RUH YANG MENCINTAI

 


RUH YANG MENCINTAI
(ruh yang telah menemukan arah cintanya:
kembali kepada Allah)...
Ada cinta yang membuat seseorang ingin memiliki.
Ada cinta yang membuat seseorang takut kehilangan.
Namun ada cinta yang jauh lebih dalam...
cinta yang membuat hati rela melepaskan segala sesuatu yang menjauhkan dirinya dari Allah.
Itulah perjalanan ruh yang mencintai.
Dalam tasawuf, mahabbah bukan hanya perasaan lembut di dalam dada. Mahabbah adalah ketika qolbu mulai mengenal siapa yang sebenarnya ia cari selama ini.
Ia mungkin pernah mencari ketenangan melalui manusia,
mencari kebahagiaan melalui harta,
mencari penghargaan melalui pujian,
dan mencari tempat bersandar kepada dunia.
Tetapi pada akhirnya ia sadar:
“Tidak ada hati yang benar-benar tenang kecuali ketika ia kembali kepada Pemilik hati itu sendiri.”
Allah berfirman:
«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)»
Ruh yang mencintai Allah tidak berarti hidupnya tanpa luka.
Justru terkadang ia menangis lebih banyak.
Ia kecewa, tetapi tidak membenci takdir.
Ia kehilangan, tetapi tidak kehilangan Allah.
Ia disakiti, tetapi berusaha tidak membalas dengan kebencian.
Ia memiliki kesempatan untuk membalas,
namun memilih menyerahkan urusannya kepada Allah.
Karena ia mulai memahami...
kemenangan terbesar bukan ketika kita mampu mengalahkan orang lain, tetapi ketika kita mampu mengalahkan ego yang ada di dalam diri sendiri.
Di situlah tasawuf mengajarkan perjalanan tazkiyatun nafs—membersihkan jiwa.
Qolbu yang dahulu dipenuhi iri,
perlahan belajar ikhlas.
Qolbu yang dahulu mudah marah,
belajar sabar.
Qolbu yang dahulu haus pujian,
belajar menyembunyikan amal.
Qolbu yang dahulu menggantungkan kebahagiaan kepada manusia,
belajar menggantungkan harapan hanya kepada Allah.
Dan semakin ia mengenal Allah,
semakin ia menyadari betapa kecil dirinya.
Bukan lagi:
“Ya Allah, berikan aku semua yang aku inginkan.”
Tetapi perlahan berubah menjadi:
“Ya Allah, berikan aku apa yang membuat-Mu ridha kepadaku, meskipun tidak sesuai dengan keinginanku.”
Itulah salah satu tanda cinta yang mulai matang.
Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits qudsi:
«“Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat...”
(HR. Bukhari, no. 6502)»
Maknanya bukanlah manusia menjadi Allah—na'udzubillah.
Namun menunjukkan betapa seorang hamba yang mendekat kepada Allah akan memperoleh pertolongan dan penjagaan-Nya, sehingga anggota tubuhnya semakin ia arahkan kepada perkara yang Allah cintai.
Maka...
Ruh yang mencintai bukan ruh yang selalu mendapatkan apa yang ia mau.
Ruh yang mencintai adalah ruh yang belajar berkata:
“Aku percaya kepada-Mu, ya Allah, bahkan ketika aku belum memahami jalan-Mu.”
Ia tidak lagi sibuk bertanya,
“Mengapa ini terjadi kepadaku?”
Tetapi mulai belajar bertanya,
“Apa yang ingin Allah ajarkan kepadaku melalui semua ini?”
Dan ketika cinta itu semakin dalam...
Doanya tidak selalu tentang meminta dunia.
Kadang ia hanya ingin satu hal:
agar hatinya tidak pernah jauh dari Allah.
Sebab bagi qolbu yang telah mengenal manisnya dekat kepada Allah,
dunia yang luas pun terasa sempit ketika hati jauh dari-Nya.
Namun sebuah kesunyian pun dapat terasa indah,
jika di dalamnya ada dzikir.
Sebuah kehilangan pun dapat menjadi jalan pulang,
jika ia membuat kita lebih dekat kepada Allah.
Dan sebuah air mata pun dapat menjadi ibadah,
jika ia jatuh karena takut kehilangan ridha-Nya.
Maka jagalah hatimu...
Sebab hati adalah tempat yang mudah berubah.
Hari ini ia menangis karena Allah,
besok ia bisa lalai.
Hari ini ia merasa dekat,
besok ia bisa kembali jauh.
Karena itu jangan hanya meminta:
“Ya Allah, berikan aku cinta kepada-Mu.”
Tetapi mintalah juga:
“Ya Allah, jagalah cinta itu di dalam hatiku sampai akhir hayatku.”
Sebab tujuan perjalanan seorang pecinta bukan sekadar merasakan cinta...
melainkan tetap setia kepada Yang Dicintainya.
Dan semoga kelak,
ketika dunia telah kita tinggalkan,
ruh kita pulang kepada Allah
dalam keadaan hati yang telah belajar mencintai-Nya.
DOA
اللَّÙ‡ُÙ…َّ Ø¥ِÙ†ِّÙŠ Ø£َسْØ£َÙ„ُÙƒَ Ø­ُبَّÙƒَ، ÙˆَØ­ُبَّ Ù…َÙ†ْ ÙŠُØ­ِبُّÙƒَ، ÙˆَØ­ُبَّ عَÙ…َÙ„ٍ ÙŠُÙ‚َرِّبُÙ†ِÙŠ Ø¥ِÙ„َÙ‰ Ø­ُبِّÙƒَ
Allahumma inni as'aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba 'amalin yuqarribuni ila hubbik.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”
Ya Allah...
bersihkan qolbu kami dari cinta yang menjauhkan kami dari-Mu.
Jika kami mencintai manusia,
jadikan cinta itu jalan menuju kebaikan.
Jika kami kehilangan sesuatu,
jangan biarkan kami kehilangan Engkau.
Jika hati kami terluka,
jadikan luka itu pintu untuk semakin dekat kepada-Mu.
Dan ketika ruh kami kembali kepada-Mu,
kembalikanlah ia sebagai ruh yang mencintai-Mu dan Engkau ridha kepadanya.
اللَّÙ‡ُÙ…َّ Ø«َبِّتْ Ù‚ُÙ„ُوبَÙ†َا عَÙ„َÙ‰ دِينِÙƒَ، ÙˆَارْزُÙ‚ْÙ†َا Ø­ُبَّÙƒَ ÙˆَØ­ُبَّ Ù†َبِÙŠِّÙƒَ، ÙˆَاخْتِÙ…ْ Ù„َÙ†َا بِالْØ¥ِيمَانِ ÙˆَالرِّضْÙˆَانِ.
Allahumma tsabbit qulubana 'ala dinik, warzuqna hubbaka wa hubba nabiyyik, wakhtim lana bil-imani war-ridhwan.
“Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu, karuniakan kepada kami cinta kepada-Mu dan cinta kepada Nabi-Mu, serta tutuplah hidup kami dengan iman dan keridaan-Mu.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.”

Sumber dari Ismayanti Ainun
 

Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan