KISAH TRAGIS SAYYIDINA HASAN BIN SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB R'A

 


KISAH TRAGIS SAYYIDINA HASAN BIN SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB R'A , DI RACUN ISTRI YANG BERKHIANAT DENGAN YAZID
Hasan bin Ali bin Abi Thalib, adalah cucu tercinta Rasulullah.
Ia anak dari putri kandung Rasulullah, Fatimah Az Zahra. Rasulullah sangat menyanyangi cucunya, yakni Hasan dan Husein. Bahkan nama kedua cucunya itu, Baginda ambil langsung dari surga.
Belum pernah orang Arab memakai nama itu.
Keterangan ini dapat kita temukan dalam kitab Tārīkh al Khulafā, karya Imam Jalaluddin Suyuthi. Rasulullah sendiri mengaku nama tersebut merupakan nama penghuni surga. Sengaja beliau pilihkan untuk kedua cucunya tersebut. Simak teks dari Imam Suyuthi berikut;
أخرجه ابن سعد عن عمران بن سليمان، قال: الحسن والحسين اسمان من أسماء أهل الجنة ما سمت العرب بهما في الجاهلية
Artinya; meriwayatkan oleh Sa’ad dari ‘Imran bin Sulaiman, dia berkata: nama Hasan dan Husein adalah dua nama dari nama-nama penghuni surga, dan tidak ada seorang Arab pun yang memakai nama tersebut di zaman Jahiliyyah.
Dari segi perawakan wajah, tubuh, dan sikap, Hasan terbilang mirip dengan Rasulullah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas dia berkata: “Tidak ada seorang pun yang amat mirip dengan Rasulullah daripada Hasan bin Ali. Di samping itu, Rasulullah sangat mencintai Hasan.
Kecintaan Rasulullah terhadap Hasan dapat kita temukan dalam pelbagai riwayat hadis. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim— bersumber dari Bara’—, suatu waktu dia melihat Rasulullah sedang mengasuh Hasan. Kemudian meletakkan Hasan bin Ali di atas pundaknya, seraya berkata;
اللهم إني أحبه فأحبه
Artinya; “Ya Allah, saya mencintainya, maka cintailah dia,”.
Hasan Menjabat Khalifah
Tak bisa dipungkiri, tragedi malang menimpa Ali. Khalifah Khulafaur Rasyidin ke empat itu mati terbunuh. Ia ditusuk Abdurrahman bin Muljam pada tanggal 26 Januari 661 di Masjid Agung Kufah. Pembunuhnya seorang Khawarij. Yang kecewa atas keputusan Ali yang menyerah kekuasaan pada Muawiyah melalui abitrase.
Sepeninggal Ali, Hasan menjabat khilafah setelah ayahnya terbunuh. Dia dibaiat oleh penduduk Kufah. Dia tinggal di Kufah selama enam bulan dan beberapa hari. Imam Jalaluddin Suyuthi dalam Tārīkh al Khulafā, menjelaskan bahwa di masa Hasan berkuasa, Mu’awiyyah datang menemuinya. Ia meminta Hasan menyerahkan tampuk kepemimpinan padanya. Sebab Ia yang berhak memimpin umat Islam.
Dengan lapang dada, Hasan kemudian mengirimkan utusan dan menyerahkan semua kekhilafahan pada Mu’awiyyah. Akan tetapi dengan pelbagai persyaratan. Kelak ketika ia telah tiada kepemimpinan itu akan diserahkan kembali kepadanya. Di samping itu, Muawiyah jangan menuntut apa pun dari penduduk Madinah, Hijaz dan Irak atas apa yang terjadi pada masa pemerintahan ayahnya. Dan ia juga meminta Muawiyah meminta membayar utang-utangnya.
Ia resmi mengundurkan diri pada bulan Rabiul Awal tahun, tahun 41 Hijrah. Langsung saja, keputusan itu ditentang penduduk Kufah. Para sahabat yang pro padanya, menyayangkan keputusan ceroboh Hasan. Ia dituding sebagai pengkhianat. Juga dicap sebagai orang yang menghinakan kaum muslimin. Imbas dari tindakan menyerahkan kekuasaan pada Muawaiyah bin Abi Sufyan.
Mendapat cemohoan itu Hasan berkata;
لست بمذل المؤمنين، ولكني كرهت أن أقتلكم على الملك
Artinya: Saya bukanlah orang yang menghinakan kaum mukminin, namun saya tidak suka membunuh kalian Lantaran berebut kekuasaan
Kematian Hasan Sebab Diracun Istrinya
Adapun sejarah mencatat Hasan wafat di Madinah. Terjadi perselisihan pendapat tentang waktu kematiannya. Ada yang menyebut pada tahun 49 Hijrah. Ada juga yang menyebutkan pada tanggal 5 Rabiul Awal tahun 50 Hijrah. Pun ada yang mengatakan tahun 51 Hijrah.
Yang cukup mengangetkan adalah sebab kematian Hasan bin Ali. Jalaluddin Suyuthi mengungkap misteri kematian Hasan sebab diracun. Ia diberikan racun yang mematikan di makanannya. Yang membuat dirinya harus kehilangan nyawa.
Yang memberikan racun pada Hasan adalah seorang perempuan bernama Ja’dah binti Asy’ats bin Qais. Ja’dah binti Asy’ats tak lain merupakan istri Hasan sendiri. Tragis. Kejam. Dan mencengangkan.
Lantas apa motif Ja’dah membunuh Hasan? Dalam kitab Tārīkh al Khulafā, dijelaskan Ja’dah terkena tipu dan rayu Yazid bin Muawiyah. Awalnya, Yazid merayu agar memberikan Hasan racun. Jika Hasan mati, maka Sa’dah akan dijadikan istri oleh Yazid bin Muawiyah.
Terpedaya hasutan Yazid, akhirnya Ja’dah pun tega membunuh suaminya sendiri. Membunuh lelaki yang menyayanginya. Membunuh cucu tercinta Rasulullah. Demikianlah kekejaman Ja’dah—wanita di balik kematian tragis Hasan.
Melihat kakaknya berpenyakit, Husein bin Ali—adik dari Hasan bin Ali—, mendesak saudaranya itu memberitahu pelaku yang tega meracuninya. Namun, Hasan enggan memberitahunya. Ia berkata;
“Allah lebih keras balasannya, jika dugaan ku benar bahwa aku diracun. Jika tidak, demi Allah jangan sampai ada orang yang tidak berdoa ikut terbunuh karena diriku,” kata Hasan pada saudaranya.
Menjelang ajalnya, Hasan berwasiat pada Husein, jika kelak ia meninggal, ingin dikuburkan dengan jenazah kakeknya, Nabi Muhammad. Ia pun telah berbicara dengan Aisyah binti Abu Bakar (Neneknya). Kabarnya, Aisyah telah menyetujuinya. Namun, bila ada orang yang tak setuju dan menolak wasiatnya, Hasan meminta Husein agar tak melawan.
Ketika telah wafat, Husein menemui Aisyah dan menyampaikan wasiat Ali. Sayang, Gubernur ketika itu, Marwan melarangnya. Penguasa Madinah itu menentang wasiat itu. Ia tak menginginkan Hasan dikuburkan dekat jenazah Rasulullah. Hampir saja terjadi kontak senjata, untungnya Abu Hurairah datang melerai.
Akhirnya, Hasan dikuburkan di Baqi. Bersebelahan dengan kuburan ibundanya, Fatimah bin Muhammad. Itulah akhir riwayat hidup cucu Nabi Muhammad. Kelam. Menyakitkan. Dan penuh duka. Ditipu Muawiyah soal kekhalifahan. Dikhianati istri sendiri. Itulah sisi kelam, sejarah Islam.
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa 'Ala 'Ali sayyidina Muhammad.

[ Simber dari KUMPULAN SYAIR SUFI JALALUDDIN RUMI DAN LAINNYA. ]


Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan