Fana dalam Kesadaran, Baqa dalam Kehidupan
Ini adalah integrasi sempurna memahami Makrifatullah yaitu Fana dalam Kesadaran, menuju Baqa dalam kehidupan
Pada tahap ini, yang gugur bukan diri,
melainkan keakuan yang memisahkan diri dan Tuhan melalui koneksi 4 Tajalinya dalam diri yang nyata disadari, dirasakan dan disaksikan.
Hijab-hijab tipis yang dulu menutup pandangan batin mulai tersingkap.
Bukan karena kita mencapai Tuhan,
tetapi karena kesadaran kita ditundukkan.
“Aku” tidak lenyap menjadi Tuhan , TAPI
“Aku” kembali sebagai hamba yang sadar.
Di sinilah makna firman-Nya terasa hidup:
Sesuai firmanya QS Al-Baqarah: 115
Milik Allah-lah timur dan barat. Maka ke mana pun kamu menghadap, di sanalah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 115)
Melihat disini bukan melihat Dzat, tetapi menyaksikan 4 tajalli-Nya dalam setiap kejadian.
Kesadaran tidak lagi terkurung pada diri pribadi.
Nafas menjadi dzikir tanpa suara.
Diam menjadi tafakur yang hidup.
Gerak menjadi ibadah.
Hati tidak lagi reaktif — ia responsif.
Tidak lagi menghakimi — ia memahami.
Tidak lagi mencari pembenaran — ia mencari ridha.
Di titik ini, seseorang tidak merasa lebih suci dari siapa pun. Justru semakin merasa kecil di hadapan Kebesaran-Nya.
Bukan kegembiraan karena dunia tunduk,
melainkan karena hati tunduk.
Sujud terasa sebagai kepulangan.
Doa terasa sebagai percakapan intim.
Takdir terasa sebagai pelukan.
Inilah sakinah yang tidak bergantung keadaan.
Semua ujian sebelumnya ternyata bukan hukuman, tetapi pembentukan.
Air mata adalah cara jiwa dibersihkan.
Kehilangan adalah cara hati dilapangkan.
Kesendirian adalah cara Allah mendidik kedekatan.
Kini ia memahami:
tidak ada fase yang sia-sia.
Sumber dari FB

0 comments:
Catat Ulasan