APAKAH YANG DIMAKSUD WALIYAN MURSYIDA.....?
Siapakah sebenarnya WALIYAN MURSYIDA itu...?
Waliyyan Mursyidā (وَلِيًّا مُرْشِدًا) adalah istilah yang sering disebut dalam dunia tasawuf dan thoriqah, merujuk pada seorang wali Allah yang diberi amanah untuk menjadi mursyid (pembimbing ruhani) bagi para salik (penempuh jalan Allah).
"Waliyyan" berasal dari kata "wali" (وَلِيّ) yang berarti wakil, kekasih, atau orang yang dekat kepada Allah.
"Mursyida" dari kata "irsyad" (إرشاد) yang berarti memberi petunjuk, membimbing, menunjukkan jalan.
Sehingga Waliyyan Mursyidā ( وَلِيًّا مُرْشِدًا ) berarti seorang kekasih Allah yang bertugas memberikan bimbingan ruhani kepada umat.
Menurut keterangan para ulama tasawuf dan ahli thoriqah:
-
Ia adalah seorang wali yang kamil (sempurna) dan sudah mencapai maqām ma‘rifah (mengenal Allah dengan sebenar-benarnya).
-
Diberi izin oleh Allah dan Rasul-Nya untuk membimbing murid. Dalam istilah thoriqah disebut mursyid kamil mukammil.
-
Memiliki sanad thoriqah yang bersambung hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ, sehingga bimbingannya bukan hasil hawa nafsunya , akan tetapi mengikuti jalur para guru guru sebelumnya.
-
Berakhlak seperti Nabi – penuh kasih sayang, tawadhu‘, dan adil.
-
Mampu mentransfer nur hidayah kepada murid murid nya melalui rabithah, zikir, doa, dan pengajaran.
Para ahli thoriqah mengutip beberapa ayat dan hadits:
a) Al-Qur'an
> وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي • هَارُونَ أَخِي • ٱشْدُدْ بِهِۦٓ أَزْرِى • وَأَشْرِكْهُ فِىٓ أَمْرِى
Artinya:
"Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku."
(QS. Ṭāhā ayat : 29–32)
Ayat ini menjadi isyarat bahwa seorang nabi sekalipun memerlukan pendamping yang membimbing dan menguatkan.
b) Dalil Hadits
> العلماء ورثة الأنبياء
Artinya:
"Para ulama adalah pewaris para nabi."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Maka para mursyid yang arif billah dipandang sebagai penerus misi kenabian dalam memberi petunjuk kepada umat manusia.
A - Peran Waliyyan Mursyidā adalah Sebagai pembimbing ruhani: menunjukkan jalan zikir, muraqobah, mujahadah, dan adab adab menuju kepada Allah.
B- Sebagai pewaris Nabi ﷺ: dan menjadi jalan wasilah untuk turunnya keberkahan dan hidayah bagi umat manusia.
C- Sebagai pengawas hati murid: mendoakan dan memantau perkembangan spiritual mereka.
D- Sebagai penghubung (wasilah): menjadi perantara agar murid lebih mudah untuk mengenal Allah.
Pandangan Ahli Thariqat :
Banyak thariqat, seperti Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Qadiriyah, menegaskan:
Hanya yang mendapat ijazah (otorisasi rohani) dari guru sebelumnya yang disebut waliyyan mursyidā.
Jadi, Waliyyan Mursyidā adalah wali Allah yang diberi tugas dan wewenang oleh Allah untuk menjadi pembimbing jalan spiritual umat (salik) agar sampai kepada Allah dengan selamat dan sesuai syariat.
Artinya Secara lahiriah, Waliyyan Mursyidā adalah pembimbing ruhani.
Namun secara batiniah, ia adalah:
Artinya: seorang Waliyyan Mursyidā adalah manifestasi dari Asmā’ul Husnā yang memantulkan cahaya Allah kepada murid.
Contoh: Al-Hadi (Yang Memberi Petunjuk) tampak melalui bimbingannya.
Dalam ajaran Thoriqah diyakini bahwa setiap mursyid yang kamil memiliki sirr (rahasia rohani) yang diturunkan dari Rasulullah ﷺ melalui silsilah thoriqah.
Sirr inilah yang menjadi sumber keberkahan dan kekuatan bathin mereka dalam membimbing semua murid murid nya.
Mereka menjadi saluran “nur muhammadi” — cahaya awal ciptaan yang dengannya hati murid menjadi hidup dan sadar akan Allah.
Dalam pemahaman ahli hakikat:
Wali bukan sekadar orang soleh.
Ia sudah fana (lebur) dari dirinya, dan baqā’ (kekal) dengan Allah.
Artinya, yang mengarahkan, mendidik, dan menuntun bukan nafsu sang mursyid, tetapi Allah yang bekerja melalui dirinya.
- Mursyid yang sejati tidak mengajak murid kepada dirinya, Tetapi kepada Allah. Ia seperti jembatan, bukan tujuan.
- Memiliki kasyf (penyingkapan hati)
sehingga dapat melihat penyakit batin murid dan memberi obat rohani yang sesuai.
(Ini bukan sihir atau ilmu ghaib, tetapi karunia Allah sebagai hasil penyucian jiwa).
Isyarat dalam Al-Qur’an
> وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًۭا
Artinya:
“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”
(QS. An-Nisa ayat : 69)
Ayat ini menegaskan dan dijadikan dasar bahwa Allah memang mengutus waliyyan mursyidā sebagai “teman seperjalanan” orang-orang yang mencari Allah.
Jika dilihat dari kacamata tasawuf:
Waliyyan Mursyidā adalah “peta hidup” memandu kita melewati jalan yang gelap.
Ia menjadi cahaya bagi hati (nur fi al-qalb) yang menuntun menuju penyaksian hakikat Allah.
Tanpa waliyan mursyida, banyak salik yang tersesat atau berhenti di tengah jalan karena ujian nafsu, bisikan syaitan, atau ilusi spiritual.
Hadis yang sangat penting....!
مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
Artinya
“Barang siapa tidak mempunyai guru, maka syaitanlah gurunya.”
Jadi, penting bagi kita untuk mencari mursyid yang baik dan berilmu, agar kita dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan benar.
Kalimat ini tidak bermaksud menakut-nakuti, tetapi mengandung pesan:
Tanpa pemandu, seorang salik mudah tersesat: bisa jadi merasa sudah dekat dengan Allah, padahal ia sedang tertipu perasaan (istidraj).
maknanya sejalan dengan firman Allah:
فَسْـَٔلُوٓا أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Maka bertanyalah kepada ahli zikir (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl ayat : 43)
Dalam ayat ini Allah jelas memerintahkan agar mencari bimbingan dari seorang ahlinya , agar tidak salah jalan dan tersesat.
Jadi, makna terdalam Waliyyan Mursyidā bukan sekadar guru thorikat, akan tetapi manifestasi rahmat Allah yang menuntun hamba agar sampai kepada-Nya dengan selamat, bersih, dan diterima.
Mengenali guru yang benar (mursyid yang lurus) adalah perkara penting, karena dalam urusan agama, kesalahan mengikuti guru dapat membawa kesalahan dalam jalan hidup.
Para ulama memberikan beberapa tanda dan ukuran agar seseorang tidak keliru.
Berikut tanda tanda guru yang benar.
Ukuran pertama adalah kesesuaian dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
"Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia."
(QS. Al-An‘am ayat : 153)
Guru yang benar tidak mengajarkan amalan yang bertentangan dengan syariat, tidak meremehkan sholat, tidak merusak tauhid, dan tidak menghalalkan yang haram.
Ilmu yang benar akan melahirkan akhlak yang baik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya."
(HR. Tirmidzi)
Guru yang benar:
- Tidak mudah marah karena ego
- Tidak suka merendahkan orang
- Sabar menghadapi sikap murid
Jika seseorang berilmu tetapi kasar, sombong, dan mudah meremehkan orang lain, para ulama mengatakan itu tanda ilmu belum masuk ke hati.
Guru sejati yang benar tidak ingin diagungkan.
Allah berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ
"Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah."
(QS. Yusuf ayat : 108)
Tanda guru yang benar:
- Mengingatkan murid agar bergantung kepada Allah, bukan kepada dirinya.
- Tidak meminta dipuji atau disanjung berlebihan.
- Tidak marah jika muridnya belajar dari ulama lain.
Ilmu yang benar membawa ketenangan, bukan kegelisahan dan kebencian.
Rasulullah ﷺ bersabda: "
الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ
Artinya:
Kebaikan adalah apa yang menenangkan jiwa dan hati."
(HR. Ahmad)
Jika setelah mendengar nasihat:
Hati lebih dekat kepada Allah
Lebih ingin berbuat baik
Lebih rendah hati
Itu tanda ilmu yang hidup.
Bukan berarti guru harus miskin, tetapi dunia bukan tujuan utamanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
زَهِّدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ
Artinya:
"Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintaimu."
(HR. Ibnu Majah)
Tanda yang perlu diperhatikan:
- Tidak menjadikan murid sebagai alat untuk mencari kekayaan.
- Tidak menjual ajaran dengan cara yang berlebihan.
- Hidupnya sederhana atau wajar.
Dalam tradisi ulama, seorang guru biasanya:
- Memiliki sanad ilmu.
- Pernah belajar kepada guru sebelumnya.
- Dikenal baik oleh masyarakat yang jujur.
Pepatah ulama: "Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agama."
Guru sejati tidak memaksa murid di luar kemampuannya.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya."
(QS. Al-Baqarah ayat : 286)
Ini adalah tanda yang paling sering disebut para ulama.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."
(QS. Ar-Ra’d ayat 28)
Jika seseorang benar benar dekat kepada Allah, maka:
- Ucapannya menenangkan
- Majelisnya membuat hati lembut
- Tidak menimbulkan kegelisahan atau kesombongan.
Guru yang benar, ketika orang melihatnya:
Maka hati teringat kepada Allah.
Tergerak untuk sholat, dzikir, dan memperbaiki diri
Bukan:
Terpukau kepada pribadi
Sibuk membicarakan kehebatan manusia
Imam Al-Junaid berkata: "Seorang guru adalah yang menunjuk jalan kepada Allah, bukan kepada dirinya."
Guru sejati sering berbicara sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.
Ciri ini sering disebut para ulama:
Tidak banyak retorika
Tidak mencari sensasi
Kalimatnya sedikit tetapi meresap
Karena ilmu yang keluar adalah dari hati dan akan masuk ke dalam hati.
Imam Syafi’i berkata: "Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air tetapi menyelisihi Sunnah, maka jangan tertipu."
- Belajar kepada seorang guru yang benar.
- Tetap menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman.
- Tetap memohon petunjuk kepada Allah.
Wassalam...!
Sumber dari Syekh.H.Haris Mulyono Al jawi

0 comments:
Catat Ulasan