NAFAS YG TERLUPAKAN.

Tambah kapsyen
NAFAS YG TERLUPAKAN.
Mari kita renungi bersama, apa dan di siapa sebenaranya manusia, mengapa dia bisa berjalan, berbicara, bekerja dan beraktifitas lainya.
Nafas di dalam diri manusia ini sebenarnya siapa? Jantung, aliran darah boleh berfungsi dengan normal, dan mengapa ketika nafas ini terhenti jasad ini layaknya sebuah benda yg sudah tak berfungsi dan tak berarti apa2.
Lantas siapa nafas ini? Manusia itu sendiri atau siapa, jika benar memang itu manusia, mengapa ketika nafas ini terhenti jasad ini menjadi kaku tak bergerak, dan seketika itu julukan manusia itu hilang tergantikan dengan mayat, jadi jelas manusia itu sebenarnya hanya mempunyai sifat mati saja.
Mari kita merenung.
Jika manusia mempunyai sifat mati.
Apa yg boleh kita lakukan? Tentu tak boleh melakukan apa2 , lantas mengapa jika kita sudah mengerti hal ini mengapa kita selalu mengakui apa yg kita perbuat hasil dari kita sendiri yg melakukan?
Ini ibadahku.
Ini amal jaraiyahku.
Ini hartaku.
Ini istriku.
Ini anaku.
Inj jabatanku.
Ini kemulianku.
Dan lain sebagainya.
Itu semua adalah akal pikiran kita yang terselimuti nafsu keduniaan sehingga menjadi penantang Allah.
Fanakan, sirnakan itu semua lewat dzikir rasa atau fana udzikri yaitu rasakan lewat nafas, detak jantung dan aliran darah bahwa itu semua bukan manusia, manusia itu mati, tak mempunyai nafas sedikitpun, melainkan itu semua Zdat-Nya yg mempunyai sifat HIDUP.
Jika rasa itu sudah masuk dalam dirimu, kita tak kan pernah melupakan nafas, dan akhirnya Allah selalu bertajalli di setiap detik apapun, dan inilah musyahadah ( bertemu Allah) sehingga makrifat kepada Allah.



Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen