Integritas amanah.

 


Kutipan ini mengajarkan bahwa kehidupan yang sejati tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari nilai yang ditinggalkan. Imam Asy-Syafi'i mengajak kita membedakan antara hidup secara biologis dan hidup secara maknawi. Sebab seseorang dapat berhenti bernapas, tetapi pengaruhnya tetap menghidupkan hati manusia selama berabad-abad. Sebaliknya, ada yang masih berjalan di muka bumi, tetapi kehadirannya tidak melahirkan manfaat, tidak menebarkan kebaikan, bahkan tidak meninggalkan jejak yang layak dikenang.
Kematian bukanlah akhir dari pengaruh seorang manusia. Ada orang yang wafat, tetapi ilmunya masih dipelajari. Nasihatnya masih mengubah kehidupan orang lain. Amalnya masih mengalirkan manfaat. Doa-doanya masih dikenang oleh anak-anak yang pernah dibesarkannya. Orang seperti ini sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. Tubuhnya telah kembali ke tanah, tetapi ruh dari kebaikan yang pernah ia tebarkan terus hidup dalam kehidupan orang lain.
Lihatlah para nabi, para ulama, para guru, dan orang-orang saleh. Berabad-abad telah berlalu sejak mereka meninggalkan dunia, tetapi nama mereka masih disebut dengan penuh penghormatan. Pikiran mereka masih dipelajari. Akhlak mereka masih dijadikan teladan. Mereka telah wafat secara jasad, tetapi kemuliaan mereka terus bernapas dalam sejarah.
Sebaliknya, Imam Asy-Syafi'i berbicara tentang jenis kematian yang jauh lebih mengerikan, yaitu kematian jiwa. Seseorang masih hidup secara fisik, tetapi hatinya telah kehilangan cahaya. Ia tidak lagi memiliki kepedulian terhadap kebenaran, tidak lagi tersentuh oleh penderitaan sesama, dan tidak lagi berusaha menjadi manfaat bagi siapa pun. Hidupnya hanya berputar di sekitar kepentingan dirinya sendiri.
Inilah yang dimaksud dengan "mayat yang berjalan."
Bukan karena tubuhnya tidak hidup, tetapi karena jiwanya tidak lagi menghasilkan kehidupan bagi orang lain. Kehadirannya tidak menumbuhkan harapan, tidak menyebarkan ilmu, tidak menghadirkan keteduhan, dan tidak meninggalkan jejak kebajikan. Ia ada, tetapi seolah tidak pernah benar-benar hadir.
Kutipan ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri. Jika suatu hari Allah memanggil kita, apa yang akan tetap hidup setelah tubuh ini tiada?
Apakah hanya nama yang perlahan dilupakan, atau ada ilmu yang terus diajarkan? Apakah ada akhlak yang menginspirasi? Apakah ada anak yang saleh yang terus mendoakan? Apakah ada orang yang hidupnya menjadi lebih baik karena pernah bertemu dengan kita?
Dalam Islam, kehidupan seorang mukmin memang tidak berhenti pada kematian. Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa ketika manusia wafat, amalnya terputus kecuali beberapa perkara yang manfaatnya terus mengalir. Ini menunjukkan bahwa kehidupan yang paling bermakna adalah kehidupan yang menghasilkan jejak yang melampaui usia pemiliknya.
Namun, kutipan ini tidak hanya berbicara tentang amal besar yang dikenang banyak orang. Tidak semua orang akan menjadi ulama besar atau tokoh yang tercatat dalam sejarah. Kemuliaan juga dapat hidup melalui hal-hal yang tampak sederhana. Seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang. Seorang guru yang menanamkan kejujuran kepada murid-muridnya. Seorang sahabat yang selalu menjadi tempat orang lain menemukan ketenangan. Semua itu mungkin tidak memenuhi halaman buku sejarah, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.
Sebaliknya, seseorang dapat memiliki kekuasaan, harta, dan popularitas yang luar biasa, tetapi ketika ia meninggal, yang tersisa hanyalah kenangan tentang kesombongan, kezaliman, atau kerusakan yang pernah ia tinggalkan. Ia pernah hidup dengan gemerlap, tetapi tidak meninggalkan cahaya.
Pada tingkat yang lebih dalam, Imam Asy-Syafi'i sedang mengingatkan bahwa usia bukanlah ukuran keberhasilan hidup. Yang terpenting bukan berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita mengisi kehidupan itu. Ada orang yang hidup singkat, tetapi meninggalkan pengaruh yang melintasi zaman. Ada pula yang hidup sangat lama, tetapi kehadirannya berlalu tanpa makna karena seluruh hidupnya hanya dihabiskan untuk dirinya sendiri.
Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan mengalami kematian jasad. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Namun, sebelum kematian itu datang, masih ada satu pilihan yang berada di tangan kita, yaitu apakah kita ingin menjadi orang yang hanya hidup selama napas masih ada, atau menjadi orang yang tetap hidup melalui ilmu, akhlak, kasih sayang, dan manfaat yang terus mengalir setelah jasad kembali kepada tanah.
Sebab kematian yang paling menyedihkan bukanlah ketika tubuh berhenti bergerak. Kematian yang sesungguhnya adalah ketika seseorang masih berjalan di tengah manusia, tetapi hatinya telah kehilangan kehidupan, dan kehadirannya tidak lagi membawa cahaya bagi siapa pun. Sebaliknya, orang yang menghidupkan hati manusia dengan ilmu, kebajikan, dan akhlak yang mulia tidak akan pernah benar-benar mati. Ia akan terus hidup dalam doa, dalam kenangan, dan dalam setiap kebaikan yang pernah ia tanamkan, hingga kelak bertemu kembali dengan Allah.

Sumber dari Suluksalik
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan