* DZIKIR SEBAB HIDUPNYA HATI *

* DZIKIR SEBAB HIDUPNYA HATI *


Tanda hati yang hidup adalah khusyu’ ketika berdzikir kepada-Nya. Allah
/ta’ala/berfirman (yang artinya), “Belumkah tiba saatnya bagi
orang-orang yang beriman untuk khusyu’ hati mereka karena mengingat
Allah dan menerima kebenaran yang diturunkan. Janganlah mereka itu
seperti orang-orang yang telah diberikan al-Kitab sebelumnya; berlalu
masa yang panjang sehingga keraslah hati mereka, dan kebanyakan diantara
mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) (lihat
Mausu’ah Fiqh al-Qulub, hal. 1298)
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Bagi seorang yang jatuh
cinta, nama kekasih yang dicintainya tentu tidak akan lenyap dari dalam
hatinya. Seandainya dia dibebani untuk melupakan kekasihnya dari
ingatannya niscaya dia tidak mampu melakukannya. Seandainya dibebani
untuk menahan lisan dari menyebut-nyebutnya niscaya dia pun tidak
sanggup bersabar menahannya.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 560)
Dzikir yang paling utama adalah dengan membaca al-Qur’an, sebab di
dalamnya telah terkandung obat dan penyembuh bagi berbagai jenis
penyakit hati; apakah itu penyakit syubhat maupun syahwat. Allah
ta’ala/berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sungguh telah
datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian dan obat bagi apa yang ada
di dalam hati.” (QS. Yunus: 57) (lihat Tazkiyatun Nufus wa
Tarbiyatuha, hal. 47)
Berdzikir kepada Allah merupakan jalan untuk meraih kehidupan hati.
Rasulullah /shallallahu ‘alaihi wa sallam/bersabda, “Perumpamaan orang
yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah
seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah
mati.” (HR. Bukhari) (lihat al-‘Ibadat al-Qalbiyah, hal. 49)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah/berkata,
“Sesungguhnya dzikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di
dalam hati, memberikan pasokan gizi dan mempercepat pertumbuhannya.
Setiap kali seorang hamba semakin menambah dzikirnya kepada Allah
niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat at-Taudhih wa al-Bayan
li Syajarat al-Iman, hal. 57)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah/berkata, “Dzikir bagi hati
laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor
ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat al-Wabil ash-Shayyib
min al-Kalim ath-Thayyiboleh Imam Ibnul Qayyim, hal. 71)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu [dzikir] adalah ruh
dalam amal-amal salih. Apabila suatu amal tidak disertai dengan dzikir
maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. /Wallahu
a’lam.” (lihat Madarij as-Salikin [2/441])
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr /hafizhahullah/berkata, “Oleh sebab itu
dzikir kepada Allah jalla wa ‘ala/merupakan hakikat kehidupan hati.
Tanpanya, hati pasti menjadi mati.” (lihat Fawa’id adz-Dzikri wa
Tsamaratuhu/, hal. 16)
Dzikir juga merupakan obat bagi kerasnya hati. Suatu saat ada seorang
lelaki yang mengadu kepada Hasan al-Bashri rahimahullah. Lelaki itu
berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepadamu kerasnya hatiku.”
Maka beliau berkata, “Lunakkanlah ia dengan dzikir.” (lihat Tazkiyatun
Nufus wa Tarbiyatuha/oleh Dr. Ahmad Farid, hal. 46)
Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan tiga buah amal yang paling
utama, yang pertama kali beliau sebutkan adalah, “Berdzikir kepada Allah
ta’ala .” (lihat /Bustan al-‘Arifin oleh Imam an-Nawawi, hal. 99)
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Tidaklah samar bagi
setiap muslim tentang urgensi dzikir dan begitu besar faidah darinya.
Sebab dzikir merupakan salah satu tujuan termulia dan tergolong amal
yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.
Allah telah memerintahkan berdzikir di dalam al-Qur’an al-Karim pada
banyak kesempatan. Allah memberikan dorongan untuk itu. Allah memuji
orang yang tekun melakukannya dan menyanjung mereka dengan sanjungan
terbaik dan terindah.” (lihat dalam Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar[1/11])
《* NASIHAT DAN HIKMAH SALAFUS SHALIH TENTANG DZIKIR *》
[1] Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Apakah susahnya bagi salah
seorang dari kalian jika dia hendak memanfaatkan waktu satu jam setiap
harinya untuk berdzikir kepada Allah sehingga dengan sebab itu sepanjang
hari yang dilaluinya dia akan meraih keberuntungan.” (lihat at-Tahdzib
al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 346)
[2] Mak-hul rahimahullah/mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan
malamnya dengan dzikir kepada Allah niscaya pada pagi harinya dia akan
berada dalam keadaan suci seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (lihat
/at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 347)
[3] ‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah rahimahullah/berkata, “Majelis-majelis
dzikir adalah obat bagi hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat
al-Auliya’, hal. 348)
[4] ‘Atho’ bin Maisarah al-Khurasani rahimahullah/mengatakan,
“Majelis-majelis dzikir adalah majelis-majelis yang -di dalamnya-
membahas hukum halal dan haram [majelis ilmu, pent].” (lihat at-Tahdzib
al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 348)
[5] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah/mengatakan, “Memuji Allah
-mengucapkan alhamdulillah atau semacamnya, pent- adalah dzikir
sekaligus syukur. Tidak ada suatu hal [bacaan] yang menjadi dzikir dan
syukur sekaligus selain bacaan itu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li
Hilyat al-Auliya’, hal. 350)
[6] Dzun Nun al-Mishri rahimahullah/berkata, “Tidaklah terasa
menyenangkan dunia kecuali dengan dzikir kepada-Nya. Tidak terasa
menyenangkan akhirat kecuali dengan maaf ampunan dari-Nya. Dan tidaklah
memuaskan kenikmatan di surga kecuali dengan memandang -Nya.” (lihat
at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 350)
wallahua'lam...

Sumber :- (Kitabun Salaf)
Share on Google Plus

About Tv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen