Ada api yang tidak terlihat oleh mata, namun terasa oleh jiwa. Ia tidak menyala dengan asap dan cahaya, tetapi bekerja dalam diam, membakar sesuatu yang selama ini tumbuh liar di dalam diri. Puasa adalah api itu. Ketika tubuh menahan lapar dan dahaga, yang sebenarnya sedang disentuh bukan hanya fisik, melainkan pusat keinginan terdalam manusia. Dalam sunyi yang panjang itu, kita mulai menyadari betapa sering hidup digerakkan oleh dorongan yang tak pernah benar benar kita kendalikan.
Secara psikologis, manusia adalah makhluk yang dipenuhi hasrat. Ia ingin lebih, ingin cepat, ingin puas. Secara sosial, dunia pun mendorong hasrat itu agar terus menyala. Iklan, ambisi, persaingan, dan perbandingan menjadi bahan bakarnya. Kita tumbuh dalam budaya yang mengajarkan bahwa keinginan harus segera dipenuhi. Lalu puasa datang seperti api yang membersihkan. Ia tidak mematikan kehidupan, tetapi membakar kerak kerak berlebih yang menutupi kejernihan hati. Ia menghanguskan keserakahan, meluruhkan ego, dan menyisakan inti diri yang lebih murni.
1. Api yang Membakar Nafsu yang Tak Terkendali
Di dalam diri setiap manusia ada dorongan untuk memiliki dan menikmati. Nafsu bukanlah musuh, tetapi ia bisa menjadi liar ketika tak pernah dilatih. Puasa menghadirkan api disiplin yang perlahan mengikis dominasi keinginan instan. Ketika makanan tersedia namun kita memilih menahan diri, saat itulah api itu bekerja. Ia membakar impuls, mengubah reaksi menjadi kesadaran. Kita belajar bahwa tidak semua yang bisa kita miliki harus segera kita ambil. Dari situ lahir kekuatan batin yang tidak terlihat, tetapi sangat nyata.
2. Api yang Menghanguskan Keserakahan Duniawi
Keinginan duniawi sering menyamar sebagai kebutuhan. Kita merasa perlu lebih banyak harta, lebih banyak pengakuan, lebih banyak pujian. Puasa memperlihatkan betapa sedikit sebenarnya yang kita butuhkan untuk bertahan hidup. Rasa lapar membuka mata bahwa hidup tidak runtuh hanya karena tidak terpenuhi seketika. Secara sosial, kesadaran ini meruntuhkan budaya konsumtif yang menilai manusia dari apa yang ia miliki. Api puasa menghanguskan ilusi bahwa kebahagiaan terletak pada akumulasi. Yang tersisa adalah kesadaran bahwa cukup adalah bentuk kekayaan yang jarang disadari.
3. Api yang Melembutkan Ego
Ego sering tumbuh subur ketika semua keinginan terpenuhi. Ia membuat manusia merasa kuat, merasa berhak, merasa lebih dari yang lain. Namun saat tubuh lemah karena lapar, kesombongan perlahan mencair. Ada rasa ketergantungan yang diakui, ada keterbatasan yang tak bisa diingkari. Api puasa membakar kesan palsu tentang kemandirian mutlak. Dari abu ego yang terbakar, muncul kerendahan hati. Kita menjadi lebih mudah memahami orang lain, lebih lembut dalam berbicara, dan lebih sadar bahwa kita hanyalah bagian kecil dari tatanan yang lebih luas.
4. Api yang Menjernihkan Hati
Ketika nafsu mereda dan ego melemah, hati memiliki ruang untuk berbicara. Dalam keheningan puasa, pikiran menjadi lebih reflektif. Kita mulai menilai ulang tujuan hidup, arah langkah, dan makna yang selama ini dikejar. Api puasa tidak hanya membakar, tetapi juga memurnikan. Seperti emas yang dilebur untuk menghilangkan kotoran, jiwa yang ditempa oleh lapar menjadi lebih jernih. Ada kedamaian yang muncul bukan karena semua keinginan terpenuhi, tetapi karena kita tidak lagi diperbudak olehnya.
5. Api yang Mengubah Bukan Menghancurkan
Banyak orang takut pada api karena ia identik dengan kehancuran. Namun api puasa adalah api yang membentuk. Ia tidak memusnahkan diri kita, melainkan mengubahnya. Ia mengajarkan bahwa pengendalian diri adalah kebebasan sejati. Ketika kita mampu menahan yang halal demi ketaatan, kita sedang melatih diri untuk menjauhi yang merusak. Dari proses itu lahir manusia yang lebih matang, lebih tenang, dan lebih sadar akan nilai hidup yang hakiki. Api itu mungkin terasa panas, tetapi di dalam panasnya tersembunyi rahmat yang menumbuhkan.
Jika puasa adalah api yang membakar nafsu dan keinginan duniawi kita, beranikah kita membiarkan seluruh kerak ego itu benar benar hangus, atau justru kita masih menyisakan sebagian yang diam diam ingin tetap hidup di dalam diri?
Sumber dari Suluksalik
About roslanTv Tarekat
Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:
Catat Ulasan