ULAMA SU' ( ULAMA JAHAT )
Makalah:
Tentang ulama su'
Assalamualaikum warahmatullahi wa baroqatuh.
Istilah “Ulama Su’ (عُلَمَاءُ السُّوء)” berarti ulama yang buruk atau ulama yang menyalahgunakan ilmu agama. Mereka adalah orang yang memiliki ilmu agama, tetapi ilmunya dipakai untuk kepentingan dunia, kekuasaan, atau menyesatkan manusia, bukan untuk mencari ridha Allah.
Dalam banyak kitab tasawuf dan nasehat ulama, mereka disebut sebagai orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya atau menyembunyikan kebenaran.
Allah berfirman dalam Al Qur'an:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan dan petunjuk setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat pula oleh semua yang melaknat.”(QS. Al-Baqarah ayat : 159)
Ayat ini yang dijadikan dalil bahwa Allah melaknat ulama yang berilmu namun mereka menyembunyikan kebenaran itu , demi untuk kepentingan pribadi terutama untuk masalah kepentingan dunia , mereka inilah yang disebut dengan ulama su' ( ulama jahat)
Dan lagi firman Allah dalam Al Qur'an:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang diberi Taurat tetapi tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.”(QS. Al-Jumu’ah ayat : 5)
Maknanya: mereka punya ilmu tetapi mereka tidak mengamalkannya.
Allah juga menceritakan kisah seseorang yang diberi ilmu tetapi tetap mengikuti hawa nafsu.
فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ
Artinya:
“Lalu ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, maka setan mengikutinya.”
(QS. Al-A’raf ayat : 176)
Ayat ini sering dijadikan contoh bagi orang berilmu yang tergelincir karena kepentingan dunia dan keserakahan nafsu.
Dalil dari Hadits nabi Tentang Ulama Su’
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Artinya:
“Barang siapa mencari ilmu untuk menandingi ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, atau agar manusia memandang kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits lain yang sangat keras mengancam ulama su'
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ
Artinya: “Orang yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah orang alim yang ilmunya tidak memberi manfa'at baginya.” (HR. Thabrani)
Para ulama tasawuf menyebut beberapa tanda mereka:
1. Mereka berani menjual atas nama Agama hanya demi kepentingan dunia.
Mereka menggunakan fatwa atau dalil dalil agama hanya untuk mendapatkan harta, jabatan, atau pengaruh dari umat.
2. Mendekat kepada penguasa yang zalim.
Mereka rela memuji penguasa yang zalim demi mendapatkan keuntungan pribadi.
3. Tidak mengamalkan ilmunya.
Mereka tahu dan paham tentang hukum hukum Allah , tetapi perbuatannya selalu bertentangan dengan ilmunya.
4. Menggunakan ilmu untuk berdebat dan mencari popularitas.
Tujuan mereka bukan untuk mencari kebenaran, tetapi agar terlihat paling alim.
5. Menyembunyikan kebenaran.
Mereka berani menyembunyikan atau menutupi kebenaran Karena takut kehilangan jabatan atau dukungan dari manusia.
Jadi ulama Su’ adalah ulama yang memiliki ilmu agama tetapi:
- Menggunakan ilmunya untuk dunia
- Tidak mengamalkan ilmunya
- Berani menyembunyikan kebenaran
- Mencari kedudukan dan pujian manusia
Padahal hakikat ulama yang sebenarnya adalah sebagaimana firman Allah:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya:
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fatir ayat : 28)
Artinya ulama yang sejati adalah semakin mereka berilmu maka semakin takut kepada Allah.
Hal Ini Sangat penting bukan mau menghakimi, Namun agar umat dapat membedakan siapa yang harus diikuti dan siapa yang harus diwaspadai.
Ulama Haq adalah ulama yang ilmunya membawa manusia menuntun umat agar kembali kepada Allah.
Ilmu yang mereka miliki diamalkan, diajarkan dengan ikhlas, dan tidak dijadikan alat mencari dunia.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya:
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fathir ayat : 28)
Maknanya: ulama yang benar adalah yang semakin berilmu semakin takut kepada Allah.
Ciri-ciri Ulama Haq
Para ulama menyebutkan beberapa tanda:
1. Ilmunya diamalkan.
Mereka tidak hanya berbicara menyuruh kepada kebaikan , tetapi mereka menerapkan ilmu mereka dan hidup sesuai dengan ilmunya.
2. Zuhud terhadap dunia.
Tidak menjadikan agama sebagai alat mencari untuk harta.
3. Mengajak manusia kepada Allah
Bukan mengajak kepada dirinya.
4. Tawadhu (rendah hati)
Semakin mereka berilmu, maka semakin merasa kecil di hadapan Allah.
5. Tidak mencari popularitas.
Dakwah mereka untuk menuju kepada kebenaran, bukan untuk pujian manusia.
Ulama Su’ adalah ulama yang menjadikan ilmu agama sebagai alat untuk dunia.
Mereka mungkin pandai berbicara, tetapi hatinya terikat kepada dunia, kedudukan, dan pujian manusia.
Hadits Rasulullah ﷺ
Rasulullah bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ
Artinya:“Barang siapa mencari ilmu untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Dawud)
Ciri-ciri Ulama Su’
Para ulama menyebut beberapa tanda:
1. Menjual agama demi dunia.
Menggunakan agama untuk:
- mencari uang
- memperoleh jabatan
- mencari Kekuasaan
- mencari popularitas
2. Mendekati penguasa zalim
Imam Al-Ghazali berkata:
“Seburuk-buruk ulama adalah yang mendatangi penguasa, dan sebaik-baik penguasa adalah yang mendatangi ulama.”
3. Ilmunya tidak diamalkan.
Mereka tahu hukum Allah tetapi perbuatannya bertentangan dengan ilmunya.
4. Suka dipuji dan diagungkan.
Hatinya senang jika manusia menganggapnya seorang wali, sebagai orang alim, atau sebagai pigur tokoh besar.
5. Menyembunyikan kebenaran.
Berani menyembunyikan kebenaran karena takut kehilangan kedudukan atau dukungan manusia.
Mengapa Ulama Su’ Sering Terlihat Sangat Alim....?
1. Karena Ilmu Tidak Sama Dengan Hidayah.
Seseorang bisa memiliki ilmu yang banyak dengan belajar dari kitab , tetapi belum tentu memiliki hidayah di dalam hatinya.
Allah berfirman:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
Artinya:
“Ceritakan kepada mereka kisah orang yang telah Kami beri ayat-ayat Kami, kemudian ia melepaskan diri darinya, lalu setan mengikutinya, maka ia termasuk orang-orang yang sesat.”
(QS. Al-A’raf ayat : 175)
Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki ilmu dari ayat-ayat Allah tetapi tetap tersesat.
2. Karena Kepandaian Bicara Tidak Sama Dengan Keikhlasan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
Artinya: Yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah orang munafik yang pandai berbicara.” (HR. Ahmad)
Maknanya:
Mereka ini sangat sangat fasih menjelaskan tentang agama,Namun kata kata ceramah yang mereka berikan hanya sebatas keluar dari lisan mereka saja bukan dari qolbu mereka ,sebab hati mereka tidak iklash.
3. Karena Ilmu Bisa Menjadi Ujian.
Ilmu bukan hanya kemuliaan, tetapi juga ujian dari Allah.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin berat pertanggungjawabannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ
Artinya: “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang ilmunya, apa yang ia amalkan.”
(HR. Tirmidzi)
4. Karena Mereka Mengejar Penampilan dan Kealiman.
Mereka belajar agama adalah dengan niat:
- ingin dihormati
- ingin dianggap alim
- ingin memiliki pengikut
- ingin mendapatkan kedudukan.
Imam Al-Ghazali mengatakan:
“Sebagian orang mencari ilmu bukan untuk agama, tetapi untuk kedudukan di dunia.”
Akibatnya mereka tampak alim di luar, tetapi hatinya kosong dari keikhlasan.
5. Karena Allah Membiarkan Mereka Sebagai Ujian Bagi Manusia.
Kadang Allah membiarkan orang seperti ini terlihat hebat di hadapan manusia adalah sebagai ujian.
Allah berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
Artinya: “Ketika mereka menyimpang, maka Allah membiarkan hati mereka menyimpang.”
(QS. As-Saff ayat : 5)
Para ulama tasawuf mengatakan:
Ilmu ada dua jenis
1. Ilmu di lisan
Ilmu yang hanya berada pada:
hafalan
ucapan
debat
ceramah
Ilmu ini tidak selalu menyelamatkan.
2. Ilmu di hati
Ilmu yang melahirkan:
takut kepada Allah
tawadhu
ikhlas
zuhud
Inilah yang disebut ilmu yang bermanfaat.
Sebab itulah Rasulullah ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”(HR. Muslim)
Tanda Ulama Sejati
Ulama salaf mengatakan:
Jika ilmu bertambah tetapi rasa takut kepada Allah tidak bertambah, maka ilmu itu tidak membawa manfaat.
Karena Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fatir ayat : 28)
Jadi ulama su’ sering terlihat lebih alim karena:
Mereka memiliki ilmu di lisan tetapi bukan di hati
Mereka pandai berbicara tetapi tidak ikhlas
Ilmu mereka dipakai untuk dunia
Allah menjadikan mereka ujian bagi manusia.
Sedangkan ulama sejati:
semakin berilmu semakin takut kepada Allah
semakin berilmu semakin rendah hati
ilmunya mengajak manusia kepada Allah, bukan kepada dirinya.
Para ulama tasawuf dan ulama salaf sering mengatakan bahwa ulama su’ lebih berbahaya daripada orang awam yang berdosa.
Hal ini bukan karena dosa mereka selalu lebih banyak, tetapi karena pengaruh mereka terhadap agama dan manusia sangat besar.
Berikut penjelasannya.
Mengapa Ulama Su’ Lebih Berbahaya daripada Orang Awam yang Berdosa...?
1. Karena Mereka Menyesatkan Banyak Orang.
Orang awam yang berdosa biasanya hanya merusak dirinya sendiri.
Tetapi ulama su’ dapat menyesatkan banyak manusia karena umat mempercayai mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Artinya:
“Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa ulama, manusia mengangkat pemimpin yang bodoh, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Karena Kesalahan Mereka Dianggap Kebenaran.
Jika orang awam melakukan kesalahan, manusia tahu itu dosa.
Tetapi jika ulama su’ melakukan kesalahan, manusia sering menganggap itu ajaran agama.
Akibatnya kesalahan itu dapat menyebar luas.
3. Karena Mereka Menggunakan Agama untuk Dunia.
inilah yang paling berbahaya, karena mereka mencari kekuasaan dan popularitas yang dibungkus dengan agama.
Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya Ulumuddin:
“Ulama su’ menjadikan ilmu sebagai tangga menuju dunia.”
Peringatan Ulama Salaf
Imam Abdullah bin Mubarak berkata:
“Yang merusak agama ini ada dua golongan:
raja yang zalim dan ulama yang buruk.”
Karena:
raja zalim merusak dengan kekuasaan.
ulama su’ merusak dengan agama.
Jadi inilah alasannya mengapa ulama su’ lebih berbahaya daripada orang awam berdosa.
karena:
- Mereka menyesatkan banyak manusia
- Kesalahan mereka dianggap sebagai agama
- Mereka menggunakan agama untuk dunia
- Mereka menutup jalan kebenaran
- Mereka merusak kepercayaan manusia kepada agama.
Karena itu para ulama yang Haq selalu berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَالِمٍ لَا يَنْفَعُ
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ulama yang tidak memberi manfa'at.”
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa seseorang bisa memulai perjalanan ilmu dengan niat yang ikhlas, tetapi kemudian tergelincir menjadi ulama su’..?
karena berbagai penyakit hati yang muncul seiring waktu. Inilah sebabnya para ulama salaf sangat takut terhadap fitnah ilmu dan kedudukan.
Berikut beberapa sebab yang sering disebut oleh para ulama.
Mengapa Ulama yang Awalnya Ikhlas Bisa Berubah Menjadi Ulama Su...’?
1. Karena Fitnah Popularitas dan Pujian Manusia.
Ketika seseorang mulai dikenal sebagai orang alim, manusia mulai memujinya ,menghormatinya, meminta fatwa padanya ,mengagungkannya.
Jika hati tidak dijaga, pujian ini bisa menumbuhkan riya dan ujub.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
Para sahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil?”
Beliau menjawab:
الرِّيَاءُ
“Riya (ingin dipuji manusia).”
(HR. Ahmad)
2. Karena Cinta Dunia yang Masuk Secara Perlahan.
Cinta dunia sering masuk tidak terasa.
Awalnya seseorang hanya ingin berdakwah, tetapi kemudian:
ingin dihormati
ingin memiliki pengikut
ingin kedudukan
ingin kekayaan
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
“Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.”
(Ucapan yang masyhur di kalangan ulama)
3. Karena Tidak Menjaga Hati
Ilmu tanpa tazkiyatun nafs (pembersihan hati) sangat berbahaya.
Imam Al-Ghazali berkata:
“Orang yang mempelajari ilmu tetapi tidak membersihkan hatinya seperti orang yang membersihkan bagian luar bejana tetapi bagian dalamnya penuh kotoran.”
4. Karena Kesombongan Ilmu.
Ketika seseorang merasa: paling tahu, paling benar, Tidak mau menerima nasihat
maka muncul kibr (kesombongan).
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
5. Karena Terlalu Dekat Dengan Kekuasaan.
Sejak zaman dahulu para ulama salaf sangat berhati-hati dengan penguasa.
Bukan karena semua penguasa buruk, tetapi karena kedekatan dengan kekuasaan bisa menggoda hati.
Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:
“Tidak ada sesuatu yang lebih merusak seorang alim daripada kedekatannya dengan penguasa.”
6. Karena Allah Menjadikan Ilmu Sebagai Ujian.
Ilmu adalah ujian besar.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar ujian hatinya.
Allah berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا
Artinya:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di bumi dan tidak berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qasas ayat : 83)
Para ulama sufi mengatakan:
Perjalanan menuju Allah memiliki tiga bahaya besar:
- Hubbud dunya (cinta dunia)
- Hubbul jah (cinta kedudukan)
- Ujub (bangga terhadap diri sendiri)
Jika tiga penyakit ini masuk ke dalam hati seorang alim, maka ia bisa jatuh dari ulama akhirat menjadi ulama su’.
Nasihat Ulama Salaf
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Seseorang masih berada dalam kebaikan selama ia terus mencari ilmu dengan niat yang benar dan merasa dirinya belum selamat.”
Artinya: takut kepada Allah adalah penjaga keikhlasan.
Jadi Kesimpulan
Sebagian ulama yang awalnya ikhlas bisa berubah menjadi ulama su’ karena:
Fitnah pujian dan popularitas
Cinta dunia yang masuk perlahan
Tidak menjaga hati
Kesombongan ilmu
Kedekatan dengan kekuasaan
Ilmu menjadi ujian dari Allah
Karena itu para ulama salaf selalu berkata:
“Yang paling kami takutkan bukan kebodohan, tetapi rusaknya niat setelah memiliki ilmu.”
Wahai kaum muslimin....
Ilmu adalah cahaya yang Allah titipkan kepada hati hamba-Nya yang ikhlas. Namun ketika ilmu tidak disertai dengan keikhlasan dan.rasa takut kepada Allah, maka ilmu itu dapat berubah menjadi fitnah yang menyesatkan.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa kerusakan umat sering kali datang dari orang yang berilmu tetapi hatinya rusak. Mereka berbicara tentang agama, tetapi tujuan mereka bukan untuk mendekatkan manusia kepada Allah, melainkan untuk mencari kedudukan, pujian, dan kepentingan dunia.
Ulama seperti ini disebut oleh para ulama sebagai “ulama su’”, yaitu orang yang memiliki ilmu tetapi menjual agamanya demi dunia.
Maka berhati-hatilah wahai umat Islam.
Janganlah engkau tertipu oleh kefasihan kata-kata, banyaknya pengikut, atau indahnya penampilan. Karena tidak semua yang pandai berbicara tentang agama benar-benar membawa manusia kepada Allah.
Maka Perhatikanlah tanda-tandanya:
Jika Mereka menjadikan ilmu sebagai alat mencari dunia....
Jika Mereka lebih senang dipuji daripada menasihati dengan kebenaran....
Jika Mereka mendekati para penguasa demi kepentingan pribadi.....
Jika Mereka menutup kebenaran jika kebenaran itu merugikan kedudukan mereka....
Janganlah kita hanya melihat ilmunya, tetapi lihatlah akhlaknya, keikhlasannya, dan apakah ia benar-benar mengajak kepada Allah atau kepada dirinya sendiri. Kita mau menghakimi mereka tapi kita harus menjaga keimanan kita kepada Allah.
Berpeganglah selalu Al-Qur’an dan Sunnah, serta ikutilah ulama yang wara’, yang rendah hati, dan yang hidupnya penuh ketakwaan.
Semoga Allah menjaga umat ini dari fitnah ilmu yang menyesatkan, dan memberikan kepada kita guru-guru yang membimbing menuju kebenaran.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
- Haris Haris bersama Syekh Haris Al Jawi

0 comments:
Catat Ulasan