Syaikh Siti Jenar


SITI JENAR· 

Nama asli SSJ adalah Ali Hasan alias Abdul Jalil. Mengenai tahun kelahirannya sulit terlacak. Menurut Agus Sunyoto, pengarang ‘Suluk Malang Sungsang SSJ’, dalamsuatu diskusi tentang SSJ menjelaskan bahwa Tarikat Akmaliyah meyakini bahwa guru mereka yang bernama SSJ, memang benar berasal dari Cirebon.
Ada yang unik dalam pengajaran SSJ, karena tidak lazim pengajaran suatu tarikat mengajarkan dua pengetahuan sekaligus, yaitu Qalb dan Aql. Aql adalah pengetahuan analitis yang bertolak dari akal, atau penalaran. Sementara Qalb, seperti umumnya diajarkan pada tarekat-tarekat adalah pengetahuan yang didapat dari intuisi supra-rasional berbagai Realitas Transenden yang berhubungan dengan manusia. Pengetahuan ini bersifat normatif dan nonmaterialistik. Pengetahuan ini berasal dari ‘pengalaman langsung’ yang terkait dengan dzauq (rasa). Ilmu pengetahuan ini dibangun dan dikembangkan di atas tradisi para penempuh jalan ruhani dalam menuju Allah.
SSJ mengajarkan Sasahidan, yaitu faham mistik yang sering dihubungkan dengan ajaran ‘manunggaling kawula-gusti, jumbuhing kawula-gusti, sangkan paraning dumadi yang secara keliru dikaitkan dengan ajaran ittihad, hulul, wahdat al-wujud, istighraq panteistik. Padahal ajaran Sasahidan yang disampaikan SSJ adalah faham mistik yang tidak sederhana didefinisan dengan panteistik, monistik dan pantaestik sekaligus jika didefiniskan secara umum. Di dalam Sasahidan, SSJ mengajarkan Tuhan sebagai Dzat Wajibul Wujud yang ingin diketahui keberadaan-Nya mencipta mahluk dengan pewahyuan Tuhan sendiri melalui tujuh tahap. Ajaran ini disebut martabat tujuh, yang berangkat dari tajalli (penampakan) Tuhan melalui tingkatan-tingkatan atau martabat, dimana pewahyuan Diri dari Yang Satu bertajalli dalam keadaan Bersatu (al Ahadiyah), hal ini bisa dikatakan bahwa Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya dalam “keadaan Ketuhanan” (al martabah Ilahiyah). Tingkat pewahyuan diri Diri dari Yang Satu (tajalliyah) itu bertahap menampakkan diri melalui TUJUH MARTABAT yaitu : Martabat Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah, Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam, dan Insan Kamil. Salah satu bagian ajaran Sasahidan yang disampaikan SSJ adalah ajaran “Sangkan Paraning Dumadi” artinya asal dari segala ciptaan. Menurut SSJ bahwa pangkal dari segala ciptaan adalah Dzat Wajib al Wujud yang tak terdefiniskan yang diberi istilah “awang uwung” (Ada tetapi Tidak Ada, Tidak Ada tetapi Ada) yang keberadaannya hanya mungkin ditandai oleh kata “tan kena kinaya ngapa” yang disebut dalam Al Quran “Laisa Kamitslihi Syaiun” artinya “ tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu). Inilah tahap Ahadiyah. Dari keberadaan Yang Tak Terdefinisikan itulah Dzat Wajib al Wujud Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan Diri sebagai Pribadi Ilahi yang disebut Allah. Inilah tahap Wahdah dimana Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan diri menjadi Rabb-al Arbab. Dari tahap wahdah ini kemudian mewahyukan Diri sebagai Nur Muhammad. Inilah tahap Wahidiyah dimana yang tak terdefinisikan mewahyukan diri sebagai Rabb. Nur Muhammad ini ini kemudian mewahyukan Diri menjadi semua ciptaan yang disebut mahluk, baik yang kasat mata maupun tidak kasat mata. Dengan pandangan itu konsep keesaan (tauhid) Ilahi yang diajarkan SSJ tidak bisa disebut wahdatul wujud, karena di dalam doktrin Sasahidan disebutkan bahwa “Dia Yang Esa sekaligus Yang Banyak (al wahid al katsir), Dia adalah Yang Wujud secara bathin dan Yang Maujud secara dhahir, sehingga disebut Yang Wujud sekaligus Yang Maujud (Ad-Dhahir Al Bathin)”.
MARTABAT TUJUH :
1. ALAM AHDAH✓
Pada Alam Gaibul-Gaib yaitu pada martabat Ahdah di mana belum ada sifat, belum ada ada asma’,belum ada afaal dan belum ada apa-apa lagi yaitu pada Martabat LA TAKYIN, Zatul Haq telah menegaskan untuk memperkenalkan DiriNya dan untuk diberi tanggungjawab ini kepada manusia dan di tajallikanNya DiriNya dari satu peringkat ke peringkat sampai zahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.
Adapun Martabat Ahdah ini terkandung ia di dalam Al-Ikhlas pada ayat pertama yaitu “QulhuwallahuAhad”, yaitu Sa pada Zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabat Zat. Pada martabat ini diri Empunya Diri (Zat Ulhaki) Tuhan Rabbul Jalal adalah dengan dia semata-mata yaitu di namakan juga Diri Sendiri. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya yaitu Wujud Hakiki lagi Qadim.
Pada kondisi ini tiada sifat, tiada Asma dan tiada Afa’al dan tiada apa-apa pun kecuali Zat Mutlak semata-mata maka berdirilah Zat itu dengan Dia semata-mata dai dalam keadaan ini dinamakan AINUL KAFFUR dan diri zat dinamakan Ahdah jua atau di namakan KUNNAH ZAT.
2. ALAM WADAH✓
Alam Wahdah merupakan peringkat kedua dalam proses pen- tajallian-nya, Diri Empunya Diri telah mentajallikan diri ke suatu martabat sifat yaitu “La Tak Yan Sani” – sabit nyata yang pertama atau disebut juga martabat noktah mutlak yaitu ada permulaannya.
Martabat ini di namakan martabat Noktah Mutlak atau dipanggil juga Sifat Muhammadiah. Martabat ini dinamakan martabat Wahdah yang terkandung pada ayat “Allahus Shomad” yaitu tempatnya Zat Allah tiada terlindung sedikit pun meliputi 7 lapis langit dan 7 lapis bumi.
Pada peringkat ini Zat Allah Taala mulai bersifat. SifatNya itu adalah sifat batin jauh dari Nyata dan bisa di umpamakan sebuah pohon besar yang subur yang masih di dalam biji, tetapi ia telah wujud, tidak nyata, tetapi nyata sebab itulah ia di namakan Sabit Nyata Pertama martabat “La Takyin Awwal” yaitu keadaan nyata tetapi tidak nyata (wujud pada Allah).
Maka pada peringkat ini tuan Empunya Diri tidak lagi Ber-as’ma dan di peringkat ini terkumpul Zat Mutlak dan Sifat Batin. Maka di saat ini tidaklah berbau, belum ada rasa, belum nyata di dalam nyata yaitu di dalam keadaan apa yang di sebut ROH-IDDHAFI.
Pada peringkat ni sebenarnya pada Hakiki Sifat. (Kesempurnaan Sifat) Zat Al Haq yang di tajallikan-nya itu telah sempurna cukup lengkap segala-gala. Ia terhimpunan dan tersembunyi di samping telah zahir pada hakikinya.
3. ALAM WAHDIAH✓
Pada peringkat ketiga setelah tajalli akan dirinya pada peringkat “La takyin Awal”, maka Empunya Diri kepada Diri rahasia manusia ini, mentajallikan pula diriNya ke satu martabat as’ma yaitu pada martabat segala Nama dan dinamakan martabat (Muhammad Munfasal) yaitu keadaan terhimpun lagi bercerai-berai atau di namakan “Hakekat Insan".
Martabat ini terkandung didalam “Lam yalidd” yaitu Sifat Qadim lagi Baqa, tatkala menilik wujud Allah. Pada martabat ini keadaan tubuh diri rahasia pada masa ini telah terhimpun pada hakikinya Zat, Sifat Batin dan Asma Batin. Apa yang dikatakan berhimpun lagi bercerai-berai kerana pada peringkat ini sudah dapat di tentukan bangsa masing – masing tetapi pada masa ini belum zahir lagi di dalam Ilmu Allah yaitu dalam keadaan “Ainul Sabithaah”. artinya sesuatu keadaan yang tetap dalam rahasia Allah, belum ter-zahir, malah untuk mencium baunya pun belum bisa. Dinamakan juga martabat ini wujud Ardhofi dan martabat wujud Am karena wujud di dalam sekalian bangsa dan wujudnya bersandarkan Zat Allah Dan Ilmu Allah.
Pada peringkat ini juga telah terbentuk diri rahasia Allah dalam hakiki dalam batin yaitu dapat dikatakan juga roh di dalam roh yaitu pada menyatakan NYATA TETAPI TIDAK NYATA.
4. ALAM ROH✓
Pada peringkat ke empat di dalam Empunya Diri, Dia menyatakan, mengolahkan diriNya untuk membentuk satu batang tubuh halus yang dinamaka ROH. Jadi pada peringkat ini dinamakan Martabat Roh pada Alam Roh.Tubuh ini merupakan tubuh batin hakiki manusia dimana batin ini sudah nyata Zatnya, Sifatnya dan Afa’alnya.
Pada saat ini menjadi sempurna, cukup lengkap seluruh anggota-anggota batinnya, tida cacat, tiada cela dan keadaan ini dinamakan (Alam Khorijah) yaitu Nyata lagi zahir pada hakiki daripada Ilmu Allah. Tubuh ini dinamakan “Jisim Latiff” yaitu satu batang tubuh yang liut lagi halus. yang tidak akan mengalami cacat cela dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, gembira dan hancur binasa, dan inilah yang dinamakan “KholidTullah”.
Pada martabat ini terkandung di dalam “Walam Yuladd“. Dan berdirilah ia dengan diri tajalli Allah dan hiduplah ia buat selama-lamanya. Inilah yang dinamakan keadaan Tubuh Hakekat Insan yang mempunyai awal tiada kesudahannya, dialah yang sebenarnyanya dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahasia Allah dalam Diri Manusia.
5. ALAM MISAL✓
Alam Misal adalah peringkat ke lima dalam proses pentajallian Empunya Diri dalam menyatakan rahasia diriNya untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan dirinya Allah S.W.T., terus menyatakan diriNya melalui diri rahasiaNya dengan lebih nyata dengan membawa diri rahasiaNya untuk di kandung pula oleh bapak yaitu dinamakan Alam Misal.
Untuk menjelaskan lagi Alam Misal ini adalah dimana unsur rohani yaitu diri rahasia Allah belum bercantum dengan badan kebendaan. Alam misal jenis ini berada di Alam Malakut. Ia merupakan peralihan daripada alam Arwah (alam Roh) menuju ke alam Nasut maka itu dinamakan ia Alam Misal di mana proses peryataan ini, peng-ujudan Allah pada martabat ini belum zahir, tetapi Nyata dalam tidak Nyata.
Diri rahasia Allah pada martabat Wujud Allah ini mulai di tajallikan kepada ubun-ubun bapak, yaitu permidahan dari alam roh ke alam Bapak (misal).
Alam Misal ini terkandung di dalam “Walam yakullahu” dalam surah Al-Ikhlas yaitu dalam keadaan tidak bisa dibayangkan. Dan seterusnya menjadi “DI”, “Wadi”, “Mani” yang kemudiannya di salurkan ke satu tempat yang bergabung di antara diri rahasia batin (roh) dengan diri kasar Hakiki di dalam tempat yang dinamakan rahim ibu. Maka terbentuklah apa yang di katakan “Manikam” ketika berlangsung persetubuhan antara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapak).
Perlu diingat tubuh rahasia pada masa ini tetap hidup sebagaimana awalnya tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa dan belum lagi zahir. Dan ia tetap hidup tidak mengenal akan arti mati.
6. ALAM IJSAN✓
Pada peringkat ke enam, setelah rahasia diri Allah pada Alam Misal yang di kandung oleh bapak, maka berpindah pula diri rahasia ini melalui “Mani” Bapak ke dalam Rahim Ibu dan inilah dinamakan Alam Ijsan.
Pada martabat ini dinamakan martabat “Inssanul Kamil” yaitu batang diri rahsia Allah telah di-Kamilkan dengan kata diri manusia, dan akhirnya ia menjadi “KamilulKamil”. yaitu menjadi satu pada zahirnya kedua-dua badan rohani dan jasmani. dan kemudian lahirlah seoarang insan melalui faraj ibu dan sesungguhnya martabat bayi yang baru dilahirkan itu adalah yang paling suci yang dinamakan “InnsanulKamil”.
Pada martabat ini terkandung di dalam “Kuffuan” yaitu terkumpul dalam keadaan “KamilulKamil dan nyawa pun di masukkan dalam tubuh manusia.
Setelah cukup waktunya maka diri rahasia Allah yang menjadi “KamilulKamil” itu di lahirkan dari perut ibunya, maka di saat ini sampailah ia ke Martabat Alam Insan.
7. ALAM INSAN✓
Pada alam ke tujuh yaitu alam Insan ini terkandung di dalam “Ahad” yaitu sa (satu). Di dalam keadaan ini, maka berkumpullah seluruh proses peng-wujud-an dan peryataan diri rahasia Allah s.w.t. di dalam tubuh badan Insan yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Dunia yang Fana ini. Maka pada alam Insan ini dapatlah di katakan satu alam yang mengumpul seluruh proses pentajallian diri rahasia Allah dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuh dari satu peringkat ke satu peringkat dan dari satu martbat ke satu martabat.
Oleh kerana hal ini merupakan satu perkumpulan seluruh alam-alam lain, maka mulai alam dunia yang fana ini, ber-mula-lah tugas manusia untuk mengembalikan balik diri rahsia Allah itu kepada Tuan Empunya Diri dan proses penyerahan kembali rahasia Allah ini hendaklah ber-awal dari alam Dunia ini, oleh karena itu persiapan untuk balik kembali ke asalnya mula kembali mu ke semula hendaklah dimulai dari sekarang juga (titik)
# Sumber dari  SITI JENAR
Share on Google Plus

About Tv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 komentar:

Posting Komentar