KEWAJIBAN MENCARI GURU MURSYID DALAM JALAN MENUJU KEPADA ALLAH

 

KEWAJIBAN MENCARI GURU MURSYID DALAM JALAN MENUJU KEPADA ALLAH
✍️ KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah membuka jalan hidayah bagi hamba-Nya melalui para nabi, ulama, dan para wali-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembimbing umat dari kegelapan menuju cahaya.
Makalah ini disusun untuk menjelaskan pentingnya bahkan kewajiban mencari guru mursyid dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah, agar tidak tersesat dalam jalan yang penuh dengan tipu daya nafsu dan syetan.
Latar Belakang
Dalam kehidupan beragama, manusia tidak cukup hanya mengandalkan akal dan pemahaman sendiri. Terlebih dalam mempelajari ilmu Thoriqat dan tasawuf, sebab yang dibahas adalah perjalanan hati untuk menuju kepada Allah. Banyak orang tersesat bukan karena tidak beribadah, akan tetapi karena tidak memiliki seorang guru pembimbing.
Sehingga salah memahami hakikat
Mengikuti bisikan hawa nafsu.
Oleh karena itu Maka muncul ungkapan ulama:
“Barang siapa tidak memiliki guru, maka syetanlah yang akan menjadi gurunya.
....Rumusan Masalah...
-1 Apakah ada dalil tentang kewajiban berguru..?
- 2 Apakah nabi Muhammad juga berguru ...?
- 3 siapkah yang disebut Mursyid ...?
- 4 Apa bahayanya jika tidak memiliki mursyid...?
📌 - Apakah ada dalil tentang kewajiban untuk berguru..?
Di dalam Al Qur'an dan hadits memang tidak Ada Perintah secara “Eksplisit” untuk Wajib Berguru.
Tidak ada lafaz langsung yang berbunyi: “Wajib berguru kepada seorang syaikh.”
Namun Ada Perintah yang Secara Makna Mewajibkan Berguru , Walaupun tidak disebut secara langsung, Namun banyak dalil yang secara makna mengharuskan berguru, yaitu:
1. Perintah Bertanya kepada Ahlinya
Allah berfirman.dalam Al Qur'an:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: "Bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui."
(QS. An-Nahl ayat : 43)
Ayat Ini dengan jelas menunjukkan perintah bahwa Orang yang tidak tahu maka WAJIB bertanya, Bertanya hakikatnya adalah berguru.
2. Perintah Bersama Orang orang Shalih
Allah berfirman:
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: Jadilah bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah ayat : 119)
Dalam tasawuf: “Ash-shādiqīn” = para wali / mursyid
Bersama mereka berarti = mengikuti dan dibimbing.
3. Mengikuti Jalan Orang yang Kembali kepada Allah.
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
Artinya:Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.(QS. Luqman ayat : 15)
Ayat Ini adalah yang menjadi dalil Harus mengikuti orang yang sudah sampai Maqom nya kepada Maqom ma'rifatullah ,dan agar kita Tidak berjalan sendiri.
Imam Al-Ghazali berkata:
“Wajib bagi seorang murid memiliki guru…”
Imam Al-Qusyairi berkata:
“Barang siapa tidak memiliki guru, maka syetanlah gurunya.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata:
“Jangan berjalan sendiri dalam jalan ini.”
📌 Apakah nabi Muhammad juga berguru...?
Pertanyaan ini sangat dalam, karena menyentuh hakikat ilmu, wahyu, dan adab berguru dalam Islam.
1. Secara Hakikat: Nabi Muhammad ﷺ juga “berguru” kepada Allah.
Allah berfirman:
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ
Artinya:
“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An-Najm ayat: 5)
Dan lagi firman Allah :
وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ
Artinya:
“Dan Allah mengajarkan kepadamu apa yang sebelumnya tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nisa ayat : 113)
👉 Maka dalam hakikatnya:
Guru utama Nabi Muhammad ﷺ adalah Allah sendiri, melalui perantaraan malaikat Jibril عليه السلام.
2. Secara Syariat: Nabi menerima dari Malaikat Jibril
Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu di Gua Hira:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya :
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq ayat : 1)
👉 Di sini terlihat:
Jibril sebagai perantara penyampai ilmu (mu‘allim)
Nabi sebagai penerima wahyu (murid dalam konteks menerima ilmu)
Namun, ini bukan seperti guru manusia biasa, karena:
Jibril tidak mengajarkan dari dirinya,
Semua berasal dari Allah.
3. Apakah Nabi pernah berguru kepada manusia?
Jawabannya : Tidak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah ummi (tidak belajar kepada manusia dalam hal agama), sebagaimana firman Allah:
وَمَا كُنتَ تَتْلُوا مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ
Artinya :
“Dan engkau tidak pernah membaca kitab sebelumnya, dan tidak (pula) menulisnya dengan tangan kananmu.” (QS. Al-‘Ankabut ayat : 48)
Ayat Ini untuk menegaskan:
Ilmu Nabi bukan hasil belajar dari manusia,
Tapi murni wahyu dari Allah.
4. Dalam Pandangan Tasawuf (Hakikat Berguru)
Para ulama sufi menjelaskan:
Nabi ﷺ adalah murid langsung Allah (ta‘alluq billah)
Jibril hanyalah wasilah (perantara)
Namun menariknya:
Nabi tetap menunjukkan adab sebagai “murid”
- Mendengar
- Mengikuti perintah
- Tunduk kepada wahyu
Ini menjadi contoh bahwa: Berguru adalah sunnatullah dalam menuntut ilmu.
Hikmah untuk Umat (Kenapa Kita Harus Berguru...?
Jika Nabi Muhammad saja:
Menerima Wahyu melalui perantara (Jibril)
Sebagai wasilah,
Apalagi kita sebagai manusia biasa , maka lebih-lebih lagi membutuhkan:
Guru
Mursyid
Pembimbing rohani
Sebagaimana perkataan ulama:
“Barangsiapa tidak memiliki guru, maka syaitanlah gurunya.”
Kesimpulan
- Nabi Muhammad ﷺ tidak berguru kepada manusia.
- Beliau berguru langsung kepada Allah melalui Malaikat Jibril.
Ini menunjukkan bahwa:
Ilmu harus bersumber dari Allah
Dan dalam perjalanan, perantara (guru) adalah sunnatullah.
Jika Rasulullah saja tidak berjalan sendiri dalam menerima ilmu,
lalu bagaimana mungkin seorang salik bisa berjalan sendiri tanpa mursyid…?
📌 - Siapakah yang disebut guru Mursyid itu ...?
Kata “Mursyid” (مُرْشِد) berasal dari akar kata bahasa Arab:
Kata مُرْشِد (Mursyid) adalah:
Isim Fa’il (kata pelaku)
Dari fi’il: أَرْشَدَ – يُرْشِدُ (Arsyada – Yursyidu)
Sehingga:
Mursyid = Orang yang memberi petunjuk / membimbing ke jalan yang benar
Makna Secara Bahasa (Lughawi)
Secara bahasa, Mursyid berarti:
Pembimbing
Penunjuk jalan yang benar
Orang yang menunjukkan kebenaran setelah kesesatan
Guru yang mengarahkan kepada kebaikan dan kematangan (rushd)
Makna Dalam Tasawuf
Dalam istilah tasawuf:
Mursyid adalah seorang guru ruhani yang membimbing murid (salik) menuju ma’rifatullah
Ia bukan sekadar pengajar ilmu, tetapi:
Penuntun hati
Pembimbing perjalanan batin
Pewaris jalan para Nabi dalam aspek tazkiyatun nafs.
Jadi Kesimpulannya :
Mursyid adalah Orang yang menunjukkan jalan kebenaran
Makna Secara hakikat:
Pembimbing ruhani yang menuntun seorang hamba dari kegelapan menuju cahaya ma’rifat kepada Allah.
....Pentingnya mursyid....
Ketahuilah olehmu wahai salik ... Bahwa perjalanan Ruhani untuk menuju kepada Allah itu Penuh dengan rintangan tipuan dan Bahaya.
Sebab Nafsu selalu menipu,
Syetan selalu ingin menyesatkan,
Hati akan mudah tertipu ilusi,
Jadi Tanpa pembimbing seorang mursyid maka akan rawan tersesat.
Sebab Ilmu Hakikat Tidak Bisa Dipelajari Sendiri
Seperti ikhlas, Fana’ , muraqobah,Ma’rifat
Ini bukan sekedar ilmu teori, tapi pengalaman yang wajib Butuh pembimbing
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
Artinya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.”
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 3)
Ayat ini memerintahkan agar kita mengikuti jalan kepada Allah melalui bimbingan seorang guru Mursyid . Jadi jika sudah bertemu dengan seorang guru yang Mursyid , maka serahkanlah dirimu Zahir dan bathin kepadanya untuk di bimbing hingga sampai kepada pengenalan yang sebenarnya yaitu Maqom ma'rifatullah.
- Bahaya Mengikuti Bisikan Syetan
Allah berfirman:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
Artinya:
"Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan." (QS. Al-Baqarah ayat : 168)
Jadi tanpa bimbingan seorang guru, seseorang akan mudah terjebak dalam mengikuti langkah syetan tanpa ia sadari.
Penjelasan dalam Tasawuf
Dalam jalan suluk (tharekat):
Guru disebut Mursyid
Murid disebut Salik
Seorang salik tidak boleh berjalan sendiri, karena:
Jalan menuju Allah penuh tipuan (makar nafsu dan syetan)
Ada maqam-maqam yang halus dan sulit dipahami
Bisa terjebak dalam:
Wahm (khayalan)
Ujub (bangga diri)
Merasa sudah sampai (padahal belum)
📌 Apa bahayanya jika tidak memiliki seorang guru Mursyid....?
Seorang yang tidak memiliki guru akan mudah terbujuk rayuan syetan dan terjebak dalam ilusi serta rawan dalam kesesatan.
- Dapat Merasa dirinya sudah mencapai maqom ma’rifat padahal itu hanya ilusi.
- Menyalah artikan haqiqat, bahwa ia merasa sudah mencapai Maqom haqiqat sehingga tidak perlu lagi menjalankan syari'at.
- Menganggap dirinya sudah fana, padahal hanya karena malas untuk ibadah.
👉 Ini semua adalah tipuan syetan yang sangat halus yang tanpa ia sadari telah terjebak dalam kesesatan.
Ilmu tanpa guru = rawan dalam kesesatan
Jalan tanpa pembimbing = mudah tersesat
Hati tanpa bimbingan = mudah dimasuki syetan.
jika engkau ingin selamat dalan berjalan kepada Allah, maka engkau harus bahkan wajib untuk memiliki seorang guru yang mursyid , yang akan membimbingmu dan mengawasi segala perjalananmu.
📌 Bagaimana ciri ciri guru yang Mursyid...?
1. Berilmu dan Berpegang Teguh pada Syariat
Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui.”(QS. An-Nahl ayat : 43)
Seorang Mursyid harus:
Menguasai ilmu agama (tauhid, fiqih, tasawuf)
Mengajarkan sesuai Al-Qur’an dan Sunnah
Tidak menyimpang dari syariat
Catatan penting:
➡️ Tidak mungkin seseorang sampai kepada Allah jika ia meninggalkan syariat.
2. Memiliki Sanad (Silsilah Guru yang Jelas)
Dalam ajaran Thoriqat, ilmu itu bersambung dari guru ke guru sebelum nya hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ.
👉 Ciri mursyid:
Memiliki jalur thirekat yang jelas
Diakui oleh guru sebelumnya
Tidak mengaku-ngaku sendiri
Hikmah:
Seperti aliran air, jika sumbernya jernih, maka alirannya juga jernih.
3. Akhlaknya Mulia (Cerminan Sunnah Nabi ﷺ)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Mursyid yang sejati:
Rendah hati (tawadhu’)
Tidak terlalu cinta harta dunia
Memiliki sifat Sabar dan lembut
Tidak mudah marah
Menjadi teladan, bukan hanya berkata-kata.
4. Menghidupkan Dzikir dan Mengajak kepada Allah
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
(QS. Al-Ahzab: 41)
Ciri mursyid sejati :
Hidupnya penuh dzikir
Mengajarkan dzikir kepada murid
Menghidupkan hati, bukan sekadar memberi ilmu lisan.
5. Tidak Mencari keuntungan Dunia dari Murid
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menuntut ilmu untuk mencari dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga.”
Mursyid sejati:
Tidak menjadikan murid sebagai
Ladang keuntungan
Tidak haus pujian
Tidak mengejar jabatan atau kekuasaan
6. Membimbing Murid Menuju.kepada Allah, Bukan Kepada Dirinya.
Ini ciri paling halus:
Mursyid sejati akan:
Mengarahkan murid kepada Allah
Bukan membuat murid bergantung kepada dirinya
Ucapan para arifin:
“Guru sejati adalah yang mengantarkanmu kepada Allah, bukan kepada dirinya.”
7. Memiliki Cahaya (Nur) dan Pengaruh pada Hati
Ini dirasakan, bukan sekadar dilihat:
Jika duduk dengannya,
- Hati menjadi tenang
- Teringat kepada Allah
- Tumbuh semangat untuk beribadah.
8. Mampu Membimbing Sesuai Tingkatan Murid
Mursyid bukan hanya sekedar berilmu, tapi:
Tahu kondisi hati seorang murid
Memberi amalan sesuai kemampuan
Tidak memberatkan
Namun ada juga yang mengaku ngaku sebagai Mursyid ( melantik dirinya menjadi Mursyid )
Ini hanya Sebagai keterangan pelengkap, agar tidak terjebak, ciri cirinya adalah :
- Mengaku sebagai seorang wali tanpa dasar.
- Tidak memiliki sanad silsilah yang jelas.
- Meninggalkan syariat / tidak menjalankan syariat dengan dalil sudah mencapai Maqom haqiqat.
- Berani Menghalalkan sesuatu yang haram
- Cinta harta dunia dan hidup mewah.
- Menjadikan murid sebagai lahan materi dengan alasan tertentu.
- Mengaku dirinya paling benar sendiri
- Mendoktrin dan membuat murid menjadi fanatik buta.
Allah berfirman:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ
Artinya:Hendaklah ada segolongan yang mendalami ilmu agama untuk memberi peringatan kepada kaumnya.
( "QS. At-Taubah ayat : 122)
Ayat Ini menunjukkan bahwa :
Ada yang harus belajar (murid / salik )
Ada yang harus mengajar (Mursyid/ guru)
Rasulullah ﷺ bersabda:
العلماء ورثة الأنبياء
Artinya: Ulama adalah pewaris para nabi."
👉 Maka:
Mengambil ilmu dari ulama = mengambil warisan Nabi
Tidak mengambil dari mereka = kehilangan jalan yang lurus.
Penutup Hikmah
Orang yang dibimbing seorang guru, dia akan berjalan dengan cahaya.
Orang yang berjalan sendiri, dia akan berjalan dengan bayangan.
Dan bayangan itu… sering kali adalah tipu daya syetan.

Sumber dari Haris Haris
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan