WAHDATUL WUJUD, WAHDATU SYUHUD, DAN MANUNGGALING KAWULA GUSTI
(Tiga Istilah, Satu Hakikat Ma'rifat)
Banyak orang mempertentangkan Wahdatul WujZud, Wahdatu Syuhud, dan Manunggaling Kawula Gusti, seolah-olah ketiganya adalah ajaran yang saling bertolak belakang. Padahal, bila ditelusuri secara mendalam dalam khazanah tasawuf, ketiganya lebih merupakan perbedaan cara mengungkapkan pengalaman ruhani daripada perbedaan tujuan. Semuanya bermuara pada satu hakikat, yaitu tauhid yang sempurna, yaitu lenyapnya keakuan di hadapan Wujud Allah Yang Maha Mutlak.
Allah berfirman:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
"Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya." (QS. Al-Qaṣaṣ: 88)
Dan firman-Nya:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
"Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (QS. Al-Ḥadīd: 4)
Ayat-ayat ini dipahami oleh banyak sufi sebagai penegasan bahwa yang benar-benar memiliki Wujud Hakiki hanyalah Allah, sedangkan makhluk memperoleh keberadaannya sepenuhnya dari Allah dan bergantung kepada-Nya pada setiap saat.
Karena itulah muncul ungkapan-ungkapan para arif billah yang bagi orang awam sering kali terdengar ganjil.
Diriwayatkan:
وعندما صُلب الحلاج ليُقتل، أرسل الشبلي امرأة متصوفة وأمرها أن تقول للحلاج: إن الله ائتمنك على سرٍّ من أسراره فأذعته؛ فأذاقك طعم الحديد.
"Ketika al-Hallāj disalib untuk dihukum mati, asy-Syibli mengutus seorang perempuan sufi agar berkata kepadanya: 'Sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadamu satu rahasia di antara rahasia-rahasia-Nya, lalu engkau menyingkapkannya. Maka Allah membuatmu merasakan pahitnya besi (hukuman).'"
Rahasia yang dimaksud dalam riwayat ini dipahami oleh sebagian kalangan sufi sebagai rahasia tauhid yang sangat dalam, sehingga tidak mudah dipahami oleh masyarakat umum.
Bahkan disebutkan:
ويقول إبراهيم بن محمد النصراباذي: إن كان بعد النبيين والصديقين موحدٌ فهو الحلاج.
"Ibrahim bin Muhammad an-Naṣrābādzī berkata: 'Jika ada seorang ahli tauhid setelah para nabi dan para ṣiddiqin, maka dialah al-Hallaj.'"
Dalam literatur tasawuf juga dinukil ucapan al-Junaid:
المعرفة وُجودُ جهلك عند قيام علمه... هو العارف وهو المعروف.
"Ma'rifat adalah hadirnya kesadaran akan kebodohanmu ketika ilmu-Nya tegak... Dia adalah Yang Mengenal dan Dia pula Yang Dikenal."
Abu Bakar al-Kalābādzī kemudian menjelaskan:
معناه: أنك جاهل به من حيث أنت، وإنما عرفته من حيث هو.
"Maksudnya, engkau tidak mampu mengenal-Nya dari sudut dirimu sendiri; engkau mengenal-Nya hanya karena Dia memperkenalkan Diri-Nya kepadamu."
Dalam perspektif tasawuf falsafi, penjelasan ini menunjukkan bahwa ma'rifat bukanlah hasil kemampuan ego manusia, melainkan anugerah Allah ketika hijab keakuan tersingkap.
Makna yang sama diisyaratkan oleh Ibnu al-Fāriḍ:
فقد رُفِعت تاء المخاطب بيننا
وفي رفعها عن فرقة الفرق رِفعتي
"Huruf 'ta' yang menunjukkan 'engkau' telah terangkat di antara kita; dan dengan terangkatnya pemisah itu, terangkat pula segala keterpisahan."
Syair ini menggambarkan lenyapnya dualitas dalam penyaksian ruhani, bukan peleburan zat makhluk ke dalam Zat Allah.
Al-Junaid juga berkata:
حقيقة التوكل: أن يكون لله تعالى كما لم يكن، فيكون الله له كما لم يزل.
"Hakikat tawakal adalah seorang hamba menjadi milik Allah seakan-akan dirinya tidak pernah ada, sehingga Allah tetap baginya sebagaimana Dia senantiasa ada."
Ini merupakan gambaran maqam fana', yakni sirnanya rasa memiliki wujud dan kehendak yang mandiri di hadapan Allah.
Senada dengan itu, Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata:
يا مسكين! كان ولم تكن، ويكون ولا تكون. فلما كنت اليوم صرت تقول: أنا وأنا! كن الآن كما لم تكن، فإنه اليوم كما كان.
"Wahai orang yang malang! Dia telah ada ketika engkau belum ada. Dia tetap ada ketika engkau tiada. Kini setelah engkau ada, engkau berkata: 'Aku... aku...' Maka jadilah sekarang sebagaimana dahulu engkau belum ada, karena Dia hari ini tetap sebagaimana adanya sejak dahulu."
Ungkapan ini mengingatkan bahwa keakuan adalah hijab terbesar antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Demikian pula Abu Sa'id al-Kharraz berkata:
معنى الجمع: أنه أوجدهم نفسه في أنفسهم، بل أعدمهم وجود وجودهم لأنفسهم عند وجودهم له.
"Makna al-jam' adalah bahwa Allah menampakkan Diri-Nya pada diri mereka, bahkan melenyapkan kesadaran mereka akan keberadaan diri mereka sendiri ketika mereka hadir bersama-Nya."
Al-Kalabadzi mengaitkannya dengan hadis qudsi:
كنت له سمعاً وبصراً ويداً، فبي يسمع وبي يبصر...
"Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, dan tangannya; dengan-Kulah ia mendengar dan dengan-Kulah ia melihat..."
Dalam pemahaman para sufi, hadis ini menggambarkan kesempurnaan kedekatan seorang hamba kepada Allah, sehingga seluruh geraknya berada dalam bimbingan-Nya.
Demikian pula ucapan Abu Abdillah yang dinukil oleh Faris:
يا هذا، الكون توهمٌ في الحقيقة، ولا تصح العبارة عما لا حقيقة له، والحق تقصر عنه الأقوال دونه.
"Wahai saudaraku, alam semesta pada hakikatnya hanyalah bayangan. Tidak mungkin kata-kata mampu menggambarkan sesuatu yang tidak memiliki hakikat yang berdiri sendiri. Adapun Al-Haqq, seluruh ungkapan tidak akan mampu menjangkau-Nya."
Ungkapan tersebut dipahami dalam tradisi tasawuf sebagai penegasan bahwa alam tidak memiliki wujud yang mandiri; seluruh keberadaannya bergantung kepada Allah.
Dari sinilah lahir istilah Wahdatul Wujud. Adapun Wahdatu Syuhud lebih menekankan bahwa seorang salik hanya menyaksikan Allah di balik segala sesuatu, sedangkan Manunggaling Kawula Gusti adalah ungkapan spiritual khas Nusantara untuk menggambarkan maqam fana', yaitu ketika ego manusia luluh sehingga hidupnya sepenuhnya tunduk kepada kehendak Allah.
Karena itu, ketiga istilah tersebut tidak semestinya dipahami sebagai ajaran yang mempertuhankan manusia. Dalam pembacaan tasawuf falsafi, semuanya justru mengajarkan penghancuran kesombongan diri. Selama seseorang masih berkata "aku memiliki wujud, kekuatan, dan kehendak yang mandiri", ia masih terhijab oleh egonya. Namun ketika ia menyadari bahwa seluruh hidupnya hanyalah limpahan dari Allah, maka ia mulai merasakan makna tauhid yang hidup.
Dengan demikian, Wahdatul Wujud berbicara tentang hakikat wujud, Wahdatu Syuhud berbicara tentang hakikat penyaksian, sedangkan Manunggaling Kawula Gusti berbicara tentang hakikat kefanaan ego. Ketiganya merupakan jalan ma'rifat yang, dalam pemahaman banyak tokoh tasawuf, mengantarkan seorang hamba kepada pengakuan bahwa Allah tetap Allah, makhluk tetap makhluk, tetapi tidak ada satu pun makhluk yang memiliki wujud, daya, dan keberadaan yang mandiri di hadapan Wujud Allah Yang Maha Hakiki.
Sumber dari Gus Qusyairi Zaini

0 comments:
Catat Ulasan