Abu Yazid Al-Busthami(188-261H).


Abu Yazid Al-Busthami(188-261H).

.
Ia merupakan peletak tasawuf dengan pendekatan filsafat, sama seperti Hasan al-Bashri. Nama lengkapnya ialah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al-Bushtami. Jika tokoh sufi lainnya yang sealiran dikenal dengan kegilaannya, maka tidak untuk Abu Yazid al-Bushtami. Ia terkenal dengan kemabukannya. Ya, acap Al-Bushtami mabuk cinta memendam kerinduan kepada Sang Maha Ke kasih. Mabuknya Al-Bushtami lebih “gila” daripada mabuk nya seorang pecandu minuman alkohol. Al-Bushtami, sang pecandu cinta sejati, acap mabuk lantaran ia terlalu jauh mengucapkan kalimat ketuhanan. Al-Bushtami lahir di Bushtam, daerah utara Persia, pada tahun 188 Hijriah atau 804 Masehi, dan meninggal pada tahun 261 Hijriah atau 875 Masehi. Al-Bushtami lahir dari seorang orang tua yang merupakan penganut Zoroaster (keyakinan dewa). Al-Bushtami pun kemudian belajar agama ke ulama yang bermadzhab Hanafi. Kehidupan seorang salik memang tak lepas dari kesengsaraan. Kesengsaraan di dunia bagi pelaku makrifat merupakan kawan karib. Dari kesengsaraan itulah, biasanya seorang salik menemukan mutiara. Sama halnya dengan Al-Bushtami. Sebelum menjadi tokoh sufi besar, ia telah mengarungi sekian kesengsaraan dunia. Pelaku hidupnya ditempuh dengan cara zuhud.
.
Kisah kehidupan:
.
Ada seorang pertapa di antara tokoh-tokoh suci terkenal di Bustham. Ia memiliki banyak pengikut dan pengagum, tetapi ia sendiri senantiasa mengikuti pelajaran pelajaran yang diberikan oleh Abu Yazid. Dengan tekun ia mendengarkan ceramah-ceramah Abu Yazid dan duduk bersama sahabat-sahabat beliau. Pada suatu hari berkatalah ia kepada Abu Yazid: “Pada hari ini genaplah tiga puluh tahun lamanya aku berpuasa dan memanjatkan doa sepanjang malam sehingga aku tidak pernah tidur. Namun pengetahuan yang engkau sampaikan ini belum pernah menyentuh hatiku. Walau demikian aku percaya kepada pengetahuan itu dan senang mendengarkan ceramah-ceramahmu.” “Walaupun engkau berpuasa siang malam selama tiga ratus tahun, sedikit pun dari ceramah-ceramahku ini tidak akan bisa engkau hayati.” “Mengapa demikian?” tanya si murid. “Karena matamu tertutup oleh dirimu sendiri,” jawab Abu Yazid. “Apakah yang harus kulakukan?, tanya si murid pula. “Jika kukatakan, pasti engkau tidak mau menerimanya.” “Akan kuterima! katakanlah kepadaku agar kulakukan seperti yang engkau petuahkan.”“Baiklah!, jawab Abu Yazid. “Sekarang juga cukurlah janggut dan rambutmu. Tanggalkan pakaian yang sedang engkau pakai dan gantilah dengan cawat yang terbuat dari bulu domba. Gantungkan sebungkus kacang di lehermu, kemudian pergilah ke tempat ramai. Kumpulkan anak-anak sebanyak mungkin dan katakan kepada mereka: “Akan kuberikan sebutir kacang kepada setiap orang yang menampar kepalaku.” Dengan cara yang sama pergilah berkeliling kota, terutama ke tempat-tempat di mana orang-orang sudah mengenalmu. Itulah yang harus engkau lakukan.”
.

“Maha Besar Allah! Tiada Tuhan kecuali Allah,” cetus si murid setelah mendengar kata-kata Abu Yazid itu. “Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu niscaya ia menjadi seorang Muslim,” kata Abu Yazid. “Tetapi dengan mengucapkan kata-kata yang sama engkau telah mempersekutukan Allah.” “Mengapa begitu?”, tanya si murid. “Karena engkau merasa bahwa dirimu terlalu mulia untuk berbuat seperti yang telah kukatakan tadi. Kemudian engkau mencetuskan kata-kata tadi untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang penting, bukan untuk memuliakan Allah. Dengan demikian bukankah engkau telah mempersekutukan Allah.” “Saran-saranmutadiitutidak bisakulakukan. Berikanlah saran-saran yang lain.” Si murid berkeberatan. “Hanya itulah yang dapat kusarankan,” Abu Yazid menegaskan. “Aku tak sanggup melakukannya,” si murid mengulangi kata-katanya. “Bukankah telah kukatakan bahwa engkau tidak akan sanggup untuk melaksanakannya dan engkau tidak akan menuruti kata-kataku,” kata Abu Yazid.
Jalan sufi:
.
Sebagai orang yang mengerti hukum-hukum yang dikaji melalui fikih bermazhab Hanafi, kepatuhannya pada syariat Islam sangatlah kuat. Hal ini dapat dibuktikan dari sejumlah pernyataan yang pernah diucapkannya. Ia pernah berkata demikian,“Kalau engkau melihat seseorang melakukan perbuatan yang aneh , seperti duduk bersila di udara, maka janganlah engkau terperdaya olehnya. Perhatikanlah apakah ia melaksanakan perintah Tuhan, menjauhi larangan (Tuhan), dan menjaga dirinya dalam batas-batas syariat.”Selain itu, Abu Yazid juga pernah mengajak anak saudaranya Isa bin Adam, untuk memperhatikan seseorang yang dikenal oleh masyarakat sebagai zahid (orang yang menolak dunia, berpikir tentang kematian, yang memandang bahwa apa yang dimilikinya tidaklah punya nilai dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh Allah swt).
.
Waktu itu orang tersebut sedang berada di dalam masjid dan terlihat batuk lalu meludah ke depan, ke arah kiblat di dalam masjid). Karena menyaksikan kejadian tersebut, yang mana hal ini tidak sesuai dengan adab (akhlak) yang diajarkan oleh Rasulullah saw, Abu Yazid pergi dan berkomentar, “Orang itu tidak menjaga satu adab dari adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Bila ia begitu, ia tidak dapat dipercaya atas apa-apa yang didakwakannya (omongannya tidak dapat dipercaya).”Ia juga mengungkapkan bahwa pernah terbesit di hatinya untuk memohon kepada Allah agar dia diberikan sifat ketidakpeduliaan terhadap makanan dan wanita sama sekali, tetapi hatinya kemudian berkata,“Pantaskah aku meminta kepada Allah sesuatu yang tidak pernah diminta oleh Rasulullah saw?”Bahkan karena begitu taatnya pada ajaran agama, dia menghukum dirinya sendiri jika melanggar. Katanya,“Aku ajak diriku untuk mengerjakan sesuatu yang termasuk dalam perbuatan taat, namun kemudian diriku tidak mematuhinya. Oleh karena itu, selama setahun diriku tidak kuberi air (minum).”’
.
Kisah lain juga pernah ia alami. Sebuah riwayat (cerita turun-temurun) memberitahukan bahwa suatu ketika ia bermalam di padang pasir dan menutup kepalanya dengan pakaian lalu tertidur. Tak disangka, dia mengalamai hadats besar (suatu kondisi yang dapat menghalangi seseorang melakukan shalat, seperti haid, keluarnya mani, dan lain-lain), sehingga diwajibkan mandi jinabat /mandi wajib(mengalirkan air dan mengusap seluruh angota tubuh dengan melafalkan niat tertentu). Akan tetapi malam itu terlalu dingin dan ketika terbangun, dirinya merasa enggan untuk mandi dengan air yang juga terlalu dingin. Abu Yazid berniat untuk mandi saat matahari sudah tinggi, namun setelah menyadari betapa ia tidak mempedulikan kewajiban agama, akhirnya dia bangkit dan melumerkan salju pada jubahnya. Setelah itu Abu Yazid mandi dengan menggunakan jubah yang basah dan dingin tersebut lalu dia dipakainya kembali. Tubuhnya kedinginan, lalu ia jatuh pingsan.Dari kisah diatas, yang perlu ditekankan disini adalah, tasawuf tidaklah “mengabaian” syariat, bahkan sebaliknya, Tasawuf sangat menekankan pada syariat. Hal ini yang banyak disalahartikan oleh sebagian orang, terutama yang belajar tasawuf tanpa melalui guru yang mumpuni.Hal ini seperti yang disampaikan oleh Abu Yazid sendiri, dimana ketika Abu Yazid ditanya perihal sufi. Jawaban dari Abu Yazid adalah sebagai berikut,“Sufi adalah orang yang tangan kanannya memegang kitabullah (Al-Qur’an), sedangkan tangan kirinya memegang sunnah Rasulullah, salah satu matanya memandang ke surga dan yang lainnya memandang ke neraka, baginya dunia hanyalah sarung dan akhirat adalah mantelnya, kemudian sambil berseru, labbayka ya Allah (aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah)”.
.
Wafat:
.
meninggal pada tahun 261 H/874 M atau 264 H/877 M, dan makamnya masih ada sampai sekarang.
.
Sumber:
.
1. Tadzkiratul Auliya’ – Fariduddin Attar
2. Surat Cinta Para Sufi – Mohammad Fathollah
3. M. Abdul Mujieb, dkk., Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali…, hlm. 19
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen