AKU atau ROH



AKU atau ROH itulah yang dapat mengenal Allah SWT bukan badan kasar ini yang mengenalNya. Melalui ROH itu kita mengenal Allah. Wadah atau bekas tempat Allah mentajallikan (menzahirkan) dirinya kepada kita ialah ROH kita. ROH itu digelar juga hati. Bukan hati fizikal itu tetapi hati yang bersifat kerohanian. ROH itu memiliki kesadaran (consciousness). Kesedaran tentang wuudnya Allah dan sifat-sifatNya yang terzahir dalam alam semesta raya ini. Yang melihat penzahiran atau tajalli itu ialah ROH kita.
AKU ini memang hampir dengan Allah. AKU dan Allah tidak bercerai-berai dari dulu, sekarang dan selamanya. Ibarat ombak tidak bercerai dengan laut. Dari sudut manapun Wujud Semesta Raya itu tetap mengelilingi AKU. Ia meliputi AKU dari kiri, kanan, atas, bawah, depan, belakang, luar, dalam bahkan dari mana sahaja. ” Hampir” dan “Mengelilingi” itu bukanlah dari segi ruang dan waktu yang boleh diukur dengan panjang, lebar, dalam, atau dari segi masa dan waktu. Hampir dan mengelilingi itu adalah dari segi pandangan rohaniah atau kerohanian. Hanya orang yang berada dalam pengalaman rohaniah sahaja yang faham akan maksudnya.
Wujud semesta itu “meliputi”, “merangkumi”, “berpadu”, dan “bersatu” dengan AKU. AKU terserap dalam Wujud Semesta ini.
Dari segi aku atau ROH atau diri, wujud AKU “bersatu” dan “berpadu” dengan Wujud Yang Esa dan Semesta itu. Kelihatan pada AKU bahawa Allah itu batin dan AKU itu zahirnya. Allah itu hakikat dan AKU itu bayanganNya. Dia asal dan AKU terbitanNya. Dia elektrik dan AKU lampu. Dia dalang dan AKU boneka. Gerak AKU digerakkan olehNya.
Ini adalah pandangan kerohanian yang paling dalam.
Bidadari Kayangan )




RUH DISEBUT RAHASIA ALLAH
(SIRRULAH)
Bahwasanya rasa itu adalah Rahasia
Rahasia itu tak berbentuk, tapi ada wujudnya
Dan Rasa itu tak berbentuk badan
Tak bertubuh...
Tak ada bentuk manis
Tak ada bentuk pahit
Tak ada Bentuk asin
Setiap rasa itu pasti ada pada setiap makhluk Tetapi tidak tahu apa bentuknya rasa itu Makanya disebut Rahasia
Dapat menyebut gula itu manis setelah mengenyamnya
Dapat menyebut garam itu asin karena merasainya
Jadi gula dan garam itu hanya bentuk dan sebutan bukan penentu
Rasalah yang menentukannya
Gula dan garam bisa berubah ketika rasamu sakit
Rasa tidak bertubuh .....
Rasa tak berbentuk jasad .......
Tidak bisa didefinisikan begini dan begitu
Rasa karena Hidup
Hidup karena Al - Hayat
Hayat karena Ruh
Maka ......
Rasa itulah pernyataan atau perwujudan dari Ruh
Jasad itu Muhaddas (Baharu)
Jasmaniah adalah " Muhaddas " yang disebut barang Baharu yakni rusak dan binasa atau membusuk dan hancur
Itulah sifat pada Jasad, tidak Kekal Abadi
Ruh itu Qadim atau kekal
Maka ......
Rasa itu wujud Ruh yang datang daripada Allah
Dengan adanya Ruh itu dapat ....
Melihat
Mendengar
Berkata kata
Bergerak
Dan merasa/Mengecap-ngecap
Dengan tingkat kesadaran ini, maka dengan Dapat dipahami bahwa
Rahasia DIRI yaitu " RUH "
Ruhlah yang melaksanakan segala Perintah itu
Jasad ini hanya wadah bagi Ruh, tempat merasa/mengecap-ngecap
Ruh inilah yang Sujud sejak dari mulanya
Ruh adalah bayangan Dzat Allah
Ruh -- lah yang Sholat....
Dzat Allah -- lah yang sholat
Ruh inilah yang disebut Nur Ilahi
(Cahaya Dzat Tuhan)
Maka yang melakukan Sholat itu Nur Ilahi
Yakni Rahasia-Nya yang ber -- Sholat
Dzat Allah itu bukan Allah
tetapi Dzat Allah Esa dengan Allah
Maka jelas sekali bahwa jasad dengan Ruh adalah " Satu kesatuan
Jasad ini Satu/Esa dengan Ruh
Ruh Satu/Esa dengan Allah
Maka Jasmani dan Ruhani ini adalah
" Esa dengan Tuhan "
Sampai kapan dan melakukan apapun .....
Jasad ini adalah Wadah atau tempat Untuk ditempatkan
Maka Jelas hakikat pernyataan perwujudan rasa adalah daripada Ruh.
( Siti Hariyani EA )
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen