ALLAH YANG QADIM


ALLAH YANG QADIM

Allah itu Qadim Azali, tetapi ADA meliputi sekalian alam. Yang meliputi sekalian alam itu Zat-Nya, Sifat-Nya, Asma-Nya, Af`al-Nya. Semuanya ada di dalam alam. Sekalian baharu alam itu mengambil ruang. Ruang itu adalah Tubuh Yang Kosong. Dalam Kosonglah berbagai-bagai alam itu ada.
Tubuh Kosong itu tidak bisa kita sebut alam, melainkan disebut Tubuh-nya alam. Kosong itulah Af`al Allah. Af`al itu di sini artinya Tubuh. Dan Tubuh itu artinya Jasad. Jadi, Tubuh Allah itulah jasadnya Qadim. Jasad Qadim itu jasad siapa? Tentulah Jasadnya Allah Ta`ala.
Kehidupan kita seperti kehidupan ikan di dalam air. Ikan dan air tidak bisa bercerai. Begitulah tubuh dengan nyawa. Kalau tidak ada ruang tempat ber-ada, tentulah tidak ada keduanya. Keber-ada-an kita ini memerluakan ruang. Pahamilah betul-betul sampai paham masalah ruang ini. Di bangku sekolahan saja ada pelajaran ilmu ukur ruang.
Dalam hati ada cahaya, tentulah ada yang berdiri pada cahaya itu. Cahaya lampu saja terang, mustahil tidak ada yang berdiri di dalam cahaya itu. Yang ada di dalam cahaya hati itu Nur Muhammad. Nur Muhammad inilah diri kita yang batin. Diri ini ada di sama-tengah hati. Biasa disebut Rahasia atau nyawa.
Perhimpunan diri itulah Ruh Qudus. Sewaktu kita takbir ihram, semua berhimpun di dalam Rahasia yang di sama-tengah hati. Jangan dihimpun-himpunkan. Sudah begitulah ketentuannya kalau kita takbir ihram. Kalau sudah tahu, hendaklah berkhidmat pada Allah. Jangan terpengaruh dengan yang datang-datang, terpandang-pandang, terlintas-lintas. Bisa menjadi bala` kalau kita terpaku dengan yang datang-datang, terpandang-pandang, terlintas-lintas itu sebab akan merusakkan shalat kita.
Terpaku dengan yang datang-datang, terpandang-pandang, terlintas-lintas itu akan mendatangkan bahaya pada diri kita karena jin-setan- Iblis bisa meniru apa saja. Kalau terpaku pada hal-hal itu lalu ia sampai masuk ke badan kita, akan menjadi bala`. Ini banyak terjadi pada orang yang sedang berzikir. Terpaku dengan yang datang-datang, terpandang-pandang, terlintas-lintas ini, lalu orang ini asyik dengan yang datang-datang, terpandang-pandang, terlintas-lintas itu lalu masuklah ke badannya. Tidak tahu dia bahwa itu bukan cahaya Allah, justru setan yang masuk ke badan. Maka perlu dijaga berkhidmat kepada Allah yang laysa kamitslihi syai`un.
Orang yang sudah tahu ke-laysa kamitslihi syai`un-an Allah, tidak mungkin akan terpengaruh dengan yang datang-datang, terpandang-pandang, terlintas-lintas karena semua itu bukan Tuhan. Tuhan tetap laysa kamitslihi syai`un.
Seperti bola lampu senter: apabila kuat terangnya, tidak kelihatan kawat di dalamnya. Seperti besi yang ditempa: tidak kelihatan lagi besinya, bara saja yang kelihatan. Begitulah semestinya kita dalam ibadah apa saja. Tidak ada pengaruh-pengaruh lagi. Kita akan merasakan Perbuatan Allah saja yang ADA.
Di sinilah kita perlu berkhidmat pada Allah dan kita akan mendapat pelajaran dari Allah. Khidmatkan diri kita pada Allah yang laysa kamitslihi syai`un, maka kita akan merasalah ke-laysakamitslihi-an Allah itu. Rahasia Allah itulah Ruh Qudus: Diri Yang Kuasa. Ada pada sama-tengah hati. Itulah tempat husnul khatimah. Shalatlah di tempat husnul khatimah, yakni tempat yang penuh rahmat.
Orang menyebut, "Allah." Yang disebutnya itulah kebesaran Diri Yang Maha Esa. Tuhan membuktikan kemahaesaan Diri-Nya: di-ada-kan-Nya Zat, Sifat, Asma, Af`al-Nya menjadi sekalian alam. Itulah sebabnya alam itu Rahasia Tuhan. Rahasia-Nya.
Kalau kita sudah tahu yang dinamakan Rahasia Tuhan itu, tahulah kita bahwa Tuhan itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af`al. Tuhan menjadikan Zat, Sifat, Asma, Af`al, tentulah Tuhan bukan Zat, bukan Sifat, bukan Asma, bukan Af`al karena tidak ada yang menjadikan [atau menciptakan] Tuhan.
Untuk apa yang dijadikan Tuhan mau kita samakan dengan Tuhan. Lebih baik kita khidmatkan saja diri kita pada Tuhan. Akan terbukalah kerahasiaan Tuhan. Mau bertemu dengan barang yang hilang, kita mencari ke sana-ke sini. Kalau mau mencari Tuhan, tidak perlu cari ke sana-ke sini. Sebaik-baiknya diam saja. Karena Tuhan tidak bergerak-tidak diam; tidak datang-pergi, tidak keluar-masuk, tidak naik-turun, yang naik-turun; keluar-masuk itu napas, napas bukan Tuhan. Lebih baik masuk ke tempat husnul khatimah.
Orang tahu diam secara syariat saja, seperti melamun ketika susah. Diam yang dikatakan di sini bukan yang seperti itu, melainkan diam yang dikatakan Rasulullah sebagai "diam itu emas". Diam yang bernilai emas ini bagaimana? Inilah diam yang perlu dicari dan dipelajari. Diam emas yang diperintahkan Nabi inilah yang musti kita cari dan kita praktikkan.
Kamu menyebut "Allah". Mengapa kamu menyebut "Allah"? Apa isi perkataan itu? Biasa kita lihat ada orang pulang bekerja dalam keadaan letih. Ketika ia duduk dan bersandar ke dinding, ia gumamkan, "Allah...." Apakah perkataan "Allah" isinya capek? Ada juga orang yang sedang mengalami kesusahan hidup. Ia juga berguman, " Allaah...." Masak perkataan "Allah" isinya kesusahan dan keluh kesah?!
Jadi sebenarnya apa isi perkataan "Allah" itu?
Zat-Sifat-Asma-Af`al itulah isi perkataan "Allah" itu. Lihatlah pada sekalian alam. Semuanya—termasuk diri kita—mengandung Zat-Sifat-Asma-Af`al. Itulah Allah. Wajar kita berkata "Allah" karena kata "Allah" itu [Nama] Kebesaran Tuhan.
Jadi setiap kebesaran Tuhan itulah yang disebut "Allah".
Cuba dipahami dalam kalimah tauhid: Laa ilaaha illallaaah.
Tiada Tuhan melainkan Allah alias Tiada Tuhan melainkan Kebesaran-Nya [ada pada segala sesuatu].
Karena sudah nyata yang ada pada sekalian alam, baik alam dunia maupun alam akhirat, yang ADA hanya Zat-Nya, Sifat-Nya, Asma-Nya, dan Af`al-Nya.
Jadi, ketahuilah mengenai Allah dan Tuhan ini. Jangan sampai kita tidak sadar selama ini sudah menyembah Nama, bukannya menyembah Tuhan Yang Tidah Bernama. Uraian ini untuk menaikkan derajat dirimu.
Zatul Buhti Bukan Nama Tuhan
Kebanyakan orang berpandangan bahwa yang dinamakan Zatul Buhti itu Nama Tuhan. Bagi orang tauhid, Tuhan tidak bernama. Jika manusia bernama; Tuhan pun ber-Nama, berarti Tuhan sama dengan manusia. Yang sama dengan manusia, bukan Tuhan. Inilah tauhid. Karena Quran jelas-jelas menyatakan laysa kamitslihi syai`un; Tuhan tidak ada persamaan dengan makhluk.
Zatul Buhti itu artinya Zat semata-mata alias Zat Mutlak.
Manusia bertangan-berkaki. Kalau kita katakan Tuhan ber-Tangan dan ber-Kaki, tentulah sama dengan manusia. Yang sama dengan manusia, bukan Tuhan.
Manusia berwajah. Kalau kita katakan Tuhan ber-Wajah, tentulah sama dengan manusia. Yang sama dengan manusia, bukan Tuhan.
[Maka akhi wal ukhti di muslim.or.id dan situs-situs afiliasinya serta seluruh wahabi-salafy sedunia dan setiap manusia yang berpaham sama dengan mereka adalah segerombolan manusia yang berhukum dan berakhlak secara Islam, tetapi berakidah secara kafir.
"Jangan kau sembah Zat-Ku; Jangan kau sembah Sifat-Ku; Jangan kau sembah Asma-Ku; Jangan kau sembah Af`al-Ku. Sembahlah AKU." [Hadis Qudsy]
"Man abdal Asma faqad kafar; man abdal ma'na munafiqun"
Siapa menyembah Nama, kafir; siapa menyembah makna, munafik.
Jadi, Tuhan itu jangan dimacam-macamkan lagi.
Cukup kita yakini Tuhan itu ADA.
SUMBER DARI :-
TUHID HAKIKI - PUSAKA MADINAH

BAB :- ALLAH YANG QADIM
Share on Google Plus

About Tv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen