Hassān bin Tsābit (Penyair Pembela Rasulullah ﷺ)
1. Lahir dengan Kata, Tumbuh dengan Syair
Hassān bin Tsābit lahir di Yatsrib (Madinah), jauh sebelum cahaya Islam menerangi Jazirah Arab.
Ia berasal dari kabilah Bani Khazraj, kabilah yang dikenal dengan kefasihan lisan dan kekuatan budaya sastra.
Di masa itu, syair adalah senjata.
Satu bait mampu mengangkat martabat kabilah,
satu kalimat mampu menjatuhkan kehormatan lawan.
Dan Hassān adalah rajanya.
Ia telah dikenal sebagai penyair besar sejak muda,
diundang ke istana-raja,
dihormati oleh kabilah-kabilah Arab.
Namun semua itu belum memberinya tujuan sejati.
---
2. Ketika Cahaya Islam Menyentuh Hatinya
Saat Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah,
Hassān telah berusia lanjut.
Ia menyaksikan:
• akhlak Nabi ﷺ
• ketenangan kata-katanya
• kejujuran yang tak dibuat-buat
Ketika ia mendengar ayat-ayat Al-Qur’an,
hatinya bergetar.
Bukan karena keindahan bahasa semata,
tetapi karena kebenaran yang hidup di dalamnya.
Hassān pun memeluk Islam.
Sejak hari itu,
syairnya tidak lagi untuk raja,
tetapi untuk Rasulullah ﷺ dan kebenaran.
---
3. Ketika Musuh Menyerang dengan Kata-kata
Kaum Quraisy tidak hanya menyerang dengan pedang.
Mereka juga menyerang dengan syair, ejekan, dan fitnah.
Nama Rasulullah ﷺ dihina.
Risalah Islam dicela.
Rasulullah ﷺ mendengar semua itu.
Lalu beliau berkata:
> “Siapakah yang akan membelaku dari gangguan mereka?”
Hassān berdiri.
Dengan suara bergetar namun penuh keyakinan, ia berkata:
> “Aku, wahai Rasulullah.”
---
4. Doa yang Menguatkan Lisan
Rasulullah ﷺ tidak hanya mengizinkan.
Beliau mendoakan.
> “Ya Allah, kuatkanlah ia dengan Ruhul Qudus.”
Sejak saat itu,
setiap bait syair Hassān
menjadi panah kebenaran.
Kata-katanya:
• membela kehormatan Nabi ﷺ
• membungkam fitnah
• mengangkat martabat Islam
Ia menyerang tanpa menumpahkan darah,
namun lukanya terasa hingga ke hati musuh.
---
5. Mimbar Syair di Masjid Nabawi
Rasulullah ﷺ bahkan menyediakan mimbar khusus untuk Hassān di Masjid Nabawi.
Setiap kali kaum musyrik melontarkan hinaan,
Hassān naik mimbar.
Ia melantunkan syair:
• tegas
• berwibawa
• penuh adab
Rasulullah ﷺ tersenyum mendengarnya.
Beliau bersabda:
> “Sesungguhnya syair Hassān lebih menyakitkan bagi mereka
daripada tusukan pedang.”
---
6. Penyair yang Tidak Turun ke Medan Perang
Hassān tidak dikenal sebagai pejuang pedang.
Usianya telah lanjut.
Namun jihad tidak satu bentuk.
Pedang bagi yang mampu,
kata bagi yang diberi karunia.
Hassān berjihad dengan lisan,
dan itu diakui langsung oleh Rasulullah ﷺ.
---
7. Ujian Berat: Fitnah yang Menyakitkan
Hassān pernah diuji dengan fitnah besar
yang menimpa Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a.
Ia sempat terjatuh dalam kesalahan,
dan menerima hukuman sesuai syariat.
Namun ia bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah ﷺ tetap memuliakannya.
Ini mengajarkan:
> orang beriman bisa jatuh,
tetapi taubat mengangkat derajatnya kembali.
---
8. Cinta yang Tak Pernah Padam
Setelah Rasulullah ﷺ wafat,
Hassān sering menangis.
Ia melantunkan syair duka:
> “Mata belum pernah melihat,
dan telinga belum pernah mendengar
manusia seperti Muhammad ﷺ.”
Syairnya berubah dari serangan
menjadi ratapan cinta.
---
9. Akhir Kehidupan Sang Penyair
Hassān bin Tsābit hidup panjang,
hingga melewati masa beberapa khalifah.
Ia wafat dalam usia sangat lanjut,
meninggalkan warisan yang abadi:
syair pembela Nabi ﷺ
bukti bahwa kata bisa menjadi ibadah
---
10. Pelajaran dari Hassān bin Tsābit
Dari Hassān kita belajar:
• setiap orang punya medan jihad
• lisan bisa menjadi senjata iman
• membela Rasulullah ﷺ adalah kehormatan tertinggi
_________________
---
Hassān bin Tsābit radhiyallāhu ‘anhu
mungkin tidak dikenal karena pedangnya,
tetapi langit mengenalnya karena syairnya.
Ia adalah:
> Penyair yang lisannya menjadi perisai Rasulullah ﷺ.
Sumber dari Kisah Islami

0 comments:
Catat Ulasan