TAJALLI AF‘ĀL, ASMĀ’, ṢIFĀT, DAN DZĀT

 


TAJALLI AF‘ĀL, ASMĀ’, ṢIFĀT, DAN DZĀT
Pendahuluan :
Dalam perjalanan seorang sālik menuju ma‘rifatullah, ia akan melalui tahapan penyaksian (musyāhadah) terhadap tajallī Allah. Tajallī adalah penampakan atau manifestasi cahaya Ilahi dalam hati hamba, bukan melihat Dzat Allah secara hakiki, tetapi penyaksian makna dan kehadiran-Nya dalam berbagai tingkatan.
Allah berfirman:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi"
(QS. An-Nur ayat : 35)
Ayat ini menjadi isyarat bahwa seluruh alam adalah tempat tajallī (manifestasi) dari cahaya Allah.
- Pengertian Tajallī
Secara bahasa, tajallī berarti: menampakkan diri, tersingkap, atau terbuka.
Secara istilah tasawuf:
➡️ Tajallī adalah tersingkapnya cahaya ketuhanan dalam hati seorang hamba sesuai dengan kesiapan ruhaniyahnya.
Para ulama tasawuf seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia ibarat cermin. Jika bersih, ia mampu memantulkan cahaya Ilahi.

TINGKATAN TAJALLI

1-TAJALLĪ AF‘ĀL (تَجَلِّي الأَفْعَال)
Makna Secara Bahasa :
Tajallī (تجلّي) = penampakan, penyingkapan, manifestasi.
Af‘āl (أفعال) = perbuatan-perbuatan.
➡️ Jadi: Tajallī Af‘āl = adalah penampakan perbuatan Allah dalam alam dan pada makhluk.
Dalil Al-Qur’an
. Allah Pencipta Perbuatan
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (QS. As-Saffat ayat : 96)
- Hakikat Perbuatan
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ
Artinya : Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar”
(QS. Al-Anfal ayat : 17)
- Segala Terjadi dengan Kehendak Allah
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ
Artinya: “Kalian tidak berkehendak kecuali jika Allah menghendaki”
(QS. At-Takwir ayat: 29)
Para ahli tasawuf menjelaskan:
Tajallī Af‘āl adalah keadaan ketika seorang salik menyaksikan bahwa:
Semua gerak, Semua kejadian, Semua sebab-akibat Hakikatnya berasal dari Allah.
Namun:
❗ Bukan berarti makhluk tidak ada
❗ Bukan berarti manusia tidak berusaha.
- Contoh Sederhana :
Contoh 1: Melempar batu
Secara syariat: kita yang melempar
Secara hakikat: Allah yang menciptakan gerak, tenaga, dan hasilnya.
Contoh 2: Rezeki
Kita bekerja → sebagai sebab
Tapi hasilnya → tetap dari Allah
Contoh 3: Sakit dan sembuh
Obat adalah sebab
Kesembuhan adalah af‘āl Allah.

- Tingkatan Pemahaman
1. Orang Awam
➡️ Melihat: Saya yang berbuat”
2. Orang Berilmu
➡️ Melihat: Saya berbuat dengan izin Allah”
3. Ahli Tasawuf (Tajallī Af‘āl)
➡️ Melihat: Semua perbuatan adalah ciptaan Allah”
- Batasan Penting (AGAR TIDAK SESAT)
Ini sangat penting, karena banyak yang tergelincir di sini.
❌ Kesalahan:
- Menganggap manusia tidak punya peran sama sekali
- Menyalahkan Allah atas maksiat
- Tidak mau berusaha (fatalisme)
✅ Sikap yang benar (Ahlus Sunnah):
Manusia: Punya usaha (ikhtiar)
Punya pilihan (kasb)
Allah: Menciptakan perbuatan itu
➡️ Ini disebut: "Kasb (usaha) manusia + Khalq (ciptaan) Allah"
- Hakikat yang Lebih Dalam
Dalam pandangan tasawuf:
👉 Alam ini seperti bayangan
👉 Perbuatan makhluk = tempat tampaknya af‘āl Allah
Namun:
❗ Allah tetap:
Tidak menyatu dengan makhluk
- Buah dari Tajallī Af‘āl
Jika dipahami dengan benar, akan melahirkan:
🌿 1. Tawakal
Tidak bergantung pada sebab
🌿 2. Rendah hati
Tidak sombong atas amal
🌿 3. Sabar
Karena semua dari Allah
🌿 4. Ikhlas
Karena sadar semua milik Allah.
9. ⚠️ Perbedaan Halus (Sangat Penting)
👉 Tajallī Af‘āl ≠ Jabariyah
Jabariyah: manusia dipaksa
Tasawuf: manusia tetap berusaha, tapi sadar hakikat dari Allah.
10. 🧠 Analogi Mudah
Seperti wayang:
Wayang bergerak, Tapi ada dalangnya
➡️ Kita bergerak
➡️ Tapi Allah yang menciptakan gerak itu
Kesimpulan
👉 Tajallī Af‘āl adalah penyaksian bahwa semua perbuatan di alam ini hakikatnya adalah ciptaan Allah.
Namun tetap:
✅ Manusia wajib berusaha
✅ Syariat tetap berlaku
✅ Tidak boleh meninggalkan hukum Allah.

Penutup
Ketika seorang salik sampai pada maqam ini, ia berkata dalam hatinya:
“Ya Allah…
Aku bergerak, tapi Engkau yang menggerakkan
Aku berbuat, tapi Engkau yang menciptakan perbuatanku
Maka tiada daya dan upaya kecuali dengan-Mu”

2 - TAJALLĪ ASMĀ’ (تجلّي الأسماء)

Makna Secara Bahasa :
Tajallī (تجلّي) = penampakan, penyingkapan, manifestasi.
Asmā’ = Nama-nama Allah (Asmaul Husna)
Jadi, Tajallī Asmā’ adalah munculnya manifestasi atau perwujudan sifat-sifat Allah melalui ciptaan-Nya, sehingga seorang hamba bisa merasakan atau melihat jejak jejak kemahaan-Nya melalui alam, manusia, atau peristiwa.
Dalilnya :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
Artinya: Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah dengan nama-nama itu”
(QS. Al-A’raf ayat : 180)
- Contoh Tajallī Asmā’
Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih)
Manifestasi: kasih sayang Allah tampak ketika bayi yang lahir, hujan yang turun, makanan tersedia, dan berbagai karunia hidup.
Pengalaman: Hati merasa damai dan bersyukur ketika menerima nikmat tanpa jasa sendiri.
Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana)
Manifestasi: hikmah dalam setiap ujian atau musibah yang dialami, meski tampak sulit, ada pelajaran tersembunyi.
Al-Mu’min (Yang Maha Memberi Keamanan)
Manifestasi: rasa aman dalam doa, perlindungan dari bahaya, atau keselamatan dalam perjalanan.
Intinya, setiap nama Allah memiliki cahaya dan energi yang menembus alam Nāsūt, dan ini disebut tajallī Asmā’.
- Mekanisme Tajallī Asmā’
Para ahli tasawuf menjelaskan:
Tingkat Nāsūt → Malakūt → Jabarūt → Lāhūt
Nama-nama Allah menampakkan diri melalui ciptaan, mulai dari alam manusia dan alam materi (Nāsūt) hingga tingkat hakikat Ilahi (Lāhūt).
Contoh: keadilan Allah bisa dirasakan dalam peristiwa kehidupan yang penuh hikmah (Jabarūt).
Hati sebagai cermin
Hati yang bersih dan penuh dzikir dapat “melihat” atau merasakan tajallī nama-nama Allah.
Dalil Qur’an:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
“Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’dd ayat : 28)
- Tujuan Tajallī Asmā’
- Menyadarkan hamba bahwa Allah hadir dalam segala hal.
- Membimbing manusia menuju ma’rifatullah: mengenal Allah melalui manifestasi sifat-sifat-Nya.
- Membentuk akhlak dan perilaku sesuai sifat-sifat Allah yang terwujud di alam: kasih, adil, sabar, dan bijaksana.

Praktik untuk Merasakan Tajallī Asmā’
Selalu berzikir dengan menyebut Nama Allah
Contoh:
Ar-Rahman Ar-Rahim
Fokus pada arti dan cahaya nama.
- Kontemplasi Alam
Amati ciptaan Allah pada alam semesta : langit, bumi, manusia, hewan, dan renungkan sifat Ilahi yang tampak.
- Refleksi Peristiwa Kehidupan
Lihat ujian, rezeki, dan peristiwa sebagai manifestasi hikmah Allah (Al-Hakim, Al-Muqit).

Kesimpulannya :
Tajallī Asmā’ adalah perwujudan atau manifestasi sifat-sifat Allah dalam ciptaan dan pengalaman kita. Dengan dzikir, kontemplasi, dan hati yang bersih, manusia dapat “merasakan” cahaya Allah dalam hidup sehari-hari, menuntun kepada ma’rifat, hikmah, dan kedamaian batin.
Pada Tajalli asma ini Hakikatnya
Seorang salik mulai melihat:
Kasih sayang → adalah Tajallī dari Ar-Rahman
Rezeki → adalah Tajallī dari Ar-Razzaq
Ilmu → adalah Tajallī dari Al-‘Alim
Keadilan → adalah Tajallī dari Al-‘Adl
➡️ Jadi Semua kejadian pada diri dan alam semesta ini adalah merupakan pancaran dari Tajalli nama nama Allah.
Rasa yang harus di tanam dalam hati :
- “Yang memberi bukan manusia, tapi adalah Ar-Razzaq”
- Yang menyayangi bukan makhluk, tapi Ar-Rahman”
Maka Buahnya akan melahirkan:
Cinta kepada Allah (Mahabbah)
Husnuzan (prasangka yang baik)

3 -TAJALLĪ SIFĀT (تجلّي الصفات)

Maknanya :
Sifat = sifat-sifat Allah
Seperti: Ilmu, Qudrah, Iradah, Hayat, Sama’, Bashar, Kalam
Baik, mari kita bahas Tajallī Sifāt (تجلّي الصفات) secara mendalam, sebagai kelanjutan dari pembahasan Tajallī Asmā’.

1. Pengertian Tajallī Sifāt
Secara bahasa:
Tajallī (تجلّي) = penampakan, manifestasi, atau penyingkapan.
Sifāt (الصفات) = sifat-sifat Allah, seperti Ilmu, Qudrah, Iradah, Hayat, Sama’, Bashar, Kalam.
Secara istilah:
Tajallī Sifāt adalah penyingkapan atau manifestasi sifat-sifat Allah dalam ciptaan dan pengalaman makhluk.
Artinya, sifat-sifat Allah “menampakkan” diri melalui ciptaan, peristiwa, dan kesadaran hamba.
Berbeda dengan Tajallī Asmā’, yang fokus pada nama Allah, Tajallī Sifāt fokus pada hakikat sifat-Nya yang aktif bekerja dalam alam.

2. Contoh Sifat Allah dan Tajallinya
Al-‘Alim (Ilmu)
Manifestasi: adanya keteraturan alam, hukum sebab-akibat, kesadaran manusia, kemampuan mengetahui sesuatu sebelum terjadi.
Dalil Qur’an:
وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah ayat : 29)
Al-Qadir (Qudrah / Kemampuan)
Manifestasi: kekuasaan Allah dalam menghidupkan, mematikan, menumbuhkan, dan mengatur seluruh alam semesta.
Contoh: hujan yang menumbuhkan tanaman, gempa bumi sebagai tanda kekuasaan.
Al-Murid (Iradah / Kehendak)
Manifestasi: segala peristiwa terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang luput dari keputusan Ilahi.
Al-Hayy (Hayat / Kehidupan)
Manifestasi: kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, alam semesta, dan setiap energi yang ada.
As-Sami’ (Maha Mendengar) & Al-Basir (Maha Melihat)
Manifestasi: Allah mengetahui setiap ucapan, pikiran, dan perbuatan hamba, walau tersembunyi.
Al-Kalam (Firman / Kalam)
Manifestasi: wahyu, Qur’an, dan segala bentuk komunikasi Ilahi.
Jadi setiap sifat Allah “menampakkan” diri dalam ciptaan dan pengalaman hidup manusia.

3. Mekanisme Tajallī Sifāt
Dari Lāhūt → Jabarūt → Malakūt → Nāsūt
Sifat-sifat Allah menampakkan diri dari hakikat Ilahi (Lāhūt) → melalui tingkat malaikat/hikmah (Jabarūt) → kerajaan gaib (Malakūt) → alam manusia dan materi (Nāsūt).
Hati dan kesadaran manusia
Seorang hamba yang bersih dan fokus dzikir dapat merasakan tajallī sifat-sifat Allah, misalnya merasakan kasih sayang (Ar-Rahman) atau keadilan (Al-‘Adl) dalam peristiwa hidupnya.
Peristiwa dan ciptaan
Manifestasi sifat Allah bisa tampak nyata: hujan → Qudrah; kehidupan → Hayat; pengetahuan → Ilmu; ujian → Iradah.

4. Tujuan Tajallī Sifāt
Tujuan dari Tajalli sifat adalah untuk Menyadarkan hamba bahwa segala yang terjadi di alam semesta adalah akibat dari sifat Allah yang aktif.
Membimbing manusia untuk mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, bukan hanya sekadar namanya.
Memperkuat keimanan, kesabaran, dan ketawakalannya, karena menyadari segala sesuatu terjadi dengan Ilmu, Qudrah, dan Iradah Allah.
5. Praktik untuk Mengalami Tajallī Sifāt
Dzikir Sifat Allah
Contoh:
Subhanal-‘Alim, Subhanal-Qadir, Subhanal-Murid
Fokus pada arti dan manifestasinya.
Kontemplasi Peristiwa Kehidupan
Renungkan setiap kejadian sebagai perwujudan Iradah dan Qudrah Allah.
Muraqabah Qalbi
Hati selalu merasakan kehidupan, pengetahuan, dan kekuasaan Allah dalam setiap napas dan gerakan.

Kesimpulan Singkat:
Jadi Tajallī Sifāt adalah manifestasi sifat-sifat Allah dalam ciptaan dan pengalaman makhluk. Dengan dzikir, kontemplasi, dan hati yang bersih, manusia dapat merasakan kehidupan, ilmu, kekuasaan, kehendak, pendengaran, penglihatan, dan kalam Allah, sehingga iman dan ma’rifat meningkat.
Dalilnya :
إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. An-Nisa ayat : 58)
Hakikatnya Seorang salik menyaksikan:
Semua ilmu → dari Ilmu Allah
Semua kekuatan → dari Qudrah Allah
Semua kehendak → dari Iradah Allah.
Rasa dalam hati
“Aku tahu, tapi ilmu ini milik Allah”
“Aku kuat, tapi kekuatan ini dari Allah”
🔥 Tingkatan lebih dalam
Mulai hilang rasa: aku berilmu” ,aku mampu”
➡️ Diganti dengan: “semua dari Allah”
🌱 Buahnya
Tawadhu’ (rendah hati)
Hilangnya kesombongan
Penyerahan diri (taslim)

4 - TAJALLĪ DZĀT (تجلّي الذات)
Tajallī Dzāt (تجلّي الذات), yang merupakan puncak dari manifestasi Ilahi dalam konsep tasawuf.
Ini lebih dalam daripada Tajallī Asmā’ dan Tajallī Sifāt karena menyangkut hakikat dzat Allah itu sendiri.
- Pengertian Tajallī Dzāt
Dzāt (ذات) = esensi atau hakikat Allah, yang murni, absolut, dan tidak dapat disamakan dengan ciptaan-Nya.
Jadi Tajallī Dzāt = adalah penyingkapan atau manifestasi dzat Allah, bukan sekadar nama (Asmā’) atau sifat (Sifāt), melainkan hakikat dzat-Nya sendiri yang terkadang dapat “dirasakan” oleh hamba yang ma’rifat.
Dengan kata lain, ini adalah tampaknya Allah dalam hakikat dzat-Nya, bukan sekadar jejak, nama, atau sifat. Namun, hakikat dzat tetap murni dan tidak bercampur dengan makhluk.

- Karakteristik Tajallī Dzāt
Hakikat murni, Tidak bisa dibatasi, diukur, atau digambarkan oleh akal manusia.
Dzāt Allah tetap transenden, berada di luar ruang dan waktu ciptaan.
Hanya dapat “dirasakan” atau “ditajalli” oleh hamba yang ma’rifat.
Bukan penglihatan fisik, melainkan pengalaman spiritual batin.
Dalil Qur’an:
وَلَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ
Artinya: “Dan penglihatan tidak dapat menangkap-Nya, tetapi Dia-lah yang dapat menangkap penglihatan.” (QS. Al-An‘ām: 103)
Mengalami Dzāt melalui jejak manifestasi
Hanya melalui Asmā’ dan Sifāt, hamba bisa merasakan dzat-Nya.
Misal: rasa damai yang mendalam, fana fi Allah (hilang diri dalam dzat-Nya), dan kesadaran total bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya.
Jadi, Tajallī Dzāt adalah inti dari semua manifestasi Ilahi, sedangkan Asmā’ dan Sifāt adalah “cermin” yang memungkinkan hamba mengenal-Nya.

- Tujuan Tajallī Dzāt
Menyadarkan hamba akan kebesaran dan keagungan dzat Allah yang mutlak.
Membimbing hamba menuju puncak ma’rifatullah, di mana ia memahami:
Bahwa semua ciptaan hanyalah manifestasi dzat-Nya.
Tidak ada yang nyata selain Allah (ta’wil fana fi Allah).
Menumbuhkan tawadhu’ dan kesadaran spiritual total, karena manusia menyadari dzatnya selalu berada dalam pengawasan dan pemeliharaan Allah.
- Praktik untuk Mengalami Tajallī Dzāt
Dzikir Mahabbah dan Muraqabah
Dzikir dengan fokus hati untuk menyadari bahwa Allah bersama setiap gerak dan napas.
Dalil Qur’an:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya:
“Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid ayat : 4)
Fana fi Allah (Hilang diri dalam dzat-Nya)
Melatih qalb untuk melepaskan ego, menyadari segalanya berasal dari dzat-Nya.
Kontemplasi melalui Asmā’ dan Sifāt
Tajallī Dzāt tidak langsung bisa dilihat; hamba harus melalui penyingkapan nama dan sifat Allah.

Kesimpulan nya :
Tajallī Dzāt adalah manifestasi hakikat dzat Allah yang mutlak, puncak dari semua pengalaman spiritual. Hanya hamba yang bersih, bersujud, dan ma’rifatlah yang bisa merasakan tajallī dzat ini melalui jejak nama dan sifat-Nya, tetapi dzat-Nya tetap transenden, tidak tercampur, dan tak terjangkau akal.
⚠️ Ini maqam paling tinggi dan paling halus
Harus dipahami dengan hati-hati agar tidak tersesat
Dzāt = hakikat Allah yang Maha Suci
Tajallī Dzāt = penyingkapan kehadiran Allah (bukan melihat dzat secara fisik)
Dalilnya :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ
Artinya: Semua yang ada akan fana, dan yang kekal hanya Wajah Tuhanmu”
(QS. Ar-Rahman: 26–27)
🌿 Hakikatnya
Pada maqam ini:
➡️ Seorang salik:
Tidak melihat selain Allah (secara kesadaran hati) Tenggelam dalam kehadiran-Nya
Ini disebut: Fana’ (lenyapnya ego)
⚠️ Penjelasan penting
❗ Bukan berarti:
- Menjadi Allah
- Bersatu dengan Allah
- Dzat Allah masuk ke makhluk
❗ Tapi: ➡️ Kesadaran diri hilang dalam kehadiran Allah
Rasa dalam hati “Tiada yang tampak kecuali Allah (dalam penyaksian hati)”
Setelah fana:
➡️ Kembali sadar, tapi dengan keadaan baru
Hidup bersama Allah dan Beramal sesuai syariat

RINGKASAN TINGKATAN
Af‘āl : Perbuatan Allah
Asmā’ : Nama-nama Allah
Sifāt : Sifat-sifat Allah
Dzāt : Kehadiran Allah
ILUSTRASI PEMAHAMAN
🌿 Awal
Melihat dunia → lupa Allah
🌿 Tengah
Melihat dunia → ingat Allah
🌿 Tinggi
Melihat Allah → melalui dunia
🌿 Puncak
Tidak melihat selain Allah (dalam hati)

PENJAGAAN AGAR TIDAK SESAT
Pegang ini kuat-kuat:
✅ Syariat tetap wajib dilakukan
✅ Shalat tetap dikerjakan
✅ Halal haram tetap berlaku
❌ Jangan sampai:
Menganggap diri Tuhan
Mengabaikan syariat
Menghalalkan maksiat

PENUTUP
Pada puncaknya, seorang salik merasakan:
“Ya Allah…
Engkau tampak dalam perbuatan
Engkau dikenal melalui nama
Engkau disaksikan melalui sifat
Dan Engkau hadir dalam hati…

Sumber dari Haris Haris
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan