MA'RIFATUN NAFS (MENGENAL DIRI)
SEBELUM MA'RIFATULLAH ( MENGENAL ALLAH)
Makalah tentang:
مَعْرِفَةُ النَّفْسِ قَبْلَ مَعْرِفَةِ اللَّهِ
Ma'rifatun nafs qobla ma'rifatullah
( Mengenal diri sebelum mengenal Allah)
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, dan meniupkan RUH ke dalam jasadnya, serta menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Di antara perjalanan yang paling agung dalam kehidupan seorang salik adalah perjalanan mengenal dirinya sendiri. Sebab selama seseorang belum mengenal dirinya, maka ia belum mengenal hakikat kehambaannya.
Dan selama ia belum mengenal kehambaannya, maka ia belum sampai kepada pengenalan yang benar terhadap Tuhannya.
I.
PENGERTIAN MA'RIFATUN NAFS
MA'RIFATUN NAFS (مَعْرِفَةُ النَّفْس)
1. Pengertian Secara Bahasa
Ma'rifatun Nafs berasal dari dua kata:
- Ma'rifah
(مَعْرِفَة) : mengenal, mengetahui dengan pengenalan yang mendalam, penuh kesadaran dan keyakinan.
- An-Nafs
(النَّفْس) : diri, jiwa, hakikat diri manusia.
Maka secara bahasa: Ma'rifatun nafs
مَعْرِفَةُ النَّفْسِ
"Pengenalan yang mendalam terhadap diri sendiri."
Bukan sekedar mengetahui nama, bentuk tubuh, pekerjaan, atau kedudukan, tetapi mengenal hakikat diri yang sebenarnya.
2. Pengertian Secara Istilah Tasawuf
Dalam ilmu tasawuf, Ma'rifatun Nafs adalah:
"Usaha mengenal hakikat diri sebagai hamba Allah, mengetahui asal kejadian, kelemahan, sifat-sifat nafsu, keadaan ruh, serta kedudukan dirinya di hadapan Allah."
Ma'rifatun nafs adalah merupakan pintu awal untuk menuju Ma'rifatullah.
Karena orang yang tidak mengenal dirinya , maka akan sulit untuk mengenal Tuhannya.
II.
MAKNA HAQIQAT MA'RIFATUN NAFS
Hakikat Ma'rifatun Nafs bukan hanya sekedar mengenal tubuh lahiriah saja , tetapi menyadari beberapa perkara penting yaitu :
a. Menyadari Bahwa Diri Ini adalah Makhluk.
Allah berfirman:
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
Artinya: "Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut..?"
(QS. Al-Insan ayat : 1)
Makna ayat ini menjelaskan bahwa Dahulu kita tidak ada, lalu Allah yang mengadakan kita menjadi ada.
b. Menyadari akan Kelemahan Diri.
Allah berfirman:
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Artinya: Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah."( QS. An-Nisa ayat ': 28)
Mengenal diri berarti menyadari akan kelemahan diri , bahwa kita tidak memiliki kekuatan apapun tanpa pertolongan dari Allah.
c. Mengenal Musuh Dalam Diri.
Musuh terbesar diri bukanlah manusia , tetapi hawa nafsunya yang ada dalam diri kita sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَعْدَى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ
Artinya: "Musuhmu yang paling besar adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu."( HR muslim )
d. Mengenal Amanah Ruh.
Sebagai seorang hamba kita harus menyadari, bahwa tubuh yang kasar ini hanyalah kendaraan sementara, sedangkan ruh adalah amanah yang akan kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي
Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku."
(QS. Al-Isra ayat ': 85)
III.
HAQIQAT TERDALAM MA'RIFATUN NAFS.
Hakikat terdalam Ma'rifatun Nafs adalah:
Menyaksikan bahwa diri ini tidak memiliki daya, kekuatan, ilmu, kehidupan, dan wujud secara mandiri; semuanya merupakan karunia Allah semata.
Sebagaimana firman Allah:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
Artinya: Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka semuanya berasal dari Allah."
(QS. An-Nahl ayat : 53)
Ma'rifatun Nafs secara bahasa berarti mengenal diri secara mendalam. Adapun secara hakikat, ia adalah kesadaran bahwa:
kita berasal dari Allah sebagai ciptaan-Nya,
hidup dengan pertolongan-Nya,
lemah tanpa kekuatan-Nya,
dan akan kembali kepada-Nya.
Karena itu para ahli tasawuf sering menempatkan:
مَعْرِفَةُ النَّفْسِ قَبْلَ مَعْرِفَةِ اللَّهِ
"Mengenal diri sebelum mengenal Allah."
Yakni mengenal kehambaan diri terlebih dahulu, sehingga hati siap untuk mengenal kebesaran dan keagungan Allah Ta'ala.
Maka Ma'rifatun Nafs berarti mengenal hakikat diri sendiri secara lahir dan batin.
Mengenal diri bukan berarti memuliakan diri, tetapi justru menyadari kelemahan, kefakiran, dan ketergantungan mutlak kepada Allah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya:"Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
(QS. Fathir ayat : 15)
IV.
HUBUNGAN MENGENAL DIRI DENGAN MENGENAL ALLAH
Hubungan Ma'rifatun Nafs dan Ma'rifatullah.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa:
"Barang siapa mengenal dirinya sebagai hamba yang lemah, maka ia akan mengenal Tuhannya sebagai Yang Maha Kuasa."
Ketika seseorang mengenal dirinya:
fakir → ia mengenal Allah Al-Ghaniy (Maha Kaya).
lemah → ia mengenal Allah Al-Qawiy (Maha Kuat).
fana → ia mengenal Allah Al-Baqi (Maha Kekal).
membutuhkan → ia mengenal Allah Ash-Shamad (Tempat bergantung).
Maka Ma'rifatun Nafs menjadi jembatan menuju Ma'rifatullah.
Para ulama sering menyebut sebuah hikmah:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Artinya: Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya."
Walaupun ungkapan ini bukan hadis yang sahih, maknanya benar menurut banyak ulama tasawuf.
V.
MENGENAL ASAL KEJADIAN DIRI
Sebaik baiknya manusia haruslah mengetahui asal usul kejadian dirinya.
Allah Ta'ala berfirman:
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
Artinya: Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada."
(QS. Ath-Thariq ayat : 5–7)
Pencerahan Makna Ayat :
Ayat ini adalah ajakan Allah agar manusia merenungkan asal kejadiannya, sehingga lahir kesadaran tentang siapa dirinya, dari mana asalnya, dan kepada siapa ia akan kembali.
Manusia sering merasa hebat karena ilmu, jabatan, kekayaan, atau keturunannya. Namun Allah mengingatkan:
"Perhatikanlah dari apa engkau diciptakan."
Asal jasad manusia hanyalah dari setetes air yang hina.
Sebagaimana firman Allah:
أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
Artinya: Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?" (QS. Al-Mursalat ayat : 20)
Maka tidak layak bagi manusia untuk sombong.
Para ulama tasawuf sering menekankan bahwa mengenal diri adalah pintu menuju mengenal kebesaran Allah.
Ketika seseorang merenung:
Dahulu ia tidak ada.
Kemudian Allah menciptakannya.
Allah membentuk jasadnya.
Allah meniupkan ruh ke dalam dirinya.
Allah memberi pendengaran, penglihatan, dan hati.
Maka ia akan menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat bergantung kepada Allah.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
Artinya : "Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun." (QS. An-Nahl ayat : 78)
Bukan hanya jasad yang perlu direnungi, tetapi juga ruh yang menjadi hakikat kehidupan manusia.
Allah berfirman:
وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي
Artinya : Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku."
(QS. Al-Hijr ayat : 29)
Maksudnya bukan ruh bagian dari Dzat Allah, tetapi ruh adalah ciptaan Allah yang dimuliakan.
Karena itu manusia memiliki dua unsur:
Jasad berasal dari tanah.
Ruh berasal dari alam ciptaan Allah yang gaib.
Jasad akan kembali ke tanah, sedangkan ruh akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Orang yang mengenal asal kejadiannya akan bertanya:
Mengapa aku diciptakan?
Untuk apa aku hidup?
Kemana aku akan kembali?
Jawabannya terdapat dalam firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
artinya : Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat : Ayat 56)
Maka tujuan hidup bukan sekadar mencari dunia, tetapi mengabdi kepada Allah.
Bagi seorang salik (penempuh jalan menuju Allah), ayat ini mengandung pesan:
Jangan sombong dengan maqam dan amal.
Selalu ingat asal kejadian diri.
Bersihkan hati dari sifat ujub dan riya.
Renungkan nikmat Allah yang tak terhitung.
Jadikan ma'rifatun nafs sebagai jalan menuju ma'rifatullah.
Ketika Allah berfirman:
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ
"Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan."
Sesungguhnya Allah mengajak manusia untuk melihat dirinya dengan mata hati. Barang siapa mengenal kelemahan dirinya, maka ia akan mengenal keagungan Tuhannya.
Barang siapa mengetahui asal kejadiannya, maka ia akan malu untuk berlaku sombong.
Dan barang siapa sadar bahwa dirinya akan kembali kepada Allah, maka ia akan mempersiapkan bekal terbaik untuk perjalanan pulangnya.
"Mengenal asal kejadian diri melahirkan kerendahan hati; mengenal kebesaran Allah melahirkan ma'rifat dan cinta kepada-Nya.
jika seseorang tidak mengenal dirinya akan haqiqat dirinya , maka mudah:
Sombong. Ujub., Riya'., Merasa paling benar.
Mengaku memiliki kemampuan yang berasal dari dirinya sendiri.
Padahal seluruh kekuatan dan kemampuan hanyalah karunia Allah.
Penutup
Ma'rifatun Nafs merupakan salah satu pintu terpenting menuju Ma'rifatullah.
Semakin seseorang mengenal kelemahan, kefakiran, dan kehambaannya, maka semakin terbuka baginya pengenalan terhadap kebesaran, kesempurnaan, dan keagungan Allah.
Tujuan akhir mengenal diri bukanlah berhenti pada diri itu sendiri, melainkan sampai kepada pengakuan yang sempurna:
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
Artinya: Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah."
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mengenal dirinya, sehingga mengenal Tuhannya, mencintai-Nya, ridha kepada-Nya, dan diridhai oleh-Nya.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Sumber dari Haris Haris

0 comments:
Catat Ulasan