Perjalanan Tasawwuf

Ilmu Tasawwuf bukan ilmu tentang zikir dan wirid semata-mata, tentang cara berpakaian dan berpenampilan lain dari yang lain. Tasawwuf bukan untuk mendapatkan ilmu kebatinan dan pengaruh ke atau orang lain. Ilmu Tasawwuf yang diajarkan oleh Ulama' Sufi Mu'tabar adalah ilmu tentang 'penjagaan jiwa dari pelbagai penyakit hati' yang dapat membinasakannya, ilmu yang diperlukan bagi menjamin kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat. Ilmu yang diperlukan oleh Raja Raja dan Pembesar untuk melayakkan mereka menjadi pemimpin yang baik dan adil. Ilmu tentang bagaimana 'Mengenal Tuhan' dengan terlebih dahulu 'Mengenal Diri'


TANPA TASAWWUF, FASIQ!

Orang yang hanya belajar fiqh, tanpa belajar tasawuf (antara kitab besar tasawuf ialah Al-Hikam) adalah fasiq?
Kata Imam Malik رضي الله عه :
"Fiqh tanpa tasawwuf adalah fasiq. Tasawwuf tanpa fiqh adalah zindiq. Menghimpun antara keduanya itu yang haq."
Kata-kata ini telah disepakati oleh seluruh ulama 'arifin walaupun dengan makna yang berbeza-beza, tetapi membawa kepada maksud yang sama; iaitu wajib menghimpunkan kedua-dua fiqh dan tasawwuf. Mengamalkan fiqh semata-mata tanpa disertai tasawwuf boleh membawa seseorang itu kepada menjadi fasiq. Wal Iyazubillah.
( Sumber dari # Rahmat Rahman )




Guru Tasawwuf


Teori yang kurang tepat daripada seorang GURU juga boleh 'melahirkan seorang pelajar yang bodoh"

Jubah putih tergantung dipakai dan disarung,
Jadikan terulung kalung qalam disanjung,
Ku sajikan pesan bukan sekadar pameran,
Sucikan penampilan pakaian taqwa pedoman.

"Dan sesungguhNya Kami telah membinasakan umat-umat yang terdahulu daripada kamu semasa mereka berlaku zalim padahal telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka membawa keterangan-keterangan, dan mereka masih juga tidak beriman. Demikianlah Kami membalas kaum yang melakukan kesalahan."
(Yunus 10:13)
"Kemudian Kami jadikan kamu khalifah-khalifah di bumi menggantikan mereka yang telah dibinasakan itu, supaya Kami melihat apa pula corak dan bentuk kelakuan yang kamu akan lakukan."
(Yunus 10:14)
"Dan janganlah engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenaiNya. SesungguhNya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua itu akan diminta dipertanggungjawabanNya."
(Al-Israa' 17:36)
· 
Kisah Wali yang tidak fasih bacaan AL-Fatihah-Nya*
Ada kisah sufi, seorang wali yang tidak fasih bacaanNya tetapi ia dekat dengan Allah swt.
Ada seorang ustadz muda ingin berguru kepada Syaikh Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal kerana karomahNya. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir. Ketika ustadz muda itu tiba di rumahNya, Syaikh Abul Khair sedang mengaji. Pada waktu Syaikh Abul Khair membaca Surat AL-Fatihah, saat itulah ustadz muda ini kurang berpuas hati dengan makhraj bacaan AL-Qur’an Abul Khair, yang dinilaiNya kurang fasih.
“Bagaimana mungkin ia seorang sufi terkenal, makhraj bacaan AL-FatihahNya saja tidak bagus, bagaimana mungkin aku boleh menjadi muridNya?” fikir ustadz muda itu yang berniat menukar niatNya untuk berguru kepada Syaikh Abul Khair.
Setelah itu, ustadz muda itu pergi tanpa izin. Namun, begitu ia keluar, ia langsung dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Singa itu mengaum dengan kerasNya seperti hendak memangsa ustadz muda tersebut. Kerana ketakutan, ustadz muda itu mundur kebelakang. Akan tetapi di belakangNya juga ada seekor singa padang pasir lain yang menghalangiNya. Ustadz muda itu terjebak di tengah-tengah tanpa boleh berbuat sesuatu.
AkhirNya, ustadz muda itu menjerit sekuat-kuatNya kerana ketakutan. Begitu mendengar teriakan dari luar, Syaikh Abul Khair segera turun keluar meninggalkan majlisNya. Ia menatap kedua ekor singa padang pasir yang buas itu dan berkata kepada singa-singa itu:
“Wahai singa, bukankah sudah aku beritahu kepadamu jangan pernah kalian mengganggu para tetamuku.”
Sungguh ajaib, kedua singa yang semula terlihat buas itu lalu duduk bersimpuh di hadapan Syaikh Abul Khair.
Si sufi Abul Khair lalu mengulas-gulas telinga kedua singa itu dan menyuruhNya pergi. Setelah kedua haiwan buas itu benar-benar pergi, ustadz muda itu merasa kehairanan.
“Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar itu?” tanya ustadz muda.
“Anak muda, selama ini aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Bertahun-tahun aku berusaha menatap hatiku hingga aku tidak sempat berprasangka buruk kepada orang lain. Untuk kesibukanku menaklukkan hatiku ini, Allah swt telah menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Semua binatang buas di sini termasuk singa padang pasir yang buas itu, semua tunduk kepadaku,” jelas Abul Khair.
Ustadz muda itu hanya terdiam dengan penuh rasa malu. Namun, di sisi lain ia begitu mengagumi karomah yang dimiliki oleh Syaikh Abul Khair.
“Engkau tahu kekuranganmu, wahai anak muda?” kata Abul Khair.
“Tidak wahai guru” jawab sufi muda itu.
“Selama ini engkau sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu, kerana itu engkau takut kepada seluruh alam semesta,” jelas Abul Khair.
Ustadz muda itu akhirNya menukar niatNya untuk pergi. Dia menetapkan hatiNya untuk menjadi murid Syaikh Abul Khair.
( Sumber dari # Syeh Haqtullah )

 APAKAH KALBUMU BUTA?

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Sirrul-Asrar mengatakan:
"Penyebab kebutaan kalbu adalah karena adanya tabir gelap (al hujub azh zhulmaniyah), lalai dan lupa karena jauhnya diri dari menepati janji pada Allah saat di Alam Arwah. Adapun sebabnya lalai adalah kebodohan seseorang terhadap masalah hakikat Ilahiah.
Kebodohan ini timbul karena kalbu dikuasai oleh sifat-sifat tercela, seperti sombong, dendam, dengki, kikir, ‘ujub, ghibah (mengumpat), namimah (mengadu domba), bohong dan sifat-sifat tercela lainnya. Sifat-sifat inilah yang mengakibatkan manusia jatuh ke derajat yang paling rendah.
Adapun cara menghilangkan sifat-sifat yang tercela tadi adalah dengan membersihkan cermin kalbu dengan alat pembersih tauhid, ilmu dan amal; serta berjuang dengan sekuat tenaga, baik lahir maupun batin. Semua itu, akan menghasilkan hidupnya kalbu dengan cahaya tauhid dan sifat-sifatnya. Bila seorang manusia telah berhasil menghidupkan hatinya, maka ia akan ingat pada Negeri Asalnya (Alam Lahut). Setelah ingat, ia akan rindu pulang dan ingin sampai ke negerinya yang hakiki. Dan, ia akan sampai dengan pertolongan Allah.
Selanjutnya, setelah tabir gelap (al-hujub azh-zhulmaniyah) hilang, maka yang tersisa adalah tabir cahaya (al-hujub an-nuraniyah). Dan, pada saat itulah ia sudah bashirah, ia mampu melihat dengan penglihatan ruh dan menerima cahaya Asma Ash-Shifat (nama-nama sifat). Secara bertahap, hijab-hijab dalam
bentuk cahaya (al-hujub an-nuraniyah) itu akan sirna dengan sendirinya dan dia akan diterangi hanya dengan cahaya Dzat."
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Sirrul Asrar wa mazhharil an wal (Rasaning Rasa) terjemah KH zezen Zaenal Abidin Bazul Asyhab.


"Qalbun Mukmin Baitullah".
1. Daging jantung putih kekuningan (Nur Allah).
2. Jantung putih (Nur Muhammad).
3. Lurah/sudut istana syayatin berada.
"Ketahuilah, sesungguhnya didalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik (taat kpd perintah Allah), maka baiklah seluruh anggota tubuhnya. Manakala jika buruknya (sifat² terkeji/mazmumah), maka akan buruklah keadaan rohani dan jasmaninya. Ketahuilah sekelian bahawa segumpal daging itulah "hati".
(Hadiths riwayat Bukhari dan Muslim).
Kenapakah Sayyidina Mursalin Baginda Muhammad SAW dibelahkan dadanya sebanyak 4 kali oleh Malaikat Jibrail..?
Dan kali terakhir sebelum Baginda SAW naik peristiwa isra' miqraj..?
Itu semua ada kaitan dengan kaedah membuang "darah kotor" tempat jin Qorin berada. Dan setelah itu barulah Jin Qorin itu di Islamkan oleh Baginda SAW dengan pertolongan Allah Taala.
Untuk berjumpa face to face dengan Allah Taala, keseluruhan tubuh jasad, rohani dan nurani Baginda SAW mesti bersih, suci dan tiada unsur² syayatin didalam diri Baginda SAW



APAKAH KALBUMU BUTA?
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Sirrul-Asrar mengatakan:
"Penyebab kebutaan kalbu adalah karena adanya tabir gelap (al hujub azh zhulmaniyah), lalai dan lupa karena jauhnya diri dari menepati janji pada Allah saat di Alam Arwah. Adapun sebabnya lalai adalah kebodohan seseorang terhadap masalah hakikat Ilahiah.
Kebodohan ini timbul karena kalbu dikuasai oleh sifat-sifat tercela, seperti sombong, dendam, dengki, kikir, ‘ujub, ghibah (mengumpat), namimah (mengadu domba), bohong dan sifat-sifat tercela lainnya. Sifat-sifat inilah yang mengakibatkan manusia jatuh ke derajat yang paling rendah.
Adapun cara menghilangkan sifat-sifat yang tercela tadi adalah dengan membersihkan cermin kalbu dengan alat pembersih tauhid, ilmu dan amal; serta berjuang dengan sekuat tenaga, baik lahir maupun batin. Semua itu, akan menghasilkan hidupnya kalbu dengan cahaya tauhid dan sifat-sifatnya. Bila seorang manusia telah berhasil menghidupkan hatinya, maka ia akan ingat pada Negeri Asalnya (Alam Lahut). Setelah ingat, ia akan rindu pulang dan ingin sampai ke negerinya yang hakiki. Dan, ia akan sampai dengan pertolongan Allah.
Selanjutnya, setelah tabir gelap (al-hujub azh-zhulmaniyah) hilang, maka yang tersisa adalah tabir cahaya (al-hujub an-nuraniyah). Dan, pada saat itulah ia sudah bashirah, ia mampu melihat dengan penglihatan ruh dan menerima cahaya Asma Ash-Shifat (nama-nama sifat). Secara bertahap, hijab-hijab dalam
bentuk cahaya (al-hujub an-nuraniyah) itu akan sirna dengan sendirinya dan dia akan diterangi hanya dengan cahaya Dzat."
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Sirrul Asrar wa mazhharil an wal (Rasaning Rasa) terjemah KH zezen Zaenal Abidin Bazul Asyhab

Sesaorang itu tidak dapat sebut sebagai Ahli Sufi, kecuali jika ia telah dan sedang mengalami secara langsung perihal dzauq dan wijdan...dan bukan hanya melalui cerita² serta teori mengenainya.
"Man dzaqa aroftu, wa man lam yadzauq lam ya'rif"

Jangan melihat dunia yang diluar sana tetapi lihatlah atau tiliklah dunia yang berada didalam diri anda itu. Kenal lah diri rata2 maka kenallah Allah yang nyata

Tambah kapsyen

Sesaorang itu tidak dapat sebut sebagai Ahli Sufi, kecuali jika ia telah dan sedang mengalami secara langsung perihal dzauq dan wijdan...dan bukan hanya melalui cerita² serta teori mengenainya.
"Man dzaqa aroftu, wa man lam yadzauq lam ya'rif"
Share on Google Plus

About Tv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 komentar:

Posting Komentar