“Banyak yang mengucap syahadat… tapi belum benar-benar menyaksikan.”
Allah berfirman:
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah…”
(QS. Muhammad: 19)
Perhatikan… bukan cuma “ucapkan” tapi ketahuilah.
Artinya ada proses sadar ada proses melihat dengan hati.
Saat kamu berkata “tidak ada Tuhan selain Allah” itu berarti kamu menyadari…
bahwa semua yang kamu andalkan sebenarnya tidak punya kuasa apa-apa.
Allah juga berfirman:
“Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 115)
Ini bukan sekadar ayat tapi cara pandang.
Lalu bagian kedua “Muhammad adalah utusan Allah”…
Allah berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Artinya… jalan itu ada tuntunannya. Bukan bebas menurut ego kita.
Contoh Nyata
1. Contoh “Belum Syahadat Secara Hakikat”
Kamu bilang “Allah Maha Pemberi” tapi masih cemas berlebihan soal rezeki.
Itu tanda lisanmu sudah bersaksi tapi hatimu belum.
2. Contoh “Mulai Masuk Hakikat”
Kamu kehilangan sesuatu tapi hatimu tetap tenang. Bukan karena kamu kuat…
tapi karena kamu sadar yang memberi dan mengambil… itu sama.
3. Contoh Mengikuti Jalan
Kamu ingin membalas marah tapi kamu ingat ajaran untuk menahan diri.
Di situ… kamu tidak lagi mengikuti ego tapi mengikuti tuntunan.
“Kalau syahadatmu belum mengubah cara kamu takut…
cara kamu berharap dan cara kamu melihat hidup mungkin kamu baru mengucap…
belum menyaksikan.”
Penutup
“Syahadat itu bukan sekadar pintu masuk… tapi pintu hilangnya ketergantungan selain Dia
Saat itu terjadi kamu tidak lagi sekadar percaya tapi benar-benar melihat.”
Bukan sekadar di lisan tapi di kesadaran. Bukan sekadar percaya tapi menyaksikan.
Sumber dari Lukman Hakim

0 comments:
Catat Ulasan