MAQOM TAJRID

 

MAQOM TAJRID
MAKALAH :
TAJRĪD DALAM PERJALANAN SPIRITUAL SEORANG SALIK
A. PENDAHULUAN :
Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh.
Dalam perjalanan spritual seorang hamba untuk menuju Allah, para ulama tasawuf menjelaskan adanya berbagai maqām (tingkatan spiritual) yang harus dilalui oleh seorang salik.
Salah satu konsep penting dalam perjalanan tersebut adalah tajrīd.
Secara umum, tajrīd berarti melepaskan diri dari keterikatan terhadap selain Allah, baik keterikatan terhadap dunia, kedudukan, maupun ketergantungan hati kepada makhluk.
Seorang salik yang ingin mencapai ma'rifatullah harus belajar membersihkan hatinya dari segala sesuatu yang menghalangi hubungannya dengan Allah. Oleh karena itu, tajrīd menjadi salah satu langkah penting dalam proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
. PENGERTIAN TAJRID.
Secara bahasa, kata tajrīd (التجريد) berasal dari kata:
جَرَّدَ – يُجَرِّدُ – تَجْرِيدًا
yang berarti:
melepaskan, menanggalkan, atau membersihkan sesuatu dari hal lain yang melekat padanya.
Dalam istilah tasawuf, tajrīd adalah membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah dan hanya menggantungkan diri kepada-Nya.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa tajrīd bukan berarti meninggalkan dunia secara fisik, tetapi melepaskan keterikatan hati terhadap dunia.
. Dalil Tentang Melepaskan Ketergantungan kepada Selain Allah.
Al-Qur'an mengajarkan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, tetapi menjadikan Allah sebagai tujuan hidup.
Firman Allah :
وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Artinya: Apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-Qashash ayat : 60)
Ayat ini mengingatkan bahwa segala yang ada di dunia bersifat sementara, sedangkan yang ada di sisi Allah adalah kekal.
Dan lagi Firman Allah :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya:
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."
(QS. Ar-Rahman : ayat : 26–27)
Ayat ini juga menjadi dasar bahwa seorang salik harus menyadari bahwa seluruh makhluk akan fana, sehingga hati tidak layak bergantung kepada selain Allah.
D. TAJRID MENURUT PANDANGAN ULAMA TASAWUF
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa tajrīd adalah proses memurnikan hati dari selain Allah.
Imam Ibn ‘Athaillah dalam Al-Hikam menjelaskan bahwa:
Tajrid adalah ketika Allah membebaskan seorang hamba dari kesibukan dunia agar ia dapat fokus beribadah kepada-Nya.
Namun beliau juga mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh memaksakan diri meninggalkan dunia tanpa izin Allah, karena setiap hamba memiliki maqam yang berbeda.
E. PERBEDAAN TAJRID DENGAN ZUHUD.
Terkadang kita Sering kali tajrīd disamakan dengan zuhud, padahal keduanya memiliki perbedaan.
➡️ Zuhud adalah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup, meskipun seseorang masih memiliki harta dan pekerjaan.
➡️ Tajrīd adalah keadaan ketika seorang hamba benar-benar dilepaskan dari keterikatan dunia sehingga hidupnya lebih fokus kepada ibadah dan kedekatan dengan Allah.
Dengan kata lain, zuhud adalah sikap hati, sedangkan tajrīd adalah keadaan spiritual yang lebih dalam.
F. TUJUAN TAJRID.
Tujuan dari tajrīd dalam perjalanan spiritual adalah:
Membersihkan hati dari ketergantungan kepada makhluk
Menumbuhkan ketawakkalan kepada Allah
Memfokuskan hati hanya kepada Allah
Mempercepat perjalanan menuju ma'rifatullah
Ketika hati telah tajrīd, seorang salik akan merasakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali kepada Allah.
G. CARA MENDAPATKAN MAQOM TAJRID.
Tajrīd dapat dilatih melalui beberapa cara:
1. Memperbanyak dzikir
Dzikir membantu membersihkan hati dari kelalaian.
2. Mengurangi cinta kepada dunia.
Seorang salik harus belajar memandang dunia sebagai sarana, bukan tujuan.
3. Selalu Tawakkal kepada Allah
Segala urusan diserahkan kepada Allah setelah berusaha.
4. Tetap Menjaga hati dari riya dan ujub.
Karena keduanya merupakan penghalang dalam perjalanan spiritual.
Jadi Tajrīd adalah proses melepaskan hati dari ketergantungan kepada selain Allah dan memurnikan tujuan hidup hanya untuk-Nya. Dalam tasawuf, tajrīd merupakan salah satu maqam penting dalam perjalanan seorang salik menuju ma'rifatullah.
Seorang hamba yang telah mencapai tajrīd tidak lagi terikat oleh dunia, tetapi menjadikan dunia hanya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, hidupnya dipenuhi dengan ketawakkalan, keikhlasan, dan ketenangan hati.
PERBEDAAN MAQOM TAJRID DENGAN MAQOM ASBAB.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa manusia biasanya berada pada dua keadaan spiritual:
1. Maqām Asbāb
Yaitu keadaan ketika seorang hamba hidup dengan usaha dan sebab-sebab dunia seperti:
bekerja Berdagang, bertani ,mencari nafkah
Namun hatinya tetap bertawakal kepada Allah.
Ini adalah maqām kebanyakan pada umumnya manusia.
2. Maqām Tajrīd
Yaitu keadaan ketika Allah membebaskan seorang hamba dari kesibukan dunia, sehingga ia lebih fokus kepada ibadah , dzikir ,ilmu, dakwah
mendekatkan diri kepada Allah
Namun hati mereka tetap tidak bergantung kepada selain Allah.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tajrīd adalah keadaan ketika seorang hamba telah membersihkan hatinya dari cinta dunia.
Menurut beliau:
Dunia boleh berada di tangan, tetapi tidak boleh berada di dalam hati.
Artinya, seseorang masih boleh memiliki harta, pekerjaan, dan kehidupan dunia, tetapi hatinya tidak bergantung kepada semua itu.
APAKAH MAQAOM TAJRID PILIHAN MANUSIA ATAU PILIHAN ALLAH...?
Dalam pandangan para ahli tasawuf, maqām tajrīd pada hakikatnya adalah pilihan dan penempatan dari Allah, bukan semata-mata pilihan manusia. Manusia hanya berusaha membersihkan hati dan mendekat kepada Allah, sedangkan Allah yang menentukan maqām seseorang dalam perjalanan spiritualnya.
Hal ini dijelaskan oleh para ulama tasawuf, terutama oleh Imam Ibn ‘Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam.
Penjelasan Imam Ibn ‘Athaillah
Beliau berkata:
إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ
Artinya: Keinginanmu untuk hidup dalam tajrīd, padahal Allah masih menempatkanmu dalam sebab-sebab (asbāb), termasuk syahwat yang tersembunyi."
Maknanya : Perkataan ini menjelaskan bahwa:
Jika Allah masih menempatkan seseorang dalam maqām asbāb (hidup dengan usaha, pekerjaan, dan urusan dunia), maka ia harus menjalani keadaan itu dengan ikhlas.
Tidak boleh memaksakan diri ingin hidup dalam tajrīd, karena maqām tersebut adalah ketentuan Allah.
SIAPA MEREKA YANG DUDUK DALAM MAQOM TAJRID...?
Dalam pandangan para ahli tasawuf, maqām tajrīd (مقام التجريد) adalah keadaan spiritual ketika seorang hamba dibebaskan oleh Allah dari ketergantungan kepada sebab-sebab dunia (asbāb) dan hatinya hanya bergantung kepada Allah.
Orang yang berada dalam maqām ini disebut oleh para sufi sebagai ahlut tajrīd (أهل التجريد), yaitu orang-orang yang hidupnya lebih fokus kepada Allah daripada kepada urusan dunia.
Namun penting dipahami bahwa tajrīd bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi melepaskan hati dari ketergantungan kepada dunia.
Menurut para ulama tasawuf, biasanya yang berada dalam maqām tajrīd adalah:
1. Para Wali Allah
Orang-orang yang Allah pilih untuk lebih dekat kepada-Nya dan menghabiskan hidupnya dalam ibadah, dzikir, dan ma'rifat.
Allah berfirman:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Yunus ayat : 62)
2. Para Ahli Dzikir dan Ahli Ibadah
Mereka yang hidupnya lebih banyak digunakan untuk:
dzikir
ibadah
menuntut ilmu
mengajarkan agama
mendekatkan diri kepada Allah
3. Para Salik yang Dipilih Allah
Tidak semua salik mencapai maqām ini. Hanya sebagian yang Allah pilih untuk dibebaskan dari kesibukan dunia agar lebih fokus kepada perjalanan spiritual.
. CIRI CIRI ORANG YANG BERADA DALAM MAQOM TAJRID.
Para ulama tasawuf menyebutkan beberapa tanda orang yang berada dalam maqām tajrīd.
1. Hatinya Tidak Bergantung kepada Dunia
Walaupun dunia ada di sekitarnya, tetapi hatinya tidak terikat kepadanya.
Ia menyadari bahwa dunia hanyalah sementara.
2. Tawakkalnya Sangat Kuat kepada Allah.
Ia tidak menggantungkan hidupnya kepada makhluk, tetapi sepenuhnya kepada Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ
Artinya:
"Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki."
(HR. Tirmidzi)
3. Tidak Takut Kehilangan Dunia.
Orang yang berada dalam maqām tajrīd tidak merasa takut kehilangan harta, jabatan, atau kedudukan. Karena baginya yang paling penting adalah kedekatan dengan Allah.
4. Hidupnya Dipenuhi Dzikir.
Hatinya selalu mengingat Allah.
Sebagaimana firman Allah:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
Artinya:
"Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring."
(QS. Ali Imran : 191)
5. Hatinya dan sikap nya selalu Tenang.
Orang yang berada dalam maqām tajrīd memiliki hati yang sangat tenang karena ia telah menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd ayat : 28)
RAJASIA ORANG YANG BENAR BENAR TAJRID.
Para ulama tasawuf menjelaskan satu rahasia penting:
Orang yang benar-benar berada dalam maqām tajrīd biasanya tidak merasa dirinya tajrīd.
Karena mereka:
- Tidak merasa istimewa
- Tidak merasa lebih tinggi dari orang lain
- Bahkan selalu merasa dirinya masih penuh kekurangan
Hal ini karena semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa kecil di hadapan-Nya.
KESIMPULAN.
Orang yang berada dalam maqām tajrīd adalah hamba-hamba yang Allah pilih untuk melepaskan hati mereka dari ketergantungan kepada dunia dan makhluk.
hatinya tidak bergantung kepada dunia
tawakkalnya sangat kuat kepada Allah
hidupnya dipenuhi dzikir
tidak takut kehilangan dunia
memiliki hati yang tenang dan ridha.
Namun maqām tajrīd bukan sesuatu yang bisa dipaksakan, melainkan karunia dan pilihan dari Allah bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.

Sumber dari Haris Haris bersama Syekh Haris Al Jawi
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan