Ada kecantikan yang membuat seseorang menoleh.

 


Ada kecantikan yang membuat seseorang menoleh.
Wajah yang indah.
Senyum yang menawan.
Penampilan yang menarik.
Semua itu memang mampu memikat mata.
Namun mata memiliki batas.
Ia akan terbiasa dengan apa yang terus-menerus dilihatnya.
Wajah yang dahulu membuat kita kagum, suatu hari akan menjadi sesuatu yang biasa.
Usia akan berjalan.
Rambut akan berubah.
Kulit akan menua.
Bentuk tubuh tidak akan selamanya sama.
Karena segala sesuatu yang bersifat fisik pada akhirnya berada di bawah hukum waktu.
Tetapi ada keindahan yang tidak mudah dimakan usia.
Keindahan jiwa.
Ia terlihat dalam cara seseorang memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan.
Dalam cara ia berbicara ketika sedang marah.
Dalam kesetiaannya ketika tidak ada yang melihat.
Dalam kelembutannya kepada mereka yang lemah.
Dalam kemampuannya meminta maaf.
Dalam kesabarannya ketika diuji.
Dan dalam kerendahan hatinya ketika memiliki alasan untuk menyombongkan diri.
Seseorang mungkin tidak memiliki wajah yang sempurna.
Tetapi jika kehadirannya membuat orang lain merasa aman, dihargai, dan diterima, ada keindahan yang jauh lebih dalam daripada sekadar penampilan.
Begitu pula dalam hubungan.
Pada awalnya, seseorang mungkin jatuh cinta karena wajah.
Tetapi yang membuat cinta bertahan biasanya adalah karakter.
Kejujuran.
Kesetiaan.
Akhlak.
Kedewasaan.
Dan cara seseorang menjaga hati orang yang dicintainya.
Karena kecantikan fisik membuat seseorang ingin mendekat.
Tetapi keindahan jiwa membuat seseorang ingin tetap tinggal.
Namun keindahan jiwa juga bukan berarti penampilan fisik tidak penting. Merawat diri, menjaga kebersihan, dan tampil baik adalah hal yang wajar. Yang perlu diingat adalah jangan menjadikan rupa sebagai satu-satunya ukuran nilai seseorang.
Dalam pandangan spiritual, keindahan yang paling tinggi bukanlah sekadar apa yang terlihat oleh manusia.
Melainkan hati yang semakin bersih di hadapan Allah.
Seseorang mungkin dipandang sederhana oleh dunia.
Tetapi hatinya penuh syukur.
Lisannya menjaga perasaan.
Tangannya ringan menolong.
Dan hidupnya memberi manfaat.
Bukankah itu bentuk kecantikan yang jauh lebih dalam?
Pada akhirnya, waktu akan mengambil hampir semua yang terlihat oleh mata.
Wajah akan berubah.
Pakaian akan usang.
Harta akan berpindah tangan.
Popularitas akan dilupakan.
Tetapi kebaikan yang pernah kita tanam dalam hati orang lain dapat terus hidup bahkan setelah kita tidak lagi berada di sana.
Maka jangan hanya bertanya,
"Apakah aku cukup cantik untuk dicintai?"
Tanyakan pula,
"Apakah jiwaku cukup indah untuk membuat orang lain merasa aman ketika berada di dekatku?"
Sebab kecantikan mungkin membuat seseorang dikagumi ketika pertama kali bertemu.
Tetapi akhlaklah yang membuat seseorang dikenang setelah pertemuan itu berakhir.

Dan ketika semua yang fana perlahan memudar, keindahan jiwa yang dibentuk oleh cinta, ketulusan, dan kebaikanlah yang meninggalkan jejak paling panjang.

Sumber dari �SYAIR SUFI JALALUDIN RUMI �
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan