*Mencari Mursyid - Siapa, Di Mana Dan Bagaimana Mengenalinya?*

 

*SEORANG GURU MURSYID*

*Mencari Mursyid - Siapa, Di Mana Dan Bagaimana Mengenalinya?*

Dalam Tasawuf, peranan seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.

Tuan Guru Dr. Hj Jahid Sidek Al - Khalidi

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.
Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri.
Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif / khatir-khatir (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal:
“Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan”.
Allah Swt. berfirman:
“Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid” (Al-Qur’an).
Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”
Abu Yazid al Busthami mengatakan: “Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya“.
Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”
Jadi jelas bahwa Wali Allah adalah manusia bukan dari golongan Nabi namun mempunyai keistimewaan atau derajat di sisi Allah Azza wa Jalla yang untuk mengenal dan mendekat kepada mereka hanyalah bagi hamba Allah yang dikehendakiNya
Dari Abu Umamah ra, Rasulullah saw bersabda: “berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung: “Diantara para wali-Ku di hadhirat-Ku, yang paling menerbitkan iri-hati ialah si mu’min yang kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam shalat, yang paling baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak tertuding dengan telunjuk. Rezekinya pas-pasan, tetapi iapun sabar dengan hal itu.”
Kemudian Beliau saw menjentikkan jarinya, lalu bersabda: ”Kematiannya dipercepat, tangisnya hanya sedikit dan peninggalannya amat kurangnya”. (HR. At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal)
Dari hadits di atas bisa diketahui bahwa Wali Allah adalah mereka yang paling baik ibadatnya, paling taat kepadaNya dan paling zuhud di dunia
Semoga kita bisa tetap ber-istiqomah dlm beribadah dan beramal, karena datangnya petunjuk untuk bertemu seorang wali/guru mursyid bukanlah dari upaya kita, namun semua adalah rahmat dan hidayah dari Allah semata. Dan *Terbuktilah ucapan Pangeran Sufi Syech Al Junaid bahwa; “ Untuk mengenal Allah haruslah dengan Allah”.*

Tuan Guru Dr. Hj Jahid Sidek Al - Khalidi

*Mursyid*
Perkataan mursyid berasal dari kata irsyada, yaitu memberi tunjuk-ajar. Dengan kata lain, mursyid berarti, seseorang yang ahli dalam memberi tunjuk-ajar terutama dalam bidang spiritual, dalam istilah para sufi.
Mursyid secara istilahnya (menurut kaum sufi) adalah mereka yang bertanggung jawab memimpin murid dan membimbing perjalanan rohani murid untuk sampai kepada Allah s.w.t., dalam proses tarbiah yang teratur, dalam bentuk tarekat sufiyah.
Para mursyid merupakan golongan pewaris Nabi s.a.w. dalam bidang pentarbiah umat dan pemurnian jiwa mereka (tazkiyah an-nafs), yang mendapat izin irsyad (izin untuk memberi bimbingan kepada manusia) dari para mursyid mereka sebelum mereka, yang mana mereka juga mendapat izin irsyad dari mursyid sebelum mereka dan seterusnya, sampai silsilah izin irsyad tersebut sampai kepada Rasulullah s.a.w. (tanpa terputus turutannya). Jadi pada kebiasaannya, ia dari keturunan ulama.
Para mursyid bertanggung jawab untuk mengajar dari sudut zahir (syariat) dan makna (batin). Antara fitur seseorang yang digelar mursyid adalah:
Memiliki ilmu agama yang jelas tentang hal-hal Fardu Ain
Dia adalah seorang yang kamil dari sudut muamalah dengan Allah s.w.t.
Mendapat pengakuan atau konfirmasi dari mursyidnya (guru) yang diakui (tidak putus dalam urutan pengajaran).
Manhaj tarbiah yang sejalan dengan panduan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
*Pengertian Mursyid*
Kata Mursyid berasal dari bahasa arab yaitu isim fail dari أرشد- يرشد yang berarti orang yang memberikan petunjuk jalan atau dalam bahasa Inggeris disebut 'guide'.
Mursyid adalah seorang guru pembimbing dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat. Mengingat pembahasan dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat adalah tentang Allah yang merupakan DZAT yang tidak bisa diindera, dan rutinitas thariqah adalah dzikiryang sangat dibenci syetan. Maka untuk menjaga kebenaran, kita perlu bimbingan seorang Mursyid untuk mengarahkannya. Sebab penerapan Asma’ Allah atau pelaksanaan dzikir yang tidak sesuai bisa membahayakan secara ruhani maupunmental, baik terhadap pribadi yang bersangkutan maupun terhadap masyarakat sekitar. Bahkan bisa dikhawatirkan salah dalam beraqidah.
Seorang Mursyid inilah yang akan membimbing kita untuk mengarahkannya pada bentuk pelaksanaan yang benar. Hanya saja bentuk ajaran dari masing-masing Mursyidyang disampaikan pada kita berbeda-beda, tergantung aliran thariqah-nya. Namun pada dasarnya pelajaran dan tujuan yang diajarkannya adalah sama, yaitu cantik ila-Allah.
*Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya.* Mursyid itu berupaya mengukur keupayaan jiwa anak didiknya.
*Syarat-syarat Seorang Mursyid*
Menjadi guru tarekat (Mursyid) tidaklah semudah seperti menjadi guru pada umumnya. Seorang Mursyid harus memiliki kualifikasi khusus. Para ulamak sufi menetapkan syarat-syarat guru tarekat seperti ungkapan di bawah ini :
ومن شرائط الشيخ ان يكون عالما بالاوامر الشرعية عاملا بها واقفا على اداب الطريقة سالكا فيها كاملا فى عرفان الحقيقة وواصلا اليها ومحرصا عن جميع ذلك
Artinya : “Diantara syarat guru tarekat adalah alim atas perintah-perintah syara`, mengamalkannya, tegak di atas adab-adab tarekat serta berjalan di dalamnya, sempurna pengetahuannya tentang hakekat dan sampai pada hakekat itu serta ikhlas dalam semua hal tersebut”.
Imam Al-Junaidi ra. menyatakan:
علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة فمن لم يقرأ القران ولم يكتب الحديث
ولم يجالس العلماء لايقتدى به فى هذا الشأن
Artinya : “Ilmu kita ini (tarekat) terikat oleh Al-Qur`an dan Assunnah. Siapa saja yang belum belajar Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tidak pula pernah duduk di depan para Ulama (untuk menuntut ilmu) orang tersebut tidak boleh diikuti di dalam tingkah laku tarekat ini”.
Secara asanya ada empat syarat yang harus dimiliki seorang mursyid agar dia dapat memberikan petunjuk dan bimbingan kepada manusia. Keempat syarat itu adalah :
1. Dia harus mengetahui semua hukum Fardhu ‘ain.
Seorang Mursyid mengetahui semua hukum fardhu ‘ain, seperti hukum-hukum salat, puasa, zakat bila sampai nisab, muamalah, jual beli apabila dia bergelut di dunia perdagangan, dan hukum-hukum Islam lainnya. Disamping itu, dia harus mengetahui akidah Ahli sunnah dalam masalah tauhid. Dia harus mengetahui apa-apa yang wajib bagi Allah, apa-apa yang jaiz bagi-Nya, dan apa-apa yang mustahil bagi-Nya, baik secara global maupun secara detail. Demikian juga halnya dengan Rasul dan rukun iman lainnya.
2. Dia perlu berMakrifat atau mengenal Allah.
Seorang Mursyid harus mengaktualisasikan akidah Ahli Sunnh dalam perbuatan dan keyakinannya, setelah dia mengetahuinya sebagai ilmu. Dia harus mengakui di dalam hati dan jiwanya kebenaran akidah tersebut. Dia harus bersaksi bahawa Allah itu Esa di dalam DZAT-Nya. Disamping itu, dia juga harus mengetahui kehadiran nama-nama Allah, baik dengan cita rasa spiritualnya maupun dengan pandangan mata hatinya, lalu mengembalikannya kepada kehadiran yang tunggal yang mencakup semuanya. Dia tidak meragukan banyaknya nama-nama Allah, sebab banyaknya nama tidak menunjukkan banyaknya DZAT.
3. Dia perlu mengetahui teknik-teknik pensucian jiwa dan proses mendidiknya
Seorang Mursyid harus mensucikan jiwanya terlebih dahulu dibawah bimbigan seorang pendidik spiritual atau Mursyid. Dengan demikian, dia mengetahui tingkatan-tingkatan jiwa, penyakit-penyakitnya dan godaan-godaannya. Dia mengetahui penghalang bagi setiap fase perjalanan dan cara menaganinya sesuai dengan kondisi setiap orang.
4. Dia mestilah seorang yang mempunyai makrifat khassah.
Maksudnya seorang Mursyid itu hendaklah seorang yang sudah mencapai tahap rasa takutkan Allah yang membekas di hati dan peribadinya. Ini semua dapat dilihat dan dirasa oleh orang yang mempunyai basirah terutama ulamak amilin sezamannya. Begitu juga dia adalah seorang yang sentiasa terhubung hatinya dengan Rasulullah saw. Semua anugerah makrifat ini didapatkannya samada dari hasil mujahadah atau dari anugerah Allah padanya. Ketulusan hati dalam mendapatkan Allah menjadikan jalannya menuju Allah itu terbentang luas dengan keberkatan junjungan mulia Rasulullah saw.
Rasulullah s.a.w. pernah berwasiat kepada Ibnu Umar tentang hal itu dalam sabdanya, “ Hai Ibnu Umar, agamamu, agamamu. Sesungguhnya dia adalah daging dan darahmu. Maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambilnya. Ambillah agama dari orang-orang yang istiqamah, dan janganlah engkau mengambilnya dari orang-orang menyimpang.”(HR. Ibnu ‘Ady).
Diantara tanda-tanda Mursyid Kamil ialah seperti berikut:
a. Wujudnya rasa tenang, lapang dan sejahtera ketika bersamanya.
Jika kita duduk bersamanya, maka kita akan terasa adanya hembusan iman dan aroma yang menyejukkan jiwa. Dia tidak berbicara selain tentang Allah, tidak mengucapkan selain kebaikan dan tidak bercakap selain memberi nasihat dan pengajaran. Semua yang diungkapkan adalah ilmu yang mendidik jiwa serta mencetus keinsafan. Kita dapat mengambil manfaat dari pergaulan dengannya, sebagaimana dari pembicaraannya. Kita dapat mengambil manfaat ketika kita berada dekat dengannya, sebagaimana kita memperolehinya ketika jauh darinya. Memandangnya sahajapun mendapat manfaat jiwa apatah lagi mendengar bicaranya!!
b. Wujudnya aura kasih sayang yang luar biasa.
Kita mendapatkan potret keimanan, keikhlasan, ketakwaan dan kerendahan hati pada diri nya dan para muridnya. Ketika kita bergaul dngan mereka, kita terkesan dengan sifat-sifat mulia, seperti cinta kasih, kejujuran, tolong menolong, bekerjasama, bantu membantu dan persaudaran yang tulus. .
Seramai manakah jumlah murid yang belajar kepada seseorang Mursyid itu bukan ukuran. Tapi yang dinilai adalah tahap rasa takutnya mereka kepada Allah. Sejauh mana terbebasnya mereka dari noda-noda dan penyakit-penyakit jiwa dan adakah mereka dapat istiqamah perjalanan mereka menuju Allah.
c. Ciri pengikutnya datang dari berbagai status.
Inilah ciri para sahabat Rasulullah s.a.w. Mereka muncul dari pelbagai latar belakang sosial. Para murid bagi mursyid ini datang dari berbagai bangsa, negara, status sosial, kepakaran dan pengalaman. Kepelbagaian mereka adalah tanda kesyumulan dakwah yang dijayakan oleh seseorang mursyid itu.
Maka keuntungan mendapat seorang Mursyid akan mendorong murid untuk mengambil ilmu darinya, terus bergaul dengannya, berakhlak seperti akhlaknya, serta mengamalkan nasihat dan bimbingannya, demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Jadi mursyid itu berjaya mengumpulkan murid-muridnya yang berbeza latar belakang untuk berada di wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana semuanya seiringan dalam bermujahadah untuk membebaskan diri dari cinta dunia dan takut mati.
Mungkin sebahagian muridnya sudah berjaya mencapai tahap kekasih Allah yang sudah menyerahkan hidup matinya untuk membela Allah dan Rasul.
Dalam al-Qur’an disebutkan:
“Ingatlah, bahawa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah.”
Tidak takut dan tidak gentar adalah tanda kewalian. Mereka tidak merasa gelisah atau susah. Justeru tanda kejayaan mursyid itu ialah berjaya melahirkan murid-murid yang sebegini. Gabungan mursyid dan murid yang mantap inilah yang melonjakkan para murid yang lain untuk terus meningkatkan diri masing-masing.
Secara umum, mereka senada dan seirama dalam hal berikut:
1. Mempunyai rasa takut kepada Allah swt. dengan sebenar-benar takut. Ini semua dapat dilihat pada ibadah mereka yang dilakukan sungguh-sungguh dengan penuh khusyuk.
2. Sangat fanatik dengan Sunnah Nabi Saw. samada dari sudut kata-kata, akhlak,
tindakan, pergaulan dan jiwa perjuangan.
3. Tidak mengharap kepada manusia. Pemusatan jiwa mereka hanya kepada Allah di mana jua mereka berada, dalam situasi apa sekalipun dan pada bila-bila masa.
4. Sangat redha dengan apa jua ketentuan Allah. Susah payah, senang atau derita -
semuanya baik pada mereka kerana kuatnya keyakinan hati mereka dengan Allah.
5. Sangat berkasih sayang sesama mereka. Masing-masing saling menggembirakan
orang lain. Mengutamakan orang lain adalah kunci perpaduan dan kebahagiaan yang
tidak mudah berlaku di dalam masyarakat yang tidak mempunyai mursyid.
Kesimpulannya, hasil didikan mursyid yang sebegini, akan lahirlah masyarakat yang mempunyai:
1) Himmah yang tinggi.
Mereka mempunyai kekuatan jiwa yang kental, tahan deng ankesusahan dan kesulitan. Mereka sanggup menderita demi membina sistem hidup berlandaskan cara hidup Rasulullah saw. Bukankah sikap tidak mementingkan diri itu akan menjadikan seseorang itu memberikan apa yang dimilikinya untuk membahagiakan orang lain yang menderita?
2) Menjaga kehormatan.
Kemuliaan seseorang insan itu pada nilai rasa takutnya kepada Allah. Hamba yang takut akan sentiasa menjaga dan mengawal diri dari terjebak dengan maksiat dan mungkar. Sekali terbuat salah, mereka rasa malu dengan Allah. Mereka sanggup menebus rasa bersalah itu lebih banyak berkorban, bersedekah dan membela orang lain. Masyarakat yang dididik muryid ini adalah masyarakat yang tidak terjebak dengan dosa yang mengaibkan. Mereka mungkin sekali sekala berbuat dosa kecil yang segera pula ditaubatkan.
3) Amal bakti yang baik.
Antara kebahagiaan orang yang takutkan Allah ialah berbuat bakti sesama manusia. Siapa sahaja akan menjadi sasaran kebaikannya. Jika mereka bersalah, tindakan mereka ialah meminta maaf. Jika mereka disakiti, balasannya adalah kemaafan, Jika mereka dibantu, mereka membalasnya dengan apa sahaja yang mereka miliki. Jika mereka dihargai, dipuji dan disanjung, mereka akan kembalikan semuanya kepada Allah yang maha memiliki. Mereka tidak sempat untuk merasa bangga atau istimewa. Orang lain tidak pernah tersinggung atau sakit hati dengan mereka.
4) Melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar.
Rasa takutkan Allah akan menjadikan seseorang itu sangat sensitif dengan dosa dan maksiat. Kasih sayang mereka dengan sesama manusia mendorong mereka berusaha memberi kesedaran dan keinsafan. Ianya terbit dari hati yang tulus untuk menyelamatkan seramai mungkin insan dari dibakar api eraka di akhirat. Sebab itu mereka berusaha menyedarkan umat dengan cara hikmah dan bijaksana. Mereka tidak akan terjebak dengan cara militan, kekerasan atau revolusi. Para mursyid sentiasa mengutamakan kasih sayang dan perpaduan. Islam yang selamat dan menyelamatkan itulah yang sentiasa ditonjolkan. Justeru mereka pelbagaikan kaedah dan pendekatan dakwah agar masyarakat mendapat Allah dan Rasul. Kebahagiaan mereka ialah jika mereka berjaya mempromosi Allah dan Rasul dengan cara yang lunak dan indah.
5) Mengagungkan Nikmat Allah Swt.
Orang-orang Allah yang dididik mursyid adalah kelompok yang hati mereka tidak putus dengan Allah. Justeru mereka akan sentiasa nikmat Allah yang tidak terhingga. Itulah kesibukan mereka. Nikmat Allah itu mahu disyukuri. Seboleh-bolehnya tidak ada nikmat yang tdak disyukuri. Mereka mahu membilangnya tanpa henti. Sebab itu akan kelihatan jelas bagaimana mereka membesarkan nikmat Allah. Mereka akan perlihatkan nikmat itu dengan sehebat-hebatnya agar manusia lain juga turut kagum dengan Allah. Sebab itu mereka akan menghias cantik, menyusun atur kelengkapan apa saja dengan kemas, menarik dan kelihatan hebat. Tarafnya melebihi hotel paling mahal di dunia. Mereka tidak rasa hak mereka kerana semuanya adalah milik Allah yang mesti dikembalikan padaNya dalam bentuk penuh kehebatan dan keagungan.
Dari sini, jelaslah bahawa setiap sufi di zaman ini hendaklah mencari mursyid benar-benar memenuhi ciri-ciri di atas. Islam di akhir zaman mesti dilihat hebat dan berwibawa. Hanya mursyid yang dipimpin Allah sahaja yang mampu berbuat sebegini rupa. Dialah yang akan berjaya sampai kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Dialah yang akan menjadi suri teladan paling sempurna di zamannya.
Tentulah kita sedar, bagaimana Jibrail membimbing Rasulullah saw ketika dibawa menuju Allah dalam Isra’ dan Mikraj. Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini sama dengan fungsi Mursyid di mata kaum sufi.
Hal yang sama, ketika Nabi Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani Nabi Khidir as. Hubungan Nabi Musa dan Nabi Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Mursyidnya. Maka dalam soal-soal rasional serta logik, Nabi Musa as sangat progresif. Tetapi ternyata Nabi Musa tidaklah sehebat Nabi Khidir dalam soal batiniyah. Hakikatnya mereka berdua mempunyai bidang tugas di ruangan yang berbeza.
Inilah etika yang perlu difahami dalam menerima ilmu hakikat.
( SPIRITUAL KEBATINAN ILMU WEDARING JATI DIRI SANGKAN PARAN DUMADI / SPD )


Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan