MENGAPA NABI MENUNGGANG BUROQ SEWAKTU ISRA MI'RAJ....
Maka disini saya akan coba menjelaskannya secara bertahap, seimbang, dan berhati-hati, agar tidak keluar dari adab syariat, namun tetap membuka kedalaman makna sesuai dalam majelis ilmu.
Secara zahir, Allah Maha Kuasa untuk mengangkat Rasulullah ﷺ ke langit tanpa kendaraan apa pun, Namun Allah memilih mengangkat nabi dengan Buraq, dan pilihan Allah pasti yang terbaik dan pasti mengandung hikmah.
Berikut beberapa hikmahnya :
1 - Untuk Menegaskan kemanusiaan Rasulullah ﷺ yaitu bahwa Rasulullah juga manusia biasa.
2 - Untuk Menegaskan bahwa Peristiwa Isra’ Mi‘raj itu benar benar terjadi jasad dengan ruh, bukan terjadi di dalam mimpi.
3 - Kendaraan buroq menegaskan bahwa perjalanan isra mi'raj itu nyata dengan fisik, bukan sekadar pengalaman batin saja.
4 - Untuk Menjadi hujjah bagi umat manusia, bahwa secara akal Manusia terbiasa untuk berpindah harus dengan menggunakan sarana. Maka Allah menghadirkan sesuatu yang dapat dipahami manusia, meski ini luar nalar.
5- Sebagai Adab perjalanan makhluk menuju sang Khalik, Dalam sunnatullah, makhluk bergerak dengan sebab, walaupun Allah tidak membutuhkan sebab.
Rasulullah ﷺ bersabda:
قال رسولُ الله ﷺ:
«أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ، طَوِيلٌ، فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ، فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ…»
Artinya:
“Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu hewan berwarna putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, yang setiap langkahnya sejauh mata memandang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini menunjukkan:
1 Buraq adalah makhluk Allah yang nyata
Bukan khayalan.
2 Buroq Diciptakan khusus untuk tugas agung
Dalil Al-Qur’an (isyarat umum)
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari…”
(QS. Al-Isra ayat : 1)
Kata “bi ‘abdihi” (dengan hamba-Nya) menunjukkan jasad dan ruh, dan perjalanan membutuhkan wasilah.
Para ulama tasawuf juga sepakat tentang buroq dan tidak menafikan Buraq secara zahir, akan tetapi pada sisi lain ulama tasawuf menambahkan makna batin yang tersirat dari wujud buroq dan bukan menggugurkan makna zahir.
Kata Buroq berasal dari بَرْقٌ (barq) = kilat / cahaya.
Isyaratnya adalah : Perjalanan ruhani yang sangat cepat menuju hadirat Allah.
Buraq melambangkan:
- Transisi dari alam mulk ke alam malakut
- Kecepatan tajalli Ilahi.
- Cahaya yang membawa ruh keluar dari keterikatan bumi.
Dalam ajaran tasawuf:
Nafs yang liar =
penghalang mi‘raj bagi ruh
Nafs yang tunduk =
kendaraan menuju Allah.
Buraq hanya :Jinak kepada Nabi ﷺ
Dan tidak jinak kepada selain beliau.
Ini meng isyaratkan :
Tidak setiap orang bisa menunggang “kendaraan mi‘raj” kecuali mereka yang telah menyucikan jiwanya .
Nafs yang telah ditazkiyah → menjadi Buraq
Nafs yang liar → menjadi penghalang
Buraq adalah isyarat:
Bahwa mi‘raj yang hakiki hanya dapat terjadi bila sifat kehambaan telah sempurna.
Para arif berkata:
“Siapa yang ingin naik tanpa adab, maka ia akan terjatuh.”
Buraq mengajarkan: Syariat dahulu, Adab dahulu, Wasilah dahulu
Baru setelah itu:
Kesimpulan Zahir :
Buraq adalah makhluk yang nyata , yaitu Kendaraan untuk membawa Isra’ mi'raj Nabi ﷺ
Dalilnya shahih.
Makna Batin : Buroq adalah Simbol cahaya Ilahi, Simbol nafs yang telah jinak.
Isyarat bahwa mi‘raj butuh wasilah dan adab.
Hakikat yang tersirat :
Buraq adalah rahmat Allah agar manusia tahu dan sadar bahwa jalan ke langit tidak dapat ditempuh dengan kesombongan,
tetapi dengan kehambaan.
Para arif billāh berkata:
“Mi‘raj Rasulullah ﷺ sekali saja itu terjadi secara nyata jasad dan ruh,
sedangkan mi‘raj umatnya dapat berulang-ulang yaitu secara ruhani saja."
Jadi maknanya :
Isra’ Mi‘raj Nabi ﷺ = peristiwa agung yang luar biasa.
Mi‘raj salik = perjalanan batin menuju Allah.
2. Apa itu Latāif....?
Dalam Thariqah Naqsyabandiyah dikenal tujuh latifah:
Latīfat al-Qalb
Latīfat ar-Rūḥ
Latīfat as-Sirr
Latīfat al-Khafī
Latīfat al-Akhfā
Latīfat an-Nafs
Latīfat Kullu al-Jasad
Latāif ini adalah “kendaraan ruhani”, apabila
Disucikan dan Dihidupkan dengan dzikir serta
Dijaga adab dan syariat.
A. Buraq = Latīfah an-Nafs yang telah jinak
Secara hakikat.
Nafs sebelum disucikan → akan liar, memberontak
Nafs setelah si tazkiyah → tunduk dan taat.
Isyaratnya:
Nafs tidak akan dapat di tunggangi menjadi kendaraan untuk menuju Allah,
kecuali bagi orang yang menundukkannya nafs sepenuhnya.
Maka dalam perjalanan suluk :
Nafs Ammārah
= penghalang mi‘raj
Nafs Muthma’innah
= Buraq batin
Buraq berjalan sejauh mata memandang
Isyaratnya:
Qalbu yang terbuka Bashīrah (mata hati) telah hidup
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Artinya : Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."
(QS. Al-Hajj ayat : 46)
= Perjalanan Maqom Latāif yang Bertahap
Isyarat:
Latāif adalah kendaraan,
namun hakikat qurb adalah anugerah Allah semata.
Hakikat Buraq
Buraq = nafs yang telah disucikan.
Kendaraan mi‘raj = qalb yang hidup.
Kecepatan mi‘raj = dzikir yang istiqomah.
Sampai Sidrah = batas makhluk.
Masuk Haḍrah = anugerah Allah.
Barangsiapa menjinakkan nafsnya,
menghidupkan qalbnya,
dan menjaga adabnya,
maka Allah akan memberi mi‘raj batin
sesuai kadar kehambaannya.
Sumber dari Haris Haris

0 comments:
Catat Ulasan