TvTarekat | ADAB KEPADA GURU

 

ADAB KEPADA GURU*

Seperti apakah Adab yang baik, Adab yang sopan terhadap guru kita? Dan seperti apakah Juga Adab yang buruk terhadap guru kita?

"السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ "

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نويت التعلم والتعليم, والتذكر والتذكير, والنفع والإنتفاع, والإفادة والإستفادة, والحث على التمسك بكتاب الله وسنة رسوله, والدعاء إلى الهدى, والدلالة على الخير, ابتغاء وجه الله ومرضاته وقربه وثوابه

“Aku bermaksud belajar dan mengajar, mengingat dan mengingatkan (ilmu), memberi manfaat dan mencari manfaat, memberi keutamaan dan mencari keutamaan, mengajak berpegang teguh dengan kitab Allah ( Al-Qur'an ) dan sunah rasul-Nya, menyeru mencari petunjuk, menunjukkan Untuk kebaikan, demi mengharap dapat berjumpa dengan Allah dan keredhaan serta pahala-Nya.”

Terlalu banyak mempelajari ilmu sampai lupa mempelajari adab?.

Lihat sebahagian kita, sudah mantap ilmunya, banyak mempelajari Tauhid, Fikih dan Hadits, namun tingkah laku kita terhadap orang tua, kerabat, tetangga dan saudara muslim lainnya bahkan terhadap Guru sendiri jauh dari yang dituntutkan oleh para ulama salaf.

Cuba lihat kelakuan sebahagian kita terhadap orang yang beza pemahaman, padahal masih dalam cerita ijtihadiyah. Yang terlihat adalah watak keras, tak mahu mengalah, sampai menganggap pendapat hanya boleh satu saja tidak boleh berbilang. Ujung-ujungnya punya menyesatkan, menghizbikan dan mengatakan sesat seseorang.

Padahal para ulama sudah mengingatkan untuk tidak meninggalkan, mempelajari masalah adab dan akhlak.
Namun barangkali kita lupa? Barangkali kita terlalu ingin cepat-cepat boleh kuasai ilmu yang lebih tinggi? Atau niat dalam belajar yang sudah berbeza, hanya untuk mendebat orang lain?

Pelajarilah Adab Sebelum Mempelajari Ilmu.

Ketahuilah bahawa ulama salaf sangat mengambil perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum mempelajari suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama.
Imam Darul Hijrah, Sayyidina Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy;

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Sayyidina Yusuf bin Al Husain berkata;

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Guru penulis, Allahyarham Haji Rosli Siroon berkata;

“Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

Oleh kerananya, para ulama sangat mengambil perhatian sekali mempelajarinya.


Sayyidina Ibnul Mubarok berkata;


تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين


“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”


Sayyidina Ibnu Sirin berkata;


كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم


“Mereka, para ulama terdahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”


Dari sekian banyak nikmat Allah swt yang telah kita rasakan, ada satu nikmat yang melandasi datangnya nikmat-nikmat yang lain, yaitu ilmu.


Sebab dengan ilmu, seseorang akan dapat memahami berbagai hal. Kerana ilmu juga, seseorang akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah swt, juga di kalangan manusia. Terutama jika disertai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.


Sebagaimana kemuliaan tersebut tersurat didalam (QS Al Mujadilah ayat 11);


“Nescaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.”


Ayat ini menegaskan bahawa orang yang berilmu dan mengamalkannya maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah didunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.


Maka berlumba-lumba mencari dan menuntut ilmu menjadi hal yang sangat penting, baik ilmu terkait tsaqafah Islam mahu pun ilmu umum.


Kerana Ilmu adalah Sayyidul ‘amal (Penghulunya amal), sehingga tidak ada satu amalan pun yang dilakukan tanpa didasari dengan ilmu. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kaidah fiqh;


“Ilmu dahulu sebelum berkata dan berbuat.”

(Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Ilmu, Bab Al-‘Ilmu Qablal Qaul wal ‘Amal (I/119)


Ilmu juga merupakan makanan pokok bagi jiwa, yang kerananya jiwa akan menjadi hidup dan jasad akan memiliki adab.


Oleh kerana itu, Islam mewajibkan umatnya, baik lelaki mahu pun perempuan, untuk menuntut ilmu. Dan hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah saw didalam sabdanya;


“Menuntut ilmu wajib atas setiap Muslim.”

(Hadits shahih Ibnu Majah)


Namun ada hal yang tak kalah pentingnya yang harus diperhatikan seorang penuntut ilmu, yaitu adab kepada guru. Adab menjadi salah satu kunci mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat.

Sebaliknya, tidak punya adab, apalagi sampai mengherdik, memukul, dan sanggup menganiaya guru akan menjadi penghalang barokah dan manfaatnya ilmu.

Sebagaimana perkataan DR. Umar As Sufyani Hafidzohullah;

“Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan kesan yang buruk pula. Hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan dan menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari kesan buruk.”

Para ulama salaf terdahulu pun sangat memperhatikan adab didalam belajar. Al Imam Malik rahimahullah berkata;

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Abdullah bin Mubarak juga berkata;

“Dahulu kami belajar adab 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Dari perkataan para salafush soleh ini, dapat kita fahami pentingnya mempelajari adab sebelum menuntut ilmu. Sebab, dengan memiliki adab kita akan lebih mudah didalam memahami ilmu dan ilmu pun menjadi berkah.

Maka bagi seorang penuntut ilmu, harus memperhatikan adab-adab berikut ini ketika menuntut ilmu terhadap gurunya;

1) Menghormati Guru

Para Salafush soleh, suri tauladan untuk manusia setelahnya telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru.

Diriwayatkan oleh Al Imam Baihaqi, Sayyidina Umar bin Khattab mengatakan;

“Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

Sayyidina Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata;

“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku kerana segan kepadanya”.

Al Imam As Syafi’i berkata;

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Imam Malik dengan sangat lembut kerana segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

Sungguh mulia akhlak mereka para suri tauladan kaum muslim, tidaklah hairan mengapa mereka menjadi ulama besar pada umat ini, sungguh keberkahan ilmu mereka buah dari akhlak mulia terhadap para gurunya.

2) Adab Duduk

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnya Hilyah Tolibil Ilm mengatakan;

“Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan mendengarkannya.”

Syeikh Ibnul Jamaah mengatakan;

“Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.

3) Adab Berbicara

Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun jika berada di depan Imam Malik layaknya seorang anak di hadapan ayahnya.

Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah didapati mereka beradab buruk kepada gurunya, mereka tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapan Rasulullah. Bahkan Umar bin Khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah meninggikan suaranya di depan Rasulullah. Bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah sampai kesulitan mendengar suara Umar jika berbicara.

Di hadist Abi Said al Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan;

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara”

(HR. Bukhari).

4) Adab Bertanya

Allah swt berfirman dalam QS An Nahl : 43 yang ertinya;

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”

Bertanyalah kepada para ulama, begitulah pesan Allah swt di ayat ini, dengan bertanya maka akan terubati kebodohan, hilang keracunan, serta mendapat keilmuan.

Tidak diragukan bahawa bertanya juga mempunyai adab didalam Islam. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahawa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.


Di dalam Al-Qur’an terdapat kisah adab yang baik seorang murid terhadap gurunya, kisah Nabi Musa dan Khidir.

Pada saat Nabi Musa ‘alihi salam meminta Nabi Khidir untuk mengajarkannya ilmu, Khidir menjawab;

“Sungguh, engkau (Musa) tidak akan sanggup sabar bersamaku”

(QS. Al Kahfi: 67).

“Khidir berkata, jika engkau mengikuti maka janganlah engkau menanyakanku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya”

(QS. Al Kahfi:70).

Jangan bertanya sampai di izinkan, itulah syarat Nabi Khidir kepada Nabi Musa alaihimassalam.

Maka jika seorang guru tidak mengizinkannya untuk bertanya maka jangalah bertanya, tunggulah sampai ia mengizinkan bertanya. Kemudian, doakanlah guru setelah bertanya seperti ucapan,

"Barakallahu fiik, atau Jazakumullah khairan."

Ini baru beberapa adab yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu. Namun terkadang luput dan dilupakan. Sungguh adab tersebut tak terdapatkan di umat manapun.

JAGALAH ADAP BERGURU

Pernah suatu hari Sayyidina Ali ra berjalan di kota Madinah dan bertemu dengan orang gila. Sayyidina Ali lantas menghormatinya. Kata Sayyidina Ali ra;

“Orang ini adalah guru aku, kerana telah mengajarkan aku mengenal perbezaan anjing jantan dan betina”.

Inilah adab belajar iaitu menghormati guru. Kata Sayyidina Ali;

“Aku adalah hamba kepada orang-orang mengajar aku walau satu huruf. Kalau dia mahu dia boleh menjadikan aku khadamnya dan boleh menjualkan aku kepada sesiapa yang dikehendakinya”.

Kata Imam Ahmad bin Hanbal,;

“Manusia bersama syeikh-syeikh mereka”.

Andai kata syeikh mereka tidak ada, tidaklah dapat diketahui bagaimana agaknya mereka hendak menumpang hidup. Lihatlah bagaimana hubungan sahabat dengan Nabi saw dan hubungan tabi’in dengan para sahabat.

Imam Abdul Aziz ad-Dabbagh berkata;

“Seseorang itu tidak mengenal Allah melainkan mereka kenal Rasulullah saw. Seseorang itu tidak mengenal Rasulullah saw melainkan mereka kenal syeikh mereka”.

Kata ulama, sesiapa yang lupa pada syeikh mereka maka mereka berada di jurang kebinasaan yang begitu nyata. Ini adalah kerana mereka menjauhkan diri dari pintu Rasulullah saw. Pintu Rasulullah saw adalah syeikh manakala pintu Allah adalah Rasulullah saw.

Kata Sayyidina Abu Bakar ra kepada Rasulullah saw;

“Aku tidak boleh memutuskan ingatanku padamu walau aku berada didalam tandas sekalipun”.

Bertambah rapat hubungan kita dengan syeikh maka bertambah rapatlah hubungan kita dengan Allah.
____________________________________
( Syeh Haqtullah / Ma'krifatullah )
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen