HAQIQAT TAQWA
Makalah : haqiqat taqwa.
Tentunya kita sudah sering mendengar kata kata taqwa...penjabaran kata taqwa seperti ini sangat menarik, karena menyentuh dimensi bahasa (lughawi) sekaligus isyarat ruhani (isyarat huruf dalam tasawuf).
Namun perlu diluruskan dulu secara ilmiah:
Secara ilmu bahasa Arab (nahwu–sharaf), kata “taqwa” (تقوى) tidak ditafsirkan per huruf seperti Ta ت – Qaf ق – Waw ا – و Alif.
Makna aslinya Taqwa berasal dari akar kata:
وَقَى – يَقِي – وِقَايَةً (waqā – yaqī – wiqāyah)
Artinya: menjaga, melindungi, membentengi diri.
Makna Taqwa Secara Hakikat
Taqwa (التقوى) adalah:
Menjaga diri dari murka Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
Artinya: “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.”(QS. Ali Imran ayat : 102)
Walaupun bukan dari tafsir bahasa yang resmi, namun para ulama sufi memberikan isyarat kata taqwa sebagai berikut :
ت (Ta) → artinya : Taubat
ق (Qaf) → artinya : Qona'ah
و (Waw) → artinya : Wara’
ى (Alif/Ya) → artinya: Ikhlas / Tauhid
Taqwa adalah perjalanan dari :
taubat → penyucian hati → menjaga diri → hingga ikhlas sempurna.
Penjelasan kata taqwa menurut ulama tasawuf :
Makna isyarat huruf TA : adalah TAUBAT yaitu kembali kepada Allah.
Sebab tanpa taubat, maka tidak ada jalan untuk menuju kepada taqwa.
Baik, kita jabarkan tentang taubat (التوبة) secara lengkap , dari asal kata, dalil yang mendukung, hingga tingkatannya dalam tasawuf agar bisa menjadi pondasi dalam perjalanan menuju Allah.
PENGERTIAN TAUBAT (التوبة)
A.. Asal Kata (Lughawi)
Kata taubat (التوبة) berasal dari akar:
تَابَ – يَتُوبُ – تَوْبَةً
Artinya: Kembali (ruju’) dan kembali lagi kepada Allah.
Makna penting: Bukan sekadar meninggalkan dosa, Tapi kembali kepada Allah dengan sepenuh hati.
Allah ﷻ berfirman dalam Al Qur'an :
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur ayat : 31)
Menurut imam Al-Ghazali:
“Taubat adalah kembalinya hati dari jalan yang jauh kepada kedekatan dengan Allah.”
SYARAT TAUBAT (MENURUT ULAMA)
- Menyesal (ندم) atas dosa yang dilakukan
- Meninggalkan dosa saat itu juga
- Berjanji tidak mengulangi lagi
Jika terkait hak manusia → maka mengembalikan hak mereka.
TINGKATAN TAUBAT DALAM TASAWUF
A. Taubat orang Awam (Taubat dari dosa)
- Maksiat, Dosa besar dan dosa kecil
Ini adalah taubat secara umum manusia.
B. Taubat orang Khawas (Taubat dari kelalaian)
- Lalai dari mengingat Allah.
- Kurang khusyuk dalam sholat.
- Hati tidak hadir takkala ibadah.
C. Taubat Khawasul Khawas (Taubat dari selain Allah)
- Melihat selain Allah
- Bergantung kepada selain Allah
(Ini adalah taubat para wali Allah)
Menurut Junaid al-Baghdadi:
“Taubat orang khusus adalah taubat dari kelalaian.”
Para sufi juga menjelaskan:
- CIRI-CIRI ORANG YANG TAUBATNYA DITERIMA
- Hatinya menjadi lembut
- Benci kepada dosa dan tidak ingin mengulangi
- Senang untuk beribadah
- Menjauhi dari lingkungan maksiat
- Lebih mendekatkan diri kepada Allah
HUBUNGAN TAUBAT DENGAN MAQAM LAIN
Taubat → pintu awal perjalanan
Muraqabah → menjaga hati
Taqwa → menjaga diri
Ma’rifat → tujuan akhir
Jika Tanpa taubat, maka tidak ada perjalanan
KESIMPULAN
Taubat adalah kembalinya seorang hamba dari dirinya menuju Allah.
Bukan sekadar meninggalkan dosa, tetapi,
meninggalkan diri yang jauh dari Allah.
“Dosa bukan yang paling berbahaya,
tetapi jauh dari Allah itulah yang membinasakan.
Maka siapa yang kembali kepada Allah,
walau dengan langkah yang lemah,
akan disambut dengan rahmat yang luas.”
Huruf kedua QOF ( ق ) yang berarti Qona'ah. Qona'ah berasal dari kata :
قَنِعَ – يَقْنَعُ – قَنَاعَةً
Artinya:
Merasa cukup, ridha, dan menerima dengan lapang dada.
Makna Qona’ah adalah:
Sikap menerima apa yang Allah berikan, tanpa tamak terhadap apa yang bukan bagiannya.
- Dalil Al-Qur’an tentang qona'ah
Allah ﷻ berfirman:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
Artinya:
“Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid ayat : 23)
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari & Muslim)
- HAQIQAT QONA’AH DALAM TASAWUF
Menurut para ulama seperti Al-Ghazali:
Qona’ah adalah ketenangan hati terhadap pembagian Allah (qadha dan qadar)
Artinya:
- Tidak gelisah karena dunia
- Tidak iri terhadap orang lain
- Tidak rakus terhadap harta
TINGKATAN QONA’AH
1. Qona’ah tingkat orang Awam
2. Qona’ah tingkat orang Khawas
3. Qona’ah Khawasul Khawas
Menurut Junaid al-Baghdadi:
“Qona’ah adalah kosongnya hati dari selain Allah dalam urusan dunia.
- CIRI-CIRI ORANG QONA’AH
- Hatinya menjadi tenang
- Tidak iri melihat apabila orang lain lebih.
- Tidak berlebihan dalam mencari dunia
- Selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan.
- Tidak bergantung kepada makhluk
- PERBEDAAN QONA’AH DENGAN MALAS
Ini penting untuk diluruskan:
Terus Berusaha semaksimal mungkin , tetapi hati ridha terhadap hasil yang diterima.
BUAH QONA’AH
1. Ketenangan hati
Tidak mudah gelisah
2. Kebahagiaan sejati
Walau sedikit,tapi merasa cukup.
3. Dekat dengan Allah
Karena ridha terhadap takdir.
KESIMPULAN
Qona’ah bukan tentang sedikit atau banyaknya harta, tetapi tentang hati yang merasa cukup karena Allah.
“Orang yang memiliki harta yang berlimpah namun tidak qona’ah, haqiqat nya ia fakir.
Orang yang tidak memiliki harta namun qona’ah, pada haqiqat nya ia adalah kaya.
Karena kekayaan sejati bukan pada harta yang berlimpah, tetapi terletak di hati yang ridho kepada Allah.”
Huruf Waw ( و ) melambangkan kata wara' Makna isyarat:
Meninggalkan yang syubhat dan menjaga diri.
Orang yang wara' bukan hanya meninggalkan yang haram, tapi juga meninggalkan segala yang meragukan.
Baik, kita akan bahas secara dalam dan terstruktur tentang:
Waw (و) → وَرَع (Wara’) dalam Tasawuf
1. Definisi Wara’ (الورع)
Secara bahasa:
وَرَعَ – يَرِعُ – وَرَعًا
Artinya: menahan diri, berhati-hati, menjaga diri dari sesuatu yang meragukan.
Secara istilah tasawuf:
Wara’ adalah sikap hati yang sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari yang haram, syubhat, bahkan meninggalkan sebagian yang halal karena takut jatuh pada yang tidak diridhai Allah.
Penjelasan Ulama:
Imam Al-Ghazali berkata:
“Wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang meragukan dan tidak jelas demi menjaga agama.”
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Wara’ adalah meninggalkan apa yang meragukan menuju apa yang tidak meragukan.”
Dalil Al-Qur’an tentang Wara’
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ
Artinya: “Janganlah kamu campur-adukkan yang benar dengan yang batil…”
(QS. Al-Baqarah ayat : 42)
Dan lagi firman Allah:
قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ
Artinya: Katakanlah: tidak sama yang buruk dengan yang baik…”(QS. Al-Ma’idah ayat : 100 )
Dalil Hadits tentang Wara’
Hadits Shahih:
Dari Nabi ﷺ:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ
Artinya: Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”
(HR. Tirmidzi)
- Tingkatan Wara’ dalam Tasawuf
Para ulama membagi wara’ menjadi beberapa tingkatan:
1. Wara’ orang Awam
Menjauhi segala yang haram
Contoh: tidak mencuri, tidak makan riba, tidak berzinah.
2. Wara’ orang Khawas
Menjauhi yang syubhat (meragukan)
Contoh: meninggalkan harta yang tidak jelas darimana sumbernya.
3. Wara’ Khawasul Khawas
Menjauhi yang halal yang berlebihan
Karena takut melalaikan dari Allah.
4. Wara’ Ahlul Ma’rifat
Menjaga hati dari selain Allah
Bahkan meninggalkan hal yang mubah jika menghalangi kedekatan dengan Allah
- Tahapan untuk Melatih sikap Wara’
1. Muhasabah (Introspeksi Diri)
Selalu bertanya:
“Apakah ini diridhai Allah...?”
Dalilnya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
( QS. Al-Hasyr ayat : 18)
2. Menjaga Halal dan Haram
Dalam ilmu fiqih jelas batasannya
Allah berfirman dalam Al Qur'an
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
Artinya: “Dan Dia menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.”
( QS. Al-A’raf ayat : 157)
Tanpa ilmu → tidak mungkin wara’
3. Menjauhi Syubhat
Jika ragu → tinggalkan
Hadits tentang Syubhat:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ... وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ
Artinya:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, di antara keduanya ada perkara syubhat…” (HR. Bukhari & Muslim)
Wara’ berfungsi menjaga dari wilayah syubhat ini.
4. Mengurangi Dunia (Zuhud Ringan)
Tidak berlebihan dalam makan, bicara, dan harta
5. Muraqabah (Merasa Diawasi Allah)
Dalil:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya:
Sesungguhnya Allah melihat apa yang kamu kerjakan ( QS. An-Nisa ayat : 1)
Ini inti wara’: selalu merasa dalam pengawasan Allah .
6. Berkumpul dengan Orang Shalih
Sebab Lingkungan akan mempengaruhi hati.
- Buah dari Wara’
Orang yang wara’ akan mendapatkan:
- Hatinya menjadi bersih
- Do'anya mudah dikabulkan
- Mendapatkan Cahaya (نور) dalam hati
- Dekat dengan Allah.
Kesimpulan (Inti Haqiqat Wara’)
Wara’ bukan hanya meninggalkan yang haram,
tetapi menjaga hati dari segala yang menjauhkan dari Allah.
Wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu selain Allah dalam hati.
4.
ALIF (ى) → IKHLAS / TAUHID
Baik kita masuk pada huruf terakhir yang sangat dalam maknanya:
ALIF (ا/ى) → IKHLAS (الإخلاص) / TAUHID
1. Makna Simbolik Huruf Alif (ا)
Huruf Alif adalah:
Tegak lurus (⟂) → melambangkan keesaan (tauhid)
Tidak bercabang → melambangkan ketulusan tanpa sekutu
Awal dari huruf → melambangkan asal segala sesuatu kembali kepada Allah
Alif = Allah → Satu → Ikhlas → Tauhid murni
2. Definisi Ikhlas (الإخلاص)
Secara bahasa:
Dari kata: خَلَصَ – يَخْلُصُ – إِخْلَاصًا
Artinya: bersih, murni, tidak tercampur
Secara istilah:
Ikhlas adalah memurnikan niat hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan selain-Nya.
Penjelasan Ulama:
Imam Al-Ghazali:
“Ikhlas adalah memurnikan tujuan ibadah dari segala campuran makhluk.”
Imam Junayd al-Baghdadi:
“Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tidak diketahui oleh malaikat, tidak bisa dirusak oleh setan.”
3. Dalil Al-Qur’an tentang Ikhlas
(QS. Al-Bayyinah ayat: 5)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas…”
( QS. Az-Zumar ayat : 2)
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
Artinya: “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya.”
QS. Al-Ikhlas
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Artinya:
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa”
- Dalil Hadits tentang Ikhlas
Hadits utama:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hadits lain:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ... وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
(HR. Muslim)
- Tingkatan Ikhlas dalam Tasawuf :
1. Ikhlas tingkat orang Awam
Beribadah karena mengharap pahala dan takut akan siksa neraka.
2. Ikhlas tingkat orang Khawas
Beribadah karena cinta kepada Allah.
3. Ikhlas Khawasul Khawas
Beribadah bukan karena surga atau takut neraka
Tapi karena Allah semata
4. Ikhlas Ahlul Ma’rifat
Tidak melihat amal, tidak melihat diri
Hanya melihat Allah
- Tahapan Melatih Ikhlas
1. Meluruskan Niat sebelum Amal
Tanya pada diri:
“Untuk siapa aku melakukan ini...?”
2. Menyembunyikan Amal
3. Tidak Mengharap Pujian
Jika dipuji → tidak senang berlebihan
Jika dicela → tidak sakit hati
4. Menghilangkan Riya’
Riya’ = musuh utama ikhlas
5. Banyak Dzikir
- Tanda-Tanda Orang Ikhlas
Amal sama saat dilihat atau tidak
Tidak tergantung penilaian manusia
Hatinya tenang
Tidak sombong
Tidak merasa berjasa.
- Hubungan Ikhlas dengan Tauhid
Tauhid di aqidah → mengesakan Allah
Ikhlas di amal → memurnikan untuk Allah
Jadi:
Tauhid tanpa ikhlas = tidak sempurna
Ikhlas tanpa tauhid = tidak sah
- Kesimpulan Haqiqat (Inti Dalam Tasawuf)
Ikhlas adalah:
Menghilangkan “aku” dalam amal
dan menghadirkan hanya Allah
Tidak ada yang beramal kecuali Allah, dan tidak ada yang dituju kecuali Allah
Namun harus dipahami:
Secara syariat: kita harus tetap beramal
HAQIQAT TAQWA DALAM PERJALANAN MENUJU MA’RIFATULLAH
Taqwa adalah inti dari seluruh ajaran Islam. Semua ibadah, syariat, dan perjalanan ruhani seorang salik bermuara pada satu tujuan, yaitu mencapai derajat muttaqin (orang yang bertaqwa).
Allah ﷻ berfirman:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Artinya:
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.”
(QS. Al-Baqarah ayat : 2)
Ini menunjukkan bahwa hidayah sejati hanya terbuka bagi orang yang bertaqwa.
Dalam pandangan ahli tasawuf:
Taqwa adalah menjaga hati dari selain Allah
Imam Al-Ghazali menjelaskan:
“Hakikat taqwa adalah membersihkan hati dari selain Allah.”
TINGKATAN TAQWA
1. Taqwa Awam
Dalil:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
(QS. At-Taghabun: 16)
2. Taqwa Khawas
Hadits Nabi ﷺ:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ
(HR. Tirmidzi)
3. Taqwa Khawasul Khawas
Menurut Junaid al-Baghdadi:
“Taqwa adalah engkau tidak melihat selain Allah.”
: TAQWA DALAM MAQAM MA’RIFAT
Pada tingkat tinggi:
“Hidup dalam pengawasan Allah setiap saat”
Sehingga seorang salik:
Malu berbuat dosa
Selalu hadir bersama Allah
Hatinya bersih dari selain-Nya
BUAH DARI TAQWA (ثَمَرَاتُ التَّقْوَى)
1. Mendapat Jalan Keluar (Makhrāj)
Firman Allah dalam At-Talaq ayat 2–3:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Isyarat Makna:
Makhrāj bukan hanya keluar dari kesulitan dunia, tapi juga:
keluar dari gelapnya hati
keluar dari jerat nafsu
keluar dari hijab menuju cahaya ma’rifat
2. Mendapat Rezeki Tak Disangka
(Lanjutan ayat yang sama)
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Isyarat Makna:
Rezeki tidak hanya berupa harta, tapi juga:
ilmu ladunni (ilham dari Allah)
ketenangan hati
kemudahan ibadah
kedekatan dengan Allah
3. Mendapat Kemuliaan di Sisi Allah
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
( QS Al-Hujurat ayat 13)
Isyarat Makna:
Kemuliaan bukan:
jabatan, harta, keturunan
Tapi: bersihnya hati, ikhlasnya amal, dekatnya dengan Allah.
4. Mendapat Kemudahan Urusan
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
(At-Talaq ayat : 4)
5. Dihapuskan Dosa dan Ditinggikan Derajat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا
وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ
وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqān (kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah), dan menghapus kesalahan-kesalahanmu serta mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah memiliki karunia yang besar.”(QS. Al-Anfāl ayat: 29)
Taqwa → Furqān
Orang yang bertaqwa akan diberi cahaya hati untuk membedakan:
Buah Taqwa:
Mendapat petunjuk (furqān)
Dihapus dosa
Diampuni
Mendapat karunia besar dari Allah
Taqwa menjadi sebab:
penghapusan dosa
naiknya derajat ruhani
PENUTUP (KESIMPULAN)
Taqwa adalah inti dari perjalanan seorang hamba.
Kesimpulan Akhir
Taqwa adalah benteng lahir, cahaya batin, dan jembatan menuju ma’rifatullah.
Barangsiapa mencapai taqwa, maka ia:
- Dijaga oleh Allah
- Dibimbing oleh Allah
- Dan akhirnya sampai kepada Allah.
Sumber dari Haris Haris

0 comments:
Catat Ulasan