PUNCAK ZIKIR ADALAH HENING PINTU MENUJU MA'RIFATULLAH

 


PUNCAK ZIKIR ADALAH HENING PINTU MENUJU MA'RIFATULLAH
Makalah:
Puncak Zikir adalah Hening pintu Menuju Ma’rifatullah
Pendahuluan
Zikir adalah inti dari segala ibadah hati.
Ia bukan sekedar ucapan di lisan saja , akan tetapi perjalanan ruh menuju ma'rifatullah.
Banyak orang memahami zikir sebagai lafaz yang diulang-ulang, namun para ahli tasawuf menjelaskan bahwa puncak zikir bukan lagi suara, melainkan hening yang penuh kesadaran akan kehadiran Allah.
Zikir dimulai dengan suara, berkembang menjadi rasa, dan berakhir pada fana dalam kehadiran Ilahi, yang disebut dengan ma’rifatullah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.”
(QS. Al-Ahzab ayat : 41)
📌. TINGKATAN ZIKIR DALAM AJARAN TASAWUF
📌 1. ZIKIR AHLI SYARI'AT (Dzikir lisan)
Berikut penjabaran mendalam tentang zikir ahli syari’at (dzikir lisan) sebagai pintu awal perjalanan menuju Allah:
ZIKIR AHLI SYARI’AT (DZIKIR LISAN)
Pintu Awal Penyucian Hati (Tazkiyatun Nafs)
1. Pengertian Dzikir Lisan
Dzikir ahli syari’at adalah dzikir yang dilakukan dengan lisan, yaitu mengucapkan kalimat tauhid:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Lā ilāha illallāh
“Tiada Tuhan selain Allah”
Dzikir ini merupakan:
Langkah pertama (maqom syari’at)
Pondasi seluruh perjalanan spiritual
Pembersih awal hati dari syirik dan kelalaian.
Dalil Perintah Dzikir
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.”QS. Al-Ahzab: 41)
Hadits Nabi ﷺ
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
(HR. Tirmidzi)
“Zikir yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh.”
Hakikat Dzikir Lisan
Walaupun dilakukan dengan lisan, dzikir ini bukan sekadar ucapan, tetapi mengandung makna besar:
🔹 a. Nafi (Penafian)
لَا إِلٰهَ
➡️ Menolak semua sesembahan selain Allah
➡️ Membersihkan hati dari: Dunia, Nafsu
Ketergantungan makhluk
🔹 b. Itsbat (Penetapan)
إِلَّا اللَّهُ
➡️ Menetapkan hanya Allah sebagai tujuan
➡️ Menanamkan tauhid dalam hati
Fungsi Dzikir Lisan dalam Maqom Syari’at
1. Membersihkan Hati (Takhalli)
Dzikir ini seperti air yang mencuci hati dari:
Dosa
2. Membiasakan Lidah dengan Kebaikan
Lidah yang terbiasa dzikir akan:
Terjaga dari ghibah
Terhindar dari dusta
Mudah mengucap kebaikan
Adab (Tata Cara) Dzikir Lisan
1. Ikhlas
Mengharap hanya Allah, bukan riya’
2. Istiqamah
Sedikit tapi terus-menerus lebih baik daripada banyak tapi terputus
3. Hadirkan Makna
Tidak hanya mulut, tapi memahami: ➡️ “Tiada yang aku tuju kecuali Allah”
4. Dengan Khusyuk
Perumpamaan Dzikir Lisan
Dzikir lisan seperti:
Mengetuk pintu
Walau belum masuk, tapi itu tanda ingin bertemu
Jika terus dilakukan:
➡️ Pintu hati terbuka
➡️ Cahaya masuk
➡️ Hati hidup
📌 2. ZIKIR AHLI THORIQAT (Dzikir Qalbu)
Berikut penjabaran mendalam tentang Zikir Ahli Thoriqat (Dzikir Qalbu)—lanjutan dari dzikir lisan menuju hadirnya Allah dalam qolbu.
ZIKIR AHLI THORIQAT (DZIKIR QALBU)
Dari Lisan Menuju Hati, Dari Hati Menuju Hadrah Ilahi.
Pengertian Dzikir Qalbu :
Dzikir qalbu adalah dzikir yang dilakukan dalam hati (tanpa suara), dengan menghadirkan lafaz:
الله… الله… الله
Allāh… Allāh… Allāh…
Bukan lagi sekadar ucapan, tetapi:
Kesadaran batin
Rasa hadir bersama Allah (ḥuḍūr)
Ingatan yang hidup dalam hati.
Dalil Dzikir dalam Hati
Al-Qur’an
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ
Artinya : Sebutlah Tuhanmu dalam dirimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak dengan suara keras.(”QS. Al-A’raf ayat : 205)
Isyarat Ayat Lain
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
(QS. Qaf: 16)
“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
➡️ Kedekatan ini disadari melalui dzikir hati, bukan hanya lisan.
- Hakikat Dzikir Qolbu
Jika dzikir lisan adalah: ➡️ Menyebut Allah
Maka dzikir qalbu adalah: ➡️ Merasakan kehadiran Allah
🔹 Perubahan Utama:
Dari bunyi → rasa
Dari ucapan → kesadaran
Dari usaha → kehadiran
- Fungsi Dzikir Qolbu dalam Thoriqat
1. Dapat Menghidupkan Hati
Hati yang lalai menjadi hidup
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
Hanya dengan menyebut nama Allah hati menjadi tenang (QS. Ar-Ra’d: 28)
2. Menghadirkan Allah dalam Kehidupan
Seorang salik mulai merasakan:
Allah melihatnya
Allah bersamanya
➡️ Ini disebut Muraqabah
3. Membersihkan Batin (Tajalli Awal)
Hati mulai:
Bersih dari selain Allah
Menerima cahaya Ilahi.
4. Menghubungkan dengan Ruh
Dzikir qalbu menghubungkan:
➡️ Hati (qalb)
➡️ Ruh
➡️ Sirr (rahasia terdalam)
- Cara Melakukan Dzikir Qalbu (Metode Salik)
- Fokus dalam hati
- Sebut Lafaz (الله الله الله ) di dalam hati serta
Dirasakan hadirnya.
3. Fokus ke Dalam Dada (Qalb)
Dalam banyak tharekat (termasuk Naqsyabandiyah)
Fokus ke lathifah qalb (bagian kiri dada)
Istiqamah
Dilakukan Saat duduk, Saat berjalan, Saat bekerja
➡️ Sampai menjadi kebiasaan batin.
Tanda-Tanda Dzikir Qalbu Mulai Hidup
💡 1. Hati Mudah Tenang
💡 2. Dunia Tidak Terlalu Mengikat
💡 3. Muncul Rasa Diawasi Allah
💡 4. Dzikir Terus Berjalan Tanpa Dipaksa
➡️ Ini disebut: Dzikir yang hidup
Dzikir ahli thoriqat adalah:
Dzikir dalam hati (qalbu)
Peralihan dari ucapan ke rasa
Awal hadirnya Allah dalam kesadaran batin
Ia adalah:
➡️ Jembatan menuju hakikat
➡️ Awal musyahadah
➡️ Gerbang menuju ma’rifat
📌 3 ZIKIR AHLI HAQIQAT
Berikut penjabaran mendalam tentang Zikir Ahli Haqiqat—lanjutan dari dzikir qalbu menuju kesadaran yang menyatu dengan nafas dan kehidupan.
Dari Hati Menuju Kesadaran Nafas, Dari Nafas Menuju Kehadiran Tanpa Putus.
- Pengertian Zikir Ahli Haqiqat
Zikir ahli haqiqat adalah zikir yang telah menyatu dengan nafas, sehingga:
Tidak lagi terpisah antara dzikir dan kehidupan
Tidak lagi membutuhkan usaha yang berat
Menjadi kesadaran terus-menerus (dawāmudz dzikr)
Lafaznya:
Masuk nafas: الله (Allāh)
Keluar nafas: هو (Hu)
➡️ Ini disebut juga: Dzikir Nafas
Dalil Al-Qur’an
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
(QS. Ali Imran: 191)
Artinya: “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring.”
➡️ Ini menunjukkan:
👉 Dzikir tidak terikat keadaan
👉 Dzikir menjadi keadaan hidup (state of being)
- Hakikat Dzikir Nafas
Jika ditelusuri:
🔹 Dzikir Syari’at:
➡️ Lidah menyebut Allah
🔹 Dzikir Thoriqat:
➡️ Hati mengingat Allah
🔹 Dzikir Haqiqat:
➡️ Nafas hidup dengan Allah
✨ Makna Dalamnya:
🌬️ Nafas Masuk: الله
➡️ Mengambil kehidupan dari Allah
➡️ Mengakui: “Semua dari Allah”
🌬️ Nafas Keluar: هو
➡️ Mengembalikan kepada Allah
➡️ Isyarat: “Hanya Dia (Hu)”
4. Rahasia Lafaz “هو” (Hu)
هو adalah:
Isim Dhamir (kata ganti)
Menunjuk kepada Dzat Allah tanpa batasan.
➡️ Dalam tasawuf: 👉 “Hu” adalah isyarat kepada kehadiran Allah yang tak terjangkau akal
Fungsi Dzikir Haqiqat
1. Menghilangkan Kelalaian Total
Tidak ada waktu kosong dari dzikir:
Bangun → dzikir
Duduk → dzikir
Tidur → dzikir
2. Menyatukan Dzikir dengan Kehidupan
Dzikir bukan lagi amalan…
➡️ Tapi menjadi: 👉 Keadaan jiwa
3. Membawa ke Muraqabah Tinggi
Salik merasakan:
Selalu bersama Allah (Ma’iyah)
Selalu diawasi Allah (Muraqabah)
4. Awal Fana’ Halus
Mulai muncul:
Lupa diri
Ingat hanya Allah
➡️ Ini disebut: 👉 Fana’ Af’al (lenyap dalam perbuatan Allah)
-; Cara Melakukan Dzikir Nafas
✨ 1. Sadari Nafas
Perhatikan keluar masuk nafas secara alami
✨ 2. Sinkronkan dengan Dzikir
Tarik nafas:
👉 hadirkan “Allāh”
Hembuskan nafas:
👉 hadirkan “Hu”
✨ 3. Tanpa Paksaan
Tidak dibuat-buat
Mengikuti irama alami
✨ 4. Dilakukan Terus-Menerus
➡️ Sampai:
Dzikir berjalan sendiri
Nafas menjadi dzikir
Tanda-Tanda Telah Masuk Maqom Ini
💡 1. Dzikir Tidak Pernah Putus
💡 2. Hati Selalu Hadir
💡 3. Dunia Tidak Mengganggu Hati
💡 4. Ada Rasa Dekat dengan Allah
Perumpamaan
🔹 Dzikir Lisan:
Seperti belajar menyebut nama
🔹 Dzikir Qalbu:
Seperti mengingat seseorang
🔹 Dzikir Nafas:
Seperti hidup bersama seseorang
Kesimpulan
Zikir ahli haqiqat adalah:
Dzikir yang menyatu dengan nafas
Kesadaran terus-menerus kepada Allah
Awal dari fana’ dan ma’rifat
Ia adalah:
➡️ Dzikir yang hidup
➡️ Dzikir yang tidak terputus
➡️ Dzikir yang menjadi diri itu sendiri
Jika pada awalnya engkau berdzikir dengan lidah…
Kemudian dengan hati…
Maka pada tahap ini:
➡️ Nafasmu berdzikir
➡️ Hidupmu berdzikir
➡️ Bahkan diam pun menjadi dzikir
Setiap hembusan nafasmu berkata: Allah…
Dan setiap hembusan keluar menjawab: Hu…
Seakan hidupmu hanyalah dialog dengan Tuhanmu…
📌 4 ZIKIR AHLI MA'RIFAT ( HENING )
Berikut penjabaran mendalam tentang Zikir Ahli Ma’rifat—puncak perjalanan dzikir: dari suara menuju hening, dari hening menuju kehadiran Ilahi.
Hening yang Hidup, Diam yang Penuh Kehadiran
- Pengertian Zikir Ma’rifat
Zikir ahli ma’rifat adalah:
Tanpa lafaz
Tanpa huruf
Tanpa suara
Namun bukan kosong…
➡️ Penuh kesadaran akan Allah
Ini bukan lagi:
Dzikir lisan
Dzikir hati
Dzikir nafas
Tetapi: 👉 Keadaan tenggelam dalam kehadiran Allah (Hudhūr Ilahi)
Dalil Al-Qur’an
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
(QS. Al-Baqarah: 152)
Artinya: “Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu.”
Isyarat Ma’rifat:
Ayat ini tidak hanya perintah…
Tetapi: 👉 Janji perjumpaan (liqa’ maknawi)
➡️ Ketika hamba mengingat Allah…
➡️ Allah “mengingat” hamba dengan rahmat dan kedekatan-Nya.
Hakikat Zikir Hening
Pada tahap ini:
🔹 Tidak ada lagi lafaz
🔹 Tidak ada lagi bentuk dzikir
Yang ada hanyalah Kesadaran murni akan Allah
4Makna “Diam yang Hidup”
Ini bukan diam biasa…
Tetapi:
🌊 Diam yang penuh rasa, Hati tidak berkata
Tapi sadar sepenuhnya
🌊 Hening yang bercahaya, Tidak ada suara, Tapi penuh makna
🌊 Kosong dari makhluk, Tapi penuh dengan Allah
Keadaan Salik pada Maqom Ini
💡 1. Sedikit Bicara
Karena hati sibuk bersama Allah
💡 2. Hati Selalu Hadir
Tidak lalai walau sekejap
💡 3. Hilang Rasa “Aku”
Yang terasa hanya: ➡️ Kehadiran Allah
💡 4. Dzikir Tanpa Dzikir
➡️ Tidak berdzikir
➡️ Tapi selalu dalam dzikir
- Hubungan dengan Fana’ dan Baqa’
🔥 Fana’:
Lenyapnya kesadaran diri
Tidak melihat selain Allah
🌿 Baqa’:
Kembali hidup bersama Allah
Tetap beramal dalam syari’at
➡️ Jadi: Ma’rifat bukan hilang selamanya
Tapi kembali dengan kesadaran Ilahi
Perumpamaan Tingkatan Dzikir
Lisan → menyebut
Qalbu → mengingat
Nafas → hidup dengan dzikir
Ma’rifat → tenggelam dalam Allah
Ibarat Perumpamaan Air:
Lisan: melihat air
Qalbu: menyentuh air
Nafas: masuk ke air
Ma’rifat: tenggelam dalam air
Zikir ahli ma’rifat adalah:
Puncak dzikir
Keheningan yang hidup
Kesadaran penuh akan Allah
Ia adalah: ➡️ Dzikir tanpa lafaz
➡️ Dzikir tanpa suara
➡️ Dzikir tanpa usaha
Penutup (Motivasi)
Jika pada awalnya engkau menyebut Allah…
Lalu engkau mengingat Allah…
Lalu engkau hidup bersama Allah…
Maka pada akhirnya:
➡️ Engkau diam…
➡️ Tapi hatimu penuh dengan Allah…
Tidak ada lagi kata…
Tidak ada lagi suara…
Yang ada hanyalah kehadiran…
Kalimat Hikmah
“Awalnya engkau berdzikir kepada Allah…
Akhirnya engkau tenggelam dalam Allah.”
📌 Pandangan Ulama Tasawuf
1. Imam Al-Ghazali berkata:
Zikir yang sempurna adalah ketika:
Lisan diam
Hati hidup
Ruh menyaksikan
2. Imam Junaid Al-Baghdadi berkata:
“Zikir yang hakiki adalah lupa kepada zikir itu sendiri karena tenggelam dalam yang diingat.”
3. Ibnu ‘Arabi
Zikir tertinggi adalah: ketiadaan diri dalam kehadiran Allah (fana)
📌 Tahapan Menuju Zikir Hening.
Berikut tahapan yang harus dilakukan seorang salik jika ingin sampai kepada Maqom hening.
- Istiqomah dalam zikir lisan
- Membersihkan hati dari maksiat
- Muraqabah (merasa diawasi Allah)
- Hudhur (hadirnya hati bersama Allah)
- Fana (lenyapnya kesadaran diri)
- Baqa (kembali hidup bersama Allah)
❌ Hening bukan berarti meninggalkan zikir
❌ Hening bukan berarti tidak ibadah
❌ Hening bukan berarti kosong tanpa Allah
✔️ Hening adalah: puncak kesempurnaan zikir, dan bukan pengganti zikir
Kesimpulan
Zikir adalah jalan menuju Allah
Zikir memiliki tingkatan: lisan → hati → sirr → hening
Puncak zikir adalah hening yang penuh kesadaran Ilahi.
Hening adalah gerbang menuju ma’rifatullah
Seorang salik yang sampai pada maqam ini tidak meninggalkan syariat, tetapi semakin sempurna dalam penghambaan.
Ketika lidah berhenti,bukan berarti zikir berhenti…
Ketika suara hilang, justru di sanalah hati mulai berbicara…
Dan ketika diri lenyap, yang tersisa hanyalah tenggelam dalam keheningan bersama Allah.
RAHASIA ZIKIR
- Dari Lafaz Menuju Hening, Dari Hening Menuju Ma’rifat
Zikir adalah nafas kehidupan ruh. Ia bukan sekedar ucapan lisan, tetapi perjalanan pulang menuju Allah ﷻ.
Zikir dimulai dari suara…
lalu masuk ke rasa…
kemudian tenggelam dalam makna…
hingga akhirnya lenyap dalam Yang Maha Ada.
Hakikat Zikir: Dari Lisan ke Ruh
Zikir memiliki lapisan yang dalam. Para ulama tasawuf membaginya dalam perjalanan berikut:
1. Zikir Lafaz (Lisan)
Ucapan dengan lidah:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
👉 Ini adalah pintu.
Namun pada tahap ini, hati sering belum hadir.
2. Zikir Hati (Qalb)
Zikir dengan qolbu
الله الله الله
mulai terasa di dalam:
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ
“Sebutlah Tuhanmu dalam dirimu…”
(QS. Al-A’raf ayat : 205)
👉 Hati mulai hidup
👉 Ada rasa diawasi (muraqabah)
3. Zikir haqiqat (Rahasia)
Nafas menjadi zikir halus, tidak terasa diucapkan, tetapi terus hadir.
👉 Zikir terjadi tanpa usaha
👉 Seolah hati “bernafas dengan Allah”
4. Zikir Hening (Fana’ Dzikir)
Inilah puncak:
Tidak ada lafaz
Tidak ada suara
Tidak terasa berzikir
Namun…
Allah hadir sepenuhnya dalam kesadaran
- Ilustrasi Maqāmāt Zikir
Berikut gambaran perjalanan zikir seorang sālik
Maqām 1: Lisan (Kesadaran Awal)
Sālik berzikir dengan suara
Hati masih lalai
➡️ Seperti mengetuk pintu
Maqām 2: Hati (Hudhūr)
Zikir mulai terasa
Air mata mulai hadir
➡️ Pintu mulai terbuka
Maqām 3: Sirr (Tenggelam)
Zikir mengalir sendiri
Waktu terasa hilang
➡️ Masuk ke dalam rumah
Maqām 4: Hening (Fana’)
Tidak merasa berzikir
Tidak merasa diri
➡️ Yang ada hanya Allah
Pengalaman Sālik (Isyarat Ruhani)
Berikut gambaran pengalaman yang sering dirasakan sālik (bukan tujuan, tetapi tanda perjalanan):
1. Pada awal zikir
Pikiran masih liar
Hati terasa berat
Kadang merasa Bosan
- Ini namanya fase mujahadah
2. Saat hati mulai hidup
Hati menjadi Tenang
Kadang Air mata mudah jatuh
Ada rasa dekat dengan Allah
3. Saat zikir sirr
Waktu terasa cepat
Tidak sadar jumlah zikir
Hati selalu ingat Allah
4. Saat hening (fana’)
Tidak ada rasa diri
Tidak ada selain Allah
Tidak bisa diungkapkan dengan kata
Ini bukan melihat Allah secara dzat
tetapi lenyapnya diri dalam kehadiran-Nya.
Mengapa Hening...?
Karena:
Lafaz adalah alat
Hati adalah tempat
Allah adalah tujuan
Kesimpulan
Zikir adalah jalan menuju Allah
Zikir berkembang dari lafaz → hati → sirr → hening
Hening bukan kosong, tetapi penuh dengan Allah
Puncaknya adalah fana dan baqa
Ma’rifatullah adalah buah dari zikir yang sempurna.
Penutup (Untuk Renungan Salik)
Jika engkau masih menyebut “Allah”…
maka engkau sedang berjalan…
Jika hatimu selalu ingat Allah…
maka engkau sudah dekat…
Namun jika engkau tidak lagi merasa berzikir…
dan hatimu hanya dipenuhi oleh-Nya…
Maka di situlah awal ma’rifat…

Sumber dari Haris Haris
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan