SIAPAKAH SEBENARNYA PELAKU PERBUATAN MANUSIA....ALLAH ATAU MANUSIA....?

 

SIAPAKAH SEBENARNYA PELAKU PERBUATAN MANUSIA....ALLAH ATAU MANUSIA....?
Dalam menjawab pertanyaan ini maka lahirlah tiga aqidah aliran besar dalam agama yaitu :
-JABARIYAH
-QODORIYAH
-AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH
Lalu bagaimana tentang ketiga paham ini...?
Baik mari kita jabarkan agar tidak salah paham dalam memilih.
PAHAM JABARIYAH
Definisi👇
Paham Jabariyah berpandangan bahwa :
Manusia sama sekali tidak punya kehendak dan daya kuasa, Semua perbuatan manusia dipaksa mutlak oleh Allah.
Jadi Manusia itu seperti :
- seperti daun tertiup angin.
- seperti wayang digerakkan dalang.
- seperti pena di tangan penulis.
Dalil Al Qur'an yang dipakai oleh PAHAM JABARIYAH adalah QS. At-Takwir ayat 29
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Artinya:
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. At-Takwir ayat 29)
Jadi tidak ada perbuatan manusia, semua mutlak perbuatan Allah,.manusia terpaksa mengikuti perbuatan Allah.
Jadi jika di ambil konsekuensi dari pemahaman ayat ini adalah
- Dosa bukan salah manusia
- Amal bukan usaha manusia
- Pahala dan siksa kehilangan makna keadilan
Kritik para Ulama
Jika i'tiqad PAHAM JABARIYAH ini mutlak benar maka yang terjadi adalah :
- Amar ma’ruf nahi munkar akan sia-sia
- Taubat tidak perlu dilakukan
- Hukum Syariat hanya menjadi formalitas saja.
Jadi menurut PAHAM JABARIYAH jika manusia berbuat dosa maka itu adalah perbuatan Allah, lalu bagaimana Allah mau menghukumi dosa atas perbuatannya sendiri.
Karena itulah paham Jabariyah ini dinilai menyimpang oleh para jumhur ulama kita.
PAHAM QODARIYAH
Definisi : 👇
Paham Qodariyah berpandangan:
Manusia menciptakan sendiri perbuatannya.
Allah tidak ikut campur dalam pilihan manusia.
Manusia dianggap:
mutlak bebas mencipta nasibnya sendiri
Tuhan hanya “memberi hukum”
Dalil yang menjadi rujukan paham QODARIYAH adalah :
QS. Al-Kahfi ayat 29
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا…
Artinya:
“Katakanlah: Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barang siapa mau, hendaklah ia beriman; dan barang siapa mau, hendaklah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim neraka yang dindingnya meliputi mereka…”
(QS. Al-Kahfi ayat : 29)
Konsekuensi : jika paham ini dipakai maka
-Kekuasaan Allah terbatas
-Takdir menjadi tidak mutlak
-Tauhid rububiyah akan rusak
Hadis keras tentang Qodariyah
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ، إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ، وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ
Artinya:
“Qodariyah adalah Majusinya umat ini. Jika mereka sakit jangan kalian jenguk, dan jika mereka mati jangan kalian hadiri (jenazahnya).”
Sanad Riwayat (Versi Abu Dawud)
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, Kitab As-Sunnah, no. 4691:
Mengapa Disebut “Majusi”....?
Karena Majusi (Zoroaster) meyakini:
Tuhan cahaya mencipta kebaikan
Tuhan gelap mencipta kejahatan
Sedangkan Qodariyah:
Allah mencipta alam, Manusia mencipta amal
Ini sama-sama dual pencipta, maka Rasul ﷺ menyamakan mereka.
Imam Nawawi menegaskan:
“Yang dimaksud Qodariyah di sini adalah yang menolak takdir Allah dan menjadikan manusia pencipta amalnya.”
“Hadis ‘Qodariyah Majusinya umat ini’ Hadis ini menjadi dalil ijma’ ulama tentang kesesatan paham Qodariyah ekstrem.”
Ibnu Taimiyah berkata:
“Siapa yang menafikan takdir Allah, maka ia telah merusak tauhid rububiyah. Dan siapa yang menafikan usaha manusia, ia merusak syariat. Keduanya sesat.”
Inilah sebab mengapa hadis ini dianggap hadis keras , karena ia menjaga dua pilar iman: tauhid dan tanggung jawab.
Karena mereka membuat dua pencipta:
Allah mencipta alam, manusia mencipta amal.
AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH
(Jalan Tengah)
definisi inti Ahlus Sunnah menyatakan:
Allah menciptakan kehendak dan daya,
Manusia menggunakan kehendak itu untuk memilih.
Rumus Ahlus Sunnah :
Allah mencipta (khalq)
Manusia mengusahakan (kasb)
Yang Memberi kehendak = Allah
Yang Memilih arah = Manusia
Sebab Terjadinya amal = Allah
Yang Tanggung jawab = Manusia
Dalam paham AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH Kehendak manusia tetap diakui:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ
Artinya:
“Bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus.”
Makna Bahasa
لِمَنْ شَاءَ
Bagi siapa yang menghendaki (punya kemauan)
مِنْكُمْ
Di antara kalian (manusia)
أَنْ يَسْتَقِيمَ
Untuk berjalan lurus / istiqamah
Allah mengakui adanya kehendak manusia untuk memilih jalan yang lurus.
Posisi Ayat Ini berbicara dalam Aqidah Takdir
Ayat ini adalah dalil utama bantahan untuk paham Jabariyah.
Karena kalau manusia tidak punya kehendak:
Kalimat ( “bagi siapa yang mau” ) tidak bermakna.
Namun ayat ini tidak berdiri sendiri, karena langsung disambung ayat berikutnya yaitu :
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Artinya:
“Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.”
QS. At-Takwir ayat : 29
Makna Bahasanya :
وَمَا تَشَاؤُونَ
Kalian tidak berkehendak
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
kecuali jika Allah menghendaki
رَبُّ الْعَالَمِينَ
Tuhan seluruh alam → penegasan kekuasaan mutlak.
Tidak ada satu pun kehendak manusia yang berdiri sendiri tanpa kehendak Allah.
Posisi Ayat Ini dalam Aqidah
Ayat ini adalah pilar utama tauhid rububiyah:
Allah bukan hanya pencipta makhluk, tapi juga pencipta kehendak makhluk.
Namun ayat ini tidak menafikan kehendak manusia.
“Bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan lurus.”
Artinya:
Ayat 28 → kehendak manusia diakui
Ayat 29 → kehendak itu di bawah kehendak Allah
Inilah rumus Ahlus Sunnah wal jama'ah
Kesimpulan penutup
“Jabariyah benar dalam melihat keagungan Allah, tapi salah meniadakan manusia.
Qodariyah benar dalam melihat tanggung jawab manusia, tapi salah meniadakan Allah.
Ahlus Sunnah benar karena menempatkan Allah sebagai Pencipta,
dan manusia sebagai hamba yang memilih.
Atau dalam kalimat lain :
“Jabariyah mematikan syariat.
Qodariyah merusak tauhid.
Ahlus Sunnah menyelamatkan keduanya.”
Perbedaan

JABARIYAH : Allah mengangkat gelas.
sebab semua gerak adalah gerak Allah hamba tidak punya kuasa.
QODARIYAH : Hamba mengangkat gelas.
Karena Allah memberikan kuasa kepada hamba.
AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH:
Allah mengangkat gelas melalui tangan ku.

Symber dari Haris Haris
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan