RAHASIA & RISIKO DIBALIK MALAS DZIKIR TAPI SETIA DAN RAJIN DZIKIR TAPI BERKHIANAT PADA MURSYID

 


RAHASIA & RISIKO DIBALIK MALAS DZIKIR TAPI SETIA DAN RAJIN DZIKIR TAPI BERKHIANAT PADA MURSYID
Sahabatku, dalam dunia thoriqoh sifat dan karakter murid itu berbeda-beda, ada yang malas berdzikir tapi beradab, hormat, cinta, yakin dan setia kepada mursyidnya dengan tulus ikhlas, ada juga yang rajin dzikir tapi tidak beradab, tidak setia dan cintanya juga palsu bahkan ada juga yang sampai terang-terangan berkhianat.
Fenomena perbedaan karakter murid ini memang nyata terjadi. Namun jika dinilai berdasarkan hukum dan nilai-nilai agama Islam atau syariat dan hakikat, kedua kondisi murid tersebut sama-sama memiliki kecacatan spiritual, namun tingkat bahayanya berbeda.
Dalam perjalanan dunia thoriqoh ada sebuah rahasia spiritual yang jarang disadari, namun dampaknya bisa menentukan keselamatan akhirat kita termasuk dalam kasus ini.
Menurut keterangan yang saya temukan, dalam dunia tasawuf, thorekat atau thoriqoh salah satunya Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya yang dibawah bimbingan yang mulia pangersa Abah Anom, hubungan antara seorang murid dan mursyid memiliki kedudukan yang sangat sakral.
Berdasarkan dalil Al-Qur'an, hadis, serta keterangan para ulama sufi dan ahli thoriqoh, kesetiaan dan adab kepada mursyid jauh lebih diutamakan daripada banyaknya amalan lahiriah seperti dzikir, khotaman, manaqib, riyadoh, kholwat atau amaliyah lainnya yang disertai pembangkangan atau pengkhianatan kepada mursyidnya sendiri.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai perbandingan kedua tipe murid tersebut berdasarkan dalil dan keterangan ulama.
1. Murid Yang Jarang Dzikir Tapi Setia Kepada Mursyid :
Murid tipe ini memiliki kekurangan dalam amalan sunah atau kuantitas dzikir harian, namun ia memiliki adab, kepatuhan, kesetiaan, keyakinan dan cinta atau mahabbah yang tulus kepada mursyidnya.
Dalam tasawuf, pintu utama mengalirnya berkah dari mursyid ke murid adalah melalui pintu adab dan kesetiaan.
Seorang murid yang setia dan beradab, meskipun amalnya sedikit atau malas dalam berdzikir, jiwanya tetap terbuka untuk menerima tarbiyah atau pendidikan ruhani dan syafaat dari mursyidnya sekalipun mursyidnya itu sudah wafat secara jasad.
Para ulama sering mengutip kaidah: Al-Adabu fauqal 'ilmi wal 'amali, Adab itu di atas ilmu dan amal.
Bahkan yang mulia tuan Syekh Abdul Qodir al-Jailani Qs dan para ulama thorekat lainnya menegaskan bahwa, ketaatan kepada perintah mursyid asli kamil mukamil yang menuntun kepada Alloh adalah bentuk dzikir yang sesungguhnya (dzikir bil hal atau perbuatan).
Murid yang setia berpotensi besar untuk ditarik (majdzub) atau dibimbing hingga akhirnya bisa menjadi rajin berdzikir karena berkah kesetiaan kepada mursyidnya.
2. Murid Yang Rajin Dzikir Tapi Berkhianat Kepada Mursyid :
Murid tipe ini memiliki kuantitas amal yang baik. Lidahnya basah oleh dzikir, namun hatinya menyimpan kesombongan, takabur, pembangkangan dan pengkhianatan terhadap mursyidnya.
Pengkhianatan atau su'ul adab kepada mursyidnya sendiri adalah racun yang mematikan seluruh pahala dan cahaya amalan.
Dzikir yang ia lakukannya itu hanya sampai di tenggorokan dan menjadi gerakan lisan saja, tidak ada manfaatnya dan tidak merasuk ke dalam hati karena tertutup oleh hijab kemaksiatan kepada mursyidnya.
Para ulama thorekat melontarkan peringatan yang sangat keras bagi tipe murid ini. Di antaranya :
Yang mulia Ibnu Hajar al-Haitami berkata : “Barangsiapa yang membuat gurunya marah, maka diharamkan baginya keberkahan ilmu dan kemanfaatan dari guru tersebut".
Ada juga ungkapan masyhur di kalangan ahli thorekat : “Kemaksiatan orang yang beradab dan setia lebih mudah diampuni daripada ketaatan orang yang kurang ajar atau berkhianat".
Murid yang setia meskipun jarang dzikir. Status ruhani terbuka (Maqbul). Hatinya siap menerima cahaya ilahi lewat berkah gurunya. Amalnya yang sedikit berpotensi dilipatgandakan oleh Alloh Swt karena keikhlasan dan adab. Dan hidup akhirnya selamat, karena cinta dan kesetiaan mengumpulkan ia bersama gurunya di akhirat.
Murid yang berkhianat meskipun rajin dzikir, Status ruhaninya tertutup (Mardud). Hatinya terhijab dari Alloh karena murka gurunya. Amal dan dzikirnya yang banyak menjadi sia-sia, bagai debu yang beterbangan. Dan berisiko akhir hidupnya mengalami su'ul khotimah secara spiritual atau kehilangan iman atau maqom.
Dalam Al-Qur'an, ada cerita tentang kisahnya yang mulia Nabi Musa As saat berguru kepada yang mulia Nabi Khidir As yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Kahfi: 67-70, yang menjadi dalil utama thorekat.
Yang mulia Nabi Khidir As mensyaratkan kepatuhan mutlak dan larangan mempertanyakan keputusannya sebelum waktunya. Ketika yang mulia Nabi Musa berulang kali protes, yang mulia Nabi Khidir berkata : "Inilah perpisahan antara aku dan kamu."
Jika nabi saja bisa terpisah dari gurunya karena ketidakpatuhan, apalagi seorang murid biasa yang berkhianat kepada mursyidnya.
Dan juga dalam sebuah hadis shahih riwayat yang mulia Imam Bukhari dan Muslim diceritakan tentang seorang Arab Badui yang bertanya kepada yang mulia Baginda Rosululloh SAW tentang hari kiamat. Yang mulia Baginda Rosululloh Saw bertanya :
Apa yang telah kau persiapkan..?, Pria itu menjawab : Aku tidak mempersiapkan banyak shalat, puasa, atau sedekah, tapi aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya. Yang mulia baginda Rosululloh SAW kemudian bersabda lagi : Anta ma'a man ahbabta. Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.
Oleh karena itu murid yang setia, patuh, tunduk, yakin dan mencintai mursyidnya karena Alloh akan dihimpun bersama mursyidnya, meskipun amalan dzikirnya masih sedikit.
Sedangkan murid yang dzikirnya banyak tanpa disertai adab kepada mursyidnya, sering kali memicu penyakit hati berupa ujub atau bangga diri dan kibar atau sombong.
Murid seperti ini, biasanya ketika merasa dzikirnya sudah banyak, ia akan merasa bahwa dirinya murid terbaik, murid hebat, murid senior. Bahkan akan merasa dirinya sudah tidak lagi dengan mursyidnya atau bahkan merasa lebih hebat, lebih mulia dari mursyidnya. Ini adalah replika dari sifat Iblis yang ahli ibadah dan ahli dzikir namun berkhianat dan membangkang.
Yang mulia Baginda Rosululloh SAW bersabda : "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan". (Hr. Muslim).
Oleh karena itu, bagi saudaraku sesama murid thoriqoh mutabaroh atau penempuh jalan spiritual atau salik terkhusus bagi Ikhwan akhwat Tqn Suryalaya, menjaga adab dan kesetiaan kepada mursyid anda masing-masing, itu adalah modal utama yang tidak boleh ditawar-tawar lagi.
Oleh karena itu, jika anda merasa malas atau masih jarang berdzikir namun memiliki kesetiaan yang kuat kepada mursyid anda, jangan berkecil hati. Jadikan kesetiaan itu sebagai modal utama untuk meraih cinta dan ridho Alloh SWT, Rosul-Nya dan mursyidmu.
Tapi kesetiaan ini berlaku hanya l kepada mursyid asli saja, karena tidak ada kewajiban setia kepada mursyid palsu atau kepada ulama su atau orang yang berakhlak buruk
Kesetiaan dan ketaatan kepada manusia bersifat terbatas dan tidak boleh melanggar aturan Alloh SWT dan Rosul-Nya. Jika ada orang yang disebut mursyid, ulama, kiayi, ustad, guru, atau pemuka agama mengajak kepada kemaksiatan, kesesatan, atau melanggar syariat, maka wajib untuk menolaknya.
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Alloh. Sesungguhnya ketaatan itu hanya pada perkara yang ma'ruf atau kebaikan". (Hr. Al-Bukhari dan Muslim).

Sumber dari Wa Buyung Ghm
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan