ADAM & SITI HAWA



ADAM & SITI HAWA
Sebenarnya dalam ALFATIHAH itu tersimpan rahasia nabi ADAM dan SITI HAWA, hanya saja sebagian orang yang terlalu sibuk dengan ayat ayat dan mantra mantra lain terlupa untuk mengkaji kebesaran dan keampuhan surat ALFATIHAH ini.
Tidak ada surat yang lebih agung dan lebih besar menyimpan rahasia rahasia Nabi ADAM selain surat ALFATIHAH, karena surat itulah yang di jadikan mahar atau mas kawin saat kedua pasangan ini di nikah kan kembali sebelum turun ke muka bumi.
Bahkan sesampainya di muka bumi kedua sosok ini pun menikah kembali secara zahirnya alam dunia dengan mas kawin 7 bilah surat ALFTIHAH yang di saksikan oleh malaikat JIBRIL.
Kenapa maharnya surat ALFATIHAH..?

Karena di dalam surat ALFATIHAH itulah mengandung emas, intan, pualam sebanyak berlapis lapis yang di minta oleh SITI HAWA sebagai mas kawinnya
_
Di dalam surat ALFATIHAH terdapat 7 kunci kenikmatan-kenikmatan yang ALLAH turunkan ke muka bumi, dan 7 kenikmatan inilah yang dapat mencukupi permintaan mas kawin SITI HAWA.
Selain itu..
surat ALFATIHAH bukanlah tanpa sebab di pilih SITI HAWA dan NABI ADAM menjadi mas kawin mereka..
Karena pd saat awal sekali ADAM memiliki RUH dan HIDUP, maka nabi ADAM mengucapkan
” alhamdu lillahi rabbil alamin ”
segala puji bagi allah tuhan sekalian
ADAM memuji ALLAH sebagai bentuk syukur telah di hidupkan kembali

Saat ADAM melampaui aturan ALLAH dan merayu tuhannya agar di ampuni maka ADAM juga merayu dengan kalimat rayuan maut nya
” alhamdu lillahi rabbil alamin ”

Lalu ALLAH ampuni ADAM.
Saat ADAM mengalami bersin yang pertama sekali beliau juga menyebut kalimat pujian
” alhamdu lillahi rabbil alamin ”

dan yang tak kalah menariknya nabi ADAM merayu sang pasangan hati ini juga dalam beberapa kali perselisihan rumah tangga di muka bumi dengan jampi pekasih andalannya yaitu
” alhamdu lillahi rabbil alamin “

ALHAMDU itu sarang kenikmatan melihat wajah Allah…

LILLAHI itu kenikmatan ROH…

RABBIL itu diri mu yang selalu di sayangi Allah…

ALAMIN itu meliputi kasih dan sayang Allah serata sama merata kepada setiap makhluknya dimana pun berada…

Jadi kalau mau menikmati kenikmatan yang tersedia dalam ayat ini mesti berhati hati, lembut dan jelas penyebutannya.
Dahulu saat di benih SITI HAWA itu bersarang dalam bentuk NUR BENING seperti minyak kelapa hijau di dalam tulang baginda ADAM, dia belum bernama SITI HAWA.
NUR BENING sewaktu itu masih lunak dan bening, penurut dan boleh ikut di bentuk kepada apa saja..
namun setelah NUR BENING ini wujud dan memiliki kehendak yang menentang kepada tulang baginda ADAM maka bermula lah dia di sebut SITI.

SITI adalah nama yang di berikan oleh Malaikat surga kepada makhluk yang baru wujud ini
Dengan makna SITI maksudnya HATI.
HATI siapakah si SITI,
yaitu bagian dari hati baginda ADAM yang terbagi, sehingga sejak itu wujud yang baru ini mereka maknai dengan SITI.

Setelah SITI ini turun ke muka bumi maka makhluk bumi menyebutnya dengan HAWA
karena apa..?
karena setelah SITI ada di muka bumi, sejak itu pula lah kehendak dan nafsu bermula, sebagian Malaikat yang melata di muka bumi saat itu tetap memanggil wujud wanita pertama ini dengan nama SITI dan sebagian makhluk bumi yang terdiri dari Jin dsb memanggil dengan nama HAWA.
Lama kelamaan makhluk di dua alam ini memanggil wujud wanita pertama ini dengan nama SITI HAWA…

Dan sesungguhnya wanita pertama ini pun sampai saat ini jika di panggil dengan panggilan SITI HAWA maka hanya JASAD nya saja yang terpanggil sedangkan RUH/PERASAAN/HATI semula jadinya tertinggal.

Begitu juga baginda ADAM…
ia bernama ADAM sewaktu telah melihat wujud si SITI maka timbul lah sipat nafsu dan sipat menghendaki. Sipat sipat yang bukan lagi sipat kaum penghuni surga ini telah membuat sosok laki laki pertama ini lebih condong kepada AKAL bukan lagi miring kepada AF’AL….

AF’AL adalah sipat Rahim ALLAH yang bersih dari HAWA NAFSU
sedangkan AKAL adalah sipat ADA’AM yang memang lebih berat ke pada AKAL dan NAFSU

Sejak laki laki pertama ini berkeinginan lebih kepada yang lain selain ALLAH maka dia di panggil ADAM oleh para Malaikat,
hingga sampai di muka bumi sipat ADA’AM sosok ini sangat mendominasi maka makhluk pun menetapkan nama sosok ini dengan nama ADAM.
🌑
Diriwayatkan bahwa pada akad pernikahan itu ALLAH SWT. berfirman:
_
“Segala puji adalah kepunyaan-KU, segala kebesaran adalah pakaian-KU, segala kemegahan adalah hiasan-KU dan segala makhluk adalah hamba-KU dan di bawah kekuasaan-KU. Menjadi saksilah kamu hai para malaikat dan para penghuni langit dan syurga bahwa AKU menikahkan Hawa dengan Adam, kedua ciptaan-KU dengan mahar, dan hendaklah keduanya bertahlil dan bertahmid kepada-KU !”.

Malaikat dan para Bidadari berdatangan berkumpul bersama-sama pada hari Jum'at di bawah pohon “Syajarah Thuba”, menjadi saksi atas pernikahan Adam dan Hawa.

ALLAH SWT. berfirman:

“Mahar Hawa ialah selawat sepuluh kali atas Nabi-KU, Nabi yang bakal KU bangkitkan yang membawa pernyataan dari sifat-sifat-KU: MUHAMMAD, cincin permata dari para anbiya’ dan penutup serta penghulu segala Rasul. Ucapkanlah sepuluh kali !”.

ADAM mengucapkan 10 kali salawat ke atas Nabi MUHAMMAD SAW. sebagai mahar kepada isterinya.

Suatu mahar yang bernilai spiritual, karena Nabi MUHAMMAD SAW adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

HAWA mendengarkannya dan menerimanya sebagai mahar.
ADAM a.s merasa lega.

ALLAH berfirman :

“Hai Adam, kini AKU halalkan Hawa bagimu”
Perintah ALLAH,
“dan dapatlah ia sebagai isterimu!”.
ADAM a.s bersyukur lalu memasuki isterinya dengan ucapan salam.
HAWA menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang seimbang.

ALLAH SWT. berfirman kepada mereka:
“Hai Adam, diamlah engkau bersama isterimu di dalam syurga dan makanlah (serta nikmatilah) apa saja yang kamu berdua ingini, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini kerana (apabila mendekatinya) kamu berdua akan menjadi zalim”.
(Al-A’raaf: 19).
Dengan pernikahan ini ADAM a.s tidak lagi merasa kesepian di dalam syurga.

Inilah percintaan dan pernikahan agung yang pertama dalam sejarah ummat manusia, yang dihadiri oleh para Bidadari, Jin dan disaksikan oleh para Malaikat serta berlangsung di dalam Syurga yang penuh kenikmatan.

Entah berapa lama keduanya berdiam di Syurga, hanya ALLAH SWT yang tahu.
Lalu keduanya diperintahkan turun ke bumi.

ALLAH SWT berfirman .:

“Kami berfirman: Turunlah kamu dari syurga itu. Kemudian jika datang petunjuk-KU kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-KU, niscaya tidak ada kekhuatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 38)
Kitab "Bada’i al-Zuhur fi Waqa’i al-Duhur" karya Ibn Iyas, (Abu al-Barakat Muhammad bin Ahmad bin Iyas)

Petikan Atikel 
Msprayitno Kaji Diri
Share on Google Plus

About Tv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 komentar:

Posting Komentar