WAHDATUL WUJUD ITU APA..??

 


WAHDATUL WUJUD ITU APA..??
Banyak orang menolak konsep Waḥdatul Wujūd karena membayangkannya sebagai ajaran yang mengatakan bahwa manusia adalah Tuhan, atau bahwa semua benda adalah Allah. Padahal, pemahaman seperti itu justru lahir dari kesalahpahaman terhadap istilah yang digunakan para sufi.
Para ulama besar menjelaskan bahwa Waḥdatul Wujud bukan berarti menyamakan makhluk dengan Allah, melainkan berbicara tentang cara pandang orang yang telah mencapai ma'rifat kepada-Nya. Ketika hati telah dipenuhi cahaya Allah, maka pandangannya tidak lagi disibukkan oleh makhluk, tetapi tertuju sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Hal ini tergambar dari ungkapan para tokoh besar tasawuf berikut.
(1) Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali:
وأما من قويت بصيرته ولم تضعف منته فهو في حال اعتدال مزاجه لم ير إلا الله
"Adapun orang yang kuat bashirahnya (mata batinnya) dan tidak melemah anugerahnya, maka ketika dia berada dalam keadaan seimbang jiwanya, dia tidak melihat kecuali Allah."
Apakah Imam Al-Ghazali sedang mengatakan bahwa gunung, laut, manusia, dan langit berubah menjadi Allah?? Tentu tidak. Beliau sedang menggambarkan keadaan seorang arif yang tenggelam dalam musyahadah kepada Allah, sehingga seluruh perhatian batinnya hanya tertuju kepada-Nya. Makhluk tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi pusat pandangan hati.
(2) Sulṭanul Auliya' Syekh Abdul Qadir al-Jilani:
العبد إذا عرف ربه سقط الخلق من قلبه .
"Hamba Allah itu, jika telah mengenal Tuhannya, maka lenyaplah makhluk ini dari hatinya."
Yang lenyap bukanlah alam semesta, melainkan ketergantungan hati kepada makhluk. Seorang arif tidak lagi menggantungkan harapan kepada sebab-sebab dunia, melainkan hanya kepada Allah sebagai Musabbibul Asbāb.
(3) Syekh Abu Madyan:
والعارفون بربهم لم يشهدوا
شيئا سوى المتكبر المتعالي
"Orang-orang yang telah mengenal Tuhannya tidak melihat sesuatu apa pun kecuali Dzat Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi."
Maksudnya bukan menafikan keberadaan alam secara fisik, tetapi setiap kali mereka melihat makhluk, yang mereka saksikan adalah kebesaran, kekuasaan, dan tajalli Allah. Pandangan mereka tidak berhenti pada makhluk, melainkan menembus kepada Sang Khaliq.
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh para tokoh tasawuf lainnya.
(4) Ibnu Sab'in berkata:
"الله فقط هو الكلُّ بالمطابقة"
"Allah semata adalah keseluruhan dalam arti yang sesungguhnya."
Artinya, hanya Allah yang memiliki kesempurnaan wujud secara mutlak. Segala sesuatu selain-Nya memperoleh keberadaan karena Dia.
(5) Ibnu 'Ajibah berkata:
قال ابن عجيبة: "ألا يرى في الوجود إلا الله، ولا يشهد معه سواه فيغيب عن النظر إلى الأكوان في شهود المكوّن"
"Hendaknya ia tidak melihat di dalam wujud ini selain Allah, dan tidak menyaksikan bersama-Nya sesuatu pun, sehingga ia tenggelam dari memandang alam-alam karena sibuk menyaksikan Sang Pencipta."
Beliau juga berkata:
"إنَّ ما سوى الحق خيالٌ وهمي، لا حقيقة لوجوده"
"Sesungguhnya segala sesuatu selain al-Haqq hanyalah bayangan yang bersifat semu, tidak memiliki hakikat wujud yang mandiri."
Dan ketika menjelaskan Waḥdatul Wujud, beliau berkata:
"الحق تعالى محالٌ في حقه الحجاب، فلا يحجبه شيء؛ لأنه ظهر بكلِّ شيءٍ وقبل كلِّ شيء وبعد كلِّ شيء، فلا ظاهر معه، ولا موجود سواه"
"Allah Ta'ala mustahil terhijab oleh sesuatu, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat menutupi-Nya. Dia tampak melalui segala sesuatu, sebelum segala sesuatu, sesudah segala sesuatu. Maka tidak ada yang tampak bersama-Nya, dan tidak ada yang benar-benar memiliki wujud selain Dia."
Semua ungkapan tersebut berbicara tentang pengalaman ruhani seorang arif yang tenggelam dalam penyaksian kepada Allah, bukan tentang penyatuan Dzat Allah dengan makhluk.
Karena itu, Syekh Sa'id Ramadhan al-Buthi ketika mensyarahi Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah menjelaskan bahwa wujud ḥaqiqi hanyalah milik Allah, sedangkan selain-Nya adalah wujud zhilli (wujud bayangan).
Istilah wujud bayangan tidak berarti alam ini tidak ada, melainkan bahwa seluruh makhluk tidak memiliki wujud yang mandiri. Keberadaan mereka sepenuhnya bergantung kepada Allah. Sebagaimana bayangan tidak pernah dapat berdiri sendiri tanpa adanya benda dan cahaya, demikian pula seluruh makhluk tidak pernah dapat eksis tanpa kehendak dan pemeliharaan Allah.
Karena itu disebutkan:
تلك بعض التعريفات والشروح التي بيَّنت المقصود من وحدة الوجود.
"Itulah sebagian definisi dan penjelasan yang menerangkan maksud dari konsep Waḥdatul Wujud."
Di sisi lain, terdapat pula kritik dari sebagian ulama. Misalnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan bahwa sebagian penganut Waḥdatul Wujud meyakini penyatuan antara wujud Allah dan wujud makhluk. Beliau berkata:
وإن تعددت "إلا أنَّ حقيقة أمرهم أنهم يرون أنَّ عين وجود الحق هو عين وجود الخلق، وأنَّ وجود ذات الله خالق السَّموات والأرض هي نفس وجود المخلوقات
"Meskipun ungkapan mereka beragam, hakikat pandangan mereka adalah bahwa mereka memandang wujud al-Haqq adalah wujud makhluk, dan bahwa wujud Dzat Allah, Pencipta langit dan bumi, adalah sama dengan wujud makhluk."
Namun, penting dipahami bahwa kutipan tersebut merupakan kritik dan interpretasi Ibnu Taimiyah terhadap sebagian ungkapan sufi, bukan definisi yang disepakati oleh seluruh ulama tasawuf. Karena itu, tidak tepat jika kritik tersebut dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk memahami Waḥdatul Wujūd, sementara penjelasan para imam tasawuf sendiri diabaikan.
Apabila seluruh kutipan di atas dibaca secara utuh dan proporsional, justru tampak jelas bahwa narasi ini lebih mendukung dan membela konsep Waḥdatul Wujūd sebagaimana dipahami oleh para imam tasawuf, bukan membantahnya.
Mulai dari Imam Al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Syekh Abu Madyan, Ibnu Sab'in, Ibnu 'Ajibah, hingga Syekh Sa'id Ramadhan al-Buthi, semuanya mengarah kepada satu kesimpulan yang sama, yaitu bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud yang benar-benar hakiki dan mandiri (الوجود الحقيقي), sedangkan seluruh makhluk hanyalah wujud yang bergantung kepada-Nya (الوجود الظلي). Dengan kata lain, tidak ada satu pun makhluk yang memiliki eksistensi secara independen di hadapan Allah.
Karena itu, Waḥdatul Wujūd dalam perspektif para sufi bukanlah keyakinan bahwa "makhluk adalah Allah" atau "alam adalah Tuhan". Pemahaman seperti itu merupakan penyederhanaan yang keliru dan tidak mencerminkan maksud para imam tasawuf. Yang mereka maksud adalah bahwa seorang arif yang telah mencapai maqam ma'rifat akan menyaksikan bahwa seluruh keberadaan makhluk hanyalah manifestasi kekuasaan, kehendak, dan tajalli Allah. Hatinya tidak lagi terpaut kepada makhluk, melainkan hanya kepada Allah semata.

Sumber dari FB

Dengan demikian, apabila narasi ini dibaca secara objektif, maka arah pembahasannya justru merupakan pembelaan terhadap konsep Waḥdatul Wujūd menurut perspektif tasawuf, sekaligus meluruskan berbagai kesalahpahaman yang selama ini berkembang. Inti ajaran tersebut adalah penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud yang benar-benar hakiki, sedangkan seluruh makhluk adalah wujud yang bersifat nisbi, bergantung, dan fana di hadapan-Nya. Inilah yang dimaksud oleh para sufi ketika berbicara tentang Waḥdatul Wujud, bukan penghapusan perbedaan antara Khaliq dan makhluk, melainkan penegasan akan kemutlakan Wujud Allah dan kefakiran ontologis seluruh makhluk kepada-Nya.

Sumber dari Gus Qusyairi Zaini

Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan