"IQRO” (اِقْرَأْ) ( Bacalah )
IQRO'" adalah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ. Secara lahiriah yang berarti “Bacalah”
Kitab apa yang di baca...?
Sedangkan nabi Muhammad tidak dapat membaca...!
Lalu apa yang sebenarnya harus di baca...?
Oleh sebab itu para ulama tasawuf dan ahli haqiqat memandang bahwa kata (iqro') ini bukan perintah untuk membaca kitab , akan tetapi mengandung makna yang sangat dalam, jauh melampaui sekadar dari membaca tulisan saja.
Allah berfirman:
اقْرَأْ
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
Artinya:
Bacalah...!
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah."
(QS. Al-‘Alaq: 1–3)
Menariknya, Nabi ﷺ tidak bisa membaca tulisan, tetapi Allah tetap memerintahkan Iqra’. Dari sini para ulama sufi memahami bahwa “membaca” yang dimaksud bukan hanya membaca huruf.
- MAKNA HAQIQAT IQRO' MENURUT ULAMA TASAWUF
Menurut pandangan ahli tasawuf makna iqro' dapat di artikan sebagai berikut:
1. Membaca Tanda-Tanda Allah di Alam.
Para arif billah mengatakan:
Iqra’ berarti membaca ayat-ayat Allah yang tersebar di seluruh alam.
Alam semesta adalah kitab Allah yang terbuka.
Sebagai mana Allah berfirman:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ
Artinya: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di ufuk dan pada diri mereka sendiri." (QS. Fussilat ayat : 53)
Maksudnya:
Manusia diperintahkan untuk membaca:
- Penciptaan Alam semesta
- Peristiwa hidup
- Membaca dirinya sendiri
- Membaca rahasia takdir
Semua itu adalah huruf-huruf Tuhan di alam yang wujud.
2. Membaca Kitab Diri Sendiri.
Para sufi mengatakan:
Manusia adalah kitab Allah yang paling besar.
Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
“Apakah engkau mengira dirimu hanya tubuh kecil....?
Padahal di dalam dirimu terkandung alam yang besar.”
Karena itu sebagian ahli haqiqat berkata:
Iqra’ nafsaka ("Bacalah dirimu sendiri.")
Jika seseorang membaca dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Ini berkaitan dengan hikmah sufi terkenal:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Artinya: Barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.”
3. Membaca dengan Nama Tuhan (Bi Ismi Robbik).
Allah tidak hanya mengatakan Iqra’, tetapi:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
(Bacalah dengan nama Tuhanmu)
Artinya menurut para arif:
Bacalah alam dengan kesadaran bahwa semuanya berasal dari Allah.
Jika membaca alam tanpa “Bismillah”, manusia hanya melihat sebab, bukan Pencipta sebab.
Contoh:
Orang biasa melihat:
Alam semesta, matahari , lautan ,gunung dsb
Tetapi bagi ahli ma’rifat mereka melihat:
tajalli qudrah Allah
tajalli hikmah Allah
tajalli rahmat Allah
4. Membaca dengan Hati, bukan hanya dengan Mata.
Para ahli tasawuf mengatakan:
Ada tiga jenis membaca:
1. Membaca dengan mata
Ini adalah membaca tulisan.
2. Membaca dengan akal
Ini adalah memahami ilmu.
3. Membaca dengan hati
Ini membaca rahasia Tuhan dalam segala sesuatu.
Inilah yang disebut:
basirah (penglihatan batin).
Allah berfirman:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ
Artinya:
"Bukan mata yang buta, tetapi hati yang ada di dalam dada." (QS. Al-Hajj ayat : 46)
5. Iqra’ adalah Pintu Ma’rifat.
Menurut para wali, perintah Iqra’ adalah pembukaan perjalanan untuk ma’rifatullah.
Urutannya seperti ini:
Karena itu wahyu pertama bukan:
- Bukan sholat
- Bukan puasa
- Bukan zakat
tetapi membaca.
Artinya:
agama ini dimulai dengan kesadaran dan ilmu.
6. Rahasia Lebih Dalam menurut Ahli Haqiqat.
Sebagian arif billah berkata:
Perintah Iqra’ sebenarnya memiliki makna batin:
اقرأ وجودك
("Bacalah wujudmu.")
Artinya:
Renungkan:
- Dari mana engkau datang
- siapa yang menghidupkanmu
- siapa yang menggerakkan hatimu
- Siapa yang memberi niat dalam dirimu
Ketika seorang salik membaca semua itu, ia akan sampai pada kesimpulan:
لا موجود إلا الله
(LAA MAUJUD ILALLAH)
“Tiada yang benar-benar wujud kecuali Allah.”
Namun pemahaman ini harus dipahami dengan benar agar tidak jatuh pada kesalahan aqidah.
- Kesimpulan Hikmah Iqra’
Menurut ahli tasawuf dan ahli haqiqat:
Iqra’ memiliki beberapa lapisan makna:
Dan akhirnya seorang salik akan memahami:
Seluruh alam adalah ayat-ayat Allah,
dan hati manusia adalah tempat membaca ayat itu.
- MENGAPA WAHYU PERTAMA BUKAN U'BUD (sembahlah Tuhanmu), TETAPI IQRO' (bacalah)...?
Para ulama menjelaskan bahwa di balik urutan ini terdapat hikmah besar dalam perjalanan manusia menuju Allah.
1. Allah Mengajarkan Ilmu dahulu Sebelum melakukan Ibadah.
Wahyu pertama adalah:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-‘Alaq: 1)
Ini menunjukkan bahwa ilmu datang sebelum ibadah.
Sebab seseorang tidak mungkin beribadah dengan benar jika tidak mengenal siapa yang disembah.
Allah juga berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Artinya: "Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah." (QS. Muhammad ayat :19)
Perhatikan urutannya:
Fa‘lam (ketahuilah)
Baru kemudian ibadah dan amal.
Para ulama mengatakan:
“Ilmu adalah imam (pemimpin), dan amal adalah pengikutnya.”
2. Mengenal Allah Sebelum Menyembah-Nya.
Jika wahyu pertama adalah “U‘bud”, maka manusia mungkin akan menyembah tanpa mengenal Tuhan dengan benar.
Maka Allah terlebih dahulu membuka pintu ma‘rifat melalui ilmu.
Karena itu para ulama tasawuf sering menggambarkan perjalanan ini seperti berikut:
Ilmu → Ma‘rifat → Mahabbah → Ibadah
Urutannya:
- mengenal Allah
- mencintai Allah
- kemudian menyembah Allah dengan ikhlas
3. “Iqra’” Membuka Mata Hati Manusia.
Perintah Iqra’ bukan hanya membaca kitab, tetapi membaca:
- alam semesta
- kehidupan
- diri sendiri
- tanda-tanda kekuasaan Allah
Allah berfirman:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ
Artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di ufuk dan pada diri mereka sendiri." (QS. Fussilat ayat : 53)
Artinya:
Manusia harus mengenal tanda-tanda Allah terlebih dahulu, barulah hatinya tunduk untuk beribadah.
4. Ibadah Tanpa Ilmu Bisa Menjadi Kosong.
Para ulama sering berkata:
“Berapa banyak orang yang beribadah tetapi tidak mengenal Tuhan yang ia sembah.”
Jika seseorang:
- tidak mengenal Allah
- tidak memahami tujuan hidup
- tidak memahami hakikat ibadah
maka segala ibadah yang dikerjakan hanya menjadi sekadar rutinitas saja.
Karena itu wahyu dimulai dengan kesadaran dan pemahaman.
5. Rahasia Tasawuf: Iqra’ Adalah Awal Ma‘rifat
Sebagian ahli haqiqat menjelaskan bahwa Iqra’ adalah pintu ma‘rifatullah.
Perjalanan seorang salik sering digambarkan sebagai berikut:
Iqra’ → membaca tanda-tanda Allah
Ilmu → memahami rahasia penciptaan
Dzauq → merasakan kehadiran Allah
Kasyaf → tersingkapnya rahasia
Ma‘rifat → mengenal Allah
Karena itu Allah membuka wahyu dengan Iqra’, bukan langsung dengan ibadah.
6. Hikmah Lebih Dalam
Ada hikmah yang sangat indah dari urutan ini:
Jika wahyu pertama adalah “U‘bud”, manusia mungkin akan menyembah karena takut atau kewajiban.
Tetapi ketika Allah memulai dengan “Iqra’”, manusia diajak:
berpikir
memahami
menyadari kebesaran Tuhan
Sehingga ibadah lahir dari kesadaran dan cinta, bukan hanya kewajiban.
Jadi kesimpulannya :
Mengapa wahyu pertama adalah Iqra’, bukan U‘bud....?
Yaitu Karena Allah ingin mengajarkan bahwa:
- ilmu datang sebelum ibadah.
- Ma‘rifat mendahului penghambaan.
- Kesadaran mendahului ketaatan.
- Pemahaman mendahului amal.
Sehingga ibadah manusia tidak hanya menjadi gerakan tubuh, tetapi menjadi ibadah yang hidup dalam hati.
- MENGAPA PERINTAH IQRO' DIBERIKAN KEPADA NABI YANG TIDAK DAPAT MEMBACA.....?
Pertanyaan ini memang sangat dalam.
sebab itulah Para ulama tafsir dan ahli tasawuf melihat bahwa rahasia terbesar dari perintah “Iqra’” justru terletak pada kenyataan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang ummi (tidak membaca dan menulis)
Allah berfirman:
وَمَا كُنْتَ تَتْلُوا مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ
Artinya:
"Engkau tidak pernah membaca suatu kitab sebelum Al-Qur’an dan tidak menulisnya dengan tanganmu." (QS. Al-Ankabut ayat : 48)
Jadi para ulama melihat beberapa rahasia besar di balik tentang hal ini.
1. Agar Jelas Bahwa Al-Qur’an Benar-Benar Wahyu dari Allah.
Jika Nabi ﷺ pandai membaca dan menulis, pasti orang akan menuduh bahwa:
-Beliau belajar dari kitab-kitab sebelumnya
- Beliau yang menyusun sendiri Al-Qur’an
Tetapi karena beliau ummi, maka jelaslah bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah, bukan hasil belajar manusia.
Ini yang menjadi mukjizat yang kuat.
2. Menunjukkan Bahwa Sumber Ilmu Sejati Adalah Allah.
Perintah Iqra’ kepada Nabi yang tidak bisa membaca mengajarkan bahwa:
Ilmu tidak selalu berasal dari huruf dan buku.
Ada ilmu yang langsung diajarkan oleh Allah.
Allah berfirman:
وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ
Artinya: "Dan Allah mengajarkan kepadamu apa yang sebelumnya tidak kamu ketahui."
(QS. An-Nisa ayat : 113)
Dalam tasawuf ini disebut: (ilmu ladunni)
(ilmu yang diberikan langsung oleh Allah ke dalam hati).
3. Iqra’ Bukan Hanya Membaca Tulisan.
Para arif billah mengatakan:
Jika Nabi tidak bisa membaca huruf tetapi diperintahkan Iqra’, berarti:
yang dimaksud adalah membaca dengan hati.
Yaitu membaca:
- Tanda-tanda kebesaran Allah
- Rahasia alam semesta
- Hikmah kehidupan
Ini disebut oleh para sufi sebagai:
qirā’atul qalb
(membaca dengan hati).
4. Nabi Adalah “Kitab Hidup”
Sebagian ulama tasawuf mengatakan:
Nabi Muhammad ﷺ sendiri adalah Al-Qur’an yang hidup.
Aisyah r.a. berkata tentang akhlak Nabi:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Artinya: "Akhlak beliau adalah Al-Qur’an."
(HR. Muslim)
Karena itu sebagian arif berkata:
Allah tidak hanya menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi, tetapi menjadikan Nabi sebagai penjelmaan hidup dari Al-Qur’an.
5. Rahasia Tasawuf: Iqra’ adalah Pembacaan Alam Wujud.
Sebagian ahli haqiqat menjelaskan bahwa ketika wahyu pertama turun, Nabi diperintahkan untuk membaca seluruh wujud dengan nama Allah.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
Artinya:
Lihatlah alam ini sebagai:
- ayat-ayat Allah
- tanda-tanda kekuasaan Allah
- tajalli sifat-sifat Allah
Karena itu para sufi berkata:
Al-Qur’an ada dua:
Perintah Iqra’ berarti membaca keduanya.
6. Hikmah Paling Halus.
Sebagian arif billah mengatakan sesuatu yang sangat indah:
Allah memilih Nabi yang tidak membaca kitab manusia, agar hatinya kosong dari ilmu manusia, sehingga siap menerima ilmu langsung dari Allah.
Dalam bahasa tasawuf disebut:
hati yang kosong lebih mudah dipenuhi cahaya wahyu.
Jadi kesimpulannya
Mengapa Iqra’ diberikan kepada Nabi yang tidak bisa membaca...?
Karena Allah ingin menunjukkan bahwa:
- Al-Qur’an benar-benar wahyu, bukan hasil belajar manusia.
- Sumber ilmu tertinggi adalah Allah.
- Membaca tidak selalu dengan mata, tetapi dengan hati.
- Nabi adalah kitab hidup yang mempraktikkan Al-Qur’an.
- iqra’ adalah membaca wahyu dan membaca alam.
MENGAPA KATA IQRO DI ULANG DUA KALI..?
Sebagian sufi menjelaskan bahwa dua “Iqra’” melambangkan:
mengenal Allah melalui ilmu.
mengenal Allah melalui ma‘rifat.
Dalam tasawuf perjalanan ini sering digambarkan:
Ilmu → Dzauq → Ma‘rifat
Rahasia yang Sangat Dalam
Sebagian arif billah berkata:
Iqra’ pertama
adalah membaca ayat-ayat Allah di luar diri (alam semesta).
Iqra’ kedua
adalah membaca ayat-ayat Allah di dalam diri (jiwa manusia).
Ini sesuai dengan ayat lain:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ
Artinya:
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di ufuk dan dalam diri mereka."
(QS. Fussilat: 53)
Hikmah Spiritual bagi Seorang Salik
Pengulangan Iqra’ seakan memberi pesan:
Seorang pencari kebenaran harus selalu:
membaca
belajar
merenung
memahami
Karena semakin seseorang membaca ayat-ayat Allah, semakin terbuka ma‘rifat kepada-Nya.
Kesimpulan
Mengapa kata Iqra’ diulang dua kali?
Para ulama menjelaskan bahwa pengulangan ini menunjukkan:
Sehingga seorang hamba mengenal Allah melalui ilmu dan perenungan.
- Mengapa setelah kata “Iqra’” pertama langsung disebut “Khalaq” (penciptaan)..?
Para ulama melihat bahwa setelah perintah “Iqra’” (bacalah), Allah langsung menyebut “Khalaq” (menciptakan) bukan tanpa hikmah.
Ayatnya berbunyi:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Artinya:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah."
(QS. Al-‘Alaq: 1–2)
Para ulama tafsir dan ahli haqiqat menjelaskan beberapa rahasia besar di balik urutan ini.
1. Agar Manusia Membaca Penciptaan.
Setelah diperintahkan membaca, Allah langsung menunjukkan apa yang harus dibaca.
Yang harus dibaca bukan hanya tulisan, tetapi:
- penciptaan alam
- penciptaan manusia
- Rahasia kehidupan
Seakan-akan maknanya:
Bacalah tanda-tanda Tuhanmu yang tampak dalam penciptaan.
Allah juga berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya: "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal." (QS. Ali Imran ayat : 190)
Maksudnya segala penciptaan Allah adalah kitab yang harus dibaca.
2. Agar Manusia Mengenal Penciptanya.
Allah tidak mengatakan:
"Bacalah alam."
Tetapi mengatakan:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Maknanya:
Ketika membaca alam, manusia harus menghubungkannya dengan Tuhan yang menciptakan.
Jika seseorang melihat penciptaan tanpa mengingat Allah, ia hanya melihat sebab, bukan Pencipta sebab.
3. Penciptaan adalah Pintu Ma‘rifat.
Para ulama tasawuf mengatakan:
Merenungi penciptaan adalah jalan menuju ma‘rifatullah.
Jadi Ketika manusia melihat:
- dirinya berasal dari ‘alaq (segumpal darah)
- kemudian menjadi manusia yang sempurna
maka ia akan menyadari tentang :
- kelemahan dirinya
- kebesaran Allah
Kesadaran ini membuka pintu tawadhu’ dan ma‘rifatullah.
4. Rahasia Tasawuf: Membaca Wujud
Sebagian ahli haqiqat mengatakan bahwa hubungan antara Iqra’ dan Khalaq berarti:
Bacalah wujud yang diciptakan oleh Allah.
Karena seluruh alam adalah tajalli sifat-sifat Allah.
Contoh:
keindahan alam → tajalli Al-Jamil
keteraturan alam → tajalli Al-Hakim
kehidupan → tajalli Al-Hayy
Dengan membaca penciptaan, seorang salik mengenal asma dan sifat Allah.
5. Hikmah Khusus: Mengingat Asal Manusia
Allah langsung menyebut:
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Ini mengandung hikmah besar.
Manusia sering:
sombong
merasa hebat
lupa asal-usulnya
Padahal asalnya hanyalah segumpal darah kecil.
Karena itu para ulama mengatakan:
Orang yang mengenal asal penciptaannya tidak akan sombong.
6. Hikmah yang Sangat Dalam
Sebagian arif billah mengatakan:
Urutan ayat ini menunjukkan perjalanan manusia:
Karena itu Al-Qur’an sering memerintahkan manusia untuk merenungi penciptaan.
Kesimpulan
Mengapa setelah Iqra’ langsung disebut Khalaq?
Karena Allah ingin mengajarkan bahwa:
Sehingga ilmu yang benar akan membawa manusia kepada ma‘rifatullah.
Sumber dari Haris Haris

0 comments:
Catat Ulasan