SYUHUDUL WAHDAH FIL KATSROH , SYUHUDUL KATSROH FIL WAHDAH

 

SYUHUDUL WAHDAH FIL KATSROH , SYUHUDUL KATSROH FIL WAHDAH
Syuhudul Wahdah fil Katsroh dan Syuhudul Katsrah fil Wahdah Adalah dua konsep yang mendalam yang sering selalu dibahas dalam ajaran ilmu tasawuf. Konsep ini merujuk pada pemahaman tentang "kesatuan" dan "keragaman" dalam pandangan spiritual seorang sufi.
Kedua konsep ini mengajak kita untuk melihat dan merasakan hakikat dari kehidupan ini,
Yaitu tidak hanya melalui pandangan lahiriah saja , tetapi juga dengan penglihatan hati yang lebih dalam ( Ainul Bashiroh)
Syuhudul Wahdah fil Katsroh mengajarkan kita untuk melihat keberagaman alam semesta ini, segala makhluk, dan segala peristiwa yang terjadi di dunia ini, dengan satu pandangan yang menyatu kepada wahdah (kesatuan).
Dalam setiap perbedaan, kita melihat adanya tanda-tanda dari Sang Pencipta yang Maha Esa. Setiap bagian dari dunia ini menjadi cerminan dari keesaan Allah. Ini adalah jalan untuk mengenali bahwa keberagaman ini hanya ada karena ada satu kesatuan yang menggerakkannya, yaitu Allah SWT.
Sebaliknya, Syuhudul Katsrah fil Wahda mengajak kita untuk melihat dalam kesatuan itu sendiri, pada hakikat yang satu, bahwa di dalamnya terkandung segala bentuk keragaman. Allah yang Maha Esa tidak hanya tampak dalam ketunggalan-Nya, tetapi juga dalam kebijaksanaan-Nya yang tercermin dalam ciptaan-Nya yang beragam. Dalam setiap detik waktu, dalam setiap nafas kehidupan, kita menemukan bahwa kesatuan itu mengandung banyak bentuk dan warna dan bentuk rupa , yang pada hakikatnya tetap kembali kepada sumber yang satu yaitu Allah.
Kedua konsep ini membawa kita kepada pemahaman yang lebih dalam pada pemahaman bahwa di balik segala yang nampak, baik itu kesatuan maupun perbedaan, terdapat satu kenyataan yang lebih tinggi dan lebih luas yakni, Tuhan yang Maha Esa. Pemahaman ini juga menuntun kita untuk menyadari bahwa meskipun kita hidup dalam dunia yang penuh dengan ragam, kita tetap berada dalam satu kesatuan yang ditentukan oleh Allah SWT.
Dengan memahami kedua konsep ini, mudah mudahan kita dapat meningkatkan kualitas ibadah dan pandangan hidup kita, dengan selalu menyadari bahwa segala sesuatu yang ada, baik dalam bentuk yang tunggal maupun majemuk, adalah sebagai tanda tanda kebesaran Allah yang harus disyukuri.
Berikut penjabaran nya.
A 🌹 SYUHUDUL WAHDAH FIL KATSROH
Syuhud
(شُهُودُ): ➡️Menyaksikan/melihat (dengan mata hati/Ainul bashirah).
Al-Wahdah (الْوَحْدَةِ): ➡️Keesaan/Yang Satu (Allah).
Fil Kasrah (فِي الْكَثْرَةِ): ➡️Di dalam keragaman/yang banyak (segala ciptaan Allah/ makhluk/alam semesta).
Secara pemahaman yang sederhana, ini adalah kesadaran yang tertinggi bahwa di balik perbedaan dan banyaknya wujud makhluk, Namun sejatinya hanya ada satu Allah yang maujud.
Jadi syuhudul Wahdah fil Katsroh →yaitu menyaksikan kesatuan Tuhan (Yang Satu) dalam bentuk-bentuk yang banyak, atau dengan kata lain hakikat tunggal tampak dalam keragaman ciptaan.
Jadi dapat disimpulkan:
“Yang satu itu adalah Allah, dan yang banyak itu adalah ciptaan-Nya”
Artinya seorang hamba merasakan Allah adalah sebagai sumber tunggal di balik semua wujud yang berbeda beda, baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun benda mati.
Ini adalah pola pengalaman tasawuf untuk memahami kesatuan hakiki Tuhan melalui keberagaman dunia.
📖 Penjelasan Filosofis dan Tasawuf
Allah itu esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya (Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah).
Dan Segala yang ada pada alam semesta ini adalah merupakan ciptaan Allah yaitu adalah manifestasi dari Zat-Nya.
Ciptaannya adalah sebagai cermin Allah ( mazhar )
Ibnu Arabi menekankan bahwa alam semesta adalah “tasybih dan tazhir”, artinya ciptaan mencerminkan atribut Allah secara beragam.
Contoh: Cahaya matahari, meskipun satu sumber, memancarkan warna, panas, dan energi ke berbagai tempat ini analogi wahdah fil katsroh
Contoh praktik dalam tasawuf:
Takkala seseorang yang sedang dalam Tafakkur dan dzikir, maka ia menyadari semua yang dilihat, Semua yang didengar, dan semua yang dirasakan adalah manifestasi kekuasaan dan hikmah Allah.
Jadi seorang sufi tidak hanya melihat ciptaan sebagai objek, tetapi juga merasakan kehadiran Allah di balik setiap bentuknya.
Hasilnya: ia tidak terjebak pada bentuk fisik saja , tetapi dapat menangkap dan merasakan hakikat yang satu di balik banyaknya wujud.
📖 Berikut Dalil Al-Qur’an tentang syuhudul wahdah fil Katsroh:
Allah SWT berfirman dalam Al Qur'an:
وَإِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Artinya :
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut membawa apa yang bermanfaat bagi manusia, air yang Allah turunkan dari langit sehingga menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menumbuhkan di bumi berbagai jenis makhluk, serta peredaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal."(QS. Al-Baqarah ayat :164)
Penjelasan Ayat :
Ayat ini menekankan kebesaran dan kesatuan Allah dalam segala ciptaan-Nya, serta bagaimana segala fenomena alam yang terjadi merupakan tanda tanda (ayat) bagi manusia yang berpikir.
(Penciptaan langit dan bumi)
Menunjukkan kekuasaan Allah dalam menciptakan alam semesta, yang berasal dari satu sumber tetapi tampak dalam banyak wujud dan bentuk.
(Pergantian malam dan siang)
Menunjukkan Fenomena alam yang berbeda namun berasal dari satu hukum Allah → (wahdah fil katsroh)
(Turunnya air dan menghidupkan bumi)
Segala kehidupan di bumi semua tergantung dari satu sumber yaitu air yang bersumber dari Allah, tetapi memberi kepada berbagai bentuk kehidupan.
(Bersebarnya makhluk)
Menunjukkan keragaman berbagai wujud makhluk namun berasal dari satu Zat yang menciptakan, Peredaran angin dan awan
Mengatur keseimbangan alam, menghubungkan semua fenomena, menunjukkan kesatuan hukum Allah di balik keragaman.
Maka Orang orang yang merenungkan ayat ini akan dapat memahami kesatuan Allah di balik keragaman ciptaan-Nya, yaitu inti dari
(Syuhudul Wahdah fil Katsroh)
Makna menurut Tasawuf:
Ayat ini mengajarkan kontemplasi terhadap ciptaan sebagai jalan mengenal Allah.
Seorang sufi yang melakukan tafakkur pada alam maka akan menyaksikan Allah yang satu tampak dalam banyak wujud, yang persis dengan pengalaman( Syuhudul Wahdah fil Katsroh )
Jadi ayat ini menjadi dalil Qur’ani untuk memahami kesatuan Tuhan di balik keragaman ciptaan ciptaan NYA.
Ini adalah pintu awal ma’rifatullah bagi orang yang merenung, bahwa semua yang berbeda beda namun berasal dari satu Zat, yaitu Allah.
Dan lagi firman Allah:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya :
"Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
( QS. Al-Hadid ayat : 3 )
Ayat ini juga menegaskan kesempurnaan dan keesaan Allah (Wahdah), yang meliputi semua aspek.
- Awal dan Akhir → Allah sudah ada sebelum segala sesuatu itu ada dan Allah tetap ada walaupun segala sesuatu nanti sudah tiada.
- Zahir dan Batin → Allah tampak melalui ciptaan (Zahir) dan tetap tersembunyi dalam hakikat-Nya (Batin).
- Maha Mengetahui segala sesuatu → Allah mengetahui setiap detail ciptaan, baik yang besar maupun kecil, yang nyata maupun yang tersembunyi.
Ini menunjukkan bahwa segala ciptaan yang berbeda-beda (katsroh) bersumber dari satu Zat yang sama (wahdah).
Alimun bikulli shay’ → pengetahuan Allah meliputi semua bentuk ciptaan, dari yang tampak hingga yang tersembunyi, sehingga keberagaman ciptaan tetap satu dalam hakikat-Nya.
Dengan kata lain: Allah yang satu tampak melalui banyak wujud, persis inti dari Syuhudul Wahdah fil Katsroh.
Rasulullah SAW bersabda:
«مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ»
Artinya: Siapa yang mengenal akan dirinya niscaya mengenal akan tuhan nya.
Makna Hadis :
(Mengenal akan dirinya)
Maksudnya adalah introspeksi diri: memahami hakikat keberadaan, kekuatan, kelemahan, dan fitrah manusia.
Dalam tasawuf, ini termasuk zuhud, muraqabah, dan tafakkur.
(Mengenal Tuhan melalui diri)
Ketika seorang hamba memahami hakikat dirinya sebagai makhluk yang bergantung kepada Allah, diciptakan dari satu sumber, dan memiliki potensi spiritual maka ia akan menyadari hakikat Allah.
Ini adalah bentuk awal Syuhudul Wahdah fil Katsroh, yaitu melihat kesatuan Allah (Wahdah) dalam banyaknya ciptaan (Katsroh).
Kaitannya dengan Syuhudul Wahdah fil Katsroh
Diri manusia adalah ciptaan yang kompleks: jasmani, rohani, akal, perasaan, dan potensi spiritual.
Dengan merenungi diri sendiri, seorang hamba bisa menyadari:
Bahwa Semua bagian diri adalah berasal dari satu sumber, yaitu Allah.
Keragaman fungsi dan sifat diri manusia adalah manifestasi dari keesaan Tuhan di balik ciptaan yang berbeda-beda.
Jadi, Hadis ini mengajarkan pintu pertama pengalaman ma’rifatullah: melihat yang satu (Allah) dalam yang banyak (ciptaan)..
B 🌹.SYUHUDUL KATSROH FIL WAHDAH
Syuhud (شُهُودُ): ➡️Menyaksikan/melihat (dengan mata hati/Ainul bashirah).
Katsrah ( الْكَثْرَةِ): ➡️Di dalam keragaman/yang banyak (segala ciptaan Allah/ makhluk/alam semesta).
Al-Wahdah (الْوَحْدَةِ): ➡️Keesaan/Yang Satu (Allah).
Jadi Syuhudul Katsroh fil Wahdah adalah
Kebalikan dari yang pertama.
Syuhudul katsroh fil wahdah artinya merasakan keberagaman (banyaknya) dalam keesaan, atau menyaksikan wujud-wujud banyak muncul dari hakikat yang satu yaitu Allah.
Ini menekankan pengalaman, bahwa semua makhluk, meski berbeda, pada hakikatnya bersumber dari satu Zat.
Jadi dengan kata lain:
Wahah fil katsroh → kesatuan di balik keragaman.
Katsroh fil wahdah → keragaman muncul dari kesatuan.
Mengandung makna syuhud: Tuhan hadir dalam setiap keadaan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Allah SWT berfirman:
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya : Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat. Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah ayat :115)
Penjelasan makna ayat :
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ
“Timur dan barat”
Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan dan pengetahuan Allah mencakup seluruh arah dan tempat. Tidak ada tempat di bumi atau langit yang terlepas dari pengawasan-Nya.
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا
“Ke mana pun kamu menghadap”
Bukan sekadar arahan fisik, tetapi menunjukkan bahwa keberadaan Allah meliputi segala arah. Dalam konteks ibadah, ini menegaskan fleksibilitas dan sifat universal Allah.
فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
“Disana Wajah Allah”
Istilah ini sering dipahami secara maknawi, bukan fisik. Maksudnya adalah “keridhaan, perhatian, dan pengawasan Allah” yang senantiasa ada di mana pun makhluk berada.
إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”
Penutup ayat menegaskan bahwa ilmu, kekuasaan, dan kasih sayang Allah yang tidak terbatas. Semua perbuatan manusia, niat, dan keadaan semua tercakup oleh-Nya.
🌹 Penjelasan para ulama :
a. Syuhudul Wahdah fil Katsroh
Menurut Ibnu Arabi, beliau mengatakan:
“Seorang murid akan menyaksikan Zat Allah di balik tiap wujud, bahkan di tengah keragaman makhluk.”
Praktiknya: melalui zikrullah, kontemplasi ciptaan, dan tafakkur pada makhluk, sehingga merasakan kesatuan dalam segala sesuatu.
b. Syuhudul Katsroh fil Wahdah
Pandangan Syaikh Ahmad al-Alawi:
“Setelah mencapai kesadaran hakikat, seorang sufi menyaksikan wujud-wujud yang berbeda muncul dari Zat yang satu.”
Praktiknya melalui: fana’ fi Allah → meniadakan ego individu untuk merasakan keberagaman muncul dari kesatuan Tuhan.
🌹. KESIMPULAN
Syuhudul Wahdah fil Katsroh ➡️ pandang yang satu menjadi banyak ( melihat ke esaan Allah dalam keragaman setiap ciptaannya )
Syuhudul Katsroh fil Wahdah ➡️ pandang yang banyak menjadi satu ( menyaksikan keragaman ciptaan Allah muncul dari ke esaan Allah )
Jadi kedua konsep ini saling melengkapi, awal ma’rifat adalah ( syuhudul wahdah fil katsroh ) dan puncak ma’rifat adalah ( syuhudul katsroh fil wahdah )
🌹 PENUTUP
Dalam perjalanan mengenal Tuhan, kita sering kali dihadapkan pada dua dimensi yang seakan bertolak belakang, yaitu kesatuan dan keberagaman. Namun, melalui pemahaman tentang Syuhudul Wahdah fil Katsroh dan Syuhudul Katsrah fil Wahda, kita diajak untuk menyatukan pandangan kita terhadap alam semesta ini, dengan hati yang penuh kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari satu sumber yang sama, yaitu Allah SWT.
Kesatuan-Nya tidak hanya terbatas pada bentuk yang terlihat, tetapi juga mencakup segala keberagaman yang ada di dunia ini.
Setiap perbedaan, baik dalam bentuk, warna, maupun karakteristik, sejatinya adalah manifestasi dari keagungan dan kebesaran Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu, setiap fenomena yang kita hadapi dalam kehidupan, baik yang tampak sebagai perbedaan atau kesatuan, adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang harus kita syukuri dan renungkan.
Dengan memahami dan meresapi konsep ini, kita semakin diajak untuk menjaga keseimbangan dalam hidup, agar tidak terjebak dalam dualitas yang menyesatkan. Kita dapat melihat bahwa kesatuan dalam keragaman dan keragaman dalam kesatuan adalah bentuk keharmonisan ciptaan Allah yang harus kita jaga dan hargai.
Semoga pemahaman ini dapat memperkaya spiritualitas kita dan membawa kita lebih dekat kepada Allah, dengan hati yang lapang dan penuh kesyukuran. Mari kita berusaha untuk senantiasa menyaksikan dan merasakan Wahdah (kesatuan) dalam segala Katsrah (keragaman) yang ada di sekitar kita, dan menyaksikan Katsrah dalam Wahdah, agar hidup kita semakin dipenuhi dengan kedamaian, kebijaksanaan, dan kebersihan hati.
Semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada kita semua, agar kita dapat terus berada dalam jalan-Nya yang penuh rahmat dan keberkahan.
# Sumber dari Syekh Haris Al Jawi
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan