Orang yang bijak


Ada banyak orang yang begitu pandai menghitung usia, tetapi sangat sedikit yang benar-benar menghitung sisa kesempatan. Kita begitu sibuk menyusun rencana untuk lima atau sepuluh tahun ke depan, namun sering lupa bahwa tidak ada seorang pun yang pernah dijanjikan dapat menyaksikan matahari esok pagi. Manusia hidup dengan ilusi bahwa waktu masih panjang. Dari ilusi itulah lahir penundaan, kelalaian, dan keberanian untuk terus menumpuk kesalahan tanpa merasa perlu segera memperbaikinya. Padahal, justru kesadaran tentang akhir kehidupan adalah salah satu bentuk kecerdasan yang paling tinggi. Bukan karena seseorang menjadi takut mati, tetapi karena ia memahami bahwa setiap detik yang berlalu sedang mengurangi jatah hidupnya, bukan menambahnya.

Di tengah masyarakat yang mengukur keberhasilan dari pencapaian dunia, ada satu kelompok manusia yang diam-diam sedang membangun sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka tidak hanya bertanya bagaimana hidup ini akan berakhir, tetapi juga bertanya bagaimana kehidupan berikutnya akan dimulai. Pertanyaan itu mengubah cara mereka berbicara, bekerja, mencintai, memaafkan, dan mengambil keputusan. Mereka tidak hidup dalam kecemasan, melainkan dalam kesadaran. Mereka tahu bahwa kematian bukan musuh yang harus ditakuti, tetapi gerbang yang pasti akan dilalui. Karena itulah mereka tidak menunggu usia tua untuk berubah. Mereka memperbaiki diri sejak hari ini, karena tidak ada yang mampu memastikan bahwa usia muda masih tersisa hingga besok.
1. Kecerdasan yang Tidak Diukur Oleh Nilai Dunia
Kecerdasan bukan hanya tentang kemampuan menjawab persoalan yang rumit atau menghafal ribuan ilmu. Kecerdasan yang sesungguhnya terlihat ketika seseorang mampu menentukan mana yang abadi dan mana yang hanya sementara. Banyak orang berhasil membangun karier yang mengagumkan, tetapi gagal membangun dirinya sendiri. Banyak yang pandai mengatur masa depan finansial, tetapi tidak pernah menyusun bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang setelah kehidupan ini berakhir. Orang yang benar-benar cerdas memahami bahwa hidup hanyalah persinggahan, sehingga ia tidak membiarkan seluruh energinya habis untuk sesuatu yang akhirnya akan ia tinggalkan.
2. Mengingat Kematian Bukan Berarti Menjadi Pesimis
Sebagian orang mengira bahwa sering mengingat kematian akan membuat hidup terasa suram. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Kesadaran akan kematian membuat seseorang lebih menghargai setiap detik kehidupannya. Ia menjadi lebih mudah bersyukur, lebih berhati-hati dalam berkata, dan lebih bijaksana dalam menentukan prioritas. Orang yang sadar bahwa ajal bisa datang kapan saja tidak akan rela menghabiskan harinya untuk kebencian yang tidak berguna atau pertengkaran yang melelahkan. Ia memilih mengisi hidup dengan sesuatu yang benar-benar bernilai.
3. Penundaan Adalah Tipuan Yang Paling Halus
Kalimat nanti sering kali terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersembunyi jebakan yang sangat berbahaya. Nanti akan bertobat. Nanti akan meminta maaf. Nanti akan memperbaiki diri. Nanti akan lebih rajin beribadah. Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki perjanjian dengan waktu. Banyak kehidupan yang berakhir di tengah rencana yang belum sempat diwujudkan. Karena itu, orang yang cerdas tidak menggantungkan perubahan pada hari esok. Ia memulai hari ini, karena hari ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar ia miliki.
4. Bekal Tidak Pernah Dibangun Dalam Satu Malam
Sebagaimana sebuah perjalanan panjang membutuhkan persiapan, kehidupan setelah kematian pun memerlukan bekal yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Setiap kebaikan sekecil apa pun memiliki arti. Senyuman yang tulus, pertolongan yang sederhana, doa yang diam-diam dipanjatkan, hingga kesabaran yang tidak diketahui siapa pun, semuanya sedang membangun sesuatu yang kelak akan ditemui kembali. Orang yang cerdas tidak meremehkan amal kecil, karena ia tahu bahwa timbangan kehidupan tidak selalu mengikuti cara manusia menilai.
5. Dunia Hanya Tempat Singgah
Seseorang yang sedang singgah di sebuah tempat tidak akan menganggapnya sebagai rumah terakhir. Ia menikmati seperlunya tanpa melupakan tujuan utama perjalanannya. Begitu pula kehidupan ini. Dunia boleh dicintai, tetapi jangan sampai menguasai hati. Ketika hati terlalu melekat pada sesuatu yang fana, kehilangan akan terasa menghancurkan. Namun ketika hati memahami bahwa semuanya hanyalah titipan, setiap perpisahan akan diterima dengan lebih lapang dan penuh keikhlasan.
6. Kesadaran Melahirkan Kelembutan
Orang yang hidup dengan mengingat kematian biasanya memiliki hati yang lebih lembut. Ia tidak mudah merendahkan orang lain karena sadar bahwa semua manusia sedang berjalan menuju tempat yang sama. Ia tidak sibuk mencari kesalahan orang lain karena lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Kesadaran ini menciptakan kerendahan hati yang sulit ditemukan pada mereka yang terlalu sibuk mengejar pengakuan dunia. Dari sinilah lahir hubungan sosial yang dipenuhi kasih sayang, empati, dan penghormatan terhadap sesama.
7. Waktu Adalah Nikmat Yang Paling Sering Disia-siakan
Tidak ada kekayaan yang mampu membeli kembali satu detik yang telah berlalu. Anehnya, justru waktu adalah nikmat yang paling sering dibuang tanpa rasa bersalah. Berjam-jam habis untuk sesuatu yang tidak meninggalkan manfaat, sementara kesempatan memperbaiki diri terus berkurang. Orang yang cerdas memandang waktu sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ia tidak menunggu motivasi datang. Ia bergerak karena sadar bahwa setiap hari yang hilang tidak akan pernah kembali.
8. Ajal Tidak Pernah Memilih Usia
Kematian tidak datang berdasarkan urutan kelahiran atau panjangnya harapan manusia. Ia mendatangi bayi, pemuda, orang dewasa, maupun mereka yang telah renta. Kesadaran ini menghapus anggapan bahwa masa muda adalah alasan untuk menunda menjadi pribadi yang lebih baik. Justru usia muda adalah kesempatan terbaik untuk menanam sebanyak mungkin kebaikan sebelum tenaga melemah dan kesempatan semakin sempit. Tidak ada yang lebih berharga daripada memanfaatkan masa kuat sebelum datang masa yang penuh keterbatasan.
9. Warisan Terbesar Adalah Jejak Kebaikan
Pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena berapa banyak yang berhasil ia miliki, tetapi karena seberapa besar manfaat yang pernah ia tinggalkan. Harta akan berpindah tangan, jabatan akan berganti pemilik, dan nama perlahan terlupakan. Namun kebaikan yang pernah diberikan akan terus hidup di hati orang lain, bahkan ketika pemiliknya telah lama tiada. Orang yang cerdas membangun warisan yang tidak habis dimakan waktu, yaitu manfaat yang terus mengalir meskipun dirinya sudah tidak lagi berada di dunia.
10. Hiduplah Seolah Ini Adalah Kesempatan Terakhir
Bayangkan jika hari ini benar-benar menjadi hari terakhir dalam hidup. Mungkin kita akan lebih cepat meminta maaf. Lebih ringan memaafkan. Lebih khusyuk beribadah. Lebih tulus mencintai keluarga. Lebih berhati-hati menjaga lisan. Kesadaran seperti inilah yang membuat hidup menjadi jauh lebih bermakna. Bukan karena kita ingin hidup dalam ketakutan, tetapi karena kita ingin setiap langkah memiliki nilai yang akan menemani ketika semua pintu dunia telah tertutup dan hanya amal yang tetap setia bersama kita.
Jika malam ini ternyata adalah malam terakhir dalam hidupmu, bekal apa yang paling yakin akan menyelamatkanmu ketika tidak ada lagi keluarga, harta, jabatan, maupun teman yang mampu menemanimu?
sumber dari sahabatrumi
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan