ILMU LADUNI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 

APA ITU ILMU LADUNI....? ILMU LADUNI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
1. Pendahuluan
Dalam perjalanan spiritual seorang hamba menuju kedekatan dengan Allah SWT, terdapat berbagai tingkatan ilmu yang dapat diperoleh. Sebagian ilmu diperoleh melalui usaha belajar, membaca, dan berguru kepada para ulama. Namun dalam tradisi tasawuf dikenal pula suatu jenis ilmu yang diberikan langsung oleh Allah SWT kepada hamba-Nya tanpa melalui proses belajar yang biasa. Ilmu tersebut dikenal dengan istilah Ilmu Laduni.
Ilmu laduni sering dibahas oleh para ulama tasawuf sebagai karunia khusus dari Allah kepada hamba yang bersih hatinya, ikhlas ibadahnya, dan dekat dengan-Nya. Oleh karena itu, pemahaman tentang ilmu laduni menjadi penting agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memaknainya.
Makalah ini akan membahas pengertian ilmu laduni, dalil-dalilnya dalam Al-Qur’an, pandangan para ulama, serta kedudukannya dalam kehidupan seorang salik.
2. Pengertian Ilmu Laduni
Secara bahasa, kata laduni berasal dari kata Arab:
لَدُنْ
yang berarti “dari sisi” atau “dari hadirat.”
Istilah Ilmu Laduni (العلم اللدني) berarti:
Ilmu yang diberikan langsung oleh Allah dari sisi-Nya kepada seorang hamba tanpa melalui proses belajar yang biasa.
Ilmu ini bukan hasil pemikiran manusia semata, melainkan ilham atau penyingkapan (kasyf) yang Allah berikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa ilmu laduni adalah ilmu yang diberikan kepada hati yang telah bersih dari hawa nafsu dan dipenuhi dengan dzikir kepada Allah.
3. Dalil Al-Qur'an tentang Ilmu Laduni
Dalil utama tentang ilmu laduni terdapat dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Al-Qur’an.
Surah Al-Kahfi ayat 65
وَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
Artinya:
"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."
(QS. Al-Kahfi ayat : 65)
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Khidir diberi ilmu langsung dari sisi Allah, yang tidak diketahui oleh Nabi Musa pada saat itu.
Inilah yang menjadi dasar para ulama menyebut adanya ilmu laduni.
4. Penjelasan Ulama tentang Ilmu Laduni.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu terbagi menjadi dua:
- ilmu Kasbi
Ilmu yang diperoleh melalui usaha belajar.
- Ilmu Laduni
Ilmu yang Allah masukkan langsung ke dalam hati seorang hamba.
Beliau mengatakan bahwa hati manusia ibarat cermin. Jika hati itu bersih dari dosa dan hawa nafsu, maka cahaya ilmu dari Allah akan mudah masuk ke dalamnya.
5. Siapa yang Mendapatkan Ilmu Laduni...?
Tidak semua orang dapat memperoleh ilmu laduni. Ilmu ini merupakan anugerah dari Allah kepada hamba tertentu.
Biasanya diberikan kepada:
- Para Nabi dan Rasul
- Para wali wali Allah
- Hamba yang sangat bertakwa
- Salik yang istiqomah dalam ibadah
Al-Qur'an menyebutkan:
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
Artinya:
"Bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kepadamu.
(Surah Al-Baqarah ayat 282)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketakwaan.adalah menjadi salah satu sebab dibukanya ilmu dari Allah ( ilmu laduni )
6. Ciri-ciri Ilmu Laduni
Ilmu laduni memiliki beberapa ciri, antara lain:
- Datang ke dalam hati secara tiba-tiba
- Memberikan pemahaman yang mendalam
- Tidak bertentangan dengan syariat
- Membawa seseorang semakin dekat kepada Allah
- Melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.
Jika suatu “ilham” membuat seseorang menjadi sombong bahkan berani meninggalkan syariat, maka itu bukan ilmu laduni, melainkan itu adalah bisikan hawa nafsu atau syaitan.
7. Cara Mendapatkan Ilmu Laduni.
Walaupun ilmu laduni merupakan karunia Allah, Namun para ulama tasawuf menjelaskan beberapa jalan yang dapat mendekatkan seseorang kepada ilmu tersebut, yaitu:
- Membersihkan hati (tazkiyatun nafs)
- Memperbanyak dzikir kepada Allah
- Menjaga keikhlasan dalam segala ibadah
- Menghindari dosa baik dosa yang kecil
- Berkhidmat kepada guru dan ulama
- Beribadah dengan istiqomah.
8. Perbedaan Ilmu Laduni dan Ilmu Biasa
Ilmu Biasa.
Ilmu biasa ➡️ Diperoleh melalui belajar
Ilmu Laduni ➡️ Diberikan langsung oleh Allah.
Ilmu biasa ➡️ Melalui akal dan pemikiran
Ilmu laduni ➡️ Melalui hati dan ilham.
Ilmu biasa ➡️ Bisa dipelajari semua orang.
Ilmu laduni ➡️ Hanya diberikan kepada hamba tertentu.
Ilmu biasa ➡️ Bersifat zahir
Ilmu laduni ➡️ Bersifat batin.
Namun kedua jenis ilmu ini tetap penting dalam Islam.
9. Kesimpulan
Ilmu laduni adalah ilmu yang diberikan langsung oleh Allah SWT kepada hamba-Nya tanpa melalui proses belajar biasa. Ilmu ini merupakan karunia yang Allah berikan kepada hamba yang bertakwa dan hatinya bersih.
Dalil utama tentang ilmu laduni terdapat dalam kisah Nabi Khidir dalam Surah Al-Kahfi ayat 65 yang menjelaskan bahwa Allah mengajarkan ilmu dari sisi-Nya kepada hamba pilihan.
Walaupun demikian, ilmu laduni tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Justru ilmu ini seharusnya semakin menguatkan keimanan, ketakwaan, dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Dengan demikian, seorang salik hendaknya tetap menempuh jalan syariat, memperbanyak dzikir, serta membersihkan hati agar mendapatkan cahaya ilmu dan ma'rifat dari Allah SWT.
💎 Contoh Ilmu Laduni yang Dimiliki Nabi Khidir.
Dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa Nabi Musa pernah diperintahkan oleh Allah untuk belajar kepada seorang hamba yang saleh, yaitu Nabi Khidir. Kisah ini terdapat dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82. Allah menjelaskan bahwa Nabi Khidir diberikan ilmu langsung dari sisi-Nya.
Firman Allah dalam Al Qur'an :
وَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
Artinya: Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi ayat : 65)
Ayat ini menjadi dasar bahwa Nabi Khidir memiliki ilmu laduni, yaitu ilmu yang Allah berikan langsung kepadanya tanpa melalui proses belajar biasa.
💎 Berikut beberapa contoh ilmu laduni Nabi Khidir yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.
1. Mengetahui Rahasia di Balik Perahu yang Dirusak.
Ketika Nabi Musa dan Nabi Khidir menumpang sebuah perahu milik orang miskin, Lalu nabi Khidir tiba-tiba melubangi perahu tersebut.
Nabi Musa merasa heran dan menegur tindakan itu.
Allah menjelaskan alasan sebenarnya melalui Nabi Khidir.
Firman Allah:
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا
Artinya: Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku bermaksud merusaknya."
(QS. Al-Kahfi ayat 79)
Nabi Khidir mengetahui melalui ilmu dari Allah bahwa di depan mereka ada raja yang zalim yang merampas setiap kapal yang bagus. Dengan melubangi perahu itu sedikit, kapal tersebut tidak akan dirampas sehingga tetap menjadi milik orang miskin.
Ini menunjukkan ilmu tentang kejadian yang belum diketahui orang lain.
2. Mengetahui Masa Depan Anak yang Dibunuh.
Dalam perjalanan mereka, Nabi Khidir tiba tiba mencekik seorang anak kecil sampai anak itu meninggal. Nabi Musa kembali terkejut dan menegur tindakan tersebut.
Namun Nabi Khidir menjelaskan bahwa anak itu kelak akan menjadi anak yang durhaka dan penyebab kesengsaraan bagi orang tuanya yang saleh.
Firman Allah:
وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا
Artinya: "Adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang mukmin, maka kami khawatir dia akan memaksa keduanya kepada kesesatan dan kekafiran."
(QS. Al-Kahfi ayat : 80)
Lalu Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik bagi kedua orang tuanya.
Ini menunjukkan bahwa Nabi Khidir diberi pengetahuan tentang masa depan yang belum terjadi.
3. Mengetahui Harta Terpendam di Bawah Dinding.
Ketika mereka tiba di sebuah desa, Nabi Khidir memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh tanpa meminta upah.
Nabi Musa kembali heran karena mereka tidak diberi jamuan oleh penduduk desa itu.
Namun Nabi Khidir menjelaskan:
Firman Allah:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ
Artinya: "Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya terdapat harta simpanan bagi mereka."
(QS. Al-Kahfi ayat : 82)
Ayah kedua anak itu adalah orang yang saleh, sehingga Allah menjaga harta mereka sampai mereka dewasa.
Ini menunjukkan bahwa Nabi Khidir mengetahui rahasia yang tersembunyi di dalam bumi melalui ilmu yang Allah berikan kepadanya.
Hakikat Ilmu Laduni Nabi Khidir
Di akhir kisah, Nabi Khidir menjelaskan bahwa semua perbuatan yang dilakukan nya bukanlah atas kemauan pribadi melainkan adalah perintah Allah.
Firman Allah:
وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي
Artinya: "Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri."
(QS. Al-Kahfi ayat : 82)
Artinya semua tindakan tersebut dilakukan berdasarkan ilmu dan perintah dari Allah.
💎 Hikmah dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Dari kisah ini terdapat beberapa pelajaran penting:
- ilmu Allah sangat luas dan tidak terbatas.
Ada ilmu yang tidak diketahui oleh para nabi sekalipun kecuali jika Allah mengajarkannya.
- Ilmu laduni adalah karunia Allah kepada hamba pilihan.
Tidak semua rahasia takdir dapat dipahami oleh akal manusia.
Kesimpulan
Ilmu laduni yang dimiliki Nabi Khidir adalah ilmu yang Allah berikan langsung kepadanya untuk mengetahui rahasia di balik suatu kejadian, baik yang tersembunyi maupun yang akan terjadi di masa depan. Contohnya adalah mengetahui alasan merusak perahu, membunuh seorang anak, dan memperbaiki dinding yang menyimpan harta anak yatim.
Kisah ini menunjukkan bahwa Allah dapat memberikan ilmu langsung kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan ilmu tersebut berada di luar jangkauan pemahaman manusia biasa.
Jika Bapak ingin, saya juga bisa membuat satu pembahasan yang sangat menarik untuk dimasukkan dalam buku SAMUDRA MA'RIFAT, yaitu:
🌹Mengapa Nabi Musa Diperintahkan Belajar kepada Nabi Khidir Padahal pada masa itu nabi Musa adalah seorang Rasul yang Besar...?
Kisah pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir merupakan salah satu kisah penting dalam Al-Qur’an yang mengandung pelajaran mendalam tentang hakikat ilmu, kerendahan hati, dan keluasan ilmu Allah. Kisah ini terdapat dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82.
Walaupun Nabi Musa adalah salah satu rasul besar yang termasuk Ulul Azmi, Allah tetap memerintahkan beliau untuk belajar kepada Nabi Khidir. Hal ini menunjukkan bahwa di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui dalam aspek tertentu.
Allah berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Artinya:
"Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui."
(QS. Yusuf ayat : 76)
1. Perbedaan Jenis Ilmu.
Salah satu hikmah mengapa Nabi Musa diperintahkan belajar kepada Nabi Khidir adalah karena jenis ilmu yang mereka miliki berbeda.
Ilmu Nabi Musa
Nabi Musa diberi ilmu syariat, yaitu ilmu tentang hukum, perintah, larangan, dan aturan kehidupan manusia.
Ilmu Nabi Khidir
Nabi Khidir diberi ilmu laduni, yaitu ilmu tentang rahasia takdir dan hikmah di balik peristiwa yang tidak terlihat oleh manusia biasa.
Dengan demikian, Nabi Musa belajar kepada Nabi Khidir bukan karena Musa kurang mulia, tetapi karena Allah memberikan kepada setiap hamba bagian ilmu yang berbeda.
2. Mengajarkan Kerendahan Hati dalam Ilmu.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa seorang alim harus tetap rendah hati.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu ketika Nabi Musa pernah ditanya:
“Siapakah manusia yang paling berilmu...?”
Nabi Musa menjawab: "Aku.”
Allah kemudian menegur Nabi Musa karena tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah, lalu Allah memberitahu bahwa ada seorang hamba yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki Musa.
Karena itu Nabi Musa diperintahkan untuk menemuinya.
Ini menjadi pelajaran bahwa ilmu adalah milik Allah, dan manusia hanyalah penerima sebagian kecil darinya.
3. Menunjukkan Luasnya Ilmu Allah.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir menunjukkan bahwa ilmu Allah sangat luas dan tidak terbatas.
Apa yang menurut Nabi Musa terlihat sebagai kesalahan ternyata memiliki hikmah besar yang tidak diketahui sebelumnya.
Semua itu menunjukkan bahwa Allah mengetahui rahasia masa depan dan hikmah di balik peristiwa yang tidak dipahami manusia.
4. Mengajarkan Adab Seorang Murid kepada Guru.
Walaupun Nabi Musa adalah rasul besar, beliau tetap bersikap sebagai murid ketika belajar kepada Nabi Khidir.
Nabi Musa berkata dengan penuh adab:
هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Artinya:
"Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu....?"
(QS. Al-Kahfi ayat : 66)
Ayat ini menunjukkan bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, ia tetap perlu belajar dari orang lain.
5. Mengajarkan Hakikat Kesabaran dalam Menuntut Ilmu.
Nabi Khidir mengatakan kepada Nabi Musa bahwa beliau tidak akan mampu bersabar terhadap apa yang akan dilihatnya.
Firman Allah:
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
Artinya:
"Bagaimana engkau akan sabar terhadap sesuatu yang engkau belum memiliki pengetahuan tentangnya...?"
(QS. Al-Kahfi ayat : 68)
Ini mengajarkan bahwa ilmu hakikat sering kali tidak mudah dipahami oleh akal manusia secara langsung.
Kesimpulan
Walaupun Nabi Musa adalah rasul besar dan termasuk Ulul Azmi, Allah tetap memerintahkan beliau untuk belajar kepada Nabi Khidir karena ilmu yang dimiliki keduanya berbeda.
Nabi Musa memiliki ilmu syariat, sedangkan Nabi Khidir memiliki ilmu laduni tentang rahasia takdir.
Kisah ini mengajarkan bahwa ilmu Allah sangat luas, sehingga manusia tidak boleh merasa paling berilmu. Selain itu, kisah ini juga mengajarkan adab dalam menuntut ilmu, yaitu kerendahan hati, kesabaran, dan kesadaran bahwa di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui.

Sumber dari Haris Haris

Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan