PERBEDAAN ANTARA WAHDATUL WUJŪD DENGAN WAHDATUS SYUHŪD


PERBEDAAN ANTARA WAHDATUL WUJŪD DENGAN WAHDATUS SYUHŪD
.....PENDAHULUAN.....
Ilmu tasawuf adalah ilmu yang membahas tentang penyucian jiwa, perjalanan hati menuju Allah, serta pengenalan seorang hamba terhadap Tuhannya melalui maqām, ahwāl, dzikir, muraqabah, dan ma’rifat. Dalam perjalanan tasawuf, para ulama sufi membahas berbagai hakikat ketuhanan dan hubungan antara makhluk dengan Allah.
Di antara pembahasan yang sering menjadi perhatian adalah tentang
Wahdatul Wujūd (وحدة الوجود)
dan Wahdatus Syuhūd (وحدة الشهود).
Kedua istilah ini sering dianggap sama, padahal sebenarnya memiliki perbedaan dalam sudut pandang dan cara memahami hubungan makhluk dengan Allah.
Sebagian orang memahami kedua istilah ini secara keliru sehingga jatuh kepada pemahaman yang menyimpang. Oleh sebab itu, diperlukan penjelasan yang sangat hati-hati agar tetap berada dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
..........BAB I...........
📌 PENGERTIAN WAHDATUL WUJŪD
1. Pengertian Secara Bahasa
Wahdah (وحدة) = kesatuan
Wujūd (وجود) = keberadaan
Maka (Wahdatul Wujūd) berarti:
“Kesatuan Wujud.”
2. Maksud Wahdatul Wujūd
Dalam pandangan tasawuf arti.sebenarnya dari Wahdatul Wujūd bukan berarti makhluk menjadi Allah, akan tetapi,Tidak ada wujud yang hakiki dan mutlak pada alam ini selain Allah.
Makhluk dianggap tidak memiliki wujud yang mandiri, melainkan hanya bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Para ulama mengambil dasar paham Wahdatul wujud berdasarkan Dalil Al-Qur’an yaitu :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Rahman ayat : 26–27)
Dan juga firman Allah:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
Artinya: Allah adalah pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar ayat : 62)
3. Tujuan Pemahaman Ini
Para sufi yang berbicara tentang Wahdatul Wujūd biasanya ingin menunjukkan:
- Keagungan dan kemutlakan Allah
- Kefakiran total makhluk kepada Allah
Bahwa segala sesuatu yang wujud di alam semesta ini bergantung kepada-Nya.
Mereka memandang:
Alam hanyalah tajalli (manifestasi kekuasaan) Allah, bukan dzat Allah itu sendiri.
......BAB II.......
📌 PENGERTIAN WAHDATUS SYUHŪD
1. Pengertian Secara Bahasa
Wahdah (وحدة) = kesatuan
Syuhūd (شهود) = penyaksian
Maka (Wahdatus Syuhūd) berarti:
“Kesatuan penyaksian.”
Istilah ini muncul dan banyak dikembangkan oleh para ulama sufi setelah munculnya pembahasan dan kekhawatiran tentang (Wahdatul Wujūd) terutama untuk menjaga pemahaman tauhid yang sempurna agar tidak disalah artikan.
2. Maksud Wahdatus Syuhūd
Wahdatus Syuhūd bukan mengatakan bahwa yang ada hanya Allah secara hakikat wujud, akan tetapi menyatakan keadaan Seorang salik ketika tenggelam dalam dzikir dan ma’rifat ,maka seorang salik hanya menyaksikan Allah dalam hatinya.
Artinya: seluruh Alam tetap ada sebagai wujud makhluk Dan Allah tetap berbeda dengan makhluk, Namun hati seorang arif dipenuhi kesadaran akan kehadiran Allah.
Paham wahdatus Syuhud ini mengambil Dalilnya:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya: Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid ayat : 4)
Dan juga firman Allah:
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
Artinya: “Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah ayat : 115)
3. Penekanan Wahdatus Syuhūd
Wahdatus Syuhūd lebih menekankan pada :
- Kesadaran hati
- Penyaksian pandangan spiritual
- Kehadiran Allah dalam muraqabah
- Bukan penyatuan makhluk dengan dzat Allah.
......BAB III........
📌 PERBEDAAN WAHDATUL WUJŪD DAN WAHDATUS SYUHŪD
Agar tidak terjadi kekeliruan dalam menyikapi kedua faham ini maka berikut perbedaan nya.
- Wahdatul Wujūd : Fokus pada Kesatuan wujud.
- Wahdatus Syuhūd : Fokus pada Kesatuan penyaksian.
- Wihdatul wujud : Tidak ada wujud hakiki selain Allah.
- Wihdatul Syuhud : Hati hanya menyaksikan Allah.
- Wihdatul wujud : Alam Dipandang fana dan bergantung total kepada Allah.
- Wihdatul Syuhud : Alam tetap ada sebagai makhluk.
- Wihdatul wujud :
Pendekatan kepada : Filsafat metafisik tasawuf
- Wihdatul Syuhud :
Pendekatan Pengalaman ruhani.
- Wihdatul wujud : Dapat berisiko Kesalah pahaman jika tidak benar benar dipahami dan
Bisa disalahartikan sebagai faham hulul/ittihad.
- Wihdatul Syuhud : Tidak ada resiko dan lebih aman dalam tauhid dan aqidah.
- Wihdatul wujud :
Bertujuan Menjelaskan kemutlakan wujud Allah
- Wihdatul Syuhud :
Bertujuan Menjelaskan tentang keadaan hati seorang salik
.........BAB IV.......
📌 BAHAYA KESALAHPAHAMAN
Jika salah dalam memahami faham Wahdatul Wujūd secara keliru maka akan membahayakan nilai tauhid sehingga berani berkata:
“Manusia adalah Tuhan”
“Semua adalah Allah”
Pemahaman seperti ini adalah tersesat dan bertentangan dengan aqidah Islam.
Sebagaiman Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)
Faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan dan menetapkan bahwa :
Allah adalah Khaliq
Makhluk adalah ciptaan
Tidak boleh menyamakan Allah dengan makhluk
Karena itu para ulama menekankan pentingnya:
Memahami tasawuf dengan bimbingan seorang guru dan Tetap berpegang kepada syariat.
Tidak boleh memahami ucapan para sufi secara pemahaman zahir semata.
📌 PANDANGAN ULAMA TASAWUF
Sebagian ulama menerima istilah Wahdatul Wujūd dengan penafsiran yang benar, yaitu:
Semua makhluk bergantung kepada Allah
Bukan berarti makhluk adalah Allah.
Sedangkan sebagian ulama lebih memilih faham Wahdatus Syuhūd karena dianggap lebih aman untuk menjaga aqidah.
......BAB V......
📌 HIKMAH MEMAHAMI PEMBAHASAN INI
1. Menambah Tauhid
Menyadarkan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan bergantung kepada-Nya.
2. Menumbuhkan Kehadiran Hati
Seorang hamba akan merasa selalu diawasi Allah.
3. Menghilangkan Kesombongan
Karena manusia hanyalah makhluk yang lemah.
4. Menjaga Aqidah
Agar tidak terjatuh kepada pemahaman hulul atau penyatuan Tuhan dengan makhluk.
KESIMPULAN
Wahdatul Wujūd dan Wahdatus Syuhūd adalah dua istilah dalam dunia tasawuf yang memiliki perbedaan mendasar.
Wahdatul Wujūd berbicara tentang kemutlakan wujud Allah dan kefanaan makhluk.
Sedangkan Wahdatus Syuhūd berbicara tentang keadaan hati seorang salik yang hanya menyaksikan Allah dalam muraqabah dan dzikir.
Keduanya tidak boleh dipahami secara sembarangan. Aqidah Islam tetap menetapkan bahwa:
- Allah adalah Allah
- Makhluk adalah makhluk
- Tidak ada penyatuan dzat antara keduanya
Tasawuf yang benar adalah tasawuf yang:
- Berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah
- Tetap Menjaga syariat
- Membersihkan hati
- Mengantarkan manusia kepada akhlak mulia dan ma’rifat kepada Allah.
..........BAB VI......
📌 Perbedaan Rinci Wahdatul Wujūd dan Wahdatus Syuhūd.
1. Inti Perbedaan
- Wahdatul Wujūd berbicara tentang wujud/keberadaan.
Maksud yang benar: wujud hakiki hanya milik Allah, makhluk tidak berdiri sendiri, hanya bergantung kepada Allah.
Namun bila salah paham, bisa tergelincir menjadi: “Semua ini adalah Allah.”
Ini keliru dan berbahaya.
- Wahdatus Syuhūd berbicara tentang penyaksian hati.
Maksudnya: hati seorang salik begitu tenggelam dalam dzikir dan ma’rifat, sehingga yang disaksikan dalam kesadarannya hanya kebesaran Allah.
Tetapi ia tetap yakin bahwa Allah adalah Khaliq, dan makhluk tetaplah makhluk.
2. Perbedaan Paling Penting
Aspek
Wahdatul Wujūd = Kesatuan wujud
Wahdatus Syuhūd = Kesatuan penyaksian
Wahdatul Wujūd = fokus pada haqiqat kebenaran
Wahdatus Syuhūd = fokus pada keadaan hati
Alam
Dipandang fana, tidak punya wujud mandiri
Alam tetap ada sebagai ciptaan Allah
Allah dan makhluk
Harus hati-hati agar tidak disamakan
Jelas berbeda antara Allah dan makhluk
Risiko
Tinggi bila tanpa guru dan ilmu aqidah
Lebih aman untuk orang awam dan salik
Bahasa
Metafisik, rumit, mudah disalahpahami
Ruhani, praktis, lebih selamat
Kesimpulan aman
Tidak ada wujud hakiki selain Allah
Hati hanya menyaksikan Allah
3. Contoh Sederhana
Contoh Wahdatul Wujūd :
Seperti kita melihat bayangan diri kita di cermin. Bayangan tampak jelas dan ada, tetapi keberadaan bayangan wujud dalam cermin adalah bergantung kepada wujud asli.
Maka makhluk tampak ada, hidup, bergerak, berkuasa, tetapi semuanya bergantung kepada Allah.
Namun jangan berkata:
“Bayangan itu adalah dzat Allah.”
Karena Allah bukan makhluk.
Dalilnya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura ayat : 11)
Contoh Wahdatus Syuhūd :
Seorang hamba melihat alam semesta , manusia, gunung, laut, rezeki, musibah, dan nikmat. Tetapi hatinya menyaksikan:
“Semua ini dari Allah.”
“Semua terjadi dengan izin Allah.”
“Semua menunjukkan kebesaran Allah.”
Jadi yang satu bukan wujudnya, tetapi penyaksian hatinya.
4. Mana yang Harus Diikuti...?
Ini tergantung kepada kesiapan dan kemampuan tauhid masing masing , namun jika khawatir maka Yang paling aman untuk diikuti adalah:
Wahdatus Syuhūd.
Sebab Wahdatus Syuhūd lebih menjaga aqidah:
Allah tetap Allah.
Makhluk tetap makhluk.
Tidak ada penyatuan dzat.
Tidak ada faham hulul.
Tidak ada faham ittihad.
Tidak menyamakan Tuhan dengan alam.
Inilah jalan yang lebih selamat bagi kebanyakan orang, terutama bagi murid, salik, dan orang awam.
5. Batas Aqidah yang Wajib Dijaga
Dalam memahami tasawuf, pegang teguh prinsip ini:
Allah adalah Khaliq
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
Artinya: Allah adalah Pencipta segala sesuatu.”
QS. Az-Zumar ayat : 62
- Makhluk adalah ciptaan
- Makhluk bukan bagian dari dzat Allah.
- Allah tidak menyatu dengan makhluk
- Tidak boleh diyakini bahwa Allah masuk ke dalam manusia, alam, batu, pohon, atau benda.
Allah dekat dengan ilmu dan kekuasaan-Nya
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya:
“Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. Al-Hadid ayat : 4)
Maknanya: Allah bersama kita dengan ilmu, pengawasan, kekuasaan, rahmat, dan pertolongan-Nya; bukan berarti Allah bercampur dengan makhluk.
6. Kesalahan yang Harus Dihindari
Jangan mengatakan:
“Aku adalah Allah.”
“Makhluk adalah Allah.”
“Semua benda adalah Tuhan.”
“Allah menyatu dalam tubuh manusia.”
“Karena jika dipahami semua adalah Allah, maka yang akan terjadi syariat tidak berlaku
Semua ini adalah penyimpangan.
Tasawuf yang benar justru semakin membuat seseorang:
taat syariat,
rajin shalat,
rendah hati,
takut kepada Allah,
cinta kepada Rasulullah ﷺ,
berakhlak mulia.
7. Rumusan Aman
Kalimat yang aman:
“Tidak ada yang berdiri sendiri selain Allah.”
“Semua makhluk bergantung kepada Allah.”
“Segala sesuatu menunjukkan kekuasaan Allah.”
“Hati seorang arif menyaksikan Allah di balik semua kejadian.”
Kalimat yang berbahaya:
“Semua adalah Allah.”
“Allah adalah alam.”
“Manusia bisa menyatu dzat dengan Allah.”
Kesimpulan
Wahdatul Wujūd adalah pembahasan tinggi dan rumit. Bila dipahami oleh ahli ma’rifat dengan aqidah yang kuat, maksudnya adalah bahwa wujud hakiki hanya milik Allah. Tetapi bagi orang awam, istilah ini mudah menimbulkan salah paham.
Wahdatus Syuhūd lebih aman untuk diikuti, karena menekankan penyaksian hati kepada Allah tanpa menghapus perbedaan antara Allah dan makhluk.
Maka pegangan terbaik adalah:
Ikuti Wahdatus Syuhūd, jaga aqidah Ahlus Sunnah, dan tetap berpegang kepada syariat.
...........BAB VII......
📌Jika seorang salik dalam keadaan fana , apakah ini termasuk dalam Wihdatul wujud atau wihdatus Syuhud...?
Dalam pembahasan tasawuf, ketika seorang salik mencapai maqām Fanā’ Billāh, keadaan itu lebih dekat kepada Wahdatus Syuhūd, bukan Wahdatul Wujūd dalam makna yang sering disalahpahami.
Apa itu Fanā’ Billāh..?
Fanā’ (الفناء) artinya: lenyap, sirna,
hilang kesadaran terhadap diri.
Tetapi yang hilang bukan jasadnya, bukan dzat manusia, melainkan:
ego, hawa nafsu,rasa keakuan, kesombongan,
perhatian kepada selain Allah.
Sehingga hati tenggelam dalam dzikir dan muraqabah kepada Allah.
Mengapa Lebih Dekat kepada
Wahdatus Syuhūd...?
Karena meskipun dalam keadaan fana:
seorang salik masih tetap menjadi makhluk,
Dan Allah tetap Allah,
tetapi hati si salik tidak lagi melihat dirinya,
yang disaksikan hanyalah kebesaran Allah.
Ini disebut: “Syuhūd” (penyaksian hati)
Bukan penyatuan dzat.
Contoh Keadaan Fanā’
Misalnya seseorang sangat khusyuk dalam dzikir:
“Allah… Allah… Allah…”
hingga ia: lupa dirinya, lupa dunia,,lupa manusia,
lupa kedudukan, bahkan lupa amalnya sendiri.
Yang terasa hanya:
keagungan Allah, kehadiran Allah, Kebesaran Allah, Maka ini adalah:
Fanā’ dalam Syuhūd
bukan berarti: dirinya menjadi Allah,
atau menyatu dengan Allah.
Para ulama tasawuf menjelaskan:
Fanā’ yang benar adalah:
Fanā’ dari selain Allah
bukan: Fanā’ menjadi Allah
Ini perbedaan yang sangat penting.
Mengapa Ada yang Mengira Itu
Wahdatul Wujūd...?
Karena sebagian salik ketika fana mengucapkan kalimat-kalimat yang sulit dipahami, misalnya:
“Aku tidak melihat selain Allah.”
“Yang ada hanya Allah.”
Kalimat seperti ini biasanya muncul dalam:
mabuk ruhani (sukr),
tenggelam dalam dzikir,
limpahan rasa ma’rifat.
Tetapi para ulama menjelaskan:
itu bukan aqidah zahir,
melainkan ungkapan rasa spiritual.
Karena jika dipahami secara zahir:
bisa jatuh kepada paham hulul.
atau menyamakan Allah dengan makhluk

Sumber dari Haris Haris
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan