DZAUQ KASYAF DAN TAJALLI
Dalam ilmu tasawuf, istilah dzauq, kasyaf, dan tajallī adalah tiga tingkatan yang saling berhubungan, dan istilah ini sering muncul ketika membahas tentang pengalaman perjalanan ruhani seorang salik dalam perjalanan menuju ma‘rifat kepada Allah.
Baiklah mari kita bahas tentang ketiga Maqom ini agar tidak salah faham.
Secara istilah, dzauq adalah:
Pengetahuan atau pengalaman rohani yang dirasakan langsung oleh hati seorang salik, bukan sekadar dipahami oleh akal semata.
Oleh sebab itu Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa ada dua jenis ilmu pengetahuan:
- ilmu ‘aqli (ilmu akal) – yang hanya dipahami dengan pikiran dan logika.
- Ilmu dzauqi (ilmu rasa) – yang hanya dapat dirasakan dan dialami oleh qolbu seorang salik melalui pengalaman spiritualnya.
Karena itu para sufi sering mengatakan:
مَنْ لَمْ يَذُقْ لَمْ يَعْرِفْ
Artinya:
“Barang siapa belum merasakan, maka ia belum benar-benar mengenal.
Artinya ada hakikat-hakikat iman yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya dengan kata-kata, tetapi hanya bisa dipahami hanya melalui pengalaman rohani.
- Contoh Sederhana Makna Dzauq.
Para sufi sering memberi contoh:
Seseorang bisa menjelaskan tentang rasa madu,
tetapi orang yang belum pernah mencicipi madu maka tidak akan dapat untuk benar benar mengetahui rasanya madu itu.
Begitu juga:
seseorang bisa membaca tentang bagaimana perjalanan cinta kepada Allah,
tetapi orang yang sudah merasakan kehadiran Allah dalam qolbunya , maka memiliki rasa dan pengalaman yang berbeda.
(Itulah yang disebut dengan dzauq)
- Dzauq dalam Perjalanan Seorang Salik.
Dalam perjalanan tasawuf, dzauq biasanya muncul ketika seorang salik :
- Banyak melakukan dzikir
- Melakukan muraqabah
- Menjaga wuquf qalbi
- Membersihkan hati dari sifat sifat yang buruk.
Maka pada saat itulah terkadang qolbu merasakan:
- manisnya dzikir
- ketenangan bathin luar biasa
- kedekatan dengan Allah
- cahaya keyakinan dalam hati
(Rasa-rasa inilah yang disebut dzauq ruhani)
- Dalil Al-Qur'an yang sering dikaitkan dengan Dzauq.
Salah satu ayat yang sering dijadikan isyarat adalah:
ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
Artinya:."Rasakanlah azab yang membakar."
(QS. Al-Hajj ayat : 22)
Kata ذوقوا (dzūqū) berarti rasakanlah.
Para sufi mengambil isyarat bahwa agama bukan hanya diketahui tetapi juga “dirasakan.”
- Perbedaan Dzauq dengan Ilmu Biasa.
Ilmu Aqli :Dipahami dengan akal
Ilmu Dzauqi :Dirasakan oleh hati
Ilmu Aqli : Bisa diajarkan dengan kata-kata
Ilmu Dzauqi :Sulit dijelaskan dengan kata
Ilmu aqli : Bersifat teori
Ilmu dzauq :Bersifat pengalaman
- Kesimpulan
Dzauq dalam tasawuf adalah pengalaman rasa rohani ketika hati merasakan kedekatan dengan Allah.
Ia bukan sekadar ilmu yang dipelajari, tetapi hakikat yang dialami oleh hati melalui dzikir, ibadah, dan penyucian jiwa.
Karena itu para sufi mengatakan:
العلم علمان: علم في اللسان، وعلم في القلب
“Ilmu itu ada dua: ilmu di lisan dan ilmu di hati.”
Pengertian Kasyaf (كشف) dalam Ilmu Tasawuf
Secara bahasa Arab, kasyaf (كَشْف) berarti:
Terbuka, Tersingkap, menghilangkan penutup atau tabir
Contoh penggunaan dalam bahasa Arab:
كَشَفَ الشَّيْءَ
artinya: membuka sesuatu yang tertutup.
- Pengertian Kasyaf dalam Tasawuf.
Dalam ilmu tasawuf, kasyaf adalah:
Terbukanya hijab (tabir) dari hati, sehingga seorang hamba dapat memahami hakikat suatu perkara dengan cahaya dari Allah.
Artinya:
bukan melihat dengan mata Zahir ,akan tetapi mengetahui dengan cahaya hati NURUL QOLBI (نور القلب)
Para sufi menyebutnya juga sebagai:
انكشاف الحقائق للقلب
Artinya: Tersingkapnya hakikat-hakikat bagi hati."
- Dalil Al-Qur'an tentang Kasyaf
Para ulama sering mengaitkan konsep kasyaf dengan ayat berikut:
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
Artinya:
"Sungguh dahulu engkau dalam kelalaian dari ini, maka Kami singkapkan darimu tabirmu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.(QS Qaf ayat : 22)
Para ulama tasawuf mengatakan:
selama di dunia manusia tertutup oleh hijab nafsu,.Dan pada.ketika hijab itu tersingkap maka hakikat menjadi jelas.
- Penjelasan Ulama Tentang kasyaf
Imam Al-Ghazali
Dalam Ihya Ulumuddin beliau menjelaskan:
Kasyaf adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati sehingga hakikat sesuatu menjadi jelas tanpa perantara.
Imam Al-Qusyairi
Beliau mengatakan:
Kasyaf adalah terbukanya tabir hati sehingga seorang hamba melihat kebenaran dengan cahaya keyakinan.
Imam Junaid Al-Baghdadi
Beliau berkata:
Kasyaf bukan melihat perkara ghaib, tetapi hati yang dibukakan oleh Allah untuk memahami kebenaran.
- Penyebab Terjadinya Kasyaf.
Dalam kajian ilmu tasawuf, kasyaf tidak terjadi dengan usaha semata, tetapi karunia dari Allah yang diberikan kepada hati yang bersih.
Biasanya kasyaf terjadi karena:
- Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)
- Dzikir yang terus-menerus
- Mujahadah melawan hawa nafsu
- Keikhlasan dalam ibadah
- Tawakkal kepada Allah
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya: "Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."
(QS Al-Ankabut ayat : 69)
- Jenis-jenis Kasyaf menurut Ulama Tasawuf.
1. Kasyaf Ilmi
Terbukanya pemahaman tentang hakikat ilmu.
Contoh:
Dapat memahami makna haqiqat ayat Al-Qur'an dengan sangat dalam dan mengetahui hikmah takdir.
2. Kasyaf Syuhudi
Hati merasakan kehadiran Allah dengan sangat kuat. Biasanya terjadi dalam:
dzikir, muraqabah, khalwat
3. Kasyaf Kauni
Tersingkapnya sebagian rahasia rahasia di alam ghaib atau tersibaknya rahasia perkara perkara yang ghaib.
(Namun ulama menegaskan bahwa ini bukan tujuan tasawuf)
- Kasyaf bukan Tujuan Tasawuf
Para ulama tasawuf selalu mengingatkan bahwa:
kasyaf bukan tujuan perjalanan ruhani.
Tujuan utama adalah:
Ma'rifatullah dan kedekatan kepada Allah.
Imam Al-Ghazali mengatakan:
Banyak orang yang diberi kasyaf tetapi tidak diberi istiqamah.
Karena itu ukuran kebenaran bukan kasyaf, tetapi:
Al-Qur'an dan Sunnah.
- Bahaya Salah Memahami Kasyaf.
Para ulama memperingatkan bahwa:
tidak semua yang mengaku kasyaf itu benar
sebagian bisa berasal dari khayalan atau tipu daya daya syaitan.
Karena itu para sufi mengatakan:
كل كشف لا يشهد له الكتاب والسنة فهو باطل
Artinya:
"Setiap kasyaf yang tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah adalah batil.
- jadinKesimpulannya :
Kasyaf dalam tasawuf adalah terbukanya hijab / tersingkap nya tabir hati sehingga hakikat suatu perkara menjadi jelas dengan cahaya dari Allah.
kasyaf adalah karunia dari Allah, Namun kasyaf
bukan tujuan utama. oleh karena itu kasyaf harus selalu ditimbang dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
3.PENGERTIAN TAJALLI
Pengertian Tajallī (تجلّي) dalam Ilmu Tasawuf
Secara bahasa, tajallī (تجلّي) berasal dari kata:
جَلَا – يَجْلُو – تَجَلَّى
yang berarti: tampak, bersinar, menyingkap diri
menampakkan cahaya.
Jadi secara bahasa tajallī berarti penampakan atau munculnya sesuatu dengan jelas.
- Pengertian Tajallī dalam Tasawuf.
Dalam ilmu tasawuf, tajallī adalah:
penampakan cahaya sifat-sifat Allah dalam hati seorang hamba.
Artinya: Allah menyingkapkan cahaya makrifat,
hati merasakan kehadiran dan keagungan Allah.
Namun para ulama menegaskan:
tajallī bukan berarti melihat dzat Allah, tetapi melihat cahaya dari sifat-sifat-Nya yang menerangi hati.
- Dalil Al-Qur'an tentang Tajallī
Para ulama tasawuf sering merujuk kepada kisah Nabi Musa.
فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا
Artinya: Ketika Tuhannya menampakkan diri kepada gunung, gunung itu hancur."
(!QS Al-A'raf ayat 143 )
Ayat ini menunjukkan bahwa tajallī adalah penampakan kekuasaan Allah yang luar biasa.
Para sufi menjelaskan:
gunung saja hancur karena tajalli
apalagi hati manusia yang lemah
Karena itu tajalli yang terjadi pada manusia hanyalah tajalli rahmat dan tajalli cahaya sifat-sifat Allah.
- Tajallī dalam Hati Manusia.
Jika hati seorang hamba telah bersih dari:
kesombongan, riya, cinta dunia, Hawa nafsu
maka hati itu menjadi tempat turunnya cahaya Ilahi.
Para sufi sering mengaitkannya dengan ayat:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi."
Cahaya inilah yang oleh para sufi disebut tajallī nur Ilahi.(QS An-Nur ayat 35)
- Penjelasan Para Ulama tentang Tajallī
Imam Al-Qusyairi
Beliau mengatakan:
Tajallī adalah munculnya cahaya kebenaran dalam hati sehingga hati tenggelam dalam keagungan Allah.
Imam Al-Ghazali
Beliau menjelaskan bahwa:
ketika hati telah bersih dari kegelapan nafsu, maka cahaya Ilahi akan memancar di dalamnya.
Ibnu ‘Arabi
Beliau menjelaskan bahwa:
alam semesta seluruhnya adalah tempat tajalli sifat-sifat Allah.
Artinya:
kekuasaan Allah tampak dalam alam
rahmat Allah tampak dalam kehidupan
hikmah Allah tampak dalam takdir.
- Jenis Tajallī dalam Tasawuf.
1- Tajalli Asmā’ (تجلّي الأسماء)
dalam ilmu tasawuf adalah penampakan atau manifestasi Nama-Nama Allah (Asmā’ul Ḥusnā) pada makhluk, terutama pada hati manusia dan alam semesta.
Kata tajalli berarti tersingkap, terlihat, atau memancar.
Sedangkan asmā’ berarti nama-nama Allah.
Jadi secara sederhana:
Tajalli Asmā’ = tampaknya sifat-sifat Allah melalui nama-nama-Nya pada makhluk.
-;Contoh Tajalli Asma dalam kehidupan
Setiap nama Allah memiliki pancaran dalam makhluk.
Contoh:
Nama Allah
Tajalli dalam makhluk
Ar-Raḥmān (Yang Maha Pengasih)
kasih sayang ibu kepada anak
Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi rezeki)
datangnya rezeki melalui berbagai sebab
Al-‘Alīm (Yang Maha Mengetahui)
adanya ilmu pada manusia
Al-Ḥakīm (Yang Maha Bijaksana)
hikmah dalam kejadian hidup
Al-Jamīl (Yang Maha Indah)
keindahan alam
Artinya semua kebaikan di alam adalah pancaran nama Allah.
Namun para sufi menegaskan:
Makhluk bukan Allah, tetapi hanya tempat tampaknya nama-nama-Nya.
- Dalil Al-Qur’an tentang Asma Allah
Allah berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
Artinya:
“Dan milik Allah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu.”
(QS. Al-A‘raf: 180)
Ayat ini menunjukkan bahwa nama-nama Allah adalah jalan untuk mengenal Allah.
- Tajalli Asma dalam hati seorang salik
Dalam perjalanan tasawuf, seorang salik kadang merasakan tajalli nama Allah dalam hatinya.
Contoh:
Saat hati dipenuhi kasih sayang → tajalli Ar-Rahman
Saat hati dipenuhi ketenangan → tajalli As-Salam
Saat hati merasa cukup dengan Allah → tajalli Al-Ghani
Ini bukan berarti manusia memiliki sifat Allah secara hakiki, tetapi hanya pantulan kecil dari nama-Nya.
Kesimpulan
Tajalli Asma adalah tampaknya nama-nama Allah pada makhluk dan alam semesta.
Maknanya:
kasih sayang adalah tajalli Ar-Rahman
ilmu adalah tajalli Al-‘Alim
keindahan adalah tajalli Al-Jamil
Namun hakikatnya:
Semua itu hanya pantulan, sedangkan kesempurnaan Asma tetap milik Allah semata.
2.. Tajallī Af‘āl
Penampakan perbuatan Allah dalam alam.
Seorang salik melihat bahwa semua kejadian berasal dari perbuatannya Allah.
3. Tajallī Ṣifāt
Penampakan sifat-sifat Allah dalam hati.
Misalnya:
melihat rahmat Allah
melihat keadilan Allah
melihat hikmah Allah
4. Tajallī Dzāt
Ini adalah tajalli yang paling tinggi.
Namun para ulama mengatakan:
tajalli dzat yang sempurna tidak terjadi di dunia
hanya terjadi di akhirat ketika melihat Allah
Sebagaimana firman Allah:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Artinya:
"Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, melihat kepada Tuhannya."
(QS Al-Qiyamah ayat 22-23)
- Hubungan Tajallī dengan Perjalanan Ruhani.
Dalam perjalanan tasawuf sering dijelaskan urutan pengalaman hati:
Dzauq → Kasyaf → Tajallī → Ma‘rifat
Artinya:
Dzauq → hati merasakan manisnya iman
Kasyaf → hijab hati tersingkap
Tajallī → cahaya Ilahi tampak dalam hati
Ma‘rifat → hati mengenal Allah dengan pengenalan yang mendalam
- Tanda Hati yang Mendapat Tajallī.
Para sufi mengatakan bahwa orang yang mendapat tajalli biasanya:
semakin tawadhu
semakin takut kepada Allah
semakin taat kepada syariat
semakin zuhud terhadap dunia
Karena tajalli yang benar mendekatkan kepada Allah, bukan menjauhkan dari syariat.
Kesimpulan
Tajallī dalam tasawuf adalah penampakan cahaya sifat-sifat Allah dalam hati seorang hamba sehingga ia merasakan kehadiran dan keagungan Allah dengan sangat kuat.
Namun tajalli bukan melihat dzat Allah, melainkan cahaya dari sifat-sifat-Nya yang menyinari hati.
Kesimpulan tentang Dzauq, Kasyaf, dan Tajallī dalam Tasawuf
Dalam perjalanan tasawuf, para ulama menjelaskan bahwa hati seorang sālik yang berjalan menuju Allah dapat mengalami beberapa keadaan ruhani.
Tiga istilah yang sering disebut adalah dzauq, kasyaf, dan tajallī.
Ketiganya berkaitan dengan terbukanya hati untuk mengenal Allah.
1. Dzauq (ذوق)
Dzauq adalah rasa spiritual yang dirasakan oleh hati ketika seorang hamba mulai merasakan manisnya iman dan dzikir.
2. Kasyaf (كشف)
Kasyaf adalah terbukanya hijab (tabir) hati, sehingga seorang hamba mulai memahami hakikat-hakikat yang sebelumnya tertutup.
3. Tajallī (تجلّي)
Tajallī adalah munculnya cahaya sifat-sifat Allah dalam hati seorang hamba.
Para ulama tasawuf sering menggambarkan hubungan ini sebagai tahapan pengalaman hati:
Jadi Kesimpulan utama nya :
Dzauq, kasyaf, dan tajallī adalah tiga perjalanan dan pengalaman ruhani yang terjadi pada hati seorang salik dalam perjalanan menuju ma‘rifatullāh.
Dan semuanya ini adalah merupakan karunia Allah kepada hati hati yang telah disucikan dengan dzikir, ibadah, dan keikhlasan.
Wallahu alam bissowab

0 comments:
Catat Ulasan