MAQĀM BAQĀ’ BILLĀH (بَقَاءٌ بِاللَّهِ)
Makalah:
MAQĀM BAQĀ’ BILLĀH (بَقَاءٌ بِاللَّهِ)
MAQĀM BAQĀ’ BILLĀH (بَقَاءٌ بِاللَّهِ) adalah salah satu Maqom yang sangat tinggi dalam salah satu kurikulum ajaran Thoriqat Naqsyabandiyah dan juga menjadi tujuan akhir dari perjalanan seorang salik dalam suluk berjalan kepada Allah.
Maqom Baqā’ Billāh (بقاء بالله) yaitu tingkatan Maqom setelah seorang salik mengalami maqom fana Billah.
Baiklah saya akan berusaha untuk menjelaskan dengan pandangan syariat dan juga pandangan secara haqiqat yang tersirat , namun tetap menjaga nilai nilai dalam koridor syariat, juga disertai dengan dalil Al Qur'an dan hadits yang mendukung.
MAQĀM BAQĀ’ BILLĀH (بَقَاءٌ بِاللَّهِ)
(Hidup berkekalan dengan Allah)
1. Pengertian Baqā’ Billāh
Arti secara bahasa:
بَقَاءٌ (BAQO') = artinya kekal , tetap
بِاللَّهِ (BILLAH) = artinya dengan Allah.
Jadi : Baqā’ Billāh adalah keadaan seorang hamba yang tetap hidup (berkesadaran) dengan Allah, setelah lenyapnya ego diri (fanā’).
Jika fanā’ adalah lenyapnya “aku”, lenyap segala ego, maka baqā’ adalah hidup kembali dengan Allah.
HUBUNGAN FANĀ’ DAN BAQĀ’
Jadi Perjalanan seorang salik :
- Sebelum ia mengalami fana = ➝ maka ia masih merasa “Aku yang berbuat”
- Takkala Saat mengalami fana maka seorang salik merasakan = Aku tiada ➝ “Aku hilang”
- Dan Saat mengalami baqā’ = ➝ ia merasakan “Aku hidup dengan Allah”.
Baik, Saya akan jabarkan secara tertib, luas, dan disertai dalil Al-Qur’an serta hadits.
HUBUNGAN FANĀ’ DAN BAQĀ’ DALAM PERJALANAN SALIK
1. Tahap Pertama: SEBELUM FANA (Kesadaran Diri – “Aku Berbuat”)
Pada tahap ini, seorang salik masih berada dalam kesadaran diri (nafs).
Ia masih merasa:
- Aku yang mengerjakan sholat.
- Aku yang berdzikir memuji Allah.
- Aku yang telah berbuat baik.
Ini disebut maqām syariat , karena masih bercampur ego nya.
Dalil Al-Qur’an :
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.”
(QS. Ash-Shaffat ayat : 96)
Ayat ini sebagai sinyal menjadi pintu awal kesadaran bahwa perbuatan kita sebenarnya bukan milik kita.
Jadi Makna pada Tahap Ini :
- Masih ada “aku” (ego spiritual)
- Masih merasa memiliki amal
- Belum melihat hakikat perbuatan
Namun pada tahap ini tidak juga salah, karena: Ini adalah pintu masuk untuk menuju kepada maqom fana’.
2. Tahap Kedua: FANA (Lenyapnya Diri , “Aku Hilang”)
Fanā’ adalah: Lenyapnya kesadaran diri di hadapan keagungan Allah.
jadi maksudnya bukan berarti diri Zahir nya hilang secara fisik, tetapi:
- Hilang segala rasa memiliki diri
- Hilang rasa memiliki amal
- Hilang rasa “aku yang berbuat"
Dalil Al-Qur’an
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
Artinya: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah (Dzat)-Nya.”(QS. Al-Qashash ayat : 88)
Jadi dalam maqam fana’: Aku” (ego) itu telah binasa ,telah sirna , Yang tersisa hanyalah Allah.
Allah Ta’ala berfirman dalam hadist qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ،
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ،
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ،
وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا،
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا،
وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ،
وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ»
Artinya
“Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.
Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya:
Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar,
penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat,
tangannya yang ia gunakan untuk bertindak,
dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.
Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri.
Jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.” (HR. Bukhari)
Hadist Ini adalah menggambarkan isyarat tentang keadaan fana’ seorang hamba.
- Pendengaran “hamba” hilang → digantikan oleh pendengaran “Allah”
- Penglihatan “hamba” hilang → digantikan oleh.penglihatan “Allah”
Dan Ciri-ciri seorang yang telah berada dalam Maqom Fanā’ yaitu :
- Tidak melihat diri sendiri
- Tidak melihat amal sendiri
- Tidak melihat selain Allah
Namun pada Maqom fana ini sebaiknya tetaplah terus dalam bimbingan seorang syekh Mursyid yang mengawasi , karena pada Maqom ini sangat rentan bahaya Jika tidak dibimbing dan pengawasan dari seorang syekh →sebab bisa jatuh pada syathahat (yaitu ucapan ucapan yang ngelantur). Ini akan menimbulkan fitnah.
3. Tahap Ketiga: BAQO BILLAH (Kekal dengan Allah – “Hidup dengan Allah”)
Setelah mengalami maqom fana’, maka seorang salik janganlah berhenti ,Ia harus terus melanjutkan mujahadahnya agar ia naik ke maqam: BAQO BILLAH (hidup bersama Allah)
Artinya:
Ia kembali hidup seperti kehidupan biasa ,tetap menjalani kehidupan ini ,.tetap beramal ibadah, tetap berusaha mencari nafkah , Tetapi.dalam menjalani kehidupan itu dia sudah bukan dengan dirinya sendiri ,Melainkan sudah sadar bahwa segan sesuatu yang ia lakukan terjadi dengan irādah Allah.
Dalil Al-Qur’an :
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya: Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid ayat : 4)
Ini adalah inti dari maqam baqā’:
Tidak lagi hilang total (seperti fana’)
Tapi hidup dalam kesadaran kebersamaan Allah.
Dalil Lagi firman Allah:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya: Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf ayat : 16)
Di Qdalam Maqom baqā’: seorang salik tetap hidup dalam kesadaran , namun setiap saat ia merasakan hidup bersama Allah.
Jika fana’ = hilang dari diri
maka baqā’ = kembali hidup dalam Allah.
Inilah kesempurnaan perjalanan seorang salik :
Sholat → tetap dilakukan
Dzikir → tetap dilakukan
Syariat → tetap dijaga
Tetapi: Semua ibadah yang dilakukan dalam kesadaran penuh bahwa Allah lah yang menggerakkan dan menjadikan segala perbuatan kita.
- Perbandingan Tiga Tahap ini :
- Sebelum fana :
Keadaan : Aku berbuat,
Pandangan: Masih melihat diri
- Di dalam Fana’ :
Keadaan: Aku hilang,
Pandangan: Tidak melihat diri
Di dalam Baqā’ :
Keadaan: Hidup dengan Allah,
Pandangan: Melihat Allah dalam segala keadaan.
Jadi Kesimpulan Hakikat
Perjalanan salik bukan berhenti pada fana’, tetapi harus sampai pada Maqom baqā’.
Ringkasan Hikmah
Sebelum fana → hijab diri
Saat fana → hilang hijab
Setelah baqā’ → hidup dalam Allah
Maka tercapailah kesempurnaan:
“Bukan engkau yang berbuat,
bukan pula engkau yang hilang,
Akan tetapi Allah yang Bertajalli menampakkan perbuatan-Nya melalui dirimu.”
Fanā’ adalah pintu,
Baqā’ adalah tujuan.
Fanā’ menghancurkan ego,
Baqā’ menyempurnakan adab.
Fanā’ membuat engkau tiada,
Baqā’ membuat engkau hidup dalam Allah.
Maka jangan berhenti pada hilang,
tetapi sempurnakan dengan kembali bersama Allah.
a. Semua Akan Fana, Hanya Allah yang Kekal.
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya: Semua yang ada di bumi akan fana, dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."
(QS. Ar-Rahman ayat : 26–27)
Dari sini Hamba fana dari dirinya
Lalu “baqa” dengan Allah (dalam kesadaran, bukan dzat)
b. Allah Menjadi Pendengaran dan Penglihatan Hamba.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ
كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ
وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا
Artinya:
"Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya..."
(HR. Bukhari)
Ini adalah isyarat paling jelas tentang Baqā’ Billāh
c. Kembali kepada Allah Secara Sempurna.
Dalilnya :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Artinya:
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai."
(QS. Al-Fajr ayat : 27–28)
Ayat Ini menunjukkan:
Jiwa telah sampai pada keadaan ridha dan hidup bersama Allah.
d. Hidupnya Hati dengan Allah.
Dalilnya:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
Artinya:Apakah orang yang tadinya mati, lalu Kami hidupkan dia..." (QS. Al-An’am ayat : 122)
Ayat Ini bukan tentang hidupnya jasad, tapi hidupnya hati dengan Allah.
Pada maqām ini:
Hamba kembali “ada”, tapi bukan dengan ego
Hamba tetap hidup, tapi tidak lagi merasa memiliki diri,Hamba tetap berbuat, tapi tidak melihat dirinya sebagai pelaku.
Yang tampak: yang bekerja ,yang berjalan, yang berbicara berbuat ,Tapi yang disadari Semua bersama Allah.
PERBEDAAN DENGAN FANĀ’
Fana : Hilangnya kesadaran diri
Baqa : Kembali sadar
Fana : Tenggelam dalam Allah
Baqa : Hidup bersama Allah
Fana : Tidak melihat makhluk
Baqa :Kembali melihat makhluk dengan Allah
Seseorang yang telah sampai kepada Maqom baqobillah maka harus Tetap menjalankan syariat dengan sempurna.
Harus tetap tawadhu’ walau tinggi maqamnya
Semua perbuatannya penuh hikmah
Tetap aktif menjalani aktivitas dunia tidak terikat oleh dunia dan Menjadi rahmat bagi orang lain
Inilah ciri Insan Kamil.
( BUKAN HULUL ATAU ITTIHAD )
Baqā’ Billāh bukan:
Allah masuk ke dalam tubuh manusia
atau manusia menjadi Allah.
Sebab Allah adalah dzat yang
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya."
(QS. Asy-Syura ayat 11)
Yang terjadi:
Baqā’ Billāh adalah:
puncak perjalanan ruhani
PENUTUP (RENUNGAN SUFI)
Ketika engkau masih hidup dengan dirimu,
engkau masih terhijab.
Ketika engkau fana dari dirimu,
engkau telah dekat.
Namun ketika engkau hidup dengan Allah,
itulah kesempurnaan perjalanan.
PENJELASAN MAKNANYA
1. “Ketika engkau masih hidup dengan dirimu, maka engkau masih terhijab.”
Maknanya :
Selama seseorang masih:
merasa “aku berbuat”
merasa “aku punya”
merasa “aku mampu”
maka ia masih tertutup (terhijab) dari Allah.
Karena yang ia lihat:
2. “Ketika engkau fana dari dirimu, engkau dekat.”
Makna
Fana bukan hilang wujud, tetapi: hilangnya ego (nafsu, kesombongan, keakuan)
Ketika “aku” mulai hilang:
yang tampak adalah Allah
yang terasa adalah kehadiran Allah
Dalil
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya:
"Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf ayat 16)
Dan lagi firman Allah
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
Artinya: "Dia bersama kalian di mana saja kalian berada." (QS. Al-Hadid: 4)
Kedekatan ini sudah ada,
tetapi baru dirasakan ketika “aku” mulai lenyap.
3. “Namun ketika engkau hidup dengan Allah, itulah kesempurnaan perjalanan.”
Maknanya :
Ini adalah maqam Baqā’ Billāh:
bukan lagi hidup dengan ego
bukan lagi sekadar fana
tetapi hidup bersama Allah
Dalil
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ
كُنْتُ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ...
"Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya dan penglihatannya..."
(HR. Bukhari)
Ini bukan berarti menjadi Allah,
tetapi:
hidup dalam bimbingan dan tajalli Allah
KESIMPULAN HAQIQAT
Kalimat ini menggambarkan tiga tahap perjalanan ruhani:
Hijab → melihat diri
Fana → hilang diri
Baqa → hidup dengan Allah
Selama engkau masih melihat dirimu,
engkau tertutup dari-Nya.
Ketika dirimu mulai lenyap,
engkau mulai merasakan kedekatan-Nya.
Namun ketika engkau hidup dengan-Nya,
tidak lagi dengan dirimu,
maka itulah kesempurnaan perjalanan seorang hamba.
PERBEDAAN BAQĀ’ BILLĀH DAN ḤULŪL
1. Pengertian Baqā’ Billāh (بقاء بالله)
Baqā’ Billāh adalah:
Keadaan seorang hamba yang hidup dengan Allah setelah fana dari ego dirinya.
Artinya:
Hamba tetap menjadi hamba
Allah tetaplah Allah
Tidak ada penyatuan dzat.
Dalil
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya."
(QS. Asy-Syura ayat : 11)
Hadits Qudsi:
كُنْتُ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ...
"Aku menjadi pendengarannya dan penglihatannya..."
(HR. Bukhari)
Maknanya:
Allah membimbing, menjaga, dan menguasai
Bukan masuk ke dalam tubuh manusia
2. Pengertian Ḥulūl (حلول)
Ḥulūl adalah: Keyakinan bahwa Allah “masuk” atau “bertempat” di dalam makhluk.
Ini berarti: Allah menyatu dengan manusia
atau Allah berada dalam tubuh manusia
Ini adalah keyakinan yang ditolak dalam akidah Islam.
Dalil Penolakannya
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya." (QS. Asy-Syura ayat : 11)
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya." (QS. Al-Ikhlas ayat : 4)
Ayat inilah yang menjadi dasar penolakan sebab
Jika Allah “masuk” ke dalam makhluk, berarti ini sama saja menyerupakan Allah dengan makhluk ini tidak benar.
PENJELASAN HAQIQAT YANG AMAN
DALAM BAQO BILLAH
Hamba tidak melihat dirinya sebagai pelaku utama, tapi tidak pernah menganggap dirinya Allah.
Sedangkan dalam HULUL
Hamba menganggap Allah ada dalam dirinya
Ini melanggar tauhid
. CONTOH AGAR MUDAH DIPAHAMI
Baqā’ Billāh Seperti: Mata melihat karena cahaya matahari
Ḥulūl Seperti: Menganggap matahari masuk ke dalam mata
KESIMPULAN HAQIQAT
PENUTUP (RENUNGAN)
Dekat bukan berarti menyatu.
Bersama bukan berarti menjadi satu dzat.
Semakin dekat seorang hamba kepada Allah,
justru semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba…
dan Allah tetap Tuhan Yang Maha Tinggi.
Sumber dari Haris Haris

0 comments:
Catat Ulasan