BELAJAR menjadi TIADA
Ada perjalanan yang paling sunyi dalam hidup manusia ; perjalanan untuk belajar menjadi tiada.
Dalam dunia yang selalu mengajarkan manusia untuk menjadi sesuatu, untuk di kenal, untuk di hargai, di puji, dan di akui.
Ada jalan lain yang justru mengajarkan sebaliknya. yakni jalan yang mengajak manusia untuk perlahan-lahan menghilang dari dirinya sendiri. dan para pencari menyebutnya sebagai belajar menjadi tiada.
_bukan berarti lenyap dari kehidupan, bukan pula berarti berhenti berusaha. Tetapi belajar melepaskan rasa memiliki terhadap segala sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya.
Ego ingin di akui, ego ingin di sebut penting, ego ingin merasa paling benar, paling terluka, paling berjasa.
Namun jiwa yang mulai berjalan menuju Allah perlahan menyadari satu hal ; bahwa selama "aku" masih terlalu besar, maka Cahaya-Nya sulit masuk.
karena cahaya hanya tinggal di ruangan yang kosong.
Itulah sebabnya para sufi tidak sibuk membesarkan diri. mereka justru sibuk mengecilkan "aku" di dalam hati. mereka belajar menerima tanpa merasa paling sabar. mereka memberi tanpa merasa paling dermawan, dan mereka mencintai tanpa merasa paling setia.
Semua di lakukan, tetapi tidak lagi di sandarkan pada 'diri'.
Perlahan mereka mengerti bahwa yang berjalan bukanlah dirinya, tetapi DIA yang menggerakkan langkah, yang memberi bukanlah tangannya, tetapi DIA yang menitipkan rezki, yang mencintai bukanlah hatinya, tetapi DIA yang menanamkan rasa ketika seseorang sampai pada kesadaran itu. maka di situlah "aku" mulai memudar.
Tidak ada lagi kebutuhan untuk menang dalam setiap perdebatan, dan tidak ada lagi luka yang harus di bela, tidak ada lagi haus akan pengakuan manusia. karena tidak lagi membawa beban untuk menjadi seseorang di mata dunia.
Di titik itulah seorang hamba mulai memahami makna "tiada".
Tiada bukan berarti kosong tanpa arti. justru di situlah seseorang menjadi ruang bagi Kehadiran-NYA.
Karena ketika "aku" hilang, yang tersisa hanyalah DIA.
Dan anehnya, justru ketika seseorang berhenti ingin menjadi apa-apa, Tuhan mulai memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.
Itulah rahasia yang hanya di pahami oleh jiwa-jiwa yang berjalan dalam sunyi.
Bahwa kehilangan diri adalah cara menemukan Tuhan.
Dan ingatlah wahai saudaraku ;
Selama "aku" masih terlalu besar di dalam hati, maka Tuhan hanya menjadi tamu, bukan penghuni.
Dan barang siapa yang belajar menjadi tiada, maka ia akan menemukan Yang Maha ADA.
Sumber dari Jejak sufi

0 comments:
Catat Ulasan