Berguru Rabbani


 Berguru Rabbani

Dari penjelasan kitab dan ulama dapat disimpulkan bahwa tujuan Ilmu Tarekat
adalah untuk mengenal Allah,sedangkan
Tasawuf bertujuan untuk mengarahkan orang untuk mempelajari Ilmu Tarekat. Sebagai contoh, di dalam Tasauf terdapat ajaran bahwa belajar Tasawuf harus melalui guru sebagaimana dikatakan Abu Yazid al-Bisthami : ”Barang siapa yang menuntut ilmu
tanpa berguru, maka wajib syaitan gurunya”.
Adapun maksud dari ungkapan tersebut
bahwa belajar Tasawuf/tauhid/hakikat/ma’rifat harus melalui guru adalah bahwa Tasawuf sebagai suatu disiplin
ilmu tidak dapat dipelajari tanpa terlebih
dahulu mempelajari Ilmu Tarekat, dan
mustahil Ilmu Tarekat dapat dipelajari tanpa wasilah guru. Sebab Ilmu Tarekat adalah ilmu yang bersifat praktekal sedangkan Ilmu Tasawuf bersifat teori. Oleh sebab itu Tasawuf sebagai suatu disiplin ilmu tidak dapat berdiri sendiri tanpa didukung oleh Ilmu Tarekat.
Ertinya kita tidak akan dapat
memahami Ilmu Tasawuf tanpa bantuan guru,sebab tujuan dipelajarinya Ilmu Tasawuf adalah untuk mengenal Allah. Untuk dapat mencapai pengenalan kepada Allah tidak dapat dipelajari melalui teori, akan tetapi harus
berguru atau belajar secara langsung kepada orang(Ahlullah) yang telah dapat sampai menuju Allah sebagaimana Hadis Nabi SAW :
ﻋﻦ ﺩﻭﺩ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ
ﺍﻟﻠﻪ ﺹ ﻡ : ﻛُﻦْ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ
ﻣَﻊَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻜُﻦْ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻠﻪِ
ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻮْﺻِﻠُﻚَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ
“Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah serta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.”
(H.R. Abu Dawud)
Berdasarkan keterangan Hadis di atas
bahwa kita harus menyertakan diri kepada orang(Arifbillah) yang serta Allah, artinya kita harus belajar secara langsung kepada orang yang telah sampai maqam bersama Allah yang lazim disebut mursyid atau guru atau Syekh. Maka tidaklah berlebihan jika Abu Yazid al-Bistami berpendapat bahwa: ”Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka wajib syaitan gurunya” , pendapat tersebut didasarkan pada Hadis Nabi SAW :
ﻣَﻦْ ﻻَﺷَﻴْﺦٌ ﻣُﺮْﺷِﺪٌ ﻟَﻪُ ﻓَﻤُﺮْﺷِﺪُﻩُ
ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ
“Barangsiapa yang tiada Syekh
Mursyid (guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syaitanlah yang menjadi gurunya”.
Maksudnya adalah mustahil mereka dapat memahami ajaran Tasawuf tanpa melalui guru, apalagi untuk dapat mengenal Allah yang ghaib. Maka sudah barang tentu gurunya adalah syaitan, ertinya tanpa bantuan guru wasilah ilmu
mustahil Allah dapat dikenal.
Disinilah pentingnya kita mempunyai
Guru Pembimbing, yang sudah mencapai tahap makrifatullah, seorang Guru yang Arifbillah, sudah sangat berpengalaman melalui jalan kepada Tuhan sehingga dapatmemberikan kepada kita petunjuk agar dapat
selamat sampai ke tujuan.
Dengan bimbingan dari seorang mursyid/guru guna menunjukkan
jalan yang aman dan selamat untuk menuju Allah (ma’rifatullah ), maka peranan guru di sini
adalah seperti seorang guide yang hafal jalan dan pernah melalui jalan itu sehingga jika kita dibimbingnya akan dipastikan kita tidak akan tersesat jalan dan sebaliknya jika kita berjalan
sendiri dalam sebuah tujuan yang belum
diketahui, maka kemungkinan besar kita akan tersesat, apalagi jika kita tidak membawa peta petunjuk.
Namun mursyid dalam Tarekat tidak hanya membimbing secara lahiriah saja,
tapi juga secara batiniah bahkan juga
berfungsi sebagai wasilah antara seorang murid/salik dengan Rasulullah SAW dan Allah SWT. Dengan bahasa yang lebih mudah, bila diibaratkan sebagai sebuah kendaraan baik
berupa bas, kapal laut atau pesawat terbang yang dipandu oleh seseorang yang telah punya izin mengemudi dan berpengalaman untuk membawa kendaraannya dengan beberapa
penumpang di dalamnya untuk mencapai tujuan.
Oleh karena itu, untuk dapat
mengenal Allah tidak cukup hanya dengan pembuktian melalui dalil Naqli (Ayat-ayat dan Hadis) dan dalil Aqli (Akal) semata, akan tetapi untuk memperoleh pengenalan kepada
Allah anda memerlukan pembimbing rohani yang akan membimbing anda agar anda mengenal Tuhan yang anda "sembah" Esakan sampai kepada tingkat
makrifat yaitu dapat menyaksikan/shuhud Allah SWT.
Itulah sebabnya kenapa orang yang
hanya belajar dari bacaan akan memperoleh hasil bacaan pula. Sementara orang yang belajar dari seorang Guru yang Ahli akan
memperoleh hasil yang berwujud.
Jangankan ilmu makrifat kepada Allah, yang sangat halus dan tak terhingga hebatnya, ilmu biasa pun anda harus mempunyai Guru yang ahli. Anda
dapat mempelajari ilmu ekonomi dari bacaan akan tetapi anda tidak akan boleh menjadi seorang sarjana ekonomi hanya dengan membaca. Anda memerlukan Guru yang akan membimbing, menguji, sehingga
anda diakui sebagai seorang sarjana.
Begitu juga dengan ilmu kedoktoran, anda boleh memperoleh ilmu-ilmu tentang kedoktoran dengan cara membaca buku-buku yang
diajarkan di Fakulti Kedoktoran, akan tetapi anda tidak akan pernah dapat menjadi doktor atau diakui sebagai doktor jika anda tidak mempunyai Guru yang akan membimbing dan menguji anda. Kalau anda memaksakan diri menjadi doktor (Tanpa menuntut ilmu dari yang ahli), maka anda akan menjadi dokter palsu yang akan menyusahkan dan merugikan ramai orang.
Orang yang mengaku dapat mengenal
Allah hanya dengan mengandalkan Ilmu Kalam dan membaca tentang agama dari bahan bacaan saja, serta kemudian mengingkari Peranan penting Guru tidak lain karena kesombongan semata.
Memang anda akan mengetahui banyak ilmu tentang ayat-ayat, dalil-dalil, teori-teori akan tetapi anda tidak akan dapat mengenal Allah dengan hanya sekedar membaca. Guru yang akan membimbing anda adalah orang yang telah
memperoleh pengakuan dari Guru
sebelumnya, dan Guru sebelumnya telah
memperoleh pengakuan juga dari Guru
sebelumnya, secara sambung menyambung, berantai sampai kepada Rasulullah SAW.
Apabila jalan kaum Sufi dapat dicapai
dengan pemahaman tanpa bimbingan seorang Syekh, niscaya orang seperti Imam Al-Ghazali,syekh Abdul Qadir Jailani dan syekh Izuddin ibn Abdussalam dan juga wali wali kutub yang lain tidak perlu berguru kepada seorang Syekh.
Sebelum memasuki dunia Tasawuf, mereka pernah berkata, “Setiap orang yang mengatakan bahwa ada jalan memperoleh ilmu selain apa yang ada pada kami, maka dia telah berbuat kebohongan kepada Allah”. Akan tetapi, setelah Imam Al-Ghazali dan Syekh Izuddin ibn Abdussalam yang tadinya hanya belajar Syari’at kemudian memasuki dunia Tasawuf keduanya berkata, “Sungguh kami telah
menyia-nyiakan umur kami dalam kesia-siaan dan hijab (tabir penghalang antara hamba dan Tuhan)”.
Orang yang dapat menemukan
kebenaran bukanlah orang yang banyak
membaca buku karena terkadang semakin banyak yang dipelajari justru tanpa sedar menjadi hijab antara kita dengan Allah. Hanya kerendahan hati dan sikap mahu belajar dan mencari yang menyebabkan seseorang
mengenal Allah SWT., sebagaimana ucapan rendah hati Musa kepada Khaidir, “Bolehkah aku mengikutimu, agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu
yang telah diajarkan kepadamu?” (Q.S. al-Kahfi : 66).
Iman Al-Ghazali juga mencari seorang
Syekh yang menunjukkan ke jalan Tasawuf/Tarekat, padahal ia adalah Hujjatul Islam.Begitu juga, Syekh Izuddin ibn Abdussalam berkata, “Aku tidak mengetahui Islam sempurna kecuali setelah aku bergabung dengan Syekh Abu Hasan Asy Syadzili”. Abdul
Wahab Asy Sya’rani berkata, “Apabila kedua ulama besar ini, yakni Al-Ghazali dan Syekh Izuddin ibn Abdussalam, padahal keduanya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan
luas tentang Syari’at, maka orang selain
mereka tentu lebih memerlukan lagi.”
Jadi tidaklah berlebihan jika para Sufi
mengatakan bahawa mempelajari Ilmu
Tarekat itu wajib hukumnya sekalipun
sebesar-besar ulama :
ﻃَﻠِﺐُ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﻭَﺟِﺐٍ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣُﺮِﻳْﺪٍ ﻭَﻟَﻮْ
ﻣِﻦْ ﺍَﻛْﺒَﺮِﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ
“Bermula belajar kepada Syaikh (menuntut ilmu Tarekat) itu wajib hukumnya walau sebesar-besar ulama.”
Berdasarkan penjelasan di atas maka
dapat disimpulkan bahwa wajib hukumnya mempelajari Ilmu Tarekat . Makna wajib di sini yaitu tidak boleh tidak, sebab tanpa bertarekat mustahil kita dapat mengenal Allah dan orang yang tidak kenal Allah sudah
barang tentu “sesat” sebab ia tidak mengenal yang disembahnya, maka seluruh amal ibadahnya sia-sia dan tak akan dapat melepaskan dari azab Allah sebagaimana Hadis
Nabi :
ﻻَﺗَﺼِﺢُّ ﺍﻟْﻌِﻴْﺒَﺪَﺓُ ﺍِﻻَّ ﺑِﻤَﻌْﺮِﻓَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ
Artinya : “Tidak sah amal ibadah tanpa
pengenalan kepada Allah Oleh sebab itu siapa saja orang yang mengaku beragama Islam dan beriman kepada
Allah, maka ia harus memiliki guru yang dapat mengenalkan ia kepada Allah, atau dengan kata lain, ia harus bertarekat atau bertasawuf. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam Malik :
ﻣَﻦْ ﺗَﻔَﻘَّﻪَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺗَﺼَﻮُّﻑٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺗَﻔَﺴَّﻖَ
ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺼَﻮُّﻑَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺗَﻔَﻘُّﻪٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺗَﺰَﻧْﺪَﻕَ
ﻭَﻣَﻦْ ﺟَﻤَﻊَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺗَﺤَﻘَّﻖَ
Artinya: Barangsiapa mempelajari fiqih saja tanpa mempelajari tasawuf maka dihukumkan fasiq, dan barangsiapa mempelajari tasawuf saja tanpa mempelajari fiqih maka dihukumkan zindiq (menyimpang dari ajaran
agama). Dan barangsiapa yang mempelajari kedua-duanya niscaya ia menjadi golongan Islam yang sesungguhnya.
Imam Malik berpendapat demikian
karena dilatarbelakangi oleh Sabda Nabi SAW:
ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔُ ﺑِﻼَ ﺣَﻘِﻴْﻘَﺔُ ﻋَﺎﻃِﻠَﺔُ
ﻭَﺍﻟْﺤَﻘِﻴْﻘَﺔُ ﺑِﻼَ ﺷَﺮِﻳْﻌَﺔٍ ﺑَﺎﻃِﻠَﺔٌ
Artinya: “Bersyariat tanpa berhakikat sia-sia(kosong/hampa) dan berhakikat tanpa bersyariat batal (tidak sah).
Maka i’tibar yang kita ambil dari
keterangan Imam Malik tersebut, bahwa
siapapun diantara orang Islam yang tidak bertasawuf dengan melakukan aqidah dan syariah, hukumnya ialah fasik.
Setiap larangan untuk meninggalkannya, berarti perintah untuk melakukannya. Pokok pengertian tentang perintah, hukumnya wajib. Dalam hal ini
Imam Ali Addaqqaq mengambil kesimpulan sebagaimana yang tertulis di dalam kitab Risalah al-Qusyairiah:
ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔَ ﺣَﻘِﻴْﻘَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ
ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﻭَﺟَﺒَﺖْ ﺑِﺄَﻣْﺮِﻩِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻘِﻴْﻘَﺔُ
ﺃَﻳْﻀًﺎﺷَﺮِﻳْﻌَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﺭِﻑَ ﺑِﻪِ
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻭَﺟَﺒَﺖْ ﺑِﺄَﻣْﺮِﻩِ.
Artinya: Perlu diketahui, bahwa sesungguhnya Syariat itu adalah Hakekat. Bahwa sesungguhnya Syariat itu wajib hukumnya, karena ia adalah perintah Allah. Demikian juga Hakekat adalah wajib hukumnya dan bahwa sesungguhnya terhadap mengenal Allah
swt. adalah wajib hukumnya dikarenakan perintah Allah.
Maka tidak ada alasan bagi kita untuk
tidak mencari Guru Pembimbing ( Mursyid)yang siap menuntun dan membimbing kita untuk mencapai pengenalan kepada Allah
SWT. carilah Guru yang benar-benar kammil-mukammil, yang tidak hanya pandai berbicara tentang teori ketuhanan, tetapi juga ahli di
dalam amalan bertauhid yang dapat
mengenalkan anda kepada Allah yang ghaib,sehingga anda dapat beribadah secara khusyuk karena anda telah mengenal Tuhan yang anda sembah.
Abu Ata’ilah as-Sakandari
dalam Lato’if al-Minan, berkata, “Engkau tidak akan kekurangan Mursyid yang dapat menunjukkanmu ke jalan Allah. Tapi yang sulit bagimu adalah mewujudkan kesungguhan dalam mencari mereka”.
Berdasarkan penjelasan di atas cukup
jelas bagi kita bahwa mempelajari Tarekat hukumnya adalah wajib. Namun mayoriti umat Islam saat ini tidak mengetahuinya, dan kalau pun mereka mengetahuinya, mereka akan tetap enggan untuk mempelajarinya.
Menurut syiekh tharekat ada empat
sebab orang tidak mahu mempelajari Tarekat :
1. Jika seorang Guru Besar kalau ia belajar,maka ia kembali menjadi murid.
2. Jika orang pintar kalau ia belajar, maka ia kembali menjadi bodoh.
3. Jika orang besar kalau ia belajar, maka ia kembali menjadi kecil
4. Jika orang tua kalau ia belajar, maka ia
kembali menjadi anak-anak.
Keempat hal di atas merupakan penyebab utama yang membuat orang enggan untuk bertarekat meskipun mereka mengetahui kebenaran ajaran dari suatu Tarekat.
لو لا المربي ما عرفت ربي
| Tanpa Bimbingan Guru Murabbi Aku Tak Kenal Tuhanku
بربي عرفت ربي و لولا المربي ما عرفت ربي
Dengan bimbingan guru yang hanya menunjukkan kejalan kepada Allah, aku mengenal Tuhanku. Jikalau tidak ada guruku yang seperti itu, niscaya aku tidak akan mengenal siapa Tuhanku yang wajib disembah dari sekian banyak Tuhan.
أي : .. لولا الشيخ المربي المهذب الدال على الله و الموصل إليه ظاهرا وباطنا حالا ومقالا ما عرفت التأدب مع ربي في الخلوات و الجلوات ،
Artinya : Ketika tidak ada Syeikh/Orang yang terpandang karena ilmu dan kedudukkannya, Al Muhadzab/Pendidik yang terbukti baik dan terdidik, Ad Daalu/Orang yang layak menunjukkan jalan kepada Allah dan dapat bersambung/berkomunikasi secara zahir dan bathin kepada-Nya, dengan perbuatan dan kata-kata, niscaya aku tidak akan mengerti beradab/bertatakrama dengan-Nya disaat sunyi dan di khalayak ramai.
و بالتالي فلولا ربي ما عرفت ربي ، لولاه تعالى الذي تفضل علي و هداني إلى من يدلني عليه و يعالج أسقام نفسي و أوهامها ، ما ارتقيت سلوكا في عبادتي و سائر نسكي إلى مرتبة الإحسان و مراقبة النفس على الدوام.
Dan selanjutnya jikalau tidak ada Allah Tuhanku niscaya aku tidak mengenal Tuhanku, jikalau Allah Ta'ala yaitu Dzat yang telah memberikan anugerah kepadaku, dan telah menuntunku/menunjukkanku bertemu dengan orang yang telah memberikan jalan lurus kepadaku agar dapat mengenal-Nya, dan telah mengobati hatiku beserta menghilangkan keragu-raguannya, maka niscaya aku tidak akan meniti jalan didalam ibadahku dan tatacara ibadahku sampai kepada derajat ihsan (seolah-olah aku merasa Allah berhadapan menyaksikanku), dan memimpin diri untuk beristiqamah.
Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk nya kepada kita semua. Amiin.
Berselawatlah Kamu Kepada Rasulullah S.a.w. Dengan wasilah selawat Nabi insya Allah pasti di bimbing ke arah mengapai Guru Rabbani Ehsan
( Hizbun AnNabi wa AaliBaitihi wa Ashabihi )
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen