Damai hati itu adalah kebebasan hidup.

 


Ada sebuah kebebasan yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun. Kebebasan yang tidak memerlukan paspor, tidak memerlukan visa, dan tidak dapat dirampas oleh siapa pun. Kebebasan itu adalah ketika hatimu tidak lagi berdebar kencang mendengar kabar tentang naik turunnya harga saham. Ketika kamu tidak lagi gelisah membaca notifikasi tentang siapa yang memberi komentar di media sosialmu. Ketika kamu bisa tidur nyenyak meskipun ada yang memiliki rumah lebih besar dari rumahmu, dan ketika kamu bisa tersenyum tulus melihat tetanggamu membeli mobil baru tanpa rasa iri sedikit pun. Inilah kemerdekaan sejati. Bukan kemerdekaan yang dideklarasikan dengan pidato dan upacara bendera, tetapi kemerdekaan yang terukir di relung hati yang paling dalam. Ironisnya, kebanyakan dari kita hidup dalam penjara yang tidak memiliki jeruji besi. Penjara itu bernama kecemasan akan harta. Penjara itu bernama ketergantungan pada pujian. Kita mengira bahwa dengan menambah jumlah nol di rekening bank, kita akan semakin bebas. Padahal, setiap nol yang bertambah justru menambah rantai yang mengikat. Kita menjadi takut kehilangan. Kita menjadi budak dari gaya hidup yang kita ciptakan sendiri. Kita bekerja di tempat yang kita benci untuk membeli barang yang tidak kita butuhkan, hanya untuk mengesankan orang yang tidak kita pedulikan. Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan. Manusia dilahirkan merdeka, tetapi perlahan-lahan ia membelenggu dirinya dengan tangannya sendiri.
Secara psikologis, fenomena ini disebut dengan hedonic treadmill, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kebahagiaan dasar meskipun terjadi perubahan besar dalam hidup, baik positif maupun negatif. Orang yang memenangkan lotre akan merasa sangat bahagia selama beberapa bulan, lalu kembali ke tingkat kebahagiaan semula. Orang yang mengalami kecelakaan dan kehilangan kakinya akan merasa sangat tertekan, lalu kembali ke tingkat kebahagiaan semula. Ini membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita miliki, tetapi pada bagaimana kita merespons apa yang terjadi. Secara sosial, kita hidup dalam budaya yang secara sistematis melanggengkan ketidakmerdekaan ini. Iklan-iklan dirancang untuk membuatmu merasa tidak cukup. Kamu tidak cukup langsing, tidak cukup kaya, tidak cukup sukses, tidak cukup populer. Dan solusi yang ditawarkan selalu sama: beli produk ini, maka kamu akan cukup. Media sosial adalah panggung raksasa di mana setiap orang memamerkan versi terbaik dari hidup mereka, sementara di belakang layar mereka juga bergumul dengan rasa tidak cukup yang sama. Dalam pusaran ini, sangat sulit untuk menjadi manusia yang merdeka. Tetapi tidak mustahil. Ada segelintir orang yang telah memutuskan untuk keluar dari penjara ini. Mereka tidak lebih kaya atau lebih terkenal dari kita. Mereka hanya telah menemukan rahasia yang sangat sederhana: bahwa kebahagiaan bukan tentang memiliki lebih, tetapi tentang mengingat lebih sedikit. Mari kita bedah lima ciri manusia merdeka yang hatinya tidak pernah bimbang oleh bertambah atau berkurangnya harta, dan tidak pernah terbelenggu oleh nama besar serta ketenaran.
1. Orang merdeka tidak mengukur nilai dirinya dengan jumlah harta yang dimilikinya, karena ia tahu bahwa dirinya lebih berharga dari apa pun yang ia kumpulkan
Kita telah lama tertipu oleh sebuah kebohongan besar. Kebohongan bahwa kita adalah apa yang kita miliki. Mobil mewah menunjukkan status kita. Rumah besar menunjukkan kesuksesan kita. Pakaian bermerek menunjukkan kelas kita. Padahal, jika semua itu diambil dalam sekejap oleh banjir atau kebakaran, apakah dirimu menjadi kurang berharga? Apakah esensimu sebagai manusia berkurang satu gram pun? Tentu tidak. Yang berkurang hanyalah atribut-atribut luar yang tidak pernah menjadi bagian dari dirimu yang sejati. Dalam filsafat Stoik, Epictetus mengajarkan bahwa kita harus membedakan dengan tegas antara apa yang menjadi milik kita dan apa yang bukan milik kita. Tubuhmu bukan milikmu, ia akan tua dan mati. Hartamu bukan milikmu, ia akan ditinggalkan saat kau mati. Namamu bukan milikmu, ia hanya label yang diberikan orang tuamu. Yang benar-benar milikmu hanyalah pilihan-pilihan yang kau buat setiap hari, dan bagaimana kau merespons apa yang terjadi padamu. Maka orang merdeka adalah orang yang tidak pernah mengidentifikasikan dirinya dengan harta. Ketika hartanya bertambah, ia tidak menjadi sombong karena ia tahu itu bukan dirinya. Ketika hartanya berkurang, ia tidak menjadi putus asa karena ia tahu dirinya tetap utuh. Ia seperti gunung yang tidak peduli apakah embun pagi membasahinya atau matahari siang mengeringkannya. Gunung tetap gunung. Demikian pula dirinya. Kekayaan atau kemiskinan hanyalah kondisi sementara yang tidak menyentuh esensinya. Inilah kemerdekaan sejati. Dan kabar baiknya, kemerdekaan ini tidak memerlukan biaya sepeser pun. Ia hanya memerlukan kesadaran.
2. Orang merdeka tidak pernah bimbang ketika hartanya berkurang karena ia tahu bahwa kebutuhan sejatinya sangat sedikit
Salah satu sumber kecemasan terbesar manusia adalah ketakutan akan kekurangan. Kita khawatir jika suatu saat uang habis, kita tidak bisa makan, tidak bisa membayar sewa, tidak bisa berobat. Kekhawatiran ini wajar, tetapi seringkali tidak proporsional. Sebagian besar dari kita hidup dengan standar yang jauh di atas kebutuhan dasar. Kita merasa perlu kopi dari kafe tertentu setiap pagi. Kita merasa perlu mengganti ponsel setiap tahun. Kita merasa perlu liburan ke luar negeri setiap akhir tahun. Padahal, kebutuhan sejati manusia sangat sederhana. Makanan yang mengenyangkan, air yang bersih, pakaian yang menutup aurat, tempat tinggal yang melindungi dari panas dan hujan, dan akses ke pengobatan saat sakit. Itu saja. Segala sesuatu di luar itu adalah kemewahan. Dan kemewahan, meskipun menyenangkan, bukanlah kebutuhan. Orang merdeka adalah orang yang telah menyadari kebenaran ini. Ia tidak panik ketika pendapatannya turun karena ia tahu bahwa selama kebutuhan dasarnya terpenuhi, ia masih hidup lebih baik daripada miliaran manusia di dunia ini. Ia bisa dengan mudah menyesuaikan gaya hidupnya. Kopi dari kafe bisa diganti dengan kopi buatan sendiri. Liburan luar negeri bisa diganti dengan piknik di taman kota. Ponsel baru bisa ditunda pembeliannya. Kemampuan untuk menyesuaikan diri inilah yang membuatnya tidak pernah menjadi budak gaya hidup. Dalam psikologi, ini disebut dengan financial resilience, yaitu ketahanan finansial yang bersumber dari kesadaran bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada konsumsi. Dan ketahanan ini tidak diukur dari besarnya tabungan, tetapi dari kecilnya ketergantungan pada barang-barang mewah. Maka jangan heran jika ada orang yang berpenghasilan pas-pasan tetapi hidupnya tenang, sementara orang kaya raya hidupnya gelisah. Yang pertama telah merdeka. Yang kedua masih menjadi budak.
3. Orang merdeka tidak terbelenggu oleh nama besar dan ketenaran karena ia tahu bahwa pujian dan celaan datang dari orang yang sama-sama tidak sempurna
Salah satu belenggu paling halus di zaman media sosial adalah keinginan untuk dikenal. Kita ingin foto kita dilihat banyak orang. Kita ingin komentar kita mendapat banyak like. Kita ingin nama kita disebut dalam berbagai kesempatan. Dan ketika itu terjadi, kita merasa besar. Ketika tidak terjadi, kita merasa kecil. Sungguh sebuah roller coaster emosi yang melelahkan. Padahal, coba renungkan sejenak. Siapa sebenarnya orang-orang yang memberi pujian itu? Apakah mereka orang-orang sempurna yang penilaiannya selalu tepat? Apakah mereka mengenalmu secara utuh, dengan segala kelemahan dan kegagalanmu? Tentu tidak. Mereka hanya melihat potongan kecil dari dirimu, lalu membuat penilaian yang sangat dangkal. Pujian mereka bisa berubah menjadi celaan dalam sekejap, hanya karena satu postingan yang tidak sesuai selera mereka. Maka mengapa kau menggantungkan kebahagiaanmu pada sesuatu yang begitu rapuh? Dalam psikologi, ini disebut dengan external validation addiction, yaitu kecanduan akan validasi dari luar yang sama merusaknya dengan kecanduan narkoba. Semakin banyak pujian yang kau dapat, semakin tinggi toleransimu, sehingga kau membutuhkan pujian yang lebih besar untuk merasa sama bahagianya. Ini adalah siklus setan. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan berhenti total. Orang merdeka tidak butuh pujian. Ia tidak butuh ketenaran. Ia melakukan kebaikan karena itu benar, bukan karena ingin dilihat. Ia berkarya karena itu adalah ekspresi dirinya, bukan karena ingin viral. Dan ketika ada yang memujinya, ia tidak membusung. Ketika ada yang mencacinya, ia tidak hancur. Ia telah menemukan sumber kebahagiaan yang tidak pernah habis, yaitu kesadaran bahwa ia telah melakukan yang terbaik di hadapan Tuhannya. Pujian manusia tidak menambah satu huruf pun dalam catatan amalnya. Celaan manusia tidak mengurangi satu huruf pun. Maka ia hidup dengan tenang, tanpa perlu mencari panggung, karena ia tahu bahwa panggung terbesar adalah keheningan hatinya yang damai.
4. Masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang tidak lagi mengagung-agungkan kekayaan dan ketenaran sebagai tolok ukur kesuksesan
Salah satu alasan mengapa sangat sulit menjadi individu yang merdeka adalah karena kita hidup dalam masyarakat yang tidak merdeka. Sejak kecil, kita diajari bahwa sukses adalah menjadi kaya dan terkenal. Orang tua bangga jika anaknya menjadi dokter atau pengusaha sukses. Sekolah memajang foto alumni yang menjadi pejabat atau artis. Media memberitakan kehidupan mewah selebritas seolah itu adalah sesuatu yang patut ditiru. Dalam lingkungan seperti ini, seseorang yang memilih hidup sederhana dan tidak mencari popularitas akan dianggap aneh, atau bahkan gagal. Tekanan sosial ini sangat kuat. Ia seperti arus sungai yang deras. Berenang melawannya membutuhkan energi luar biasa. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Ada komunitas-komunitas kecil di berbagai belahan dunia yang memilih untuk hidup berbeda. Mereka tidak mengukur kesuksesan dari besarnya rumah, tetapi dari kualitas hubungan antarmanusia. Mereka tidak bangga karena terkenal, tetapi karena bermanfaat bagi sesama. Mereka tidak kompetisi dalam mengumpulkan harta, tetapi dalam mengumpulkan kebaikan. Masyarakat seperti ini, jika bisa kita bangun, akan menjadi surga kecil di dunia. Tidak ada kecemasan sosial karena orang kaya tidak dipuja dan orang miskin tidak direndahkan. Tidak ada persaingan tidak sehat karena ketenaran bukanlah tujuan. Yang ada hanyalah gotong royong, saling menghargai, dan kedamaian bersama. Mungkin ini terdengar utopis. Tetapi perubahan besar selalu dimulai dari mimpi yang dianggap mustahil. Dan setiap perubahan dimulai dari satu individu yang berani berbeda. Maka jadilah individu itu. Mulailah dari dirimu sendiri. Hentikan kebiasaan membanding-bandingkan harta dengan tetanggamu. Hentikan kebiasaan iri melihat kesuksesan orang lain. Hentikan kebiasaan mengejar pujian. Dan ketika orang lain bertanya mengapa kau hidup berbeda, katakan dengan lembut bahwa kau sedang belajar menjadi merdeka.
5. Puncak kemerdekaan adalah ketika hatimu tidak lagi peduli apakah dunia mengakui eksistensimu atau tidak, karena kau tahu bahwa kau selalu diakui oleh Yang Menciptakanmu
Ada satu lapisan terdalam dari kemerdekaan yang hanya bisa dicapai oleh jiwa-jiwa yang telah menemukan hubungan vertikal yang kokoh. Lapisan ini adalah ketika seseorang tidak lagi membutuhkan pengakuan dari siapa pun, karena ia telah mendapatkan pengakuan tertinggi dari Tuhannya. Ia tidak butuh pujian manusia karena pujian Allah sudah cukup. Ia tidak butuh harta berlimpah karena rezeki dari Allah sudah membuatnya merasa cukup. Ia tidak butuh nama besar karena namanya sudah tercatat di sisi Allah sebagai hamba yang setia. Inilah makna dari kalimat hasbunallah wa ni'mal wakeel, yaitu Allah cukup bagi kami dan Dia sebaik-baik tempat berserah. Orang yang telah mencapai derajat ini tidak akan terguncang oleh apa pun yang terjadi di dunia. Jika hartanya diambil, ia berkata, ini milik Allah, Allah yang memberi dan Allah yang mengambil, aku hanya titipan. Jika namanya dihancurkan orang, ia berkata, hanya Allah yang tahu siapa aku sebenarnya, dan itu sudah cukup. Jika ia dilupakan orang, ia berkata, aku tidak pernah mencari pengakuan kalian, yang aku cari adalah ridha-Nya. Inilah kebebasan mutlak. Inilah yang dimaksud oleh para sufi sebagai al-istighna, yaitu kekayaan jiwa yang tidak tergantung pada apa pun selain Allah. Dan kabar baiknya, kemerdekaan ini tidak hanya untuk para wali atau orang-orang suci. Ia bisa dicapai oleh siapa pun yang bersungguh-sungguh melatih jiwanya. Latihannya sederhana, tetapi berat. Setiap hari, ketika rasa ingin diakui muncul, ingatkan dirimu bahwa pengakuan manusia tidak abadi. Setiap hari, ketika rasa cemas akan harta datang, ingatkan dirimu bahwa rezeki sudah diatur. Setiap hari, ketika godaan untuk pamer datang, ingatkan dirimu bahwa pamer adalah bentuk kemiskinan jiwa. Lakukan ini terus-menerus, selama bertahun-tahun, maka perlahan-lahan belenggu akan terlepas satu per satu. Suatu hari, kamu akan bangun dan menyadari bahwa kamu tidak lagi peduli. Dan pada saat itu, kamu telah merdeka. Selamat datang di dunia yang sesungguhnya. Dunia di mana kebahagiaan tidak bisa dirampas karena ia bersumber dari dalam.
Pertanyaan yang mencengang untuk memantik komentar:
Jika kamu harus memilih antara menjadi kaya raya tetapi hatimu selalu gelisah karena takut kehilangan, atau menjadi sederhana tetapi hatimu damai karena tidak terikat pada apa pun, mana yang akan kamu pilih saat ini, dan apa yang selama ini membuatmu terjebak pada pilihan pertama meskipun kamu tahu pilihan kedua lebih membahagiakan.

Sumber dari Sahabat Rumi
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan