.MURAQOBAH MAIYAH..

 

..MURAQOBAH MAIYAH..
Muraqabah Ma'iyah adalah istilah yang sangat penting untuk menggambarkan pemahaman mengenai kehadiran Allah yang senantiasa bersama hamba-Nya. Dalam konteks ini, Ma'iyah (kehadiran atau kebersamaan) mengacu pada pemahaman bahwa Allah selalu bersama kita, baik dalam keadaan kita sadar maupun tidak, dalam setiap aspek kehidupan kita.
- Apa itu Muraqabah Ma'iyah....?
Muraqabah dalam tasawuf adalah kesadaran batin yang mendalam terhadap kehadiran Allah dalam setiap perbuatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Seorang salik (penempuh jalan spiritual) berusaha untuk selalu merasakan bahwa Allah selalu mengawasi, selalu bersama, dan selalu menyertai setiap langkah dan tindakannya. Muraqabah Ma'iyah khususnya, lebih menekankan bahwa Allah tidak hanya hadir dalam pengawasan dan ilmu-Nya, tetapi Allah bersama hamba-Nya dalam segala keadaan.
- Penjelasan tentang Muraqabah Ma'iyah.
Dalam salah satu kurikulum ajaran Thoriqat Naqsyabandiyah ada satu tingkatan zikir yang disebut muraqobah Ma'iyah.
Muraqobah Ma'iyah (bersama) mengandung makna yang sangat dalam. Allah tidak hanya hadir di sisi kita secara fisik (karena Dia tidak terikat oleh ruang dan waktu), tetapi kehadiran-Nya adalah sesuatu yang lebih esensial, yaitu dalam pengawasan-Nya, rahmat-Nya, pengaturan-Nya, dan pendampingan-Nya. Oleh karena itu, seorang salik yang merasakan Muraqabah Ma'iyah akan selalu merasa bahwa Allah ada di sampingnya, tidak pernah terpisah dari-Nya, dalam setiap gerak, kata, dan langkahnya.
- Kehadiran Allah yang Dirasakan dalam Muraqabah Ma'iyah.
Muraqabah Ma'iyah mengajarkan bahwa setiap tindakan hamba, baik itu secara fisik, batin, ataupun dalam segala aspek kehidupan, selalu ada dalam pengawasan dan kehendak Allah. Seorang hamba yang berusaha merasakan kehadiran Allah dengan penuh kesadaran, ia akan selalu merasa terjaga dan berhati-hati dalam setiap langkahnya. Ia akan menjaga kualitas ikhlas dan tawakkal dalam setiap usaha dan kerja yang ia lakukan, karena menyadari bahwa Allah menyertai setiap aktivitasnya.
Contoh Praktik Muraqabah Ma'iyah.
Seorang sufi atau hamba yang menjalankan muraqabah ma'iyah akan selalu berusaha dalam setiap detik kehidupannya untuk merasakan kehadiran Allah dalam hatinya. Saat ia bekerja, ia menyadari bahwa Allah yang menggerakkan tangan nya . Saat ia berbicara, ia menyadari bahwa Allah yang memberikan kemampuan untuk berbicara. Saat ia berdo'a atau beribadah, ia merasakan bahwa Allah yang mengarahkan hatinya untuk berdoa dan beribadah dengan penuh pengabdian.
Hal ini mengajarkan kerendahan hati dan kesadaran spiritual yang tinggi, di mana seorang hamba tidak merasa terpisah dari Allah dalam setiap perbuatannya. Keberadaan Allah tidak hanya dirasakan di saat-saat ibadah, tetapi di setiap gerak hidup, setiap napas, dan setiap perasaan.
Makna Ayat "وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ" (Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada) memiliki makna yang sangat mendalam dalam konteks Muraqabah Ma'iyah. Allah mengingatkan kita bahwa Di mana saja kita berada, dalam keadaan apapun, Allah selalu ada bersama kita. Kehadiran-Nya tidak terbatas ruang dan waktu, tidak terikat oleh kondisi apapun, dan tidak terpisah dari kita dalam setiap aspek kehidupan kita.
Inilah yang menjadi inti dari Muraqabah Ma'iyah. Allah selalu menyertai kita dalam setiap keadaan, baik kita berada dalam kesenangan maupun kesulitan, dalam kesendirian maupun keramaian, dalam kekuatan maupun kelemahan.
Kesimpulan:
Jadi kesimpulannya Muraqabah Ma'iyah adalah kesadaran batin tentang kehadiran Allah yang selalu bersama hamba-Nya. Dalam perspektif ini, segala tindakan kita, baik besar maupun kecil, merupakan perwujudan dari kehendak dan pengawasan Allah. Dengan berlatih muraqabah ma'iyah, kita berusaha untuk merasakan kehadiran Allah di setiap detik kehidupan kita, dengan harapan untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya dan menjaga hati agar tetap bersih, ikhlas, dan penuh tawakkal.
Berikut penjelasan lebih dalam tentang ayat "وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ" (Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada),
Berikut penjabaran dari sisi tasawuf.
1. Kehadiran Allah dalam Zat-Nya
Secara literal, ayat ini menggambarkan kehadiran Allah yang menyeluruh dan melingkupi segala sesuatu. Dalam pandangan tasawuf, ini mengacu pada kehadiran Allah yang mutlak, yang tidak terbatas oleh ruang atau waktu. Allah tidak dibatasi oleh ruang fisik, dan keberadaan-Nya meliputi seluruh alam semesta. Ini berarti, yang dimaksud "bersama" dalam ayat ini adalah bahwa Zat Allah senantiasa meliputi dan mengawasi setiap keadaan hamba-Nya. Hal ini sejalan dengan konsep "al-Muhīṭ" (Yang Meliputi) dalam teologi Islam.
2. Kehadiran dalam Pengetahuan-Nya
Bagi para ahli tasawuf, kehadiran Allah dalam ayat ini lebih banyak merujuk pada pengetahuan dan kesadaran Allah terhadap segala sesuatu. Ilmu Allah adalah sesuatu yang mencakup segala apa yang ada di alam semesta, bahkan yang tersembunyi sekalipun. Dengan kata lain, yang bersama kita adalah pengetahuan dan pengawasan Allah atas segala hal, baik yang kita lakukan dengan kesadaran maupun yang tersembunyi di dalam hati dan pikiran kita.
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya; Dia selalu mengetahui keadaan kita.
3. Kehadiran dalam Pertolongan-Nya.
Para sufi mengajarkan bahwa kehadiran Allah juga bisa dimaknai sebagai pertolongan-Nya yang tidak terbatas. Allah tidak hanya mengetahui keadaan kita, tetapi juga memberikan pertolongan pada hamba-Nya yang membutuhkan. Dalam konteks tasawuf, seorang salik (penempuh jalan spiritual) harus selalu merasa bahwa Allah bersama dengannya dalam setiap langkah kehidupannya, memberikan bimbingan dan dukungan dalam perjalanan spiritualnya. Allah menyertai setiap hamba dengan rahmat-Nya.
4. Kehadiran dalam Qudrat dan Iradat-Nya.
Dalam aspek yang lebih dalam, tasawuf mengajarkan bahwa Allah bersama hamba-Nya dalam kehendak dan takdir-Nya. Segala yang terjadi dalam hidup kita adalah bagian dari kehendak Allah. Ketika seseorang berada dalam keadaan suka atau duka, Allah menyertai mereka dengan qadar (takdir) dan iradat (kehendak)-Nya yang mengatur segala hal. Tidak ada yang terjadi tanpa izin Allah, dan Dia senantiasa hadir dalam keputusan-keputusan takdir-Nya yang berlaku di setiap aspek kehidupan.
5. Kehadiran dalam Hati
Menurut para sufi, makna yang lebih mendalam dari "Dia bersama kamu" adalah bahwa Allah hadir dalam hati setiap hamba-Nya.
Hati adalah tempat yang paling dekat bagi Allah, dan melalui ma'rifat (pengetahuan batin) dan dzikrullah (ingat kepada Allah), seorang hamba bisa merasakan kedekatan batin dengan Allah. Allah hadir dalam bentuk rasa cinta, rasa takut, dan rasa harap yang ada dalam hati seorang hamba yang selalu mengingat-Nya. Dalam tasawuf, ini disebut dengan "hudūr al-ḥaqq" (kehadiran Allah) di dalam jiwa seorang salik.
6. Kehadiran dalam Kedekatan dan Kemurahan-Nya.
Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dalam segala kondisi, dan hal ini terkadang diartikan juga sebagai rahmat dan kasih sayang-Nya. Dalam perspektif tasawuf, Allah tidak hanya hadir dalam bentuk ilmu dan kekuasaan, tetapi juga dalam kemurahan dan rahmat-Nya yang mengalir kepada hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya. Rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu menjadikan Allah selalu ada untuk mengasihi dan menyayangi hamba-Nya, bahkan di saat-saat penuh kesulitan.
Kesimpulan:
Jadi, dalam konteks ayat ini, yang "bersama kamu" adalah kehadiran Allah dalam berbagai aspek kehidupan. dalam ilmu-Nya, dalam takdir-Nya, dalam pertolongan-Nya, dalam hati kita, dan dalam rahmat-Nya. Sebagai hamba-Nya, kita diajak untuk mengingat, merasakan, dan bersyukur atas kehadiran Allah dalam hidup kita, baik dalam keadaan senang maupun susah, serta menjadikan-Nya sebagai pusat dari segala aktivitas dan pemikiran kita.
- Apakah gerak itu dari Allah
Jika engkau bertanya apakah gerak hamba itu termasuk dalam kehadiran Allah atau bagian dari kehendak Allah....? Maka ini adalah suatu tema yang sangat dalam dan penting, karena ini berhubungan dengan konsep takdir, kehendak bebas, dan kehendak Allah.
Jadi Dapat dijelaskan bahwa segala gerak dan tindakan hamba itu pada dasarnya adalah bagian dari kehendak Allah, namun pada saat yang sama, hamba tetap memiliki tanggung jawab atas pilihan pilihannya.
Berikut ini penjelasan yang lebih rinci
1. Kehendak Allah dan Gerak Hamba.
Secara teologis, dalam ajaran Islam, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah terjadi dengan izin dan kehendak Allah.
Dalam ayat Al-Qur'an, Allah berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya:
"Dan kamu tidak dapat (menentukan) kehendak, kecuali jika dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam."
(QS. Al-Insan ayat : 30)
Dalam ajaran tasawuf, hal ini dipahami dengan mendalam bahwa semua gerak-gerik hamba, baik fisik maupun batin, adalah bagian dari kehendak Allah yang mengatur segala hal.
Ini berarti Allah yang menciptakan segala sesuatu, termasuk pilihan-pilihan dan tindakan hamba-Nya, meskipun pada permukaan kita melihat bahwa kita memiliki kebebasan untuk memilih.
2. Gerak Hamba dalam Kerangka Takdir (Qadar)
Menurut Imam al-Ghazali dalam bukunya "Ihya' Ulum al-Din", tindakan hamba, baik yang dilakukan dengan kesadaran penuh atau yang tampaknya otomatis, adalah bagian dari takdir Allah yang sudah ditentukan. Gerak tubuh, langkah kaki, bahkan pikiran yang muncul di hati kita tidak terlepas dari ketentuan-Nya.
Namun, Allah memberikan kehendak dan kebebasan (ikhtiyar) kepada setiap hamba untuk berpikir dan memilih, meskipun pilihan tersebut tetap berada dalam jangkauan takdir-Nya.
Dalam hal ini, kita dapat memahami bahwa meskipun Allah mengatur dan menghendaki segala sesuatu, Allah memberi kita kemampuan untuk bertindak dan memilih, sebagai bentuk ujian dan tanggung jawab kita sebagai hamba-Nya.
3. Kehendak Bebas dan Tanggung Jawab tetap kepada Hamba.
Jadi Meskipun segala sesuatu yang kita lakukan berada dalam kehendak Allah, namun dalam tasawuf menekankan pentingnya kesadaran dan tanggung jawab pribadi terhadap pilihan kita.
4. Makna "Mu’āmalah" dan "Tawakkal"
Dalam kehidupan sehari-hari, hamba seharusnya berusaha (ikhtiar) dengan sungguh-sungguh, karena meskipun gerakannya terikat pada kehendak Allah, usaha kita tetap dianggap sebagai bagian dari mu’āmalah (tindakan yang dilakukan oleh hamba). Ketika seseorang berusaha dan bekerja keras, dia harus menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan tawakkal (berserah diri), karena hasilnya tetap berada dalam kekuasaan-Nya.
Allah mengajarkan dalam Al Qur'an:
آية: قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَىٰ اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Artinya: Katakanlah, "Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditentukan Allah bagi kami. Dia-lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At-Tawbah ayat : 51)
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tindakan kita adalah bentuk kehendak Allah, kita tetap memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana kita bertindak dalam menghadapi kehidupan ini, dan kita harus bertanggung jawab atas pilihan-pilihan tersebut.
5. Kesadaran akan Kehadiran Allah dalam Gerak Hamba.
Bagi para sufi, kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita (وَهُوَ مَعَكُمْ) harus mempengaruhi setiap langkah kita. Gerak hamba, baik yang fisik maupun spiritual, harus dipahami sebagai tindakan yang dilakukan dengan seizin dan di bawah pengawasan Allah. Dalam praktik tasawuf, ini dikenal dengan istilah "Muraqabah" (pengawasan batin), yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, menyertai, dan mengatur setiap aspek kehidupan kita.
Jadi, meskipun gerak hamba itu terjadi dengan kehendak Allah, hamba tetap memiliki tanggung jawab dan kemampuan untuk memilih dalam menjalani kehidupan. Allah menyertai setiap gerakan dan langkah kita, tetapi tindakan kita tetap merupakan ujian dan pilihan bebas yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Hal ini menunjukkan hubungan yang sangat terpadu antara kebebasan dan takdir, di mana Allah mengatur segalanya, tetapi kita sebagai hamba tetap diberi kebebasan untuk berusaha dan bertindak dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati.
Allah berfirman dalam Al Qur'an:
"فَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّـهَ رَمَىٰ"
Artinya: "Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar."
(Surah Al-Anfal ayat :17)
Ini adalah salah satu ayat yang menunjukkan betapa Allah menghendaki setiap tindakan kita, bahkan yang tampaknya merupakan usaha kita sendiri, untuk tetap berada dalam kekuasaan-Nya. Ayat ini turun dalam peristiwa Perang Badar, di mana Nabi Muhammad SAW melemparkan segenggam pasir ke arah musuh sebagai isyarat permulaan pertempuran. Meskipun secara lahiriah Nabi yang melakukan perbuatan itu, Namun Allah menjelaskan bahwa sebenarnya Allah yang menggerakkan tangan Nabi dan mengarahkan perbuatan itu.
Ayat ini menggambarkan konsep bahwa meskipun hamba melakukan tindakan, tapi Allah yang memberikan kekuatan dan menentukan hasil dari tindakan tersebut.
Ini mengajarkan kita bahwa segala sesuatu, bahkan perbuatan kita yang tampaknya berdasarkan usaha pribadi, tetap berada dalam kehendak Allah.
Dalam hal ini, meskipun kita berusaha dan bertindak, seperti halnya dalam pertempuran, semua itu terjadi dengan izin dan kehendak Allah. Allah yang menggerakkan segala sesuatu melalui hukum-hukum-Nya yang mengatur alam semesta ini.
Gerak Hamba sebagai Fasilitator Takdir.
Pada dasarnya, Allah menggerakkan setiap tindakan kita dan menciptakan kemampuan dalam diri kita untuk melakukan sesuatu.
Namun, tindakan itu tetap merupakan perwujudan kehendak Allah, dan manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan usahanya.
Dalam tasawuf, ini mengajarkan bahwa meskipun kita adalah bagian dari takdir dan kehendak Allah, kita tetap diberi kebebasan untuk berusaha (ikhtiar), tetapi hasilnya sepenuhnya berada di tangan Allah. Ikhtiar kita adalah sarana untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan Allah, namun tanpa izin-Nya, kita tidak akan mampu melakukan apapun.
Tindakan sebagai Manifestasi dari Kekuatan Allah.
Dalam pandangan sufi, bahkan saat kita berusaha dengan kekuatan kita sendiri, kita harus selalu mengingat bahwa segala kemampuan yang kita miliki berasal dari Allah.
Kekuatan untuk berbuat dan kesadaran untuk bertindak adalah bagian dari rahmat dan kasih sayang-Nya.
Seperti dalam ayat di atas , Nabi Muhammad SAW melemparkan pasir, tetapi Allah yang memberi kekuatan agar perbuatan tersebut memiliki dampak yang luar biasa.
Ini mengajarkan kita bahwa meskipun kita merasa melakukan sesuatu dengan usaha kita, kita harus tetap menyadari bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah yang menggerakkannya.
Kesimpulan:
Jadi meskipun kita melakukan tindakan atau perbuatan tertentu, seperti melempar, Allah tetap yang mengatur dan menggerakkan segala sesuatu. Gerak hamba, meskipun tampak berasal dari usaha kita, sebenarnya adalah manifestasi dari takdir Allah, di mana Allah yang menentukan perbuatan dan hasilnya. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu, dan meskipun kita bertindak, kita harus selalu menyadari bahwa tanpa izin dan kehendak-Nya, kita tidak akan mampu berbuat apa-apa.
Wallahu alam bissowab

Sumber dari Haris Haris bersama Syekh Haris Al Jawi
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan