APAKAH AKHIRATMU AKAN SELAMAT TANPA MURSYID ?
Dalam tradisi tasawuf dan spiritual Islam, peran seorang mursyid asli kamil mukamil sangat penting untuk membimbing jalannya seorang hamba menuju Alloh SWT. Berikut adalah penjelasan mengenai hukum dalam hidup tanpa memiliki mursyid asli serta dampak jika dibimbing oleh mursyid palsu, berdasarkan dalil dan keterangan para ulama.
1. APAKAH AKHIRAT SESEORANG AKAN SELAMAT TANPA MEMILIKI MURSYID ASLI...?
Secara fiqih dasar, Insya Alloh seseorang bisa selamat di akhirat dan masuk surga tanpa memiliki mursyid asli kamil mukamil asalkan ia beriman, memenuhi rukun Islam, konsisten menjalankan syariat, menjauhi dosa besar, dan belajar dari ulama fikih yang berakhlak mulia, serta akidah yang lurus dan mengamalkannya disertai dengan ikhlas.
Dalam Al-Quran Surat An-Nisa Ayat 124 Alloh SWT berfirman : "Dan barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun".
Namun, tanpa mursyid asli, jalan menuju keselamatan itu menjadi jauh lebih sulit dan rawan tersesat oleh tipu daya hawa nafsu dan setan
Dan untuk mencapai tingkatan ihsan atau kesempurnaan batin dan kebersihan hati dari hawa nafsu, cinta dunia, riya, ujub, sombong dan penyakit hati lainnya, keberadaan mursyid asli kamil mukamil menjadi sangat penting, karena mursyid asli adalah dokter ruh yang sama seperti dokter medis yang memeriksa gejala fisik. Seorang Mursyid dengan mata batinnya dapat mendeteksi penyakit hati pada muridnya dan mengobatinya.
Karena penyakit hati itu dapat menghapuskan seluruh pahala amal ibadah, sehingga pelakunya terancam tidak selamat di akhirat meskipun di dunia ia dikenal sebagai ahli ibadah.
Yang mulia Baginda Nabi SAW pernah bertanya kepada para sahabat siapa orang yang bangkrut itu. Sahabat menjawab mereka yang tidak punya uang dan harta. Lalu beliau kemudian meluruskan dalam hadis riwayat Muslim :
"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Tetapi ia datang menyebarkan celaan kepada ini, menuduh ini, memakan harta ini, menumpahkan darah ini, dan memukul ini (akibat hati yang kotor dan sombong).
Maka kebaikan-kebaikannya diberikan kepada orang ini dan orang itu. Jika kebaikannya telah habis sebelum menunaikan kewajibannya, maka dosa-dosa mereka diambil lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka".
Dalam hadist lain disebutkan : "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan". (Hr. Muslim).
Disinilah pentingnya memilki guru mursyid yang asli. Para ulama tasawuf memberikan beberapa keterangan penting diantaranya : "Barangsiapa yang tidak memiliki mursyid atau guru, maka gurunya adalah setan".
Maknanya bukan berarti orang yang tidak ikut thorekat atau tidak memiliki mursyid asli otomatis menjadi pengikut setan, melainkan orang yang belajar agama spiritual sendirian tanpa guru sama sekali akan mudah tersesat oleh hawa nafsu dan tipu daya setan.
Perlu diketahui, ibadah syariat tanpa thorekat hukumnya sah dan wajib, namun berisiko kaku, sedangkan thorekat tanpa syariat hukumnya batil, sesat, atau tertolak.
Dalam pandangan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah dan ahli tasawuf, syariat dan thorekat serta hakikat merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Syariat adalah hukum lahiriah atau perintah dan larangan seperti salat, puasa, sedangkan thorekat adalah pengamalan atau penghayatan syariat tersebut secara sungguh-sungguh dan disiplin untuk membersihkan hati.
Pandangan Ulama besar yang mulia izzuddin bin Abdissalam beliau mengatakan bahwa menuntut ilmu syariat (fikih dan akidah) hukumnya wajib bagi setiap Muslim. Sementara itu, mempunyai mursyid untuk tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa hukumnya fardhu kifayah atau sunnah muakkadah bagi orang awam. Namun bisa menjadi wajib bagi orang yang hatinya dipenuhi penyakit batin yang tidak bisa disembuhkan kecuali dengan bimbingan khusus.
2. BAGAIMANA JIKA DIBIMBING OLEH MURSYID PALSU..?
Dibimbing oleh mursyid palsu atau orang yang mengaku dirinya guru spiritual tapi tidak memenuhi syarat, tidak memiliki silsilah atau sanad yang sah dan izin resmi dari mursyid asli sebelumnya atau menyimpang dari syariat atau akhlaknya buruk sangat berbahaya bagi dunia dan akhirat.
Para ulama sepakat bahwa syariat adalah tolok ukur utama. Jika orang yang disebut mursyid itu melanggar syariat, maka ia adalah mursyid palsu.
Yang mulia Imam As-Sari As-Saqoti salah satu tokoh tasawuf awal beliau berkata : "Siapa saja yang mengaku memiliki kedalaman batin (tasawuf) namun penampilannya menyelisihi dzohir syariat, maka ia telah keliru".
Dan juga Yang mulia imam Al-Junaid Al-Baghdadi pemimpin kaum sufi menegaskan : "Semua jalan menuju Alloh tertutup bagi manusia. Kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak langkah yang mulia Baginda Rosululloh SAW, mengikuti sunnahnya, dan menetapi jalannya".
Semua jalan menuju Alloh tertutup bagi manusia artinya :
Segala bentuk amalan, ibadah, pemikiran, atau metode spiritual yang dibuat-buat oleh manusia untuk mencari keridhoan Alloh tidak akan diterima dan tidak akan sampai kepada-Nya, jika tidak bersumber dari wahyu.
Kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak langkah yang mulia Baginda Rosululloh SAW, mengikuti sunnahnya, dan menetapi jalannya artinya :
Satu-satunya jalan yang sah, terbuka, dan pasti menyampaikan manusia kepada Alloh serta surga-Nya adalah dengan cara meniru, meneladani, dan mempraktikkan seluruh ajaran yang mulia Baginda Nabi Muhammad SAW baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya serta konsisten atau istiqomah berada di atas jalan tersebut hingga akhir hayat.
Catatan : Bagi yang sudah memiliki mursyid atau belum, hormati pilihan ibadah sesama muslim, selama mereka shalat menghadap kiblat yang sama, menjaga syariat dan ajarannya tidak keluar dari tuntunan Al-Quran dan As-Sunah mereka adalah saudara seiman. Dan ingat, keputusan akhir sepenuhnya milik Alloh SWT berdasarkan rahmat-Nya.
Sumber dari Wa Buyung Ghm

0 comments:
Catat Ulasan