DI TANGAN MURSYID, CINTA MENEMUKAN JALAN PULANG
Di kedalaman hidup yang kian riuh oleh puja puji pada diri sendiri, ada satu kebenaran sunyi yang hampir-hampir dilupakan: manusia bukanlah penguasa bagi jiwanya sendiri. Kita kerap merasa cukup dengan amal, ilmu, dan logika, namun di balik itu semua, dada ini sering terasa kosong—seperti ada rongga tak bernama yang tak mampu diisi oleh buku, gelar, atau pujian manusia. Sunyi itu adalah jeritan hati yang merindukan bimbingan, kerinduan yang hanya bisa dijawab oleh tangan seorang yang telah sampai, seorang mursyid, seorang yang bukan sekadar mengajar, tapi menuntun ruh kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Taat kepada mursyid bukanlah ketundukan buta sebagaimana dituduhkan oleh mereka yang hanya menimbang agama dengan timbangan akal semata. Ini adalah pengakuan terdalam dari seorang salik bahwa di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ia hanyalah debu yang tak berdaya mengelola hatinya sendiri. Sebagaimana jasad yang sakit butuh tabib, jiwa yang penuh penyakit ‘ujub, riya’, dan cinta dunia ini pun butuh seorang tabib ruhani. Ia tak akan mampu menempuh padang pasir nafsu tanpa pemandu yang mengenali setiap jebakan, setiap fatamorgana, dan setiap serigala yang menyamar. Di sinilah letak sebuah kepasrahan yang justru memerdekakan: melepaskan keakuan di hadapan kekasih Allah agar terbentuk kembali sebagai manusia sejati.
Jangan kau kira duduk bersimpuh di hadapan guru adalah penghinaan terhadap martabat akal. Justru di situlah akal menemukan fungsinya yang paling suci, yakni mengakui batasnya sendiri. Imam Al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad mengguratkan nasihat yang menohok, “Wahai anakku, janganlah engkau termasuk orang yang ilmunya menjadi hujjah atas dirimu, dan janganlah ilmu lahiriahmu menjadi penghalang antara dirimu dan Allah. Duduklah di hadapan para masyayikh, karena duduk bersama mereka adalah obat bagi hati yang lalai” (Al-Ghazali, Ayyuhal Walad). Lihatlah, sang Hujjatul Islam tidak memerintahkan kita untuk sekadar membaca buku para wali, tetapi duduk, tawaduk, dan menyerap langsung samudra hikmah dari pancaran jiwa yang telah suci. Sebab, ilmu hakikat bukanlah data yang berpindah dari kertas ke otak, melainkan cahaya yang berpindar dari hati yang jernih ke hati yang siap menerimanya.
Ketaatan ini pada hakikatnya adalah meniru para sahabat mulia Radiyallahu ‘Anhum. Mereka, para singa padang pasir yang keras dan perkasa itu, tidak menjadi hina ketika menyerahkan sepenuh jiwa dan raga mereka kepada bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Justru di dalam ketaatan itulah, kemanusiaan mereka dimuliakan, akhlak mereka diangkat mengalahkan kelembutan awan, dan hati mereka menjadi istana bagi rahasia-rahasia Ilahi. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menggunakan logikanya sendiri saat diperintahkan Isra’ dan Mi’raj; ketaatannya yang membatu adalah bukti bahwa cinta tidak membutuhkan analisis, ia hanya membutuhkan pembenaran. Beliau digelari Ash-Shiddiq karena ia adalah cermin bening yang sempurna memantulkan kebenaran sang pembimbing.
Sadarkah kita bahwa ego adalah berhala paling halus dan paling berbahaya yang bersemayam di dalam dada? Selama seorang salik masih merasa ‘aku tahu’, ‘aku bisa’, dan ‘aku cukup’, selama itu pula hijab yang membatasi dirinya dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan pernah tersingkap. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta'ala melihat keikhlasan, bukan sekadar amalan. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Qaddasallahu Sirrahu dalam Al-Fath Ar-Rabbani mengingatkan dengan bahasa yang menghancurkan kesombongan kita, “Wahai anakku, jika engkau merasa telah sampai, maka ketahuilah engkau baru saja berangkat. Jika engkau merasa telah mengenal, maka itulah puncta kebodohanmu. Hancurkan dirimu di hadapan gurumu, maka Allah akan membangunmu kembali.” Laa ilaaha illallah, kalimat itu seakan menyobek tirai keakuan kita. Kehancuran diri—itulah yang dalam dunia tasawuf disebut fana’, sebuah proses di mana kita mati dari sifat-sifat basyariyah yang tercela untuk kemudian dihidupkan dalam samudra keagungan-Nya.
Mengapa air mata ini perlu menetes? Mengapa getar hati ini perlu hadir saat mengenang jasa mereka? Sebab, mursyid sejati tidak pernah meminta imbalan dunia. Ia mengambil tangan kita yang berlumuran dosa, mendengarkan keluh kesah kita yang hina, dan justru di saat kita merasa paling menjijikkan, ia melihat potensi insan kamil di dalam diri kita. Ia menerima kita bukan karena kemuliaan kita, tapi karena kasih sayang yang mengalir dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melalui rantai emas silsilah yang bersambung. Inilah makna wasilah yang sejati, bukan menyembah guru, melainkan menghormati perantara yang dipilih Allah untuk menyampaikan air kehidupan. Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wabtaghû ilaihil-wasîlata...” — “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan pendekatan) kepada-Nya...” (QS. Al-Ma’idah: 35)? Ayat ini adalah isyarat paling lembut bagi para pejalan ruhani bahwa menuju Allah memerlukan lentera, dan lentera itu adalah para kekasih-Nya yang arif.
Oleh karena itu, di tengah dunia yang mengajarkan independensi dan menuhankan perspektif pribadi, beruntunglah mereka yang masih bisa menangis haru di atas sajadah, merindukan tatapan teduh seorang guru yang membimbingnya dari kelam menuju cahaya. Jalan ma’rifat bukan jalan diskusi dan adu argumentasi; ia adalah jalan rasa, jalan penyerahan, jalan mematikan kehendak di hadapan kehendak Sang Kekasih melalui bimbingan para pewaris-Nya. Suluk bukanlah prestasi individu, melainkan kemesraan dalam ketaatan. Selama kita belum berani membisikkan kepada guru sejati, “Wahai Tuan, ambillah hatiku yang busuk ini, gantilah dengan hati yang hidup,” maka selama itu pula kita belum benar-benar mencintai Allah, karena kita masih mencintai diri sendiri secara berlebihan. Mari, hancurkan kebanggaan intelektual kita, duduki kembali majelis para wali, dan biarkan air mata ini menjadi saksi, bahwa kita rindu, kita lelah, dan kita ingin pulang.
Sumber dari GUS IMAM

0 comments:
Catat Ulasan