TAUHIDU DZAT
Makalah : Tentang Tauhidu dZat
Assalamualaikum warahmatullahi wa baroqatuh
Segala Puji hanya bagi Allah semata yang telah memuliakan Anak cucu Adam (Manusia) dan memilih dari jumlah manusia itu sejumlah Ulama-ulama. Dan Allah memilih pula dari golongan itu mereka yang zahid. Para Ahli Hikmat dan Para Ahli ma'rifat.
Sholawat serta salam semoga juga senantiasa tercurah kepada Rûḫ baginda Rasulullah junjungan alam yang telah membawa pencerahan kepada umat nya kepada jalan yang terang, juga kepada ahli dan keluarga nya sampai hari kiamat.
Tauhidu Dzat adalah sebuah konsep dalam ajaran Islam yang mengesakan (menyatakan keesaan) Dzat Allah, yaitu Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang Maha Esa dalam Zat-Nya. Ini berarti bahwa Allah tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal keberadaan-Nya sendiri. Dalam pemahaman ini, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini hanya ada karena izin dan kehendak Allah, dan tidak ada yang dapat menyerupai atau setara dengan Allah dalam hal keberadaan-Nya.
Secara sederhana, tauhidul dzat menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya yang wujud tanpa ada perbandingan atau persamaan dengan makhluk-Nya. Tidak ada yang menyamai-Nya dalam segala aspek-Nya—baik itu dalam sifat, perbuatan, maupun Zat-Nya.
Hal ini berlawanan dengan konsep syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Dalam tauhidul dzat, tidak ada kemungkinan bagi adanya entitas atau Tuhan lain yang memiliki Zat seperti Allah.
Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang menegaskan keesaan Allah dalam Zat-Nya, seperti:
QS. Al-Ikhlas ayat 1-4
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ
ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
وَلَمْ يَكُن لَّهُۥۥۤۡۢ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: Katakanlah, "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia."
Makna yang Tersirat dalam ayat ini :
(Tauhid yang Mutlak)
Ayat-ayat ini menegaskan tentang keesaan Allah, bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang tidak ada yang setara dengan-Nya dalam segala hal. Hal ini mengandung pengakuan bahwa hanya Allah yang memiliki sifat ketuhanan yang absolut dan tidak bisa dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya.
(Kemandirian Allah)
Ayat kedua menyebutkan bahwa Allah adalah "As-Samad", yang berarti Allah adalah tempat segala sesuatu bergantung, tetapi Dia sendiri tidak membutuhkan apa-apa. Ini menunjukkan sifat ketergantungan mutlak seluruh alam pada Allah, sementara Allah tidak bergantung kepada siapapun atau apapun.
(Tuhan yang Tidak Memiliki Ketergantungan)
Ayat ketiga menjelaskan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, yang menegaskan bahwa Allah tidak memiliki keluarga atau keturunan. Ini juga membantah pemahaman yang menyatakan bahwa Allah memiliki anak atau bagian dari-Nya dalam bentuk keturunan atau makhluk lain.
( Tidak ada sesuatu yang setara dengan Allah )
Ayat terakhir menegaskan bahwa tidak ada apapun yang sebanding atau setara dengan Allah, menggambarkan ketunggulan-Nya yang tidak terbandingkan dengan apapun di dunia atau pun di luar dunia. Ini menutup segala kemungkinan adanya tandingan atau pesaing bagi Allah.
Surah Al-Ikhlas merupakan pernyataan singkat namun mendalam mengenai keesaan dan kemutlakan sifat Allah, dan merupakan inti dari keyakinan tauhid dalam Islam.
Jadi, dalam tauhidul dzat, yang dimaksud adalah keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya yang Maha Esa dalam Zat-Nya, tanpa ada yang menyerupai-Nya, baik dalam eksistensi-Nya, sifat-Nya, atau apa pun yang terkait dengan-Nya.
Awal kejadian
Ketika semua makhluk belum ada, atas bawah belum ada , bumi dan langit belum diciptakan, surga dan neraka belum ada. Kondisi itu oleh kalangan para ahli tasawuf di dikenal dengan sebutan “ Alam Sunyi“.
Pada keadaan Alam Sunyi tersebutlah Dzat berdiri dengan nur-Nya dan dengan Nur-Nya itu Zat berdiri dengan sendirinya , tanpa sebab yang menyebabkannya.
Tahap selanjutnya dari Nur-Nya timbullah sifat Ujud dari Dzat yang berarti Ada, Dan mulai saat itu dzat tersebut menjadi ada dengan sifat Ujudnya atau Adanya dzat tersebut dengan sifat ujud-Nya tersebut. Sehingga tanpa sifat ujud itu, Zat hanyalah Zat semata-mata karena belum ada sifat yang menyebabkan adanya.
Dengan telah adanya sifat Ujud yang berarti Ada, Ada-Nya Zat itu dimulai dengan terpancarnya Nur dari dzat, sehingga Nur yang terpancar dari Zat adalah sesuatu yang membuktikan Adanya Zat. Tanpa Nur yang memancar dari dzat, sifat Ujud dari dzat tidak boleh dibuktikan.
Ini merupakan pemahaman yang sangat penting, karena sebagai makhluk, kita tidak diberi hak atau kita tidak diberi kuasa ilmu untuk membicarakan tentang dzat Tuhan.
Sebagai makhluk, kita hanya diberi wewenang sebatas kajian tentang Perbuatan Tuhan ( dzat ) saja. Yaitu sesuatu yang sudah diciptakan dan atau dilahirkan oleh Tuhan ( dzat ) atau sesuatu yang sudah ada dan diadakan, sehingga apabila sesuatu itu telah ada, kita boleh dan diberi hak untuk melakukan kajian dan pembahasan sesuai dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
Kembali kepada pancaran Nur yang menjadi bukti dari Adanya dzat yang sebelumnya dzat berdiri sendiri dengan Nur-Nya, maka selanjutnya Nur tersebutlah yang melahirkan sifat-sifat dari dzat secara keseluruhan.
Nur yang memancar dari dzat itulah yang kemudian dipahami sebagai Nur Muhammad.
Allah berfirman :
يَآ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ قَدْ جَآءَكُمۡ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمۡ عَلَىٰ فَتَرَةٍۢ مِّنَ ٱلۡرُّسُلِ أَنۡ قَٰلَ رَسُولُنَا لَكُمۡ فَٱمْهَلُوا۟ۛ
Artinya:
"Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya rasul Kami telah datang kepadamu menjelaskan kepadamu banyak hal dari Kitab yang kamu sembunyikan, dan mengampuni sebagian besar (dosa-dosa). Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas."
(QS. Al-Ma’idah, ayat :15)
Penjelasan:
Ayat ini ditujukan kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan mengingatkan mereka tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul yang diutus untuk menjelaskan kebenaran. Sebelumnya, mereka telah menerima wahyu Allah dalam bentuk Taurat dan Injil , namun banyak hal yang telah disembunyikan atau diubah dari wahyu tersebut.
Ayat ini juga menyatakan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad untuk membawa cahaya dan Kitab yang jelas, yaitu Al-Qur'an, yang menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia.
Poin penting dari ayat ini adalah penegasan bahwa wahyu terakhir (Al-Qur'an) datang sebagai penuntun yang menjelaskan berbagai hal yang tersembunyi dalam kitab-kitab sebelumnya, serta membawa kemudahan dan rahmat bagi umat manusia.
Ada sebuah riwayat yang mengisahkan percakapan antara Jabir ibn `Abd Allah r.a dengan Rasulullah s.a.w. tentang perkara pertama yang Allah ciptakan.
Hadis ini sering dikaitkan dengan masalah asal-usul penciptaan, dan sering diterima dalam tradisi tasawuf untuk menggambarkan bahwa cahaya Nabi Muhammad merupakan ciptaan pertama yang Allah wujudkan.
Berikut adalah riwayat hadis tersebut:
Hadis dari Jabir ibn `Abd Allah r.a.:
جَابِرٌۭ بْنُ عَبْدِ ٱللَّهِ قَالَ: قُلتُ: يَا رَسُولَ ٱللَّهِ، أَخْبِرْنِى عَمَّا خَلَقَ ٱللَّهُ قَبْلَ شَىۡءٍۢ؟ قَالَ: "يَا جَابِرُ، أَوَّلُ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ نُورِ نَبِيِّكَ مِن نُّورِهِۦ، فَسَارَ ذَٰلِكَ فِى كُلِّ شَىۡءٍۢ حَتَّىٰ أَصَارَ فِى كُلِّ مَكَانٍۢ فَأَصْبَحَ فِى عَرَفَاتٍۢ وِجْهَ ٱلْحَجَّ وَلَمْ يَزَلْ فِى تَسْبِيحٍۢ مِنْ بَابٍۢ إِلَىٰ بَابٍۢ" أَخْبَرَنِى رَسُولُ ٱللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُلتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا حَتَّىٰ قَالَ فَفَجَرَ إِلَّا ٱللَّهُۥ فَقَالَ إِنَّمَا هَٰذَا إِنَّمَا يُغْنِىۦ فَٱلْوَلَٰمِينَ
Artinya:
Jabir ibn `Abd Allah r.a. berkata: "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, apa yang pertama kali Allah ciptakan sebelum segala sesuatu?' Rasulullah s.a.w. menjawab, 'Wahai Jabir, hal pertama yang Allah ciptakan adalah cahaya Nabi-mu dari cahaya-Nya.
Cahaya itu terus berada dalam kekuasaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan tidak ada apa-apa pun pada saat itu.'"
(Hadis ini dikutip dari beberapa sumber yang sahih menurut beberapa ulama seperti al-Tilimsani, Qastallani, dan Zarqani. `Abd al-Haqq al-Dihlawi juga mengomentari bahwa hadis ini sahih.)
Penjelasan Hadis:
Hadis ini menjelaskan bahwa cahaya Nabi Muhammad adalah ciptaan pertama yang Allah wujudkan. Dalam pandangan tasawuf, cahaya ini dianggap sebagai asal dari segala ciptaan, termasuk penciptaan alam semesta. Konsep ini mengandung pemahaman bahwa cahaya Nabi Muhammad memiliki kedudukan yang sangat istimewa, sebagai sebab pertama yang membawa kepada penciptaan seluruh makhluk.
Para ulama sering menafsirkan hadis ini untuk menjelaskan betapa pentingnya kedudukan Nabi Muhammad dalam hubungan antara Allah dan ciptaan-Nya. Ini juga menjadi dasar bagi keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta tercipta melalui perantaraan cahaya Nabi Muhammad, yang dikatakan sebagai wujud yang lebih awal daripada segala ciptaan.
Kemudian dari Nur Muhammad maka terciptalah
Lauhul Mahfuzh, Arasy , Qalam. Qalam kemudian diperintah untuk menulis ‘la ilaha illa’Allah Muhammadun Rasulullah’ selanjutnya Qalam melanjutkan penulisan penciptaan seperti bumi dan langit, surga dan neraka, malaikat dan iblis serta semua makhluk lainnya termasuk manusia dan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul serta umatnya yang tunduk dan umat yang durhaka sampai hari kiamat kelak yang kemudia dikenal dengan Qadha dan Qadar serta dari Nur Muhammad itu jugalah kemudian tercipta Adam AS.
Dalam sebuah riwayat yang menggambarkan bagaimana Rasulullah Muhammad s.a.w. berada dalam keberadaan setiap nabi sejak awal penciptaan hingga kelahiran-Nya.
Hadis ini menunjukkan hubungan istimewa yang dimiliki Nabi Muhammad dengan para nabi sebelumnya, dan bagaimana cahaya Nabi Muhammad terus dijaga dan dipindahkan melalui generasi ke generasi.
عَنْ رَسُولِ ٱللَّهِ ﷺ قَالَ: "بِمَآ أَنَّ ٱللَّهَ جَعَلَۦٓ أَدَمَ وَيُوحِيۤ إِلَىٰ فَجَائِبَ نَفْسِهِۦۛ كَفَآءَٰمْ بِكَوْكَامِهِۦۛ إِنَّهُۥ جَاءَ أَذْهَبِيۦ فِيمَأٓءٍ
Artinya:
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ketika Allah menciptakan Adam, Dia menurunkan aku ke dalam dirinya. Lalu, Dia meletakkan aku dalam tubuh Nuh semasa di dalam bahtera, kemudian mencampakkan aku ke dalam api dalam diri Ibrahim. Kemudian, Dia meletakkan aku dalam diri yang mulia-mulia, dan memasukkan aku ke dalam rahim yang suci hingga Dia mengeluarkan aku dari kedua ibu-bapaku. Tidak ada satu pun dari mereka yang keluar, semuanya adalah dalam penuh.( "Hadis dari Hakim dan Ibn Abi Umar al-Adani)
Penjelasan Hadis:
Hadis ini mengandung makna simbolik yang mendalam. Menurut riwayat ini, Rasulullah s.a.w. menggambarkan bahwa cahaya dirinya, yang lebih tepat disebut Nur Muhammad, adalah hal pertama yang Allah ciptakan. Cahaya ini berlanjut melalui perjalanan para nabi dan umat yang terpilih hingga akhirnya terlahir dalam bentuk fisik sebagai Rasul Muhammad.
Ada beberapa peristiwa dalam sejarah nabi-nabi sebelumnya yang disebutkan:
(Dalam diri Adam)
Ini menunjukkan bahwa cahaya Nabi Muhammad adalah yang pertama diciptakan oleh Allah. Bahkan sebelum penciptaan Adam, cahaya ini sudah ada.
(Dalam diri Nuh di dalam bahtera)
Ini mengacu pada Nabi Nuh yang memiliki tugas besar dalam menyelamatkan umatnya dari banjir besar. Ini bisa dianggap sebagai salah satu bentuk pemeliharaan terhadap cahaya Muhammad dalam tubuh Nabi Nuh.
(Dalam diri Ibrahim ketika di dalam api)
Ini merujuk pada ujian besar Nabi Ibrahim yang dilemparkan ke dalam api oleh raja Namrud. Hadis ini menunjukkan bahwa dalam diri Ibrahim, ada unsur perlindungan Tuhan terhadap cahaya Muhammad yang senantiasa dijaga hingga waktu yang tepat.
(Dalam rahim yang suci)
Selanjutnya, cahaya ini diteruskan dalam keluarga yang mulia, yakni melalui garis keturunan Nabi Ibrahim, khususnya melalui putranya Ismail yang menjadi nenek moyang Rasulullah s.a.w.
Makna dalam Tasawuf dan Ajaran Islam:
Dalam ajaran Tasawuf, hadis ini sering dipahami sebagai penegasan mengenai kedudukan istimewa Nur Muhammad yang menjadi sebab pertama dari segala ciptaan. Sejak saat penciptaan hingga kelahiran Nabi Muhammad, cahaya ini terus berlanjut tanpa terputus dan menjadi sumber keberkahan bagi seluruh umat manusia.
Secara lebih luas, hadis ini juga menggambarkan bahwa Rasulullah s.a.w. adalah titik pusat dari seluruh keberadaan. Nur Muhammad menjadi jembatan antara Allah dan umat manusia, yang memancar dalam tubuh para nabi hingga akhirnya menjadi penutup dari seluruh kenabian.
Kesimpulan:
Hadis ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah ciptaan pertama yang Allah turunkan ke dunia, bahkan sebelum penciptaan alam semesta. Cahaya yang ada dalam diri beliau adalah yang pertama diciptakan dan terus dipelihara melalui setiap nabi yang diutus sebelum beliau, hingga akhirnya beliau dilahirkan sebagai penutup para nabi.
Hadis ini memberikan gambaran tentang bagaimana keberadaan Nabi Muhammad s.a.w. sangat istimewa, dan menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah hasil dari keberadaan dan cahaya-Nya.
Dari pemahaman yang singkat di atas, dapat kita membuat suatu kesimpulan dengan pemahaman bahwa, sebelum Allah di sebut Tuhan, maka yang ada pada saat itu hanyalah dzat semata-mata yang terdiri dengan sendirinya, dengan Nur-Nya dan Allah baru menyatakan dirinya sebagai Tuhan setelah Allah melahirkan sifat-sifatnya melalui Nurnya tersebut. Nur Allah itu kemudian dinyatakan sebagai Nur Muhammad, sehingga melalui Nur Muhammad tersebutlah Allah melahirkan sifat-sifat ketuhanan pada makhluk-Nya.
Selanjutnya melalui tulisan ini, dapatlah kiranya dipahami sedikit lebih tentang konsep pemahaman yang menyatakan bahwa “ Dzat pada Allah, Sifat Pada Muhammad, Rupa pada Adam dan Rahasia pada Diri Kita “
Sebagai catatan dari risalah ini perlu disampikan bahwa kalimat “ dzat berdiri dengan Nur-Nya “ bukan difahami dengan kosep “ dzat “ dan “ Nur “ yang terpisah. Pemisahan dilakukan hanyalah semata-mata untuk membangun pengertian dan pemahaman tentang Kelahiran Sifat dari Dzat. Terakhir, saya berharap semoga kajian ini boleh menambah konsep pemahaman kita dan sebagai tambahan bahan dalam diskusi pada majelis masing-masing.
Allah SWT adalah wajibul wujud bagi dzatNya, dan sifat wujud Allah SWT adalah wajib dan lazim dalam dzatNya.
Oleh karena itu wujud dzat Allah tidak dapat terhalang oleh sesuatu yang tidak ada.
Jadi begini kesimpulannya:
- Allah wujud karena dzatNya dan bukan karena yang lain.
- Wajibul-wujud Allah adalah wajibul-wujud bagi dzatNya yang tidak membutuhkan sesuatu pun selain Allah.
- Sebaliknya, wujudnya sesuatu selain Allah membutuhkan kepada wujud dzat Allah.
- Dengan demikian, dzat Allah adalah Esa, dan tidak ada yang menyerupainya.
- Allah adalah Dzat yang bersifat Ujud (Wujud) yang berarti ada.
- Allah ada dengan sendirinya, Tidak disebabkan oleh sesuatu sebab dan tidak diakibatkan oleh suatu akibat.
- Dialah Tuhan yang awal dan yang akhir dan daripada-Nya tersebab adanya segala sesuatu.
- Sebab karena Allah lah adanya segala sesuatu itu, maka tidak ada segala sesuatu itu yang tidak berasal dari pada Allah.
- Dan tidak ada segala sesuatu itu melainkan hanya Allah yang wajib Wujud saja.
Wujud adalah sifat yang utama yang dilahir dari Dzat sebagai bukti keber-ada-an-Nya.
Dari sifat Ujud tersebutlah dilahirkan sekalian sifat yang dikandung oleh Sifat Dzat, karena mustahil Zat itu mempunyai sifat Kuasa dan atau Maha Kuasa apabila dzat itu tidak bersifat Wujud.
Sehingga ketika lenyap sifat Wujud tersebut pada diri makhluk karena hanya Allah saja yang wajib Wujud, maka lenyap pulalah seluruh sifat yang diakibatkan oleh sifat Wujud tersebut pada diri makhluk. Yang tinggal hanyalah Sifat Dzat semata-mata, yaitu Allah.
Dengan memahami terminologi bahasa bahwa, sifat adalah sesuatu yang menjadi pertanda dari keberadaan suatu dzat, maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan suatu dzat dapat dirasakan dengan merasakan keberadaan sifatnya,
Dimana ada dzat, maka disanalah juga berada sifatnya. Apabila panasnya terasa di utara, maka apinya pasti ada di utara , Dimana ada Sifat disitulah dzat berada.
Berikut adalah firman Allah:
"وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ"
Artinya:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran."
( QS Al Baqarah : Ayat : 186 )
Ayat ini menunjukkan kedekatan Allah dengan hamba-Nya, yang menjadi penghiburan dan kekuatan bagi setiap Muslim yang berdo'a kepada-Nya. Allah menegaskan bahwa Dia sangat dekat dengan setiap do'a yang dipanjatkan oleh hamba-Nya, bahkan lebih dekat dari apa yang kita bayangkan.
Ada beberapa poin penting dalam ayat ini:
(Kedekatan Allah dengan hamba-Nya)
Ketika Allah menyatakan bahwa Dia "dekat", ini bukanlah kedekatan secara fisik, tetapi kedekatan dalam perhatian, kasih sayang, dan kesiapan untuk mengabulkan doa.
Allah Maha Mendengar, dan setiap permohonan kita tidak pernah terlewatkan.
(Keutamaan Do'a)
Allah menjawab do'a orang yang memohon dengan sepenuh hati. Dalam konteks ini, doa bukan hanya permintaan, tetapi juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, menguatkan hubungan kita dengan-Nya, dan memohon ampunan-Nya.
(Kewajiban untuk Menyambut Seruan Allah)
Allah memerintahkan kita untuk memenuhi seruan-Nya, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Selain itu, kita juga diingatkan untuk beriman dengan sepenuh hati agar do'a kita dikabulkan dan kita bisa mendapatkan petunjuk hidup yang benar.
(Tujuan Do'a adalah untuk Mendapatkan Petunjuk)
Ayat ini menekankan bahwa tujuan utama do'a adalah untuk mendapatkan petunjuk dan kebenaran. Doa yang diajarkan oleh Allah, jika disertai dengan keikhlasan dan ketaatan, akan membawa seseorang pada jalan yang benar, yakni petunjuk hidup yang diberkahi.
(Rahmat Allah yang Luas)
Ayat ini juga menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah yang siap memberikan jawaban atas segala permohonan kita. Tidak ada do'a yang sia-sia, karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Intisari Ayat ini:
- Allah sangat dekat dengan kita, mendengar setiap doa dan permohonan yang kita sampaikan.
- Do'a adalah bentuk komunikasi langsung dengan Allah.
- Penting bagi kita untuk memenuhi perintah Allah dan beriman kepada-Nya agar doa kita diterima.
- Tujuan berdoa adalah untuk memperoleh petunjuk-Nya, dan dengan itu kita dapat menjalani hidup yang lebih baik.
Dan lagi firman nya :
"وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ"
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
( Surat Qaaf ayat :16)
Penjelasan
Allah Menciptakan Manusia dan Mengetahui Isi Hatinya.
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kita bahwa Dia adalah Pencipta manusia, dan Dia sangat memahami apa yang ada dalam diri kita, termasuk setiap bisikan hati, perasaan, dan niat kita yang terdalam. Allah tidak hanya mengetahui apa yang kita katakan, tetapi juga apa yang ada dalam pikiran dan hati kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya.
(Dekatnya Allah dengan Hamba-Nya)
Allah mengatakan bahwa Dia lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita. Ini menggambarkan kedekatan yang sangat luar biasa antara Allah dan hamba-Nya. Bahkan dalam setiap detik kehidupan kita, Allah mengetahui segala yang kita alami, dan Dia selalu dekat untuk memberi petunjuk atau pertolongan kapan pun kita membutuhkannya.
(Kehidupan Manusia Adalah Kehidupan yang Diperhatikan oleh Allah)
Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa hidup kita tidak pernah terlepas dari pengawasan dan perhatian Allah. Meskipun kita mungkin merasa sendirian atau terisolasi dalam kesulitan, Allah selalu ada bersama kita, lebih dekat dari apapun yang kita bayangkan.
(Peringatan tentang Kehati-hatian dalam Berpikir dan Bertindak)
Karena Allah mengetahui bisikan hati kita, kita diajarkan untuk berhati-hati dalam niat dan pikiran kita. Setiap niat yang buruk atau buruk dalam hati kita juga akan diketahui oleh Allah, dan kita harus senantiasa berusaha untuk menjaga niat kita agar tetap lurus dan tulus, demi mencapai ridha-Nya.
Intisari Ayat ini:
Allah mengetahui segala yang tersembunyi dalam hati manusia, bahkan bisikan jiwanya.
Allah lebih dekat dengan kita daripada apa pun, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri.
Kita senantiasa berada dalam pengawasan Allah, yang mendengar dan memahami segala yang kita alami.
Jadi Fahamilah kembali kajian ini dari awal dari secara berulang-ulang. materi kajian yang saya sampaikan merupakan kajian bersambung dalam satu rangkaian. Kalau hanya memahami satu bagian saja justru bisa menimbulkan kebingungan dan keraguan atau melahirkan pemahaman tanpa dasar yang pada akhirnya menimbulkan fanatisme yang sombong, yang selalu merasa paling benar.
Selain dari pemahaman yang diyakininya adalah salah atau dianggap bid’ah. Padahal Kebenaran Yang Sesungguhnya Hanya Milik Allah swt saja. Tugas kita hanya meyakini sebanyak yang kita fahami saja
"Sebagai penutup, marilah kita merenungkan bahwa Tauhidul Dzat adalah mengajarkan kita untuk mengimani dengan penuh keyakinan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Semua yang ada di alam semesta ini, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, berasal dari-Nya dan hanya bergantung pada-Nya.
Dalam pemahaman Tauhidul Dzat, kita belajar untuk memurnikan seluruh ibadah dan pengabdian kita hanya kepada Allah, tanpa adanya penyekutuan sedikit pun.
Semoga pemahaman kita tentang Tauhidul Dzat semakin menguatkan hati kita untuk terus mengesakan-Nya dalam setiap amal perbuatan, dan menjadikan-Nya sebagai pusat kehidupan kita."
Berlanjut ke pembahasan Tauhidu sifat
Sumber dari Haris Haris

0 comments:
Catat Ulasan