglihatan. Dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am [6]: 103)
Ayat ini menunjukkan keterbatasan manusia dalam menyaksikan zat Allah, sehingga pengalaman spiritual lebih tepat dipahami sebagai penyaksian atas tanda-tanda dan kehadiran-Nya, bukan penyatuan eksistensi.
F. HADITS YANG RELEVAN
Para sufi dari kedua aliran juga merujuk pada hadits-hadits tertentu, di antaranya:
Hadits Qudsi tentang kedekatan Allah dengan hamba:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku memberinya; dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku melindunginya.” (HR. Al-Bukhari)
Hadits ini sering dijadikan rujukan oleh kedua paham. Penganut Wahdatul Wujud menafsirkannya sebagai indikasi peleburan diri dalam kehendak Allah, sementara penganut Wahdatus Syuhud menafsirkannya sebagai tingginya derajat ma’rifah tanpa menghilangkan eksistensi hamba.
G. ANALISIS PERSAMAAN DAN PERBEDAAN
G.1. PERSAMAAN
Meskipun sering dipertentangkan, kedua paham ini memiliki beberapa titik temu yang penting. Pertama, keduanya memiliki tujuan spiritual yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai ma’rifah (pengetahuan spiritual) yang tertinggi. Baik Wahdatul Wujud maupun Wahdatus Syuhud merupakan upaya para sufi untuk memahami dan mengalami keesaan Tuhan secara mendalam, hanya saja dengan penekanan dan metode yang berbeda.
Kedua, kedua paham ini sama-sama mengklaim bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits serta pendapat para sufi sebelumnya. Perbedaan terletak pada metode penafsiran, bukan pada sumber rujukan primer. Ketiga, keduanya secara terang-terangan mengakui keesaan Allah sebagai inti ajaran Islam (tauhid), sehingga tidak ada satu pun dari kedua paham ini yang mengingkari tauhid secara eksplisit. Keempat, keduanya mengakui adanya pengalaman fana’ (peleburan diri) dan baqa’ (kekekalan dalam Tuhan) sebagai bagian dari perjalanan spiritual, meskipun penafsiran mendalam mengenai hakikat pengalaman tersebut tetap menjadi titik pembeda yang signifikan.
G.2. PERBEDAAN
Secara fundamental, perbedaan pertama antara kedua paham terletak pada dimensi pendekatan yang digunakan. Wahdatul Wujud lebih bersifat ontologis dan filosofis, karena paham ini membahas hakikat wujud itu sendiri dan realitas eksistensi secara metafisik, sehingga termasuk dalam kategori tasawuf falsafi yang sarat dengan penalaran spekulatif. Sebaliknya, Wahdatus Syuhud lebih bersifat epistemologis karena fokus utamanya adalah pada cara memperoleh pengetahuan spiritual melalui penyaksian langsung (musyahadah) tanpa mencampuri hakikat ontologis Tuhan; secara corak keilmuan, paham ini masuk dalam tasawuf sunni yang lebih berpegang teguh pada syariat dan menjaga jarak ontologis antara Khalik dan makhluk. Dari segi tokoh, Wahdatul Wujud dipelopori oleh Ibn ‘Arabi, sedangkan Wahdatus Syuhud diformulasikan oleh Ahmad Sirhindi sebagai koreksi langsung atas pemikiran pendahulunya.
Perbedaan kedua yang tidak kalah mendasar adalah mengenai status hubungan Tuhan dan makhluk. Dalam Wahdatul Wujud, ditegaskan bahwa tiada wujud hakiki selain wujud Allah; wujud makhluk hanyalah wujud yang bergantung (mumkin) dan bersifat majazi (metaforis) yang merupakan manifestasi atau cerminan dari Wujud Mutlak. Sementara itu, Sirhindi dengan tegas menolak gagasan ini dan menegaskan bahwa Khalik dan makhluk adalah dua entitas yang berbeda secara ontologis; makhluk adalah makhluk dan Tuhan adalah Tuhan, tanpa ada percampuran eksistensi di antara keduanya.
Ketiga, kedua paham memiliki interpretasi yang berbeda terhadap pengalaman spiritual puncak. Penganut Wahdatul Wujud meyakini bahwa pengalaman puncak sufi adalah penyatuan dengan Tuhan (ittihad) di mana sekat-sekat kehambaan telah hilang dalam kesaksian akan keesaan wujud. Sebaliknya, penganut Wahdatus Syuhud meyakini bahwa yang dialami hanyalah penyaksian (musyahadah) terhadap keesaan Tuhan, tanpa terjadi peleburan eksistensi; hamba tetap hamba dan Tuhan tetap Tuhan, hanya saja tabir kemanusiaan tersingkap sehingga ia menyaksikan keesaan Tuhan dengan mata batin.
Keempat, dari sisi kontroversi dan penerimaan di kalangan umat, Wahdatul Wujud sering menimbulkan kontroversi di kalangan ulama karena dianggap mendekati panteisme dan cenderung mengaburkan batas syariat, sehingga mendapat banyak kritik dari para fuqaha. Sebaliknya, Wahdatus Syuhud lebih diterima secara luas karena tidak menggiring pada pemahaman yang bertentangan dengan syariat dan tetap menjaga kemurnian tauhid rububiyah dan uluhiyah.
Kelima, dalam konteks tahapan spiritual, bagi Ibn ‘Arabi, tauhid dalam pengertian penyatuan dengan Tuhan adalah puncak tertinggi kehidupan sufi (maqam tertinggi). Namun bagi Sirhindi, pengalaman tersebut hanyalah salah satu tahapan (maqam) dalam perjalanan spiritual yang panjang, dan tahap tertinggi yang sesungguhnya adalah ubudiyah (penghambaan) dengan tetap mengakui perbedaan ontologis antara Tuhan dan hamba secara sadar.
Keenam, kedua paham juga berbeda dalam porsi penggunaan akal versus naql. Wahdatul Wujud lebih banyak menggunakan akal dan penalaran filosofis dalam membangun sistem metafisiknya, sementara Wahdatus Syuhud lebih berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits serta hanya menggunakan akal secara sekunder untuk mendukung pemahaman naqli, bukan untuk membangun konstruksi ontologis yang baru.
H. ANALISIS KRITIS MENURUT AL-QUR'AN DAN AL-HADITS
Dari perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits, kedua paham memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Wahdatul Wujud memiliki kelebihan karena sangat menekankan keesaan dan kehadiran Allah yang meliputi segala sesuatu, sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an, dan mengingatkan bahwa tidak ada kekuatan dan eksistensi yang berdiri sendiri selain dari Allah. Namun kelemahannya, jika dipahami secara literal tanpa takwil yang ketat, paham ini berpotensi mengaburkan batas antara Tuhan dan makhluk, yang bertentangan dengan ayat-ayat yang menegaskan ketiadaan keserupaan antara Allah dan sesuatu pun (QS. Asy-Syura: 11) serta surah Al-Ikhlas.
Di sisi lain, Wahdatus Syuhud memiliki kelebihan karena lebih aman secara teologis, menjaga batas tegas antara Khalik dan makhluk, serta selaras dengan syariat dan pemahaman mayoritas ulama akidah. Namun kelemahannya, jika terlalu menekankan pemisahan secara rigid, dikhawatirkan bisa mengurangi penghayatan terhadap pengalaman kedekatan spiritual yang mendalam yang justru dialami oleh para sufi agung. Sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Yusuf al-Makasari, pada dasarnya kedua pemahaman ini diambil dari Al-Qur’an dan Hadits serta tidak mengandung kesesatan di dalamnya jika dipahami dengan benar dalam kerangka syariat. Yang terpenting adalah memahami keduanya secara proporsional dan tidak terjebak pada pemahaman literal yang ekstrem di satu sisi, maupun takwil filosofis yang terlalu liar di sisi lain.
I. KESIMPULAN
Wahdatul Wujud dan Wahdatus Syuhud merupakan dua konsep tasawuf yang sama-sama berupaya menjelaskan pengalaman spiritual para sufi dalam menyaksikan keesaan Tuhan. Keduanya memiliki persamaan dalam tujuan spiritual, sumber rujukan, dan pengakuan terhadap tauhid. Namun keduanya berbeda secara fundamental dalam pendekatan (ontologis-filosofis versus epistemologis-sunni), status hubungan Tuhan-makhluk, interpretasi pengalaman spiritual, tingkat penerimaan di kalangan ulama, tahapan spiritual tertinggi, serta porsi penggunaan akal dan naql.
Wahdatul Wujud lebih bersifat filosofis dan menekankan kesatuan eksistensi, sementara Wahdatus Syuhud lebih bersifat teologis-sunni dan menekankan kesatuan dalam penyaksian tanpa meleburkan eksistensi. Kedua paham memiliki landasan dalil yang kuat dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, namun dengan metode penafsiran yang berbeda. Dalam konteks keilmuan Islam, kedua paham ini memperkaya khazanah pemikiran tasawuf dan menunjukkan dinamika intelektual umat Islam dalam memahami hakikat hubungan antara Tuhan dan makhluk-Nya. Sikap moderat dalam memahami keduanya—dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an, Al-Hadits, dan syariat—adalah jalan terbaik bagi umat Islam dalam menyikapi perbedaan pemahaman ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Afifi, Abu al-‘Ala. (1963). al-Tasawuf al-Tsauroh al-Ruhiyah fi al-Islam. Kairo: Dar al-Ma’arif.
2. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan. Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman Perspektif 1000, 6236 Volume. Hyderabad India: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2017.
3. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan. Tafsir Surah: Tafsir Midadurrahman Perspektif Syari'at Tarekat Hakikat Makrifat, 114 Volume. Hyderabad India: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2017.
4. ‘Arabi, Ibn. al-Futuhat al-Makkiyah fi Ma’rifah al-Asrar al-Malikiyah. Beirut: Dar al-Fikr.
5. ‘Arabi, Ibn. (1980). Fusus al-Hikam, diedit dan diberi komentar oleh Abu al-‘Ala Afifi, 2 Vol. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi.
6. Chittick, William C. (1989). The Sufi Path of Knowledge: Ibn ‘Arabi’s Metaphysics of Imagination. New York: State University of New York Press.
7. Firdaus, Muhammad Anang & Sahib, Rahmawansyah. (2021). “Wahdat Al-Syuhud: Ahmad Sirhindi’s Criticism on The Concept of Wahdat Al-Wujud Ibn ‘Arabi.” Millati: Journal of Islamic Studies, Vol. 6 No. 2.
8. Fuadi, Muhammad Robith. (2015). “Memahami Tasawuf Ibnu Arabi dan Ibnu al-Farid: Konsep al Hubb Illahi, Wahdat al Wujud, Wahdah al Syuhud dan Wahdat al Adyan.” Ulul Albab: Jurnal Studi Islam, Vol. 14 No. 2.
9. Maulani, Maulani dkk. (2022). “Konsep Wahdat al-Wujud dan Wahdat al-Syuhud menurut Syekh Yusuf Al-Makasari.” El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis, Vol. 11 No. 2.
10. Mufid, Mufid & Al-Mufti, Alex Yusron. (2021). “Membentuk Perilaku Beragama Melalui Konsep Wahdat al-Wujud Dan Wahdat Ash Syuhud.” Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf, Vol. 7 No. 1.
11. Nasution, Harun. (1998). Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
12. Noer, Kautsar Azhari. (1995). Ibn ‘Arabi: Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan. Jakarta: Paramadina.
13. Yunasril, Ali. (1997). Manusia Citra Ilahi: Pengembangan Konsep Insan Kamil Ibn ‘Arabi Oleh Al-Jilli. Jakarta: Paramadina.

Sumber dari Shohibul Faroji
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan