KAJIAN MEMATIKAN DIRI

KAJIAN MEMATIKAN DIRI

""""""""""""""""""""""""""""""""""""
SYAREAT NYA = membuang dosa dan kehendak nafsu

TAREKAT NYA = menghapuskan kelakuan yang keji & memakai akhlak terpuji

HAKIKAT NYA = menghapuskan ke-AKU-an diri sendiri yaitu kenal Zat anda sebagai Zat Allah, wujud anda sebagai Wujud Allah, kenal anda sebagai Kenal Allah. Tiada yang wujud hanya Allah. Hanya Allah yang boleh berkata AKU. Tidak ada yang lain.

FIKIR ada 3 jenis :

- Pertama fikir tentang hal hal dunia
- Kedua fikir tentang Syurga & Neraka
- Ketiga fikir tentang Zat & Sifat Sifat Allah

ISLAM KULIT = mematuhi hukum hukum Syariat saja tanpa memandang kepada HAKIKAT ZAT, SIFAT, ASMA’ dan AF’AL ALLAH.
MUSLIM KULIT = Sibuk dengan pembersihan zahir saja.
Yang Memberi & menerima itu Allah, sebab hanya Dia Yang Wujud dan Dia itu AKU.
Anda hendaklah menganggap berbagai objek ( benda ) sebagai ZAT ALLAH.
Sifat Sifat benda sebagai Sifat Sifat Allah.
Perbuatan benda sebagai Af’al Allah
Yang lainnya hilang dari pandangan (ini dinamakan wahdat) .

Caranya seperti dibawah ini :
CARA MENURUN / NUZUL
Anggaplah diri anda sebagai HAKIKAT ZAT

Zat Aku adalah Zat Allah
Sifat aku adalah Sifat Allah
Perbuatanku adalah Af’al Allah

- CARA MENAIK / URUJ
Zat Allah adalah Zat Aku
Sifat Allah adalah Sifat Aku
Af’al Allah adalah Perbuatan Aku

- NUZUL DENGAN ALLAH
Zat Aku dengan Zat Allah
Sifat Aku dengan Sifat Allah
Perbuatan aku dengan Af’al Allah
QS. Al-Khasas : 88
Tiap tiap sesuatu ( ghayr ) adalah kosong saja kecuali ZatNYA.

Setiap Ingin adalah NAFSU
Semua manusia binasa, kecuali orang berilmu,
orang berilmu pun binasa, jika tidak mengamalkan ilmunya,
orang yang mengamalkan ilmu pun binasa, jika tidak disertai ikhlas,
orang ikhlas pun binasa, jika masih merasa ke-aku-an diri, masih ada maksiat batin.

Setiap keinginan adalah NAFSU.
Kata NAFSU dalam bahasa Indonesia diserap dari kata bahasa Arab AN-NAFS yang bermakna "DIRI" atau "JIWA".
Dalam perkembangan pragmatiknya, kata nafsu terkait erat dengan konsep EGO atau "ke-aku-an".
Yang dikatakan NAFSU itu adalah keinginan.
Menginginkan surga itu NAFSU...
Maukah kamu salat ber-imam pada orang yang beribadah dengan nafsu?
Kita dipersilakan menjadi imam salat berjamaah lalu merasa dalam hati bahwa diri ini memang layak mengimami jemaah, merasa ada diri itu najis batin saudaraku...
Maukah kamu ber-imam pada orang yang batinnya bernajis ?
Dalam ibadah ada rukun
- fi'li [gerakan],
- qauli [bacaan],
- qalbi [pandangan hati]...

Tentulah berlaku juga rasa fi'li, rasa qauli, dan rasa qalbi.
Ada orang membacakan ayat terlalu dialun-alun, dimerdu-merdu saja sudah dapat dirasa dengan rasa qalbi bahwa orang ini riya.
Melihat gerak-gerik fi'linya juga sudah dapat dirasa dengan rasa qalbi bahwa orang tersebut ada ujubnya.
Itu sebabnya ada anjuran Nabi Muhammad Rasulullah Saw. agar imam salat berjamaah agar tidak membawakan surah yang panjang-panjang.

"Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api." (HR Bukhari dan Muslim)
"Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" [Q.S. ar-Ra'd:16]

Sebagaimana melakukan penyembahan itu wajib dengan disertai pengenalan pada Allah; demikian juga sebaiknya kita mengenal dengan baik orang-orang di lingkungan kita yang biasa menjadi imam shalat berjamaah di masjid.
Tulisan ini tidak menetapkan bahwa setiap imam masjid itu memendam najis batin di dalam dirinya juga tidak menyeru umat agar jangan salat berjamaah di masjid 'kan..?!
Tidak semua orang tertipu dengan penampilan zahir saja... Ada dapat yang memandang dengan zahir sekaligus dengan rasa. Dari sinilah dapat diketahui adanya riya pada seseorang yang diamati... Mustahil rasa dari Rahasia [sirr] itu bohong.

Perkataan sebagian awliya Allah,
"MAN LAM YADZUUK LAM YA'RIF "
Siapa tidak pernah merasa, tidak akan pernah tahu.
Akan tetapi, sedikit orang yang mau mengetahui tentang RASA.
Bukankah SIRR itu RASA.
RASA itu RAHASIA.
Ketahuilah masalah RASA ini.
RASA ini ada di HATI.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian.” (H.R. Muslim).

Mengapa Allah memandang hati?
Karena hatilah yang berhubungan langsung ke alam raib ["alam" Tuhan], bukan alam gaib.
Kita tidak tahu "alam" Tuhan ini, tetapi hati merasakan.
Sebab,
siapa yang kenal dengan Allah? RUH.
siapa yang pernah mendengar Kalam Allah? RUH.
siapa yang pernah menyaksikan Allah? RUH.
Dan [ingatlah], ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul [Engkau Tuhan kami], kami menjadi saksi". [Kami lakukan yang demikian itu] agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami [bani Adam] adalah orang-orang yang lengah tentang [keesaan]ini (Q.S. al-A'raaf:172)
Jadi, sudah ada sama`, bashar, kalam, [dan seluruh sifat 20] itu pada ruh sejak di alam arwah.

Orang Tauhid menerima bicara orang syariat bahwa mereka beramal dengan lillahi ta'ala
tetapi mengapa orang Syariat tidak mau menerima bicara orang Tauhid tentang ibadah billahi ta'ala? Bukankah laa hawla wa laa quwwata illa billah?
Cobalah sekali-sekali sajian makrifat ini.
"...agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:

"Sesungguhnya kami [bani Adam] adalah orang-orang yang lengah tentang ini."

Sebenarnya...
khusyuk gak khusyuk dilakukan saja..., itu urusan belakangan karena memang tidak mudah utk khusyuk... wong kelasnya Sayyidina Ali saja sudah pernah dites sholat khusyuk gagal kok...., apalagi kelas kita......
Manusia itu bisa sholat khusyuk yang benar-benar khusyuk 1 kali saja seumur hidupnya, terbilang juara......... sudah top
Khosyi'un, Qoimun dan Daimun.......... adalah 3 prinsip utama perjalanan.

1. Khosyi'un atau kekhusyukan.
yang dimaksud kekhusyukan itu berkaitan erat dengan "kesungguhan hati, untuk fokus, benar benar tunduk dan taat, patuh dan serah diri kepada Allah.
2. Qoimun atau keistiqomahan.
yang dimaksud keistiqomahan itu berkaitan dengan "keteguhan hati, untuk menjalankan dan memegang teguh setiap keyakinan yang ada kepada Allah.
3. Daimun atau kontinyuitas/kelanggengan.
yang dimaksud dengan kelanggengan itu berkaitan dengan "terus menerusnya hati dalam keadaa fokus kepada Allah.
Ke 3 prinsip itu mesti dijalankan berbarengan tak boleh cerai berai... harus dipegang kuat kuat setiap waktu.
Bukan semata-mata dalam waktu ritual peribadatan, namun dalam setiap saat waktu.
Setiap saat selalu dalam keadaan khusyuk, istiqomah, dan daim.
Ketakutan ketakutan akan sesuatu yang belum datang adalah wujud was was.
Tak usah engkau memikirkan hal-hal yang akan engkau jalani dimasa yang akan datang.

Waktu selalu saat ini..,
hidup dalam kekinian...
buang fikiran kemasa lalu dan kemasa depan dalam hal sholat.
Hanya saat ini bagi saat ini, melakukan terbaik yang engkau mampu.
Urusan besok, itu sudah ada yang memikirkan, ada Allah yg mengatur semuanya.
Karenanya buat apa lagi difikirkan kalau sudah yakin bahwa Allah yg mengatur dengan pengaturanNYA yang sempurna, cukuplah memikirkan saat ini dengan yg terbaik.
Hari ini adalah akibat2 dari sebab2 yang ditanam dimasa lampau.
Esok adalah akibat2 dari yang ditanam hari ini.
Karena hal itulah, tak perlu jauh memikirkan masa depan, cukup menjalani kekinian waktu dgn baik, itu berarti menanam bibit yg baik bagi masa depan.

Bayangan2 masa lalu hanyalah tipuan yg sudah berlalu, hanya membawa gelap hati dan angan2 masa depan hanyalah hayalan2 yang belum terjadi.
Allah memandang isi hatimu bukan gambaran fisik dan duniamu........
belajar hidup dlm akhlak mahmudah Tuhan
Kemuliaan akhlak dan kebersihan hati seseorang akan menambal kekurangan dari ibadah syariatnya.
Bahkan dengan kemuliaan hatinya seseorang memperoleh derajad yang tinggi, setara dengan orang yang bangun untuk selalu sholat malam dan puasa disiang hari.
.
( Sumber dari  Muhammad Hamin Tehupelasury )
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen