Tawasul di Makam Nabi SAW


Tawasul di Makam Nabi SAW
Kuburan Nabi sebagai wasilah, perantara bagi hajat dan doa-doa yang dipanjatkan. Ternyata tindakan tawasul (berwasilah) dengan kubur Nabi pernah disarankan oleh Sayyidah Aisyah ketika penduduk Madinah tertimpa kemarau hebat.
Dalam kitab Sunan ad-Darimi, bab ‘Kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi-Nya setelah wafat’, Imam ad-Darimi meriwayatkan perihal ini:
حدثنا أبوا نعمان، حدثنا سعيد بن زيد، حدثنا عمرو بن مالك النكري، حدثنا أبو الجوزاء أوس بن عبد الله، قال : قحط أهلُ المدينة قحطًا شديدا فشكَوا إلى عائشةَ، فقالت : انظرُوا قبرَ النبي صلى الله عليه وسلم فاجْعلوا منهُ كُوًا إلى السماء، حتى لا يكون بينَه وبينَ السماء سَقْفٌ، قال : ففعلُوا، فمُطِرْنا مطرًا حتى نبت العُشُبُ وسَمِنَتْ الإبلُ حتى تَفْتَقَتْ من الشُحمِ، فسمي عامَ الفَتْقِ .
“Diriwayatkan dari Abu Nu’man, dari Sa’id ibn Zaid, dari Amr ibn Malik an-Nakari, dari Abu al-Jauza Aus ibn Abdillah berkata: Suatu ketika Madinah terkena kemarau hebat karena kemarau panjang. Lantas penduduk Madinah mengadukan hal ini kepada Sayyidah Aisyah dan beliau berkata: ‘Lihatlah kuburan Nabi Muhammad Saw dan jadikan sebagai jendela yang menembus langit (untuk berdoa), sehingga tidak ada atap yang menyekat antara kuburan beliau dengan langit’. Penduduk Madinah bergegas melaksanakan anjuran Sayyidah Aisyah, kemudian Madinah disirami hujan. Sehingga rerumputan tumbuh subur dan unta-unta menjadi gemuk. Karena peristiwa itu, tahun itu disebut sebagai tahun kesuburan.”
Pakar hadis Prof Dr Abuya Habib Sayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki al-Hasani dalam Mafahim Yajibu An Tushohhaha menjelaskan bahwa poin terpenting dalam tawasul dengan kuburan Nabi Muhammad Saw ini bukan semata berwasilah kepada kuburan, namun lebih karena kuburan ini menyimpan jasad makhluk yang paling mulia, yakni Nabi Muhammad Saw. Hal ini sekaligus menjadi ukuran bahwa Nabi Muhammad Saw senantiasa peduli dan memperhatikan nasib umatnya meskipun beliau telah wafat dan jasadnya telah dikubur.
Argumentasi Sayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki juga didasarkan terhadap perkataan Sayyidah Aisyah yang menyatakan bahwa ketika rumahnya dijadikan sebagai makam Nabi Muhammad Saw dan Sayyidina Abu Bakar, ia melepas jilbabnya atau hijabnya ketika masuk ke dalam rumahnya. Hal ini ia lakukan karena Nabi adalah suaminya dan Sayyidina Abu Bakar adalah ayahnya.
Namun semenjak Sayyidina Umar ibn Khattab turut dimakamkan di sana, Sayyidah Aisyah tidak pernah lagi membuka jilbabnya karena malu terhadap Sayyidina Umar ibn Khattab. Hal ini menunjukkan bahwa meski telah wafat, Nabi Muhammad Saw dan kedua sahabatnya tetap dapat mengetahui seseorang yang berada di dekat kuburnya. Oleh karena itu, bertawasul kepada beliau diperbolehkan.
Betapa Nabi Muhammad Saw tetap mencintai umatnya meski raga beliau telah terkubur. Semoga kita diberi kemampuan untuk berziarah ke maqbarah Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya serta beroleh syafa’atnya kelak. Wallahu a’lam.
بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين
اللهم صل على سيدنا محمد قمر الوجود في هذا اليوم وفي كلّ يوم وفى اليوم الموعود سر و جهرا في الدنيا و الآخرة و على اله وصحبه و سلم.
Kembalilah Kepada Allah Larilah Menuju-Nya ,Bertaubatlah dengan kadar segera dan perbanyakkanlah berselawat kepada junjungan AnNabi Sayyidina Rasulullah Muhammad S.A.W.
Hebah/Sebar/Kongsikan Buat Yang Mahu Mengambil Manfaat!
Bersegeralah berbuat kebajikan!
‏بارك لنا في شعبان
وبلغنا جميعاً رمضان وأجعلها أشهر فرج للمسلمين
وغياث للمسلمين وصلاح للمسلمين
ودفع للبلاء عن المسلمين
أمين يارب العالمين صلوا على النبي الكريم و رحمة للعالمين !

# tradezara
Share on Google Plus

About Tv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen