MENGATUR FREKWENSI ILAHI


 MENGATUR FREKWENSI ILAHI

"Genggaman Tauhid Sesungguhnya"
Menembus ruang dan waktu pun kita tak mampu, bagaimana bisa menembus menghadap sang dzat tunggal? Menebus dosa-dosa di waktu lalu dan sekarang pun kita belum tentu diampuni, bagaimana bisa menginjakan kaki di syurga? Melakukan segala amal dan ibadah yang diperintahkan kita pun belum tentu dengan segala keikhlasan hati, bagaimana mungkin bisa menghindari api neraka yang bergejolak?
Berteriak saja diatas podium mimbar ceramah dengan penyampaian dalil-dalil Al-qur'an dan As-sunah, belum menjamin segala amal perbuatan kita diberkahi Allah SWT. Apalagi jika ceramah kita dibumbui caci-maki dan fitnah keji tanpa mencerminkan Akhlak yang sudah diajarkan Rasulullah Muhammad SAW. Pantaskah kita berharap syafaat kangjeng Nabi Muhammad SAW tetapi kita lupa mencontohkan diri kita sendiri bagaimana selayaknya akhlak Budi pekerti yang diajarkan beliau kepada kita. Pecinta Rasulullah Muhammad SAW pasti akan mencerminkan Akhlak beliau sebagai panutan hidupnya dalam segala perbuatannya, tidak ada pecinta tanpa akhlak yang dicintainya..bila ada yang berbeda maka itu cinta yang semu bahkan mungkin cinta yang palsu, bukan pecinta sesungguhnya.
Berzikir memperbanyak amaliyah saja dengan berbagai wiridan yang diajarkan Al-Qur'an dan As-sunah, belum menjamin do'a-do'a kita mustajabah diterima Allah SWT. Apalagi zikirnya kita hanya untuk mencari karomah-karomah atau kesaktian-kesaktian semata tidak fokus kepada Allah SWT yang seharusnya menjadi tujuan perjalanan suluk kita. Bermakrifat kepada Allah SWT bukan sekedar menghitung bilangan bacaan dan bukan sekedar mencari kehebatan karena jika itu tujuan berzikir maka kita tidak akan pernah sampai kepada dzat Allah SWT.
Bermakrifat merupakan perjalanan cahaya menempuh frekwensi yang menghubungkan signal yang kuat antara pecinta kepada yang dicintainya, yang memancarkan energi yang kuat antara makhluk dengan sang khaliknya, yang memberikan ikatan yang kuat antara hamba dengan sang penciptanya. Perjalanan menuju dzat Allah SWT merupakan perjalanan yang sangat jauh dan panjang yang hanya bisa ditempuh oleh mereka yang memiliki kekuatan iman kepada Allah SWT dan kekuatan iman kepada Nabi Muhammad SAW. Tanpa keyakinan akan pertolongan Allah SWT dan syafaat Nabi Muhammad SAW tidak mungkin kita dapat sampai menuju dzat Allah SWT. Tidak ada seorang manusia pun yang mampu bermakrifat kepada Allah SWT tanpa pertolongan Nabi Muhammad SAW karena hanya beliaulah yang telah mampu menemui Allah SWT dalam perjalanan Isra Mi'raj.
Mengatur frekwensi Ilahi dalam bermakrifat kepada Allah SWT maka kita harus mampu menggenggam keyakinan kita akan syafaat Nabi Muhammad SAW. Frekwensi Ilahi ada pada diri Nabi Muhammad SAW maka melalui shalawat yang kita sampaikan sebuah upaya kita menggenggam tali tauhid kita agar tersambung kepada Allah SWT yang kita tuju. Tidak akan sampai Munajat seseorang kepada Allah SWT tanpa syafaatnya Nabi Muhammad SAW maka begitu sangat pentingnya kita bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Kilauan cahaya Allah SWT hanya terpancarkan dari dzat Allah SWT itu sendiri, sehingga bukan cahaya yang menjadi tujuan suluk kita tetapi dzat Allah SWT sebagai dzat Maha Tunggal yang tidak ada persamaannya. Bermakrifat tujuannya bukan menuju cahaya tetapi menuju dzat Allah SWT, dan frekwensinya hanya bisa kita dapatkan melalui shalawat kepada kangjeng Nabi Muhammad SAW. Genggaman Tauhid kita ada pada dada Nabi Muhammad SAW sehingga frekwensi kita kepada Nabi Muhammad SAW harus kuat sekuat-kuatnya maka frekwensi kita kepada Allah SWT akan sama kuatnya terhubung kepada kita.
Siapa yang paling kuat menggenggam frekwensi tauhid maka mereka akan memiliki kedekatan diri kepada Allah SWT, gerakannya merupakan gerakan karena Allah SWT, tutur katanya merupakan tutur kata karena Allah SWT, kehidupannya merupakan kehidupan karena Allah SWT. Kejernihan frekwensi tauhid seseorang akan menguatkan keimanan dan keislaman orang tersebut selama hidupnya, ada ketetapan hati yang tidak bisa digoyahkan karena urusan duniawi yang remeh temeh karena lezatnya iman melebihi seisi dunia bentuk kekayaan seorang mukmin sesungguhnya bukan kekayaannya orang-orang munafik yang menjebakan dirinya dalam kepentingan dunia.
Karenanya dalam perjalanan suluk seyogyanya kita harus menghadirkan Mursyid yang terjamin kejernihan silsilah keilmuannya, jika silsilah ilmunya terjaga sampai kepada Nabi Muhammad SAW maka insya Allah perjalanan kita menuju dzat Allah SWT akan sampai pada waktunya dan tidak akan tersesat kepada selain Allah SWT. Genggaman tauhidnya akan jelas dan kuat, karena tali keimanan dan keislamannya terhubung langsung kepada Nabi Muhammad SAW hingga kepada Allah SWT. Selamat mengatur frekwensi Ilahi menuju perjalanan dalam genggaman Tauhid Sesungguhnya..
( Sumber dari : MZM, )
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen