MURĀQABAH DZĀTUSH SHARF WAL BAḤT
(مراقبة ذات الصرف والبحث)
Makalah tentang :
MURĀQABAH DZĀTUSH SHARF WAL BAḤT
Dalam salah satu ajaran Thoriqat Naqsyabandiyah ada tingkatan zikir yang harus di lakukan oleh seorang salik yaitu :
MURĀQABAH DZĀTUSH SHARF WAL BAḤT
(مراقبة ذات الصرف والبحث)
Maqom ini adalah salah satu Maqom yang sangat tinggi. Baik saya akan jelaskan tentang maksud dari muraqobah ini.
1. PENGERTIAN
Pengertian Makna Secara Lafadz :
Dzāt (ذات) → Hakikat Dzat Allah
Ṣirf (الصرف) → murni, tidak bercampur
Baḥt (البحت) → semata-mata, absolut
Jadi makna Murāqabah Dzātush Sharfu wal Baḥt adalah kesadaran hati terhadap Dzat Allah Yang Maha Murni, tanpa tercampur sedikit pun dengan bayangan makhluk, sifat, atau khayalan.
Maqom ini adalah Maqom muraqabah tingkat sangat tinggi, sebab sudah dokus kepada kesucian Dzat Allah dari segala bentuk dan gambaran.
2. HAQIQAT PEMAHAMAN
Dalam maqām ini, seorang salik harus menyadari bahwa :
- Allah tidak bisa dibayangkan
- Allah tidak bisa diserupakan
- Allah tidak bisa dijangkau oleh akal dan indera.
Jadi Semua bentuk:
Rupa, cahaya, Bayangan , Bentuk
3. DALIL DALIL AL-QUR’AN :
- a. Allah Tidak Serupa dengan Apa Pun.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya:
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya." (QS. Asy-Syura ayat : 11)
Ini dasar utama:
untuk menafikan / menolak semua gambaran tentang Allah.
- b. Penglihatan Tidak Dapat Menjangkau Allah
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ
Artinya: "Penglihatan tidak dapat menjangkau-Nya." (QS. Al-An’am ayat : 103)
Bahkan mata batin pun tidak mampu menjangkau hakikat Dzat Allah.
- c. Tidak Ada yang Sejajar dengan Allah
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya:
"Tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya."
(QS. Al-Ikhlas ayat : 4)
4. MAQAM INI DALAM PERJALANAN SALIK
Urutan pemahaman nya :
Af‘āl → melihat perbuatan Allah
Sifat → melihat sifat Allah
Dzāt → menuju hakikat Dzat
Pada tahap ini:
5. APA YANG DIRASAKAN SALIK
Pada maqām ini:
- Hati menjadi sangat hening
- Tidak ada gambaran apa pun tentang Allah
- Tidak ada bentuk apapun dalam dzikir
- Bahkan “aku sedang bermuraqabah” mulai hilang
Ini disebut: tanzīh mutlak (mensucikan Allah secara total)
6. PERINGATAN PENTING
- a. Tidak boleh membayangkan Allah
Karena:
Allah bukan objek bayangan
- b. Tidak jatuh kepada paham kesesatan
Seperti: hulul , ittihad
- c. Tetap dalam syariat
Walau maqam ini sangat tinggi, namun harus tetap :
7. PERBEDAAN DENGAN MAQAM SEBELUMNYA
Maqom Af‘āl
Fokus pada : Perbuatan Allah
Maqom Sifat
Fokus pada : sifat Allah
Maqom Dzat Sharfu wal Baht
Fokus pada : Kesucian Dzat Allah
8. KESIMPULAN HAQIQAT
Muraqabah ini adalah:
- tidak bisa dipikirkan
- tidak bisa digambarkan
- tidak bisa diserupakan
9. PENUTUP (RENUNGAN SUFI)
Setiap yang terlintas dalam hatimu,
maka Allah tidak seperti itu.
Setiap yang dapat engkau bayangkan,
maka Allah bukan itu.
Dan ketika semua bayangan telah hilang,
di situlah engkau mulai mengenal-Nya…
bukan dengan akal,
tetapi dengan ketundukan.
Baik, kita lanjutkan pembahasan ini menjadi kajian yang lebih dalam.
TENTANG MURĀQABAH DZĀTUSH SHARF WAL BAḤT
(مراقبة ذات الصرف والبحث)
Puncak Tanzīh dalam Perjalanan Ma’rifatullah
Dalam perjalanan seorang sālik menuju ma’rifatullah, ia akan melewati berbagai maqām:
dari melihat perbuatan (Af‘āl)
naik kepada Sifat
hingga akhirnya menuju Dzāt
Namun ketika sampai pada pembahasan Dzat, para ulama sufi sangat berhati-hati.
Karena:
Dzāt Allah tidak dapat dijangkau oleh akal, tidak dapat digambarkan oleh hati, dan tidak dapat diwakili oleh apa pun.
- Allah itu bukan berupa jisim
Jisim adalah segala sesuatu yang menyerupai mahluk.
- Allah itu bukan berupa jirim
Kirim adalah segala sesuatu yang menyerupai kebendaan.
B. PENGERTIAN MURAQABAH DZĀTUSH SHARF WAL BAḤT
Dzātush Sharfu wal Baḥt berarti:
Dzāt yang murni (ṣirf)
Dzāt yang semata-mata (baḥt)
Maksudnya:
Allah dalam kemurnian Dzat-Nya yang tidak bercampur dengan sifat makhluk, tidak tersentuh oleh khayalan, dan tidak terjangkau oleh akal.
Definisi Tasawuf
Murāqabah ini adalah keadaan hati yang menyadari keberadaan Allah Yang Maha Suci dari segala bentuk, tanpa menghadirkan gambaran apa pun dalam kesadaran.
C. DALIL-DALIL TAUHID TANZĪH (PENYUCIAN DZAT)
1. Allah Tidak Serupa dengan Apa Pun
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya:
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura ayat : 11)
2. Allah Tidak Dapat Dijangkau Penglihatan
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ
Artinya:
"Penglihatan tidak dapat menjangkau-Nya, tetapi Dia menjangkau segala penglihatan."
(QS. Al-An’am ayat : 103)
3. Kesempurnaan Ke-Esaan Allah
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
"Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa."
(QS. Al-Ikhlas: 1)
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya."
(QS. Al-Ikhlas ayat : 4)
D. HAQIQAT MURAQABAH INI
Pada maqām ini:
1. Hilangnya Semua Gambaran
Tidak ada rupa
Tidak ada bentuk
Tidak ada bayangan
2. Hilangnya Klaim “Aku Mengenal”
Tidak lagi berkata: “Aku tahu Allah”
Tidak lagi merasa: “Aku melihat Allah”
3. Kesadaran Tanzīh Mutlak
- Arah
- Tempat
- Bentuk
- Batas
E. HUBUNGAN DENGAN TAJALLI DZAT
Dalam tasawuf:
Tajalli Af‘āl → terlihat dalam kejadian
Tajalli Sifat → terlihat dalam sifat-sifat Allah
Tajalli Dzāt → tidak terlihat, tapi “dihayati dalam ketiadaan”
F. HUBUNGAN DENGAN FANĀ’ FIDZ DZĀT
Pada tahap ini:
Fana dari perbuatan → fana af‘āl
Fana dari sifat → fana sifat
Fana dari diri → fana nafs
Fana dalam Dzat → puncak fana
Bahkan:
kesadaran “aku fana” pun hilang
G. PERBEDAAN DENGAN AḤADIYYAH DAN WAḤDAH
Tingkatan Aḥadiyyah :
Penjelasan: Keesaan mutlak Allah tanpa relasi
Tingkatan Waḥdah :
Penjelasan: Kesatuan dalam manifestasi.
Dzāt Sharfu wal Baḥt
Penjelasan: Kesucian mutlak tanpa bisa dijangkau.
H. ADAB DALAM MAQAM INI
- Tidak membahas Dzat secara spekulatif
- Tidak membuat gambaran dalam hati
- Tidak mengaku mencapai hakikat
- Tetap tunduk pada syariat
I. KESIMPULAN
Murāqabah Dzātush Sharfu wal Baḥt
adalah:
puncak tanzīh dalam tauhid
- Akal berhenti
- hati tunduk
- hamba hanya diam dalam keagungan Allah
(مراقبة ذات الصرف والبحث)
Maqām ini sangat halus, sehingga tanda-tandanya lebih banyak dirasakan dalam batin daripada tampak secara lahir. Di antaranya:
1. Hati Selalu Tertuju Hanya Kepada Allah
Segala perhatian batin (himmah) tidak lagi bercabang ke dunia atau makhluk, tetapi terpusat hanya kepada Allah semata.
2. Sangat Peka terhadap Lintasan Hati
Setiap khathir (lintasan) yang datang langsung disadari:
Jika dari Allah → diterima dengan adab
Jika dari nafsu/dunia → segera ditolak
3. Bersih dari Ketergantungan kepada Selain Allah
Hatinya tidak lagi bergantung pada:
Makhluk
Pujian manusia
Kedudukan atau sebab-sebab dunia
Namun tetap menjalani sebab secara lahir, tanpa bergantung secara batin.
4. Muncul Rasa Malu yang Dalam kepada Allah (ḥayā’)
Seakan-akan setiap detik berada di hadapan Allah, sehingga:
Sulit berbuat maksiat, bahkan dalam hati
Selalu menjaga adab batin.
5. Dzikir Menjadi Keadaan, Bukan Sekadar Amalan
Tidak hanya berdzikir dengan lisan, tetapi:
Hati terus berdzikir secara otomatis
Kesadaran kepada Allah tidak terputus.
6. Hilangnya Keakuan (Ego) Secara Halus
Tidak lagi merasa:
“Aku yang beramal”
“Aku yang mencapai”
Tetapi merasa semuanya dari Allah.
7. Tenang dalam Segala Keadaan (Sakīnah)
Baik dalam ujian maupun nikmat:
Hatinya tetap stabil
Tidak mudah goyah oleh perubahan dunia.
8. Sangat Menjaga Keikhlasan
Ia selalu “memeriksa” niatnya:
Takut riya’ sekecil apapun
Selalu memperbaiki tujuan hanya karena Allah
9. Sedikit Bicara tentang Keadaan Ruhani
Orang yang sampai maqam ini biasanya:
Tidak suka menampakkan maqamnya
Lebih banyak diam dan menjaga rahasia batin.
10. Kuat dalam Syariat, Halus dalam Hakikat
Ciri terpenting:
Semakin tinggi maqamnya → semakin kuat menjaga syariat
Tidak meninggalkan kewajiban sedikitpun. Hatinya hidup dalam pengawasan Allah secara terus-menerus, sambil membersihkan dan meneliti setiap gerak batin agar hanya Allah yang hadir di dalamnya.
PENUTUP
Ketika engkau mencari Allah dengan pikiranmu,
Maka engkau akan tersesat....!
Ketika engkau mencoba menggambarkan-Nya,
Maka engkau akan tertipu....!
Namun ketika engkau menyadari bahwa engkau tidak mampu mengetahui-Nya,
di situlah engkau mulai mengenal-Nya…!
Bukan dengan ilmu,
tetapi dengan kehinaan di hadapan-Nya.
Sumber dari Haris Haris

0 comments:
Catat Ulasan